Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 31


__ADS_3

Luna terpekur di depan komputernya, memikirkan alasan logis kenapa Pak Arsen bisa berada di ruang rawat Nadira.


'Kira-kira kenapa, ya? Kok Pak Arsen bisa ada di sana sih? Ditambah lagi wajah Pak Arsen yang panik tadi tuh kayak menyiratkan sesuatu. Semacam kekhawatiran terhadap istrinya? Luna mulai berspekulasi.


Luna cukup memahami ekspresi seseorang, ia pernah mempelajari bahasa tubuh, dan ia bisa menebaknya, reaksi yang diberikan Pak Arsen pada Nadira tidak seperti kepada pegawai biasa.


Selama ia bekerja di sini atau saat ia menemui Pak Arsen untuk sekadar memberikan laporan. Jangankan tersenyum, menatap pegawainya saja Pak Arsen tak pernah. Tapi kepada Nadira...


"Apa jangan-jangan rumor yang Kiara sebarin itu benar lagi?" gumam Luna mulai khawatir. "Ah tapi mana mungkin sih Nadira kayak gitu?" sangkalnya merasa mustahil.


Luna memukul kepalanya ringan, merasa frustasi saat memikirkan kemungkinan bahwa Nadira dan Pak Arsen memiliki hubungan tersembunyi.


"Lun! Kok melamun?" tanya Inaya — teman satu divisinya. Sejak tadi ia memerhatikan Luna yang kelihatan banyak pikiran itu.


"Eh gak apa-apa, kok, Nay. Gue lagi kepikiran si Nadira aja," jawabnya sedikit tersenyum.


"Katanya Nadira masuk rumah sakit, ya?"


"Iya, biasa, serangan panik."


"Ya ampun, kasihan banget, ya, Nadira ... "


Inaya tampak bersimpati namun tak lama ia kembali fokus pada pekerjaannya. Begitu juga Luna. Sebaiknya ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih awal agar bisa menjaga Nadira.


***


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arsen begitu duduk di tepi Nadira. Gadis yang tengah membaca buku itu menoleh. Hanya mengangguk dan senyum tipis sebagai jawaban. Rasanya masih canggung saat hanya berdua seperti sekarang.


Wajah Arsen sudah tampak lebih segar dibandingkan saat tadi mereka bersitatap. Matanya tampak melirik ke luar, takut salah seorang staff-nya melihat dirinya, lagi. Nadira sudah memperingatkan Arsen sebelumnya agar tak ada seorang pun yang mengetahui hubungan mereka.


Nadira takut jika seseorang mengetahui hubungan antara keduanya, dengan status Arsen itu akan merepotkan dirinya.

__ADS_1


"Gak ada, Pak. Luna udah balik ke kantor. Pak Arsen sendiri gak ke kantor juga kah?" tutur Nadira seolah menjawab kegelisahan Arsen. Lelaki itu tampak lega.


"Nanti," pungkasnya singkat seraya menggulung kemejanya. Arsen meraih buah-buahan yang ada di nakas, mengupasnya perlahan.


Untuk beberapa saat keduanya hanya saling diam. Tak seorang pun dari mereka yang berniat mengawali percakapan. Sesekali Arsen melirik arloji dan pintu bergantian. Ia menyerahkan jeruk yang sudah dikupas kulitnya kepada Nadira.


"Ehm, perlukah saya panggil dokter?" tanya Arsen ragu-ragu. Nadira menggeleng. Ia sudah lebih baik, untuk apa panggil dokter?


"Pak Arsen," panggil Nadira. Gumaman Arsen terdengar. "Pak Arsen yang bawa saya ke rumah sakit, kan?"


Arsen terdiam sesaat, ragu untuk menjawab. "Apakah itu sangat penting bagimu untuk tahu?"


Nadira mengangguk pasti, menatap Arsen serius. "Saya gak bisa membiarkan orang lain menyentuh saya. Tadi kata Luna, Pak Galen yang,-"


"Iya. Saya yang membawamu ke rumah sakit, saya juga yang menggendongmu, dan saya yang menunggui kamu semalam suntuk. Galen hanya membantu saya untuk menjagamu selama saya tertidur di sana," terang Arsen sejelas-jelasnya sambil menunjuk ruangan tempatnya beristirahat subuh tadi.


Nadira bersyukur dalam hati jika itu adalah Arsen. Nadira meletakkan buku dan jeruk yang dipegangnya ke atas nakas. Lalu berpaling kembali menatap Arsen sembari meraih telapak tangan Arsen yang ternyata jauh lebih besar darinya.


"Terima kasih banyak karena sudah menolong saya, Pak. Saya gak tahu apa jadinya kalau gak ada Pak Arsen di sana, saya pasti-"


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nadira. Saya suamimu sekarang, menjagamu dan melindungimu adalah tugas saya. Sekarang istirahatlah, nanti akan ada orang yang membantumu di sini. Saya masih ada urusan," terang Arsen. Ia sudah berdiri dan siap untuk pergi karena ponselnya sudah bergetar sejak tadi.


Nadira tertegun akan jawaban Arsen. Kemudian memandangi Arsen yang hilang bersamaan dengan pintu yang tertutup kembali. "Sejak kapan dia menyadari kewajiban seorang suami? Heh, laki-laki aneh, terlalu sulit diterka," gumamnya lalu kembali berbaring.


***


Di kantor, sudah 3 jam Arsen berkutat dengan pekerjaannya, namun pikirannya entah terbang ke mana. Sulit sekali baginya untuk fokus, kepalanya terus dibayangi Nadira. "Perempuan itu selalu menggangguku," decaknya sebal.


Arsen melirik Arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 11 siang, hampir waktunya makan siang. "Dia sedang apa? Apakah dia sudah makan? Kenapa tidak ada yang mengabariku?" harap Arsen mengecek ponselnya.


Pandangannya mengudara ke luar gedung. Terik merambati langit dengan ganasnya. Lamunannya pecah saat ketukan pintu di ruangannya menggema.

__ADS_1


"Tuan." Galen meminta ijin untuk masuk. Arsen kembali ke tempat duduknya.


"Ada sesuatu yang ingin disampaikan, Galen?" kata Arsen tak suka. Galen berjalan dan membeberkan berkas yang dibawanya ke atas meja kerja Arsen.


"Mata-mata Tuan baru saja mengirimkan informasi," terangnya.


Arsen memandangi berkas itu dengan kening sedikit berkerut. "Jelaskan secara rinci," pintanya seraya membaca salah satu berkas.


"Pimpinan mereka baru saja meninggalkan pangkalan menuju salah satu daerah terpencil di negara Russia. Mata-mata Tuan mendengar bahwa Pimpinan mereka memiliki sebuah perjanjian dengan Bos Gangster bawah tanah." Galen menunjukkan berkas yang lainnya pada Arsen.


"Swarovski?" cetus Arsen seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. "Lalu?" sambungnya lagi masih terus membaca informasi di kertas itu.


"Tim Investigasi telah menyelidikinya, Tuan. Kemungkinan perjanjian itu adalah sebuah transaksi ilegal yang dilarang negara. Komandan juga sudah mengirimkan informasinya, mereka sudah mencurigai pimpinan ini sejak lama." Galen terhenti sebentar. Ragu melanjutkan penjelasannya.


"Kenapa berhenti?"


"Maaf, Tuan. Komandan dan pimpinan yang lain mengirimkan permintaan agar Tuan bersedia membantu mereka menangani transaksi ini, dan-"


"Apa hubungannya denganku, Galen?"


Galen tampak menunjukkan berkas terakhir. "Kami sudah menemukan pelaku yang menyerang Tuan beberapa waktu lalu. Tapi kami belum yakin untuk menangkap mereka, karena mereka ternyata dilindungi Swarovski."


"Jangan bertele-tele, Galen! Katakan saja dengan jelas bahwa kalian ingin memintaku pergi ke Russia, membantu komandan menggagalkan transaksi mereka sekaligus menangkap orang-orang yang bersekutu dengan organisasi hitam untuk menyerangku," papar Arsen sambil melempar berkas itu ke meja.


Galen tertunduk. Seperti dugaannya, Arsenio akan langsung memahami maksudnya. "Benar, Tuan." Galen merapikan kembali berkas-berkas yang berserakan di meja, menyusunnya kembali jadi satu.


Arsen tampak berpikir sebelum memutuskan. Di hadapannya, Galen masih menunggu dengan cemas. "Baik, persiapkan segalanya," kata Arsen pada akhirnya.


Galen mengangguk singkat dan berlalu dari sana. "Kenapa orang-orang ini tidak membiarkanku hidup dengan tenang?" desis Arsen merasa lelah.


"Kuharap setelah ini mereka akan membiarkanku hidup dengan tenang dan bahagia," harapnya. Ia menyandarkan kepalanya ke meja. Sakit kepala kembali menyerangnya, bahunya yang terasa berat kian menjadi bukti betapa melelahkannya hidup Arsenio Harrington.

__ADS_1


Ponselnya berbunyi. "Halo? Iya, langsung pulang saja, aku akan menemuinya di rumah, kau urus saja prosedurnya."


__ADS_2