
Fajar mulai menyingsing pagi. Sesosok gadis terbangun bersamaan dengan bunyi alarm yang nyaring, hampir memekak telinga.
Dengan enggan ia mengucek matanya pelan, menatap jam di atas nakas. Pukul 6 pagi, masih terlalu dini untuk bangun dan memulai hari bagi kehidupan di Ibukota. Namun ia langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Lantas berjalan dengan tertatih ke kamar mandi, membersihkan diri.
Semalam, setelah berperang dengan akalnya, antara mematuhi perintah atau mementingkan pekerjaan. Ya, ini baru hari kedua usai cuti sakitnya disetujui kantor.
Sepatutnya ia masih memiliki setidaknya 5 hari lagi untuk beristirahat, tapi percayalah. Gadis yang tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin itu sudah tak tahan duduk diam di rumahnya yang nyaman.
Ia tegaskan berkali-kali bahwa ia adalah wanita mandiri, ia tak bisa membiarkan dirinya dilayani bagai ratu. Ia tidak selemah itu. Ia harus bekerja keras, untuk dirinya sendiri dan untuk hidupnya!
Ditinggalkan orangtua sejak usia 17 tahun memaksanya dewasa lebih cepat. Ia memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Meski masih ada Paman— Kakak sang Ayah— yang menopang kehidupannya sepeninggal orang tuanya. Tapi akal cantiknya waktu itu berkata; Kau tak boleh mengandalkan orang lain. Kau harus berusaha sendiri.
Dan pemikiran itu masih menjadi prinsip hidupnya sampai sekarang. Pukul 7 pagi, Nadira sudah duduk cantik di mejanya. Mengundang beberapa pertanyaan dari rekan kerjanya.
"Nad? Udah sembuh? Kok udah masuk kantor aja?" Ia hanya tersenyum tipis ketika mendapat pertanyaan itu.
"Iya, nih. Laporan numpuk takut tiba-tiba bonus dipotong," jawabnya sambil bercanda. Rekan kerjanya hanya mengangguk saja, sudah mengerti karakter Nadira. Gadis itu gila kerja juga gila uang. Seolah kerja benar-benar menjadi bagian hidupnya.
__ADS_1
Ia menyalakan komputernya, lalu mulai memeriksa laporan yang masuk ke surelnya. Namun, baru saja ia hendak bangkit untuk mengambil berkas. Tiba-tiba saja sesosok pria bertubuh kekar berdiri menjelang di hadapannya. Matanya memicing tajam, menelanjangi Nadira dari atas sampai bawah.
Gadis berhijab cream itu hanya bisa mematung di tempat duduknya. Tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Tak lain dengan Arsen, bersidekap, keberadaannya di divisi keuangan benar-benar mengintimidasi siapapun.
"Kamu sangat rajin, ya." Sindirnya keras, Nadira makin kalut. Belum selesai sampai di situ, mendadak Arsen menggebrak meja. "Ke ruangan saya, sekarang!" titahnya langsung berjalan pergi dari sana.
"Matilah Gue. Nadira, Nadira, Lo emang suka cari masalah sama Pak Arsen, ya?!" rutuknya kepada diri sendiri. Lalu, tanpa menunggu ia berjalan menuju ruangan Presdir yang menurutnya menyeramkan itu.
Sepanjang jalan menuju ruangan Presdir, Nadira terus menyesali keputusannya untuk masuk kerja. Seharusnya ia ikuti saja pendapat Luna padanya sebelum berangkat tadi.
"Kalau gini masih mending di rumah, deh, makan bubur buatan si Mbak."
"Ma-maaf, Pak. Sa-saya sudah lebih baik, kok," ucapnya langsung padahal Arsen belum juga membuka suara. Ia sungguh tahu tujuan Arsen memanggil Nadira ke ruangannya adalah untuk menasihati gadis itu.
"Gadis ini beraninya membantah perintahku. Datang juga tak ketuk pintu, benar-benar mengusik kesabaranku! Sudah membaik, ya? Baiklah kalau begitu," batinnya.
"Baiklah, berdiri di sana sampai jam makan siang. Awas kalau kamu mengeluh sakit. Saya kirim langsung ke rumah sakit. Galen, awasi dia!"
__ADS_1
"Baik, Tuan... Tapi, apa tidak terlalu ke-"
"Kalau begitu, kau berdiri di sana, temani dia!" kesal Arsen.
"Eh? Presdir?" Mau tak mau, Galen pun turut berdiri bersama Nadira. Menerima hukuman tanpa berani protes.
Galen sudah cukup tahu watak Presdirnya itu. Bagaimana pun, dia sudah berada di sisi Arsen bertahun-tahun lamanya. Galen sudah tak heran lagi jika mood Arsen berubah seketika. Penyakit paranoid bos-nya itu cukup parah, sekali saja dibantah, emosinya bisa langsung meledak tak tentu arah.
*****
Di lain tempat, di sebuah gang sempit, segerombol orang tengah berkomplot.
"Ketua, kau yakin mau membakar apartemen itu?"
"Tentu saja, ini langkah yang cepat untuk memancing agen Ar itu keluar. Setelah ia mengetahui tempat gadis itu terbakar, ia pasti akan langsung datang tanpa diundang. Aku yakin itu."
"Tapi, Ketua. Bagaimana jika agen Ar tidak datang?"
__ADS_1
"Lihat saja nanti. Cepat bersiap, petunjukan bagus akan segera dimulai."