Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 46


__ADS_3

Arsen mengendarai mobil Lexus hitam miliknya menuju sebuah tempat yang diminta Nadira. Membelah jalan Ibukota yang hampir tak pernah sepi itu. Garis senja membayang selama perjalanan mereka. Menemani kebisuan yang mendera mereka.


"Pak Arsen beli mobil baru? Maksud saya, kayaknya mobil Pak Arsen yang dipakai kerja bukan ini, kan?" tanya Nadira membuka percakapan.


Arsen menatapnya sekilas lalu kembali pada jalanan di depannya. "Memang bukan, yang ini hanya koleksi. Kebetulan sudah lama tidak terpakai," kata Arsen santai.


"Koleksi orang kaya emang beda!" celetuk Nadira yang membawa kekehan kecil Arsen.


Mobilnya lalu membelok ke arah sebuah universitas, Nadira meminta Arsen berhenti tepat di depan gerbang. Menatap Nadira, Arsen menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya.


"Pak, tunggu di sini, ya. Saya gak akan lama, kok!" kata Nadira sebelum menutup pintu mobil.


"Jangan panggil begitu! Kamu pikir saya supir kamu?!" sentak Arsen tak suka.


Nadira tergelak. "Eh, maksud saya gak gitu."


"Tidak bisa. Kembali ke mobil!"


Akhirnya, Nadira kembali masuk ke dalam mobil. Arsen membunyikan klakson lalu melajukan mobilnya masuk ke dalam universitas tersebut. Dua satpam yang berjaga tampak memberi hormat padanya begitu Arsen dan Nadira turun.


"Kamu tidak bilang kalau kamu mau kuliah lagi," Arsen berkomentar saat keduanya berjalan memasuki area kampus yang luas.


Berjalan melewati fakultas ekonomi dan bisnis yang hampir sepi, tampaknya para mahasiswa sudah pulang sebagian. Karena mereka hanya melihat beberapa mahasiswa yang masih berkerumun di lapangan.


Nadira masih diam tak menjawab, melirik ponselnya, menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari keberadaan seseorang. Nadira mengirimkan sebuah pesan.


"Itu alasanmu resign? Kuharap ada alasan masuk akal di baliknya, karena sampai sekarang aku masih tidak menyetujui pengunduran dirimu," kata Arsen saat Nadira tak kunjung menjawabnya.


Nadira mendongak. "Bukan," katanya singkat lalu kembali menatap ponselnya.


Dia lebih perhatian pada ponselnya daripada aku, apakah ponsel begitu menarik di matanya? Sehingga aku yang tampan ini diabaikan begitu saja? pikir Arsen merasa cemburu. Ingin sekali Arsen merebut ponsel itu dan membuat Nadira hanya menatapnya.


"Bekerja untukmu terlalu melelahkan, Pak," celetuk Nadira. Saat denting ponselnya berbunyi. Ia berbelok ke kanan menuju sebuah ruangan. Ruangan Rektor.


"Kenapa begitu?" tanya Arsen terhenti dari langkahnya. Menahan siku Nadira dengan lengannya. Perempuan itu menoleh.


"Pak Arsen terlalu sulit dilayani, sulit untuk puas, emosian, bermulut tajam, dan suka menyiksa saya untuk lembur. Hampir semua staff tidak mau bertemu Pak Arsen. Cuma saya yang berani," komentarnya menusuk Arsen.


Rasa lelah yang semula menggerayangi Arsen mendadak menguap. Ia membelalakkan matanya lebar. Tergelak, Lebih tak percaya dengan apa yang diucapkan Nadira.

__ADS_1


"Uhuk! Aku, aku mana mungkin begitu. Itu hanya perasaanmu saja!" sangkal Arsen tak terima.


Nadira tertawa geli melihat raut wajah Arsen yang bersemu merah. Sebuah pesan kembali diterimanya, meminta ia untuk menunggu selama beberapa menit.


Keduanya mengambil duduk tepat di kursi dekat ruangan rektor. Arsen kembali menatap Nadira, menggumamkan kata maaf sambil meremat jemarinya pelan.


Melihat gelagat Arsen itu, Nadira tersenyum simpul. "I'm just kidding, Mr. Harrington. Saya resign karena saya mau melanjutkan pendidikan S2 saya yang tertunda," jawab Nadira sambil tersenyum.


"Kenapa tidak bilang? Dengan begitu aku tak akan menyalahpahami dirimu. Terlebih, jika kamu mau melanjutkan pendidikanmu, aku pasti akan merekomendasikanmu ke universitas yang lebih bagus."


"Pak Arsen gak marah kalau saya lanjut sekolah?" tanya Nadira sedikit tak menyangka respons Arsen sepositif itu. Padahal ia mengira setidaknya Arsen akan mengomelinya karena tak meminta persetujuannya lebih dulu.


Arsen menggeleng, "Tidak, untuk apa aku marah? Itu hakmu, aku tak akan melarangmu melakukan hal yang kamu suka, apalagi soal pendidikan. Bahkan aku akan mendukungmu sepenuhnya. I love woman who be educated." Arsen berceloteh panjang.


Arsen memandangi Nadira sejenak, lalu kembali berbicara. "I don't want you to be woman with just a pretty face. Be the woman with everything. I want you be the successful woman with good character, gorgeous, insightful and rich. If you can't reach it in one time. Tell me, I'll give you everything!" bisiknya di akhir kalimat, membuat Nadira sedikit berjingkat.


Nadira tersenyum memaksakan, apa yang dikatakan Arsen barusan sukses membuat tengkuknya dingin. Bukan karena ucapannya, melainkan suara Arsen yang serak saat berbisik yang membuat perempuan itu meremang. "I meant to be," gumam Nadira.


Tak lama setelah itu, seseorang yang ingin ia temui akhirnya membuka pintu ruangannya, mempersilahkan Nadira untuk masuk. Dengan tergesa ia masuk, meninggalkan Arsen yang terkekeh kecil di tempat duduknya.


Setelah beberapa lama berbincang dengan rektor, Nadira keluar dengan senyum mengembang. Senang karena dirinya diterima dengan baik.


Nadira mengangguk. "Terima kasih, Profesor. Saya pamit undur diri."


Rektor itu mengembangkan senyumnya lebih lebar lagi. Pandangannya ikut mengantar Nadira menghampiri sesosok pria yang sibuk menelepon di ujung koridor. Selama beberapa saat, rektor turut memerhatikan. Ia tampak tak asing dengan punggung lelaki itu. Namun, sedetik kemudian berlalu kembali masuk ke ruangannya.


Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Nadira mengajak Arsen untuk pulang. Saat mereka tiba di apartemen Nadira, hari sudah gelap.


"Belum ada kabar dari Anthony, aku akan istirahat dulu sebentar di sini boleh, kan?" tanya Arsen ragu saat mengantar Nadira hingga ke depan pintu apartemennya.


Melihat Arsen yang tampak lelah, Nadira pun mengizinkan. Lagipula tidak baik mengendarai mobil saat kondisi badan lelah, dibanding terjadi suatu hal buruk, lebih baik membiarkan pria itu beristirahat sejenak.


"Iya, masuklah, Pak. Oh ya, kebetulan saya gak masak hari ini, Pak Arsen mau makan malam sama apa? Kita pesan online aja, ya."


Arsen tak berkomentar apapun soal makan, meski sejujurnya ia ingin sekali memakan masakan Nadira. Tetapi ia urungkan, Arsen cukup tahu, mereka sama-sama lelah sekarang. Ia tak bisa membiarkan Nadira memasak hanya untuknya.


"Pesan yang banyak, dan bayarlah pakai uangku," katanya sambil menyerahkan dompetnya kepada Nadira. Sedangkan ia sudah beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nadira menatap bingung dompet tebal di tangannya. Agak segan untuk memakai lembaran uang di dalamnya. Hanya makanan saja, ia juga mampu membayarnya.

__ADS_1


Ketukan pada pintu apartemennya mengalihkan kebimbangannya untuk sementara. Meletakkan dompet itu, Nadira membuka pintu.


Matanya terbelalak saat tahu siapa yang datang. "Luna!" pekiknya terkejut.


"Kenapa Lo, Nad? Lo kaget kayak kepergok lagi selingkuh aja," cetus Luna tak berpikir panjang. Membalas candaan Luna, Nadira hanya tersenyum kikuk.


Gawat kalau Luna tahu di dalem apartemen ada Pak Arsen. Mampuslah Gue! seketika ia merutuki keputusannya membiarkan Arsen masuk. Nadira menutup pintu apartemennya cepat, mencegah Luna mengintip masuk.


Terdengar suara Arsen dari dalam. "Sayang? Delivery-nya sudah datang? Ke mana dia?


Nadira kian membelalak. Luna sudah menatapnya sinis. "Siapa itu? Suaranya kok kayak Presdir ya?" tanyanya penuh curiga.


"Something wrong in here?" tanyanya lagi lebih kepada menyelidiki.


Lalu, tanpa diminta, masih dengan mengenakan bathrobe mandinya, Arsen membuka pintu. Seakan menghapus semua pertanyaan dan kecurigaan di benak Luna. "Presdir?" bingung Luna mengerjapkan mata beberapa kali, seolah tak percaya dengan penglihatannya.


Arsen menatap Luna dan Nadira bergantian. Hal yang sama juga dilakukan Luna, memandang Nadira tajam, mengerutkan kening, menuntut sebuah penjelasan. Di tempatnya berdiri, Nadira menggigit bibir bawahnya kuat. Tamat sudah riwayatnya.


"Ini, ini kalian, kalian kok bisa?" Luna terbata. Ditambah dengan penampilan Arsen yang baru saja mandi, menambah kecurigaan Luna. "Jangan-jangan?" kembali menatap Nadira, Luna semakin memojokkannya.


"Luna ... Gue bisa jelasin, kok — "


"She's my wife," kata Arsen cepat, memotong ucapan Nadira yang membuat Luna terperangah. Menarik Nadira mendekat, Arsen mencoba membuktikan kepada perempuan di hadapannya, seandainya ia tak percaya.


"What?" tanyanya masih tak percaya, kepalanya dijejali berbagai macam pertanyaan. Memandang Nadira, perempuan itu tak menunjukkan raut wajah mengelak ataupun hendak menyanggah.


Melihat tatapan tak percaya pada mata Luna, Nadira melepaskan diri dari pelukan Arsen. Membuat lelaki itu bersedekap dan mengangkat dagu ke atas, angkuh. Seperti biasa.


"I can't trust it, Nadira. I need an explain. Tomorrow?" tanya Luna sedikit berbisik pada Nadira. Menjauhkan bibirnya, Luna kembali memandang keduanya bergantian. Saat sorot matanya bertabrakan dengan Arsen, perempuan itu menunduk.


Nadira mengangguk kikuk. "Sorry. I'll call you later," jawab Nadira sedikit tertekan.


"Excuse me, Sir." Setelah mengucapkan salam hormat kepada atasannya itu. Luna berbalik pergi dengan pikiran berkelana. Masih belum sanggup menerima apa yang baru saja dilihat dan didengarnya. Ia tak sabar untuk mendengar penjelasan langsung dari Nadira.


***


I love woman who be educated [ Aku menyukai perempuan yang berpendidikan ]


I don't want you to be woman with just a pretty face. Be the woman with everything. I want you be the successful woman with good character, gorgeous, insightful and rich. If you can't reach it in one time. Tell me, I'll give you everything!

__ADS_1


[Aku tidak ingin kamu jadi perempuan yang hanya cantik wajahnya. Jadilah perempuan dengan segalanya. Aku ingin kamu jadi perempuan sukses yang berkarakter, cantik, berwawasan dan kaya. Jika kamu tidak bisa meraihnya dalam satu waktu, katakan padaku, aku akan langsung memberikan segalanya padamu.]


__ADS_2