
Tengah malam, Nadira tak bisa tertidur. Di sampingnya Arsen terlihat pulas sampai suara dengkuran halusnya terdengar. Nadira berbalik menghadap Arsen yang tengah tertidur damai, mengusap beberapa helai rambut halus yang tumbuh di sekitaran dagu Arsen pelan.
Saat tertidur, Arsen terlihat sangat tenang. Beranjak dari posisinya di atas kasur, Nadira meraih gelas di atas nakas lalu meminumnya hingga tersisa separuh. Dengan perlahan, ia berjalan menuju balkon. Lalu membuka kunci jendelanya dengan pelan tak ingin mengusik lelaki itu dan membangunkannya.
Matanya menerawang pekatnya malam beserta gugusan bintang-bintang. Angin malam berhembus hingga Nadira bisa merasakan hawa ingin menusuk ke dalam kulitnya.
Sesaat ia melirik Arsen, mengingat kembali cerita Areef dua hari lalu. "Gue gak tahu kalau kita punya masa lalu dan keadaan yang sama-sama menyakitkan untuk diterima," gumam Nadira pelan.
Areef bercerita bahwa 10 tahun yang lalu adalah tahun terberat bagi Arsen. Kedua orangtua Arsen terlibat sebuah skandal memalukan yang membuat keduanya terpaksa berpisah.
Ayah Arsen adalah seorang pebisnis handal di bidangnya. Sedangkan Ibunya seorang model kenamaan di Inggris. Nama keduanya sama-sama dikenal khalayak publik.
Karena ketekunannya, Areef memberi Ayah Arsen kepercayaan untuk mengelola salah satu lini bisnis di bawah naungan perusahaan Harrington. Bisnis itu berjalan lancar dan meraup keuntungan investasi hingga puluhan milyar. Namun, ternyata Ayah Arsen tak merasa puas dengan pencapaian itu, ia menginginkan hal yang lebih hingga pada akhirnya berkolusi dengan pihak luar untuk melawan Ayah Mertuanya sendiri.
Mengetahui hal itu, Ibunya Arsen tentu marah besar dan mengancam Ayahnya. Sejak saat itu, keduanya hanya berusaha untuk saling menjatuhkan dan membuat satu sama lain terpuruk dan merasa lelah akan pernikahan mereka.
Puncaknya, keduanya memilih bercerai. Tetapi, Arsen mendapati bahwa fakta dibalik perceraian itu ternyata tidak sesederhana yang dilihatnya. Baik Ayah dan Ibunya ternyata sudah memiliki pasangan satu sama lain bahkan sebelum mereka resmi berpisah. Keadaan makin memburuk dengan terungkapnya kebenaran ke muka publik.
Pada waktu itu, usia Arsen baru berusia 18 tahun, tetapi sudah harus menghadapi kenyataan sepahit itu. Ia masih remaja yang membutuhkan perhatian dan dukungan orangtua. Tapi yang diterimanya justru tekanan dan tuntutan menjadi Sang Pewaris kakeknya. Arsen tidak mengeluh atau pun mengelak dari takdirnya, sepuluh tahun sejak kejadian itu Arsen hanya bertekad untuk memperkuat dirinya sendiri.
Dan seiring dengan prosesnya itu. Arsen berubah jadi Arsen yang angkuh dan paranoid seperti sekarang. Ia tidak mudah menaruh kepercayaan pada seseorang. Karena orang yang seharusnya ia percayai justru menoreh luka menganga di hati dan jiwanya. Hal itulah yang menjadi sebab beban kekhawatiran Areef.
Nadira mendesah, jubah tidurnya berkibar tertiup angin. "Orangtua yang seharusnya mengayominya justru menghancurkan kepercayaan dirinya hingga tak bersisa," lirihnya sambil melirik Arsen yang sepertinya terusik oleh hawa dingin dari luar.
Cepat-cepat Nadira menutup kembali jendela kamarnya dan kembali berbaring di samping Arsen. Ragu-ragu ia memeluk Arsen, setitik bening luruh di pipinya tanpa diminta.
"Saya janji, saya gak akan pernah meninggalkan Pak Arsen," bisiknya lalu ikut larut dalam mimpi.
***
Arsen mengerjapkan mata perlahan. Merentangkan kedua tangannya, semalam ia tidur nyenyak sekali, bahkan bermimpi Nadira memeluknya dan berbisik di telinganya.
"Pukul berapa sekarang?" tanyanya sambil menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya. Tepat saat itu, Nadira baru saja menyelesaikan mandi paginya.
"Jam 5 pagi," jawab Nadira seraya mengeringkan rambutnya yang setengah basah dengan handuk.
Arsen memerhatikannya dari kasur dengan wajah khas bangun tidur sambil menopang dagu. Pria itu menatap raga Nadira yang hanya terbungkus handuk dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bulir sisa air mandi meluncur turun membasahi lantai. Melihat itu, susah payah Arsen menelan salivanya.
__ADS_1
"Pemandangan yang indah," decaknya kagum. Masih terus menatap Nadira hingga perempuan itu selesai mengeringkan rambut lalu menarik tirai, Arsen mendesah pelan karena tak bisa lagi melihat pemandangan indah itu di pagi harinya. Jujur saja, Arsen rindu memeluk tubuh Nadira yang menurut Arsen melebihi kata sempurna.
"Saya pikir, Pak Arsen harusnya bersiap untuk pulang sekarang. Jangan sampai terlambat ke kantor," ujar Nadira mengingatkan Arsen usai dirinya berpakaian rapi. Pria itu tampak mengedikkan bahunya ringan.
Beranjak dari posisi menopang dagunya, Arsen berganti duduk di tepi kasur. "Pulang? Aku harus pulang ke mana? Ke rumah yang kamu saja bahkan tidak mau tinggal di sana?" kata Arsen lemah. Suara serak khas bangun tidurnya jelas mengusik indra pendengaran Nadira.
Perempuan itu mengerutkan kening. "Apa maksudnya?" tanyanya bingung. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mengambil sisir lalu menyampirkan sebuah jepitan di rambutnya yang masih setengah basah itu.
"Kamu lupa? Aku sudah memberikan rumah itu padamu. Jadi, aku tidak punya rumah sekarang. Selain meminta belas kasihmu, aku tidak tahu lagi harus tinggal di mana," jawabnya dengan memelas. Membuat Nadira jadi tak habis pikir.
Beberapa hari lalu, Arsen memang berbicara sudah mengalihkan properti itu atas namanya. Tapi, Nadira berpikir bahwa itu hanyalah cara Arsen membujuknya agar mau kembali ke rumahnya. Nadira tidak menyangka bahwa Arsen sungguh-sungguh melakukannya.
"Yaudah kalau gitu minta Galen untuk mengantarkan baju ke sini," putus Nadira pada akhirnya. Perempuan itu benar-benar kewalahan menghadapi tingkah Arsen.
Arsen tersenyum penuh kemenangan. "Boleh aku pinjam ponselmu? Ponselku kehabisan baterai," pintanya sambil melempar cengiran khasnya.
Nadira mendengus, "Ada di atas nakas," katanya mengizinkan, lalu berjalan ke dapur, membuat sarapan untuk mereka berdua.
Arsen berjingkat senang lalu meraih ponsel Nadira. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek kontak di ponsel perempuan itu. Mencari nama Bara dengan cepat dan menghapusnya dari ponsel Nadira.
***
Nadira tak bisa memasak hal lain kecuali mie instan yang sudah dibelinya kemarin. Ia baru saja pindah dan belum sempat berbelanja sayuran. Setelah mie instan itu matang, Nadira menuangkannya ke dalam mangkok dan menyajikannya di atas meja.
Baru saja ia hendak memanggil Arsen, bel apartemennya berbunyi. Dengan cepat ia memakai hijabnya dan membuka pintu. Galen berdiri di sana bersama dua koper besar yang dibawanya. Membuat Nadira membelalakkan matanya besar. "Apa ini?!" tanyanya heran.
Galen menyunggingkan senyumnya ramah. "Selamat pagi, Nyonya. Ini pakaian Anda dan Presdir," jawabnya seolah menjelaskan keberadaan dua koper besar itu.
Belum sempat Nadira mengakui keterkejutannya, Arsen datang hanya dengan mengenakan handuk sebatas pinggang, membuat Galen memalingkan pandangannya.
"Terima kasih, Galen, kau boleh kembali," titahnya yang langsung dibalas anggukan kecil pria itu. "Jadwal Anda hari ini, Presdir." Galen menyerahkan sebuah tab pada Arsen lalu melangkah cepat dari sana.
"Apa-apaan ini, Pak?!" seru Nadira begitu Arsen menarik kedua kopernya ke dalam. Menunjuk dada bidang Arsen dengan telunjuknya. "Jangan-jangan Pak Arsen menipu saya, ya?" tuduhnya.
Di hadapannya, Arsen hanya mengedikkan bahu ringan. "Aku tidak menipumu, aku sungguh-sungguh tidak punya rumah sekarang. Kakek bahkan mengusirku dari kediaman utama kemarin," kata Arsen serius.
Selama beberapa saat Nadira menyelidiki raut muka Arsen. Tidak ada kebohongan terdeteksi di sana, hanya kerutan halus di kening. Bingung dengan reaksi Nadira.
__ADS_1
"Tapi bukan berarti pindah ke sini juga, Pak." Nadira tampak pasrah. Niat awalnya untuk memulai awal baru hancur sudah dengan kehadiran Arsen di sini.
"Kalau begitu, kamu pulanglah bersamaku," mohonnya lagi. Nadira tak menggubrisnya, ia berjalan ke pantry mengambil sendok dan garpu lalu memakan pelan mie instan-nya yang sudah setengah dingin itu.
"Nadira," panggil Arsen lagi. Nadira mendongak, menatap Arsen yang masih bertelanjang dada.
"Makan dulu mie instan-nya, nanti saya pikirkan lagi," jawabnya cepat. Arsen pun mulai duduk dan memakan mie instan miliknya sendiri. Meski merasa aneh dengan rasanya karena Arsen tak pernah memakan makanan instan seperti sekarang, namun Arsen tetap menghabiskan semangkuk mie itu hingga tak bersisa.
"Kamu beli makanan ini di mana? Rasanya lumayan enak," katanya sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
"Enak tapi juga gak boleh terlalu sering," jawabnya sambil menumpuk mangkuk itu, hendak mencucinya.
"Kamu mau cuci piring? Biar aku saja!" Arsen merebut mangkuk itu dari tangan Nadira dan mencucinya. Namun ...
Prang! Mangkuk itu terjatuh sebelum Arsen berhasil membilasnya. Pecahannya berceceran di lantai. Arsen salah tingkah, membuat Nadira makin gemas.
"Saya baru beli mangkuk itu kemarin!" serunya marah sambil berkacak pinggang.
Arsen tergagap, "Ma-maaf, aku, aku akan menggantinya. Aku akan membersihkannya sekarang juga." Nadira mendorong Arsen menjauh dari wastafel.
"Cukup! Pak Arsen itu gak terbiasa mengerjakan semua ini sendiri, setiap hari selalu dilayani pelayan, jangan memaksakan diri seolah bisa hidup sederhana!" maki Nadira kembali berdecak kesal. Tangannya memunguti pecahan kaca dan memasukannya ke dalam trash bag.
Hanya piring saja, apa perlu semarah itu? pikir Arsen pendek. Ia berbalik menggeret kopernya dan bersiap dengan cepat.
"Aku masih menunggu jawabanmu, Nadira," kata Arsen sebelum pergi menuju pintu. Nadira hanya menggumam pelan sebagai jawaban. Lalu, Arsen menghilang di balik pintu bersamaan dengan suara pintu yang menutup pelan.
***
Trash bag > kantung sampah
***
Hadeuh, Arsen ini gak tahu apa ya kalau piring, mangkuk, gelas — dan perabotan lainnya itu sangat berharga bagi perempuan. Jangan diulang lagi, ya, Arsen. 😥
Dear, semua pria.
Bantu cuci piring boleh, tapi kalau sampai pecahin barang mending nyapu aja deh, ya. 😂
__ADS_1