
Arsen terduduk di kursinya dengan kening berkerut dalam. Jari-jarinya menekan tuts keyboard komputernya dengan kuat. Matanya tak berkedip menatap layar. Jelas sekali bahwa ada sesuatu yang tengah ia pikirkan dengan serius.
Tampaknya ia memikirkan dengan amat peringatan dari Anthony soal Rossie yang datang ke Indonesia dan di hari pertama menginjakkan kakinya di kediaman utama langsung berseteru dengan Areef.
Arsen tak habis pikir dengan jalan pikir perempuan yang telah melahirkannya itu. Tidak bisakah ia tidak mengganggu kehidupanku? Di saat aku mulai merancang jalur kebahagiaanku, orang-orang tak berkepentingan justru datang, menyebalkan!
Arsen menarik dirinya dari hadapan komputer, memutar kursinya sembilan puluh derajat ke belakang. Menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan mata selama beberapa saat. Berharap dengan itu rasa pening yang menghinggapi kepalanya akan turut hilang.
Pada saat itu, pintu ruangannya diketuk. Arsen tampak menghela napas, "Masuk!" teriaknya cukup keras. Lalu, Galen masuk dengan membawa serta beberapa berkas. "Presdir ini catatan transaksi dan daftar asset project manager yang Anda minta."
Galen meletakkan beberapa berkas itu tepat di samping komputer Arsen yang menyala. Arsen hanya menggumam pelan, ia memberi isyarat kepada Galen untuk keluar dari ruangannya segera.
"Rapat akan dimulai satu jam lagi, Presdir." Galen mengingatkan, barangkali Arsen lupa. Melihat gelagat atasannya yang tampak tak bersemangat itu membuat Galen sedikit takut.
"Aku tahu, aku akan datang 15 menit setelah mereka berkumpul," kata Arsen kemudian setengah berbisik. Galen mengangguk mengerti lalu beranjak dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Arsen kembali larut dalam lamunannya, belum sempurna hilang kesedihannya, masalah lagi-lagi mendatanginya tanpa henti. Memaksanya untuk meluncurkan sabar berkali-kali. Masalah terus silih-ganti. Datang dan pergi.
Kemudian, ia membuka ponselnya, menatap layar ponselnya yang kapan tahu sudah diganti dengan foto Nadira yang tengah tersenyum. Menatap foto istrinya, seulas senyum terbit di bibir Arsen.
"Sayangku," gumamnya pelan. Masih tetap menatap foto Nadira, Arsen kembali memupuk niatnya. Arsen berpikir bahwa ia harus melakukan yang terbaik untuk kebahagiaannya dan Nadira. Ia tak akan membiarkan seorang pun mengganggu kehidupan mereka.
Satu jam kemudian, Galen kembali mengetuk pintu ruangannya, mengingatkan Arsen bahwa rapat akan segera dimulai. Arsen mengangguk, ia beranjak dari duduknya dan tangannya bergerak membenarkan letak dasinya.
"Baik, ayo selesaikan semuanya."
***
Di kediaman utama, Areef tampak memasuki sebuah ruangan yang berisi foto-foto kenangan. Di sana ada banyak sekali foto, dibanding sebuah kamar, ruangan tersebut lebih mirip seperti galeri foto karena banyaknya foto-foto di dinding.
__ADS_1
Tangannya meraba sebuah foto perempuan muda yang cantik, tampak persis seperti dirinya. Jemarinya meraih figura itu dan menatapnya lama, jari telunjuknya terulur mengusapnya pelan. Menghela napas panjang, Areef kembali meletakkannya.
"Sepuluh tahun, Rossie. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, Nak. Tetapi luka itu .... " Areef menduduk, bahunya bergetar naik turun, sedih yang ia tahan sepuluh tahun lalu akhirnya tumpah juga.
Anthony yang berada di belakangnya langsung memapahnya dan mendudukkannya di sebuah kursi dekat figura besar.
"Tuan Besar," lirih Anthony merasa iba pada majikannya itu. Anthony sudah bekerja di keluarga Harrington dan mengikuti Areef jauh sebelum Arsen lahir. Ia lebih mengetahui dari siapapun tentang kesedihan yang dipendam Areef.
"Anthony, apakah aku melakukan kesalahan yang fatal? Sampai-sampai anak perempuanku sendiri berdiri melawanku," kata Areef di sela-sela isaknya.
Anthony berjongkok dan memegang lutut Areef pelan. "Tuan, Anda sangat baik. Apa yang terjadi sepuluh tahun lalu di antara mereka bukanlah kesalahan Tuan Besar."
"Tetapi aku menanggung semuanya, Anthony. Aku yang bertanggung jawab atas rasa kesepian dan rasa sakit anak itu selama bertahun-tahun."
Areef mengusap matanya pelan. Ketegaran dan kebijaksanaan yang biasanya membayang di wajahnya luntur juga oleh kesedihan.
"Itu benar dan aku bersyukur Arsen menemukan perempuan yang tepat. Tapi, Anthony, dalam hubungan mereka masih ada duri yang menempel, dan aku takut jika suatu hari duri itu akan memisahkan keduanya."
Areef kian kalut oleh pemikirannya sendiri hingga terbatuk beberapa kali. "Tuan, jangan terlalu dipikirkan. Saya yakin keduanya tidak akan mengulang kesalahan yang sama," kata Anthony sambil memapah Areef menuju kamarnya untuk beristirahat.
Anthony membantunya berbaring dengan baik dan meminta Areef untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang bisa mengganggu masa pemulihannya.
"Anthony, tolong hubungi Nadira, aku ingin berbicara empat mata dengannya," pinta Areef saat Anthony selesai membantunya. Anthony memgangguk dan berjalan keluar.
Namun, langkahnya terhenti karena kehadiran sesosok perempuan di ambang pintu kamar Areef.
"Kakek mencariku? Ada apa?" tanya Nadira seraya berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang Areef. Pria tua itu memandangnya penuh kasih.
"Kebetulan sekali kamu datang, Nak," kata Areef sambil berusaha bangun untuk menyandarkan punggungnya di sandaran dipan. Nadira dengan sigap membantunya.
__ADS_1
"Kakek kalau kurang sehat lebih baik baring aja," protes Nadira tatkala mendengar Areef meringis.
Areef kemudian menatap Anthony, memberinya instruksi untuk pergi membuatkan secangkir kopi untuk cucu menantunya itu.
"Apa kabar, Nak? Bagaimana dengan pemulihannya?" tanya Areef begitu Anthony meninggalkan ruangannya.
"Baik, Kakek. Ini baru pulang dari rumah sakit, Nadira bosan di rumah, gak tahu mau ke mana. Ingat Kakek, jadi sengaja ke sini, deh," kata Nadira ceria. Areef mengulas senyumnya.
"Ke mana Arsen? Dia tidak mengajakmu jalan-jalan?"
"Kerja dong, Kakek. Tadinya Nadira ke sini mau tanya soal perayaan ulang tahunnya Mas Arsen."
Areef tampak mengingat, beberapa hari lagi memang ulang tahun Arsen yang kedua puluh delapan. Gara-gara kedatangan Rossie, ia sampai melupakan hal penting itu.
"Kakek?" panggil Nadira saat melihat Areef melamun. "Kakek cari Nadira untuk bahas itu juga, ya?" tanyanya lagi yang diangguki oleh Areef.
"Iya, kamu punya rencana, Nak?"
Nadira tampak mengangguk kecil. "Ada, sih, Kakek. Tapi Nadira gak tahu ini cocok atau gak sama gaya Kakek dan Mas Arsen," jawab Nadira disertai kekehan kecil.
Areef juga tampak terkekeh, melihat Nadira di hadapannya sekarang cukup untuk membuatnya merasa lebih tenang. Mungkin, kekhawatirannya tadi tidak berdasar, mungkin ia yang terlalu berpikir berlebihan.
Kemudian, Nadira memberitahu Arsen rencananya untuk ulang tahun Arsen. Di tempatnya, Areef mendengarkan dengan baik, sesekali memberi tanggapan kecil dan tertawa. Begitulah interaksi keduanya berjalan.
Nadira sudah menganggap Areef sebagai kakeknya sendiri. Kebijaksanaan Areef dan wibawa yang dimilikinya membuat Nadira kagum, hormat sekaligus merasa akrab.
Areef mengangguk saat Nadira membeberkan semua rencananya. "Baik, lakukan saja sesuai yang kamu mau, Nak. Kakek ikut saja bagusnya," kata Areef.
Nadira tersenyum, "Baik, Kakek."
__ADS_1