
Dua hari kemudian, Inggris.
Arsen berjalan memasuki mansion megah tempat Ibunya tinggal — Rossie Harrington dengan angkuh. Langkahnya yang besar dan tergesa menunjukkan betapa tidak inginnya dia berada di tempat ini.
"Tuan Muda, silahkan. Nyonya Besar sudah menunggu kedatangan Anda." Seorang Kepala Pelayan memberitahunya. Arsen hanya mendengus kesal lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar sang Ibu.
Membuka pintunya, Arsen langsung mendapati tubuh Ibunya yang terbaring di atas dipan. "Kuharap kau benar-benar sekarat agar kedatanganku tidak sia-sia," sinis Arsen.
Sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku, menambah kesan angkuhnya. Seorang perempuan dengan rambut ikal kecoklatan menatapnya nanar, memaksakan senyum, ia berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
"Kamu benar-benar tidak ingin menemui Ibumu sendiri, Arsenio?" tanya Rossie lemah.
Tubuhnya kian ringkih, tak seindah dulu. Sebelas tahun yang lalu, Rossie berada di puncak karirnya, popularitas, kekayaan, apapun yang ingin bisa ia dapatkan dengan mudah.
Namun, yang Arsen lihat sekarang ini hanyalah seorang perempuan yang mulai menua, beberapa kerutan menghias wajah Rossie. Tapi tetap tak melunturkan kesan cantik dan elegan yang dimilikinya. Bahkan saat sedang sakit pun, Rossie tetap memerhatikan etikanya.
Rossie tahu, menghadapi Arsen tak bisa dengan sikap arogan, untuk itu, ia memasang wajah tak berdayanya demi menarik simpati anaknya. Namun, bukannya simpati, Arsen justru menatap Rossie dengan datar. Hal yang sangat mudah untuk dilakukannya.
"Berhenti memberiku tatapan menyedihkan itu!" seru Arsen, berdecih ia mengalihkan pandangannya.
Rossie menyibak selimutnya dan duduk di tepi dipan, tersenyum getir mendapat perlakuan dari anaknya sendiri. "Kamu begitu pendendam, seperti Ayahmu."
"Jangan ungkit dia! Apalagi membandingkan diriku dengan bajingan itu!" sentaknya marah. Rossie tampak terkejut, namun sedetik kemudian kembali memasang wajah biasa.
"Apa yang kau mau? Katakan! Aku tidak memiliki banyak waktu," kata Arsen lagi saat mendapati Rossie hanya termenung di tempatnya.
Rossie mengajak tubuhnya untuk bangkit dan berjalan ke arah jendela. Dalam diam, Arsen memerhatikan gerak-gerik Rossie dengan penuh selidik. "Kau tampak sehat," komentarnya saat melihat Rossie bergerak leluasa membuka tirai tanpa dibantu pelayan.
__ADS_1
"Ibu dengar kau sudah menikah, kau tidak membawanya menemuiku, Arsen?"
"Tidak perlu," jawab Arsen singkat. "Kau tidak bisa menjadi Ibu yang baik, jangan berlagak apalagi bermimpi jadi mertua yang baik."
Rossie sontak menyentuh dadanya yang mendadak terasa nyeri. "Kau begitu membenci Ibumu, Arsen. Tidakkah kau ingat, akulah yang melahirkanmu dengan penuh rasa sakit."
Arsen mematung di tempat. Memang benar Rossie adalah ibu kandungnya, ibu yang melahirkannya. Tetapi Rossie tidak pernah mengurusnya layaknya seorang Ibu. Rossie hanya menyandang sebutan ibu tapi tak pernah menjalankan tugasnya sebagai ibu.
Rossie berbalik menatap Arsen. "Sebelas tahun lalu — "
"Tidak perlu mengungkit masa lalu, katakan saja dengan jelas untuk apa kau memintaku ke sini?" tanya Arsen memotong ucapan Rossie. Perempuan itu tersenyum getir, tampaknya usaha untuk mendapat simpati dari anaknya tak berjalan mulus.
"Aku butuh uang," jawab Rossie. Ia mengambil duduk di sofa dan menumpu kakinya. Meraih cangkir teh dan meminumnya pelan. Ia lalu menatap Arsen. Membaca raut muka anak semata wayangnya.
Arsen tersenyum meremehkan. "Hanya itu? Kau seharusnya mengatakan itu sejak awal," katanya dengan nada mengejek. "Berapa? sepuluh milyar? dua puluh? tiga puluh? Katakan saja, berapa?"
"Arsenio!" sentak Rossie membanting cangkir yang dipegangnya. "Lancang! Apakah begitu caramu bicara pada Ibumu?!" maki Rossie tegang. Dadanya naik turun penuh kemarahan. Marah dan hina, Rossie menatap geram pada Arsen.
"Itu bukan salahku! Kau sudah dewasa tapi kenapa masih tak mengerti juga?! Hubungan pernikahan kami tidak sederhana, Arsenio. If we keep our marriage, we will hurts each other!" kata Rossie menjelaskan dengan lemah.
"Kau pikir aku masih anak kecil yang masih bisa dibohongi? Aku sudah mengerti saat itu, bahwa tidak satu pun dari kalian yang menginginkan aku!" Arsen masih tak bisa menghapus kepedihan itu dari hatinya.
Bertahun-tahun ia mencoba membasuh luka hatinya, berharap suatu hari tak akan sebenci ini kepada orang tuanya, paling tidak pada Ibu yang telah mengandungnya itu. Namun, ia tak bisa, luka itu bagai belati yang menghujam hatinya. Yang kapan pun bisa melukainya lebih dalam lagi.
"Arsenio!"
"Jangan membentakku!"
__ADS_1
Sunyi, baik Rossie ataupun Arsen tak ada yang membuka suara. Keduanya kalut dalam pikiran dan perasaan mereka masing-masing.
"Jika kukatakan bahwa aku menyesali sepuluh terakhir itu, kau akan percaya pada Ibumu ini, Arsenio?" lirih Rossie terduduk di lantai. Dua orang pelayan yang berada di sana sontak langsung memapahnya.
Merebahkan dirinya, Rossie menatap Arsen dengan nanar. Ia menggerakkan tangannya, meminta Arsen untuk mendekat. Dengan sedikit ragu, Arsen mendekatinya.
"Maaf, maaf jika Ibumu pernah meninggalkanmu, mengabaikanmu dan bahkan melukaimu," tutur Rossie dengan sedikit terbatuk.
Arsen dapat melihat Rossie menyeka pipinya. Namun Arsen masih skeptis. Ia menganggap Rossie sedang bersandiwara untuk memainkan sebuah drama keluarga bersamanya.
"Aku tahu kau pasti menganggap Ibumu sedang membual."
Arsen mencebik. "Bukankah begitu?" melirik arlojinya, Arsen kembali berdiri dan menjauh beberapa langkah. "Waktuku hampir habis, sebaiknya kau katakan apa tujuanmu."
Rossie tampak menghela napasnya berkali-kali. "Baik, Ibu tak akan menahanmu lebih lama. Ibu tadinya ingin mengajakmu bekerja sama untuk membuat Arthur jera," katanya. Kesedihan yang semula membayang di wajahnya seketika berganti dengan tatapan benci.
Arsen tampak bertepuk tangan pelan. "Bagus, sekarang kau bahkan membawaku dalam drama balas dendam yang kau bangun," sarkasnya. Arsen menatap Rossie tak percaya.
Sepuluh tahun. Sudah sepuluh tahun, tapi kebencian itu masih terasa kental. Rossie mengangkat kepalanya, memandang Arsen serius. "Apakah kau tidak mau tahu siapa yang berdiri di belakang organisasi hitam itu?"
Arsen terkesiap untuk sesaat. Rossie menatapnya puas. "Arthur ... Aku tahu."
Rossie tampak tak percaya. "Ayah dan Ibu saling berbalas dendam dan mencoba saling menjatuhkan. Karena tak bisa saling mengalahkan, kau mencoba memanfaatkanku dengan gelar Ibu, sedangkan yang lain menyerangku secara diam-diam," hina Arsen meluapkan semua kekesalannya pada Rossie.
"Kau bahkan tak ragu-ragu mengirimkan surat dan membuat Kakekku masuk rumah sakit. Kau dan Arthur sangat memalukan," cecar Arsen membuat Rossie terdiam.
Merasa tak ada yang perlu ia lakukan. Arsen merogoh sakunya, mengambil salah satu kartu hitam miliknya dan meletakkannya di samping nakas tempat tidur. Rossie dapat melihat kartu itu hanya dengan meliriknya sekilas.
__ADS_1
"Lima puluh milyar kurasa cukup untuk memintamu jangan menggangguku lagi," ujar Arsen lalu berbalik meninggalkan ruangan itu. Mengabaikan teriakan Rossie yang memintanya kembali.
Ia telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Menepis semua perasaan tidak menyenangkan yang bersarang di hatinya. Kemudian, Arsen memutuskan untuk kembali sesegera mungkin.