
Arsen tampak keluar dari mobil Alphard hitam miliknya, dengan mengenakan kacamata hitamnya, ia melangkahkan kakinya masuk menuju perusahaan Harrington.
Harrington Group, perusahaan real estate terbesar di Ibukota. Harrington Group telah dikenal dengan bangunan-bangunan mewah yang bernilai fantastis. Di antaranya Harrington Group telah berhasil mendirikan sederet hunian vertikal yang diberi nama Harrington's Residence.
Juga berbagai hunian klasik-modern, mansion dan apartemen mewah dan beberapa area komersil seperti rumah sakit, gedung perkantoran, perhotelan, mall dan tower. Tak heran jika Harrington Group digadang-gadang sebagai perushaan real estate pertama.
Dengan dikawal beberapa anak buahnya, Arsen berjalan masuk. Beberapa karyawan sudah berdiri menyambutnya. Ini adalah kali pertama Arsen menginjakkan kaki di perusahaan setelah Areef Harrington, Kakeknya secara resmi mengangkatnya sebagai Presdir.
Mata Arsen menatap satu-persatu karyawan yang belum dikenalnya itu dengan tajam, membuat beberapa dari mereka langsung menundukkan kepalanya.
Lalu Arsen menuju lift khusus direksi diikuti asistennya. "Presdir, Rapat Dewan Direksi akan dimulai 20 menit lagi," ujar sang asisten mengingatkan jadwal Arsen pagi hari itu.
Arsen mengangguk sambil melirik arlojinya. "Katakan pada karyawan untuk tepat waktu, Galen." Asisten yang dipanggil Galen itu mengangguk. "Baik, Presdir," jawabnya hormat, lalu mengikuti Arsen dari belakang.
***
"Luna, menurut Lo, Presdir baru kita itu galak gak, ya?" random Nadira bertanya. Keduanya sedang berjalan ke area meeting room di lantai 14. Luna yang sudah tahu sahabatnya suka berbicara hal-hal aneh dan di luar nalar itu hanya mengedikkan bahu, enggan menjawab.
Sesampainya di depan pintu meeting room, Luna dan Nadira lantas membuka pintu kacanya lebar-lebar. Agar semua jajaran direksi dapat langsung masuk. Dua orang penjaga berbadan kekar sudah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
Luna yang bekerja di sekretariatan sudah paham. Nadira menatapnya, seolah bertanya kepadanya. "Penjaga," ucap Luna yang langsung diangguki oleh Nadira.
Nadira lalu meletakkan beberapa berkas di atas meja paling depan, tempat moderator rapat berada. Ia menghela napas berkali-kali. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, jujur ia sangat gugup sekarang.
"Nad, bantu Gue sebentar dong!" panggilan Luna menyentak alam sadarnya. Perempuan itu ternyata tengah kesulitan mengatur proyektor dan segala perangkat yang akan mereka gunakan nanti.
Dengan sigap, Nadira membantunya sambil menggerutu, "Ck! Lo gak punya asisten apa?"
Luna mendelik, "Ada, Lo kan asistennya," ucapnya yang langsung dijawab oleh pelototan mata Nadira.
"Eh, Luna. Gue masih penasaran tahu, emang beneran ya Presdir kita itu umurnya masih muda? Kok kayaknya Gue kurang ... "
"Meskipun kita menganggap perempuan tidak pernah salah, dan selalu menggunakan slogan girl support girl. Tapi, kali ini, Gue mau bilang Lo salah besar!" ucap Luna berlebihan.
Nadira melongo, "Ha? Apa sih, Lun? Tinggal bilang aja Gue salah, repot banget!"
Luna tertawa. "Sorry, sorry, ekspresi bersalah Lo itu kentara banget, gila!" jawab Luna sambil kembali mengatur proyektornya.
Nadira mendengus. Ia lanjut merapikan meja dan menata minum untuk dewan direksi. Sepuluh menit lagi para jajaran direksi pasti akan segera berdatangan.
__ADS_1
Luna mendekatinya, dan berbisik. "Presdir kita masih muda, lajang, ganteng lagi Nad!" mata Nadira membulat sempurna.
"Are you serious, Lun? Aduh!"
Lagi, Luna tertawa mengabaikan Nadira yang meringis kesakitan. Kakinya tak sengaja menendang meja. "Biadab!" umpat Nadira.
Bukan Luna dan Nadira namanya jika sehari saja tidak gaduh. Luna menarik napas setelah berhasil menghentikan tawanya yang menggelegar. Ia melirik ke luar, berharap tidak ada sesiapa yang mendengar tawa memalukannya.
Luna melirik arlojinya, tersisa lima menit lagi sebelum rapat dimulai. "Nad, ayo siap-siap! Sebentar lagi direksi datang," ujarnya, Nadira langsung kembali ke mejanya, merapikan sedikit penampilannya.
Lalu, beberapa orang tampak memasuki ruangan, termasuk Pak Rizal, Sang CFO yang meminta Nadira menjadi moderator secara tak langsung. Nadira memberikan senyum terbaiknya, berusaha ramah dan bersikap professional, meski dalam hati ia menggerutu.
Hingga saat semua orang telah duduk di kursinya masing-masing, tinggal seseorang lagi lalu mereka bisa memulai rapat internal ini.
Arsen masuk bersama dengan asistennya, Galen. Semua orang berdiri begitu Arsen melewati pintu. Tak terkecuali Nadira. Napasnya tercekat begitu mengetahui siapa Presdir baru mereka. Pria itu? Adalah Presdir? Yang benar aja! maki Nadira tak percaya.
Nadira mengerjapkan matanya berkali-kali, barangkali ia salah lihat. Ia mengingat kembali kejadian buruk dan mengerikan yang menimpanya kemarin. Memangnya boleh sekebetulan ini?
Arsen sempat tersenyum singkat saat sorot matanya secara tak sengaja bersinggungan dengan Nadira. I got you, girl.
__ADS_1