Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 63


__ADS_3

Arsen berjalan masuk ke dalam kantor dengan tergesa. Membuka pintu ruangannya dengan sedikit keras hingga pintu itu berderit nyaring kemudian menutup kembali di belakang punggungnya.


Galen langsung berdiri begitu Arsen datang dan mempersilahkannya untuk duduk. Memijit tulang di antara kedua matanya, Arsen mendesah pelan. "Apa masalahnya?"


Galen bergerak mengambil berkas dan menunjukkannya pada Arsen. "Project Manager diduga melakukan money laundering. Hal itu membuat para pekerja mogok, mereka menolak melanjutkan proyek kita. Kalau ini berlanjut, maka proyek tak akan bisa selesai tepat waktu," terang Galen.


Arsen terpekur di tempat duduknya selama beberapa detik sambil membaca dokumen terlampir itu. Membaliknya pelan, lembar demi lembar.


"Presdir," panggil Galen lagi sedikit cemas dan takut. Arsen sudah mengingatkannya waktu itu untuk berhati-hati.


Arsen menutup dokumen itu dan berdiri. "Buat gugatan dan minta bagian finance untuk membekukan semua asetnya," jawab Arsen berikutnya sambil berjalan ke tepi jendela.


"Baik, Presdir. Bagaimana untuk para pekerja yang mogok itu?" tanya Galen lagi.


Arsen menoleh, menyelusupkan kedua tangannya pada saku celana, ia memandang Galen dengan tatapan tak terbaca. "Bayarkan upah mereka, segera rekrut PM baru dan cari kontraktor pengganti," cetusnya yang membuat Galen terkejut.


"Presdir ... Itu, soal itu, pasti akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit," sangkalnya. Arsen mengangguk singkat.


"Memang, lalu kamu mau menanggung kerugiannya, Galen?"


"Tidak, Presdir. Saya akan segera mengurusnya," pamit Galen membawa serta berkas-berkas di meja kerja Arsen.


Kemudian, setelah Galen pergi dari pandangannya, Arsen terduduk kembali di kursinya, memangku serta rasa pening di kepala. Ponsel di sakunya memilih bergetar. Melihat nama di layar ponselnya, dengan cepat Arsen menjawab panggilan itu.


"Halo? Iya aku sebentar lagi pulang, setelah urusan di kantor selesai. Kamu sudah di rumah? Mau dibelikan sesuatu?" tanyanya pada seseorang di ujung telepon. Kemudian panggilan berakhir. Arsen memilih untuk segera pulang.


Sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk pergi ke lokasi proyek. Di sana tampak sepi, hanya ada beberapa ekskavator dan alat berat yang tampaknya sengaja dibiarkan. Arsen menyapukan pandangannya ke sekeliling proyek.


Kemudian menghela napas panjang, ia merasa lelah, karena proyeknya pasti akan tertunda selama beberapa waktu. Kemudian, setelah puas menelisik proyek pertamanya itu, ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah.


***


Nadira tampak tenang dalam istirahatnya. Memandangi langit-langit kamarnya dalam bisu. Tepat pada saat itu, ia dapat mendengar suara

__ADS_1


handle pintu yang diputar dan membuka. Menampilkan sesosok pria yang sangat ia kenal.


Arsen berjalan dengan gontai ke dalam, melepaskan jas dan dasinya, Arsen merebahkan dirinya tepat di samping Nadira. Perempuan itu membalikkan tubuhnya menghadap Arsen.


"Kok kusut gitu mukanya, kenapa Mas?" tanya Nadira. Yang ditanya menelengkan kepalanya ke samping. Memandangi garis wajah Nadira yang tampak berbeda saat tidak mengenakan hijab.


Arsen kemudian membalikkan tubuhnya agar saling berhadapan. "Project Manager mega proyek itu, melakukan money laundering," jawab Arsen tanpa mengalihkan atensinya dari Nadira.


Nadira tampak terkejut dengan fakta itu. "Seriously?" katanya dengan nada tak percaya. Arsen menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Iya, sulit dipercaya, kan? Galen baru mengetahuinya beberapa hari lalu saat memeriksa daftar belanja perusahaan, ada yang janggal dari laporannya."


"Lalu?"


"Aku sudah mengurusnya, dalam beberapa hari ke depan, PM akan mendapat surat panggilan dan semua asetnya akan dibekukan."


Nadira tampak mengangguk-anggukkkan kepalanya meski ia tak sepenuhnya mengerti apa itu money laundering dan pembekuan aset.


"Aku juga akan mengadakan rapat besok dan mengganti beberapa struktur perusahaan," kata Arsen lagi sambil menarik dirinya untuk bangun.


"Untuk apa minta maaf? Ini bukan salahmu, bukan juga tanggung jawabmu." Arsen menangkup kedua pipi Nadira dan mengecup keningnya singkat.


"Ini tugasku dan hal-hal seperti ini memang bisa saja terjadi," kata Arsen lagi lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Nadira pergi ke dapur untuk membuatkan Arsen makanan.


Dua puluh menit kemudian ia kembali dan menata makan malam itu di meja. Nadira dapat melihat Arsen berjalan keluar dari walk in closet masih dengan rambut basahnya.


"Kamu yang masak?" tanya Arsen menatap makanan di meja. Nadira menggeleng. Tangannya masih sedikit terluka, tak bisa memasak atau melakukan pekerjaan yang cukup berat.


"Jangan melakukan pekerjaan apapun dulu, oke? Lukamu masih belum sembuh, Dokter bilang harus banyak istirahat agar pemulihannya lebih cepat."


Menanggapi celoteh Arsen, Nadira terkekeh dan menganggukkan kepalanya singkat. Kemudian mengajaknya untuk makan. Selama proses mencerna itu, tak ada satu pun yang membuka suara, keduanya hanya makan dalam diam. Seolah ingin menikmati tiap kunyah dengan baik, terutama Nadira yang beberapa hari terakhir hanya memakan makanan rumah sakit.


"Aku juga mau bantu kamu, Mas. Tapi gimana caranya?" cetus Nadira membuat Arsen terhenti sejenak. Pria itu mendongak menatap Nadira.

__ADS_1


"Bantu apa, Sayang?" tanya Arsen lembut. Nadira tampak salah tingkah seketika.


"Eh itu ... Aku mau bantu kamu, masalah proyek itu kan awalnya aku juga yang handle. Aku jadi merasa bersalah karena resign," jawab Nadira sedikit tertunduk.


Arsen mengernyitkan keningnya. "Tidak perlu, kamu fokus saja untuk menyusun tesismu dari sekarang. Beberapa minggu lagi aku akan mengajakmu berlibur," kata Arsen lalu memasukkan satu suapan terakhirnya. Ia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan ke arah lain, seolah tak ingin Nadira ikut memikirkannya.


"Is it your command, Mr. Harrington?"


"No, it's my wishes."


Selama beberapa detik, keduanya berpandangan. "Oke ... By the way, aku juga sebenarnya punya keinginan, tapi aku ragu."


"Apa itu? Katakan, aku akan mewujudkannya."


Nadira tampak berpikir sejenak. Arsen menunggu dengan sabar sampai perempuan itu selesai merapikan bekas makannya. Setelah menata piring-piring itu dan meletakkannya dalam troli, Nadira memanggil seorang pelayan untuk membawa piring kotor tersebut ke dapur.


Arsen tak melepaskan pandangannya. Sambil menopang dagu, ia memerhatikan setiap gerak-gerik istrinya itu. Sampai kemudian Nadira kembali duduk di dekatnya.


"Jadi?" tanya Arsen. Nadira menoleh, dagunya sedikit terangkat, memberi isyarat.


"Apa keinginan kamu? Aku akan mewujudkannya," kata Arsen lagi seolah mengerti isyarat Nadira.


Nadira tampak berpikir sejenak, menghela napas pelan lalu berkata, "Aku dari dulu punya wishlist mau buka usaha atau bisnis, tapi masih ragu-ragu."


Arsen tampak mengangguk ringan beberapa kali. "Apa yang membuatmu ragu?" tanyanya seraya menarik Nadira ke dalam pelukannya. "Katakan, aku akan membuatmu yakin."


"Serius?"


Arsen menatapnya dalam. "Sangat serius, pernahkah aku bercanda untuk hal-hal yang menyangkut dirimu?"


"Almost never," jawab Nadira sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang Arsen. Pria itu mengusak pucuk kepala Nadira gemas. Jarang-jarang Nadira bisa bermanja pada dirinya.


"Aku ingin membangun bisnis, tapi tak tahu harus memulainya dari mana. Dan berapa kira-kira biaya yang harus dihabiskan?" aku Nadira.

__ADS_1


Arsen ber 'oh' ria. Mengecup pucuk kepala Nadira singkat. "Itu hal yang mudah, aku akan mengajarimu," kata Arsen yang kemudian dibalas tatapan antusias dari Nadira.


__ADS_2