
Arsenio berkali-kali melirik jam di atas dinding yang letaknya tepat di samping rak buku miliknya. Entah berapa kali pastinya ia mengintip dari jendela ruang bacanya demi memastikan istrinya sudah pulang atau belum.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka lima lewat tiga puluh menit, tetapi tak ada tanda-tanda Nadira pulang. Berdecak kesal, Arsen melempar buku yang dibacanya ke atas meja. Beranjak dari tempat duduknya, Arsen pergi menuju ruang tamu.
"Padahal aku sudah meminta bara api pergi dari sana tiga jam yang lalu, tapi kenapa belum pulang juga?" keluhnya cemas. Melirik jam tangannya hari sudah kian sore, Arsen berubah khawatir.
Ia sudah meraih kunci mobilnya saat seorang perempuan masuk dengan menjinjing tas belanjanya. Perempuan itu tampak lelah, terbukti dengan aksinya yang langsung duduk di sofa dan meminta air.
Belum menyadari keberadaan Arsen, Nadira membuka ponselnya. Berselancar ria tanpa memedulikan tatapan Arsen yang bagai Elang. Mengintainya di belakang.
Seorang asisten rumah tangga berjalan dan membawa segelas air minum. Arsen langsung meraih gelas itu dan menyodorkannya kepada Nadira, yang meskipun Arsen sudah duduk di sampingnya, ia masih tetap asik berselancar di media sosialnya.
Arsen berdeham keras, sontak Nadira mengangkat kepalanya. Sedikit terkejut dengan kehadiran Arsen di sampingnya. "Baru sadar?" sindirnya. Arsen merebut ponsel Nadira dan melihat berita internasional apa yang sedang dilihatnya.
Ini, kan? ... Bagaimana jadi berita internasional? ... Mata Arsen terbelalak. Saat mendapati berita tentang dirinya sebagai agen terekspos.
Nadira merebut kembali ponselnya. Lalu menunjukkan sebuah foto. "Mas merasa gak sih kalau foto di sini ... Mirip sama Mas? Walaupun fotonya samar tapi — "
"Bukan!" sela Arsen memotong ucapan Nadira. Ia lalu bangkit dan berjalan menjauh dari ruang tamu. Meninggalkan Nadira yang menatap punggungnya bingung.
***
"Damn it!" maki Arsen sambil membanting pintu di belakangnya. Meninggalkan bunyi bedebam yang memelas telinga.
"Beraninya melakukan ini padaku," gumam Arsen diikuti dengan gemeletuk gigi dan rahangnya yang mengetat. Mengepalkan tangan kanannya, Arsen mengarahkan tinju ke dinding guna melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
Tepat pada saat itu, Nadira masuk lantaran mendengar bunyi debam pintu yang keras. "Are you okay? Am I did the wrong?" tanyanya sedikit takut. Nadira selalu merasa kalut saat menghadapi Arsen yang dikerumuni kemarahan.
Arsen mengangguk kecil dan menyembunyikan tangan kanannya ke belakang punggung. "Something wrong isn't?" Nadira mlangkah mendekati Arsen dan meraih tangan kanannya.
"Dinding gak bersalah, kenapa Mas harus melampiaskan amarah ke dinding?" Arsen terdiam, memerhatikan Nadira yang mengusap lebamnya dengan lembut. "Sakit?"
"A little bit," jawab Arsen sedikit meringis saat Nadira menyentuh lukanya.
Menggeleng pelan, Nadira mendorong Arsen untuk duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan jendela kamar. Mengambil perlengkapan yang selalu ia sediakan di kamar lalu mengobati lebam di antara punggung tangan dan buku jarinya dengan telaten.
"Orang yang di foto itu ... Benar Mas, kan?" tanya Nadira setelah selesai membalut luka Arsen. Arsen masih terdiam, enggan menjawab iya ataupun tidak. Ia membiarkan Nadira menunggu selama beberapa saat.
"It's okay if you didn't tell me, but you should know. I'm so observant," ungkap Nadira yang langsung mendapat tatapan serius Arsen.
Ia meraih tangan Nadira dan menempatkan perempuan di antara kedua kakinya. Menatap Nadira lekat-lekat, Arsen dapat melihat raut muka yang tampak kesal dan penuh rasa ingin tahu. Rasa bersalah dan rasa ingin menjaga perasaan perempuan itu menari-nari di atas kepalanya.
Arsen mendongak, "Marah?" tanya Arsen lagi. Nadira tak membuka suara, dan itu cukup bagi Arsen untuk tahu bahwa perempuan yang tengah ia peluk itu sedang marah.
Arsen berdiri dan meminta Nadira untuk duduk sedangkan ia sendiri berjongkok tepat di hadapan Nadira. Menggenggam jemari Nadira dan mengecupnya singkat. Arsen berkata;
"Kamu tahu tidak? Ada hal-hal yang sebaiknya tidak dikatakan. Kuakui aku masih menyembunyikan sesuatu darimu, tapi bukan berarti aku tidak memercayaimu atau tidak memberitahumu hal ini, hanya saja ... " Arsen mengambil napas panjang.
Nadira masih mendengarkan dan menunggu dengan tangan yang saling bertautan. Menatap Arsen, ia tahu bahwa pria itu mati-matian menjaga emosinya agar tetap stabil.
"Hanya saja, Sayang. Aku memilih tidak mengatakannya untuk menjaga perasaanmu, aku tidak ingin kamu ikut menanggung perasaan dan beban yang kumiliki," kata Arsen kemudian.
__ADS_1
"Tapi, kenapa? Kenapa aku gak boleh tahu? Di masa lalu, aku juga menerima banyak luka, beban dan perasaan-perasaan yang gak menyenangkan! Kalau dulu bisa, sekarang juga bisa, aku bisa menanggungnya! Ini cuma alasan aja, ya, kan?!" marah Nadira.
Ia menepis kasar tangan Arsen yang hendak menangkup kedua pipinya. "Don't touch me!" sentaknya kesal. Selama beberapa saat Arsen menutup mata, mengatupkan rahangnya kuat.
"Jangan menguji kesabaranku, Nadira," ucap Arsen dengan nada mengancam. Mata Arsen berkilat marah. Kedua rahang Arsen mengeras, tak suka dengan gertakan Nadira padanya. Selama beberapa detik mereka hanya saling melempar tatapan kemarahan.
Sekali lagi, Nadira kecewa. Kini tatapannya berubah nanar, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Merasa tak ada lagi yang harus ia lakukan, Nadira mendesis pelan dan berbalik pergi.
Namun, sebuah tarikan lembut menahan sikunya, membuat Nadira mau tak mau membalikkan badan setengah ke arah Arsen. "Apa lagi sekarang?" tanyanya kesal, jelas sekali bahwa kemarahannya belum reda.
"Mau ke mana?" tanya Arsen tetap tak mengalihkan perhatiannya sedetik pun. Ia menarik Nadira kembali mendekat padanya.
Tetapi, meskipun jarak mereka berdekatan, Nadira selalu merasa dinding tak kasat mata itu membuat hubungan mereka rapuh. Sekali pun mereka telah saling berjanji untuk saling memahami. Nyatanya, hal itu tak pernah bisa mereka gapai.
"Ke mana?" ulangnya dengan sedikit tertawa getir. "Aku mau pergi, pergi ke tempat di mana keberadaanku diterima," jawabnya sarkas.
Arsen menggamit lengannya dan bertutur, "Tempatmu di sini, di sisiku! Kamu sudah berada di tempat di mana kamu seharusnya berada."
Nadira berusaha untuk menarik ruangannya, namun Arsen mencengkeramnya semakin kuat dan menariknya hingga ia berdiri begitu rapat dengannya, Nadira jatuh ke dalam pelukan pria itu yang langsung memeluknya erat, "Maaf."
Percuma minta maaf kalau akhirnya tetap sama! makinya. Ia memukul keras dada Arsen. Tetapi, bukannya melepaskan Nadira, Arsen justru lebih menariknya lebih dekat. Menopang kepalanya ke atas bahu Nadira.
"Biarkan aku memelukmu dan meredakan rasa marahku baru kita bicara," kata Arsen lembut, seolah dengan itu Nadira bisa menelan kembali kekecewaannya.
Dalam pelukan hangat itu, Nadira semakin tak kuasa menahan bendungan air di pelupuk matanya. Tak peduli sekuat apapun tekadnya untuk menahan tangis, hatinya telah remuk redam oleh kecewa.
__ADS_1
Pelan Nadira merasakan usapan halus di punggungnya, bahunya bergetar naik turun. Dalam derai air mata Nadira, hati Arsen terasa diiris sembilu. Maaf jika aku kembali membuatmu terluka, maaf.
Mengutuk dirinya, Arsen mengusap pelan pipi Nadira yang basah. Membisikinya kata-kata lembut demi menenangkan perempuan itu. Jika boleh memilih, Arsen lebih baik terkena luka tembak dibanding melihat istrinya menangis karenanya.