Cinta Sejati Sang Pewaris

Cinta Sejati Sang Pewaris
CSSP Ep. 54


__ADS_3

Arsen tampak memindahkan tata letak kopernya tepat ke sisi sofa agar mudah dijamahnya, siang ini ia putuskan untuk terbang ke Inggris. Nadira baru saja selesai keluar dari wardrobe saat Arsen tengah sibuk menelepon seseorang.


Mengambil ponselnya, Nadira kemudian membuka kamar secara perlahan, berusaha agar tidak meninggalkan derit pintu yang terbuka. Namun agaknya sia-sia karena ia merasakan sebuah tatapan tengah mengintainya.


Arsen melihatnya.


"Nadira," panggil Arsen pelan tetapi cukup untuk membuat Nadira terhenti melangkah keluar dari kamar. Ia dapat mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


Nadira tak perlu repot berpura-pura tidak mendengar. Ia diam di tempat, membiarkan Arsen meraih sikunya. "Aku memanggilmu," kata Arsen sambil memberikan tatapan tajamnya.


Arsen merasa apa yang mereka bicarakan semalam tak mencapai kesepakatan apa-apa. Nadira tetap kukuh pada pendiriannya untuk tahu, mengabaikan tatapan Arsen, Nadira menarik tangannya dan kembali membuka pintu.


"Aku sedang bicara padamu, Nadira," desaknya lagi dan bergerak menutup pintu, menghalangi Nadira untuk keluar. Kesal karena Arsen menghalangi langkahnya, Nadira mengepalkan tangannya.


"Minggir! Aku gak mau berdebat lagi," jawab Nadira dengan nada memerintah.


"We should," pinta Arsen, kini dengan nada memohon. "Kita harus bicara dan menyelesaikan kesalahpahaman ini."


"Salah paham? Ini bukan salah paham! You never believes me, and that the point!" sentaknya marah. Bahkan ponsel yang digenggamnya terlempar ke belakang. Nadira tak lagi memedulikan soal ponsel atau apapun, ia mengangkat dagu tinggi, menantang Arsen.


Mendapati luapan kekesalan dan tatapan tajam dari perempuan itu, Arsen terdiam selama beberapa detik. Ia tahu ini adalah salahnya, tapi apa yang ia lakukan sekarang adalah demi keselamatan Nadira juga, tetapi mengapa gadis itu tak bisa mengerti?


Tak semua hal harus dijelaskan sebagaimana ia tak harus mengerti segalanya.


"Minggir!" seru Nadira. Bergeming, Arsen berusaha menjangkau Nadira yang terasa menjauh darinya.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke Inggris selama beberapa hari ke depan," tutur Arsen. Meraih handle pintu, ia membukanya pelan dan bergeser sedikit memberi ruang bagi Nadira untuk keluar kamar.


"Dengarkan aku, setelah aku pulang dari Inggris, aku berjanji padamu akan menebus semua kesalahanku," bujuknya dengan memberikan tatapan lembut.


Nadira mendengus, merasa bahwa Arsen hanya membual. Ia tak berani untuk berharap lagi. "I don't care," gumam Nadira lalu berjalan keluar dari kamar.


Menatap punggung istrinya yang menjauh, Arsen hanya bisa menghela napas panjang. "Aku harus bagaimana menghadapimu?" keluhnya merasa frustasi.


Bersamaan dengan itu, ponselnya memilih bergetar. Sebuah pesan masuk dari Galen yang mengatakan bahwa ia telah sampai dan akan mengantar Arsen hingga ke bandara.


Seorang asisten rumah tangga membantunya membawa koper tersebut keluar. Berjalan melewati ruang tamu, Arsen memandang Nadira yang tengah menikmati sarapannya selama beberapa detik. Kemudian melanjutkan langkahnya ke luar rumah. Di sana, Galen sudah menunggunya.


"Jangan biarkan dia pergi ke luar rumah sendirian, selalu kirimkan laporan kegiatannya padaku setiap jam. Jangan sampai terlewat! Dan, kalau dia ingin keluar kirim penjagaan tanpa sepengetahuannya, kamu mengerti, kan?" perintah Arsen panjang.


Sang asisten mengangguk, "Baik, Tuan Muda."


"Tugasmu bertambah, Galen." Arsen berkata, memutus hening yang tercipta di dalam mobil. "Awasi si bara api itu, jangan sampai dia mendekati istriku," katanya kemudian.


Galen hanya mengangguk samar dan menyahut, "Baik, Presdir," secara pelan. Setelah itu, Range Rover mereka langsung melesat jauh.


Di bandara, beberapa orang telah menunggu kedatangan Arsen. Mengangguk hormat dan menyalaminya. "Pesawat Anda telah siap, Tuan. Kapanpun bisa berangkat." Seorang Aviation Security memberitahunya.


Mengangguk singkat, Arsen langsung masuk dan duduk di kursinya dengan sedikit gelisah. Gelisah karena ia meninggalkan Nadira dalam keadaan marah dan gelisah saat memikirkan apa yang akan terjadi selama ia di Inggris.


Ia hanya berharap semoga segalanya berjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya. Lalu burung besi itu terbang mengangkasa. Melewati hamparan awan dan langit biru.

__ADS_1


***


Sepeninggal Arsen, Nadira hanya bisa berdiam di kamarnya, membaca buku yang kemarin sempat dibelinya. Memikirkan kembali tentang hubungan mereka dan 'hal yang selalu disembunyikan Arsen' Nadira beranjak duduk. Rasa penasarannya terusik.


Meletakkan bukunya di meja, Nadira membuka tirai kamarnya, hari sudah semakin siang. Menilik ke luar rumah, suasana begitu sepi. Pada jam sibuk seperti ini, para pelayan sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya tukang kebun yang terlihat di taman.


Berbalik kembali ke posisinya semula, Nadira merasa cukup kesepian dan kehilangan sosok Arsen di kamar itu. Namun, menolak untuk larut dalam pikirannya akan pria itu, Nadira memilih menghabiskan waktunya dengan kembali membaca.


Menekuri kata demi kata di dalamnya hingga ia jatuh tenggelam dalam lautan kata. Nadira tak akan pernah bosan untuk melakukannya, meski saat setelah ia habis membaca bukunya, kedua matanya akan terasa lelah akibat terlalu lama membaca.


Kendati demikian, ia tetap menyukai buku dan aktivitas membaca itu. Menurutnya, hanya dengan membaca ia dapat menemukan kesejatian dirinya. Hanya dengan membaca, Nadira dapat menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu memedulikan yang lainnya.


Ia terus membalik halaman demi halaman buku itu. Saat selesai, hari sudah berubah malam. Membaca kalimat terakhir buku itu, Nadira sedikit tertegun dengan kutipan di bagian bawah.


There are some things that are best not said. Rather than knowing, it's better if you harbor your ignorance than to be hurt when you find out the real facts.


Mendadak Nadira teringat perkataan Arsen semalam. Pria itu juga mengatakan hal yang sama. Ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dikatakan. Nadira termangu di tempatnya.


Mungkinkah ia keliru dan salah memahami maksud Arsen? Tapi hal apa yang disembunyikannya sampai-sampai tidak mengatakannya lebih baik dibanding memberitahunya?


Tanda tanya berputar-putar di kepalanya. Namun, sebanyak apapun ia berpikir, Nadira tak bisa menarik kesimpulan apapun.


Ketukan pada pintu mengalihkan pikirannya untuk sejenak. Beranjak dari duduk, ia membuka pintu kamarnya. Seorang asisten rumah tangga memintanya untuk turun makan malam.


"Iya, aku mandi dulu," katanya sambil menutup pintu kamarnya kembali. Meregangkan tubuhnya yang terasa pegal duduk seharian ini, Nadira berpikir untuk menghubungi Arsen nanti.

__ADS_1


Usai mandi dan mengenakan piyama panjangnya, Nadira turun. Dua orang asisten langsung menyambutnya dan melayaninya makan. Nadira merasa ada yang kosong dari makan malamnya kali itu.


Biasanya, ada Arsen yang berkomentar ini itu soal makanan. Menggerutu karena makanannya terasa tidak enak dan hal lain lagi yang kadang membuat Nadira menggelengkan kepalanya.


__ADS_2