
"Maaf,tapi aku masih belum bisa move on dari Rangga, Rob" Seyla menolak pernyataan cinta dari Robi, sahabatnya sekaligus sahabat mantannya, Rangga.
Semua orang di sekolah tau itu,bahwa Seyla sangat mencintai Rangga. Entah apa alasannya Rangga memutuskan sepihak hubungannya dengan Seyla. Bukan mudah buat seyla bisa kembali tersenyum sepertu biasanya, tapi Robi, sahabatnya dari awal masuk smp terus menghibur seyla, hingga tanpa Robi sadari itu bukan karena kasihan tapi karena ada rasa tersendiri kepada mantan sahabatnya itu.
"Ya udah gak papa sey, aku ngerti kok, gak usah minta maaf, santai aja" Robi mencoba tetap tersenyum agar seyla tak merasa bersalah walau jujur hatinya benar-benar sakit.
"Sekali lagi maaf rob" kali ini seyla berani menatap mata laki-laki yang ada di depannya itu.
"Gak seyla, udah aku bilangkan, gak perlu minta maaf,kamu gak salah apa-apa, oke?" . Melihat senyum robi,seyla merasa tenang.
"Ya udah kita kekantin yuk... laper ni" ajak robi sambil memegangi perutnya.
"Ee.. kamu duluan aja rob, uang aku ketinggalan di kelas, nanti aku nyusul" kata seyla sambil masuk kedalam pintu kelas yang ada di belakangnya.
"Oke" jawab robi sambil berlalu ke kantin duluan.
Sesampainya di dalam kelas, seyla terdiam membeku di tempat saat melihat seseorang yang ada di depannya. Tepatnya di kursi nomer dua di pojok dekat dinding.
"Rahmi?, ee... ssejak kapan di kelas?" Tanya seyla gugup.
"Dari tadi Seyla, lebih dulu sebelum kalian mengobrol di depan kelas" kata Rahmi sambil tersenyum.
"Maaf Mi, aku tahu kamu mencintai Robi... aku minta maaf" raut wajah Seyla seketika berubah menjadi begitu sedih...
Rahmi tersenyum "bukan salah mu Sey, jangan minta maaf... Ini salah aku, aku yang salah mencintai orang. Orang yang ku cintai ternyata mencintai sahabatku"
"Tapi..." Seyla tertunduk tak berani melihat wajah sahabatnya yang kini tersenyum palsu.
Dia tau jelas bahwa gadis itu sedang terluka. Dan ini semua karenanya. Apa yang dia takuti kini menjadi kenyataan. Sahabatnya terluka karenanya.
"Udahlah Sey, gak usah di bahas, tadi katanya mau ambil uangkan? Buruan gih, Robi pasti nungguin di kantin." Suruh Rahmi.
"Em... kamu gak kekantin? "Tanya Seyla kepada Rahmi.
"Enggak, badanku kurang enak, jadi mau tidur di kelas aja"
"Aku antar ke UKS aja ya? Biar di kasih obat"
"Gak usah Seyla, aku tidur bentar nanti juga mendingan. Mending kamu sekarang ke kantin, waktu istirahat gak banyak loh". Mendengar penolakan Rahmi, Seyla hanya bisa mengangguk dan pergi ke kantin meninggalkan Rahmi sendirian di kelas.
"Rahmi butuh waktu sendiri sey, aku yang nemenin dia, kamu gak usah khawatir, mending susul Robi, kasian dia nungguin kamu kelamaan" kata yeri yang ternyata berdiri di depan pintu kelas dari tadi.
Seyla menggangguk dan sekarang benar-benar pergi ke kantin.
__ADS_1
***
Bel sekolah berbunyi. Seluruh murid SMP Mutiara berlarian menuju gerbang sekolah.
"Hari yang melelahkan ya, sekarang waktunya rebahan di rumah" kata Yeri sambil meregangkan kedua tangannya.
Sedangkan Rahmi yang di ajak bicara Yeri hanya diam menatapi sepatunya. Yeri yang merasa di kacangin mendengus kesal. Sejak kejadian tadi Rahmi hanya diam sudah seperti orang bisu saja. Ingin marah tapi juga gak guna, toh temannya itu lagi patah hati, yang ada dia nanti yang balik dimarahi dengan tatapan tajam Rahmi. Rahmi gadis yang terkenal pendiam itu kini benar-benar menjadi pendiam garis keras.
'Aku harus melakukan sesuatu' batin Yeri.
Setelah beberapa detik berfikikir, Yeri tersenyum dan menjentikkan jarinya ke atas.
"Mi, kamu duluan aja ya?, aku masih ada urusan"
Tanpa menunggu persetujuan dari Rahmi, Yeri berlari ke kelas Robi, berharap cowok itu belum pulang,karena mengingat ini jadwal piket Robi. Rahmi yang melihat sahabatnya berlari kegirangan menjauhinya hanya menggelengkan kepala, mengingat tingkah konyol apa lagi yang akan dia perbuat. Rahmi berusaha tak peduli, toh sekarang dia lagi gak semangat buat berfikir.
***
"Robi!!!" Teriak Yeri, setelah melihat cowok itu mengelap kaca kelasnya. Syukur deh, Robi belum pulang sekolah.
Robi yang merasa namanya di panggil, menoleh kearah asal suara. "Yeri temannya Seyla kan? Tanya Robi memastikan.
"Iyaa... kok lo tau nama gue?" Yeri balik nanya.
Kali ini dia bicara pakai lo gue, karena katanya gak nyaman pakai aku kamu ngomong sama cowok. Apalagi belum kenal.
"Oo... "
"Iya, lo ngapain manggil gue tadi?"
"Oh itu... lo masih inget Rahmi kan?" Tanya yeri memastikan.
"Ya ingetlah, waktu kelas 7 kan kami satu kelas sama Seyla juga. Rahmi itu cewek paling pemalu yang pernah gue kenal, itu buat dia jadi lucu" ji you mengingat2 tentang Rahmi yang tanpa dia sadari dia tersenyum saat mengingat sosok Rahmi.
Gadis pendiam yang pernah selokal sama dia. Yang kalau diajak bicara cuman jawab sekenanya, kadang cuman jawab 'iya' atau 'tidak'. Kalau udah di ajak bicara panjang lebar Rahmi menunduk dengan pipi bersemu merah.
'Benar-benar imut' pikir Robi,yang membuat dia senyum2 gak jelas.
"Lo ngapain senyam senyum sendirian?, lo sehatkan" tanya yeri keheranan.
"Eh... ya sehat lah..., emang kenapa lo nanyain Rahmi?" Kini dia kembali fokus ke inti persoalan.
"Oh... itu, tau gak sih lo, gara-gara lo, Rahmi jadi sedih, gue gak bisa lihat temen gue kayak gitu".
__ADS_1
Robi yang tiba-tiba di tuduh tanpa alasan mengernyitkan keningnya
"Kok lo nyalahin gue?"
"Hah... Rahmi itu suka sama lo, eh tapi lo malah nembak sahabatnya di depan dia, kan gak punya hati lonya" .Jawab yeri dengan polosnya membeberkan rahasia Rahmi yang dia simpan selama 2 tahun.
Yeri gak punya cara lain, cuman dengan ini Robi bisa tau kalau selama ini Rahmi mencintainya. Kalau masalah Rahmi marah, itu nanti di pikirin, yang penting sekarang Rahmi bisa menyelesaikan masalahnya.
"Rahmi suka gue?? Lo becandakan yeri" tanya Robi tak percaya. Gadis pemalu itu menyukainya?
"Ngapain gue becanda sama orang yang gue gak kenal. Gak berfaedah tau gak."
"Tapi kok bisa?" Robi masih tak percaya dengan ekspresi kagetnya itu.
" ya mana gue tau kok dia bisa suka sama lo? Kalau mau tau tanya dia aja."
"Oke.. gue boleh minta no hpnya Rahmi?" Pinta Robi tanpa basa basi.
Yeri hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan nomor Rahmi kepada Robi. Padahal dia tau jelas kalau Rahmi tidak suka jika nomornya di kasih kesembarang orang.
'****** siap-siap gue kena amuk Rahmi besok, udah beberin rahasia dia terus juga beberin no hp dia, maafin sahabatmu ini Rahmi' pekik yeri dalam hati setelah memberikan no hp Rahmi.
***
Sekarang pukul 21.10 , Rahmi udah selesai bantu-bantu ibunya nutup kedai. Dia pun segera membersihkan badannya. Selesai membersihkan badan Rahmi mengambil hpnya yang tergeletak diatas meja belajar, rencananya tadi mau nyetel alarm tapi dia malah melihat notivikasi sms dari nomor yang gak dikenal. Rahmi itu gak punya media sosial kayak anak remaja sebayanya, bagi dia, itu gak penting. Facebook dulu sempat punya, tapi udah lama gak di pakai. Dan kalau ada yang sms palingan Yeri atau Seyla, karena cuman dua orang itu yang tau nomor Rahmi. Tapi sekarang kok ada nomor asing yang sms dia?
"Ini Rahmi?" Itu isi pesan yang Rahmi baca, dan itu udah di kirim sejam yang lalu, siapa ya? Kok ada orang lain yang tau nomornya? Apa salah satu dari temannya menyebarkan nomornya?
"Ini siapa ya?" Rahmi membalas sms itu. Tak lama kemudian hp Rahmi berdering,
Cepat juga ni orang balasnya.
"Ini Robi, gue dapat nomor lo dari yeri"
'WHAT ROBI!? dapat no aku dari yeri? Wah... apa yang udah yeri bilang ke Robi?. Apa jangan-jangan.... aish.. dasar Yeri, apa sih yang dia fikirin sampai ngasih no aku ke Robi? Aku harus balas atau enggak?
"Robi ya? Ada keperluan apa sms saya?" Akhirnya Rahmi memutuskan untuk membalas sms Robi, takut di bilang sombong kalau gak di balas.
Tring....tring...
Hp Rahmi berdering lagi
"Itu tadi Yeri udah cerita semuanya ke gue... dia bilang lo suka sama gue? Dan gue udah buat lo sedih, maaf gue gak tau kalau lo suka sama gue, gue fikir lo gak tertarik sama gue, soalnya dulu waktu kita selokal lo itu cuek banget".
__ADS_1
WHAT!!!?? Rahmi melempar hpnya ke atas kasur. Kali ini yeri benar-benar bikin dia naik darah. Muka Rahmi yang putih kini sudah berubah memerah, entah itu karena marah atau malu? Yang pasti saat ini Rahmi gak tau mau balas apa, dia lebih memilih untuk segera tidur. Bodoh amat kalau Robi bilang dia sombong karena gak balas smsnya. Dia benar-bebar gak punya muka untuk pergi ke sekolah besok.
"Apa gue bolos aja besok ya?