
Rahmi berdiri di depan kaca dengan muka yang bersemu merah. Hari ini, dia akan bertemu dengan Jeno, kenapa hatinya begitu senang. Ada rasa tak sabaran namun ada juga rasa takut.
"wah kakak, cantik ya," Jisung menongolkan kepalanya di balik pintu kamar.
Dia menatap kakaknya takjub, baru kali ini, kakaknya berdandan dan mengenakan gaun.
"Gaunnya bagus, dapat dari mana?" Tanya Jisung yang belum pernah melihat gaun itu.
"Ini hadiah ulang tahun kakak kemarin, mama yang kasih," Jawab Rahmi sambil menarik kursi yang ada di meja rias.
Dia duduk menghadap adiknya,
"Gimana penampilan kakak? Gak malu-maluin kan?" Tanya Rahmi khawatir.
Jisung menghela napasnya, kakaknya selalu seperti ini, dia selalu tidak percaya diri dengan menampilannya sendiri,padahal dia cukup cantik, apalagi saat ini. Jisung yakin tak ada satu orang pun yang akan bilang dia jelek.
Jisung langsung memutar kursi yang di duduki Rahmi, yang membuat tubuh Rahmi pun ikut berputar ke arah kaca rias.
"Coba lihat, apa ada yang salah?, Kakak itu cantik, jadi berhenti untuk selalu berfikir dirimu malu-maluin kak," Jisung menatap kakaknya melalui cermin.
Rahmi menatap dirinya di dalam cermin. Rambut panjang yang beberapa helain rambut di ikat ke belakang, di tambah manis dengan gaun putih setinggi lutut. Sangat cantik.
Melihat kakaknya yang sibuk menatap dirinya sendiri, membuat Jisung menjadi gemas.
"Sudah tatap-tatapan sama cerminnya? Kalau udah biar aku antar ke taman kak," Jisung mengangkat kedua alisnya. Dia mulai menggoda kakkanya itu.
"Ya udah ayo berangkat, kamu udah pinjam motor bang Ridho?" Tanya Rahmi sambil menyambar tas mininya yang tergeletak di atas kasur.
"Udah, ayo," Jisung keluar lebih duly di susul Rahmi.
"Wah, mau kemana Mi? udah canti aja," kata Fani salah satu teman sekamar Rahmi, mereka papasan di dekat tangga.
"Itu aku mau..."
"KENCAN," Jisung langsung memotong kalimat Rahmi, yang di balas pelototan oleh Rahmi.
"Cie.... sama siapa? Ekhmm, semoga lancar dedek Rahmi," Fani mencolek dagu Rahmi dan mengedipkan matanya.
Fani dua tahun lebih tua dari Rahmi, di antara semua cewek di ruko itu, Fanilah yang paling bucin. Itulah kenapa dia seperti itu melihat Rahmi akan kencan. Pasti nanti setelah Rahmi pulang, akan di lempari seribu satu pertanyaan.
"Hahhhh... kamu apa-apaan sih dek," Rahmi akan melayangkan tinjunya ke pundak Jisung.
__ADS_1
Namun sebelum pukulan itu mendarat,Jisung sudah menahan tangan Rahmi dan langsung menariknya ke bawah.
Rahmi langsung memaki adiknyanitu dengan berbagai ucapan, Jisung yang di maki, hanya cengar cengir gak peduli, yang penting sekarang bawa kakaknya menemui bang Jeno secepatnya. Biar kakaknya ini bisa berhenti mencerocos.
Setelah beberapa lama perjalanan menuju taman mereka pun sampai, Rahmi turun dari motor di iringi Jisung membuka helmnya.
"aku tinggal atau tunggguin?" Tanya Jisung.
"Kamu pulang aja dek, aku bisa kok sendirian,"
"ya udah, aku pulang, tapi yakinkan bisa sendirian?" tanya Jisung memastikan.
"Ya ampun Sung, kakak gak bakalan sendirian nanti ada kak Jeno,"
"Hmm iya juga, ya udah, Jisung pulang ya kak, kalau ada apa-apa telpon aku,"
Rahmi mengangguk dan Jisung berlalu dengan motornya.
Rahmi berjalan ke arah salah satu kursi kosong di taman, dia duduk di situ, di dekat anak-anak kecil yang asik bermain ayunan.
Mereka lucu.
Sekali-kali Rahmi mengecek hpnya, tapi tidak ada notif sama sekali dari Jeno.
Menit berganti menit dan waktu terus berjalan, sudah pas dua jam dia duduk di taman.
"Dia benar-benar lupakah?" Rahmi menatap hpnya untuk yang kesekian kali.
Dengan memberanikan diri dia menekan kontak Jeno, menelponnya.
"Yah, gak aktif," Rahmi mengurut keningnya yang tidak pusing.
Nomor Jeno tidak aktif, dan Jeno juga tidak kunjunh datang. Kalau tidak jadi dia seharusnya bilang. Rahmi ingin pulang, tapi takut nanti dia pulang Jeno datang.
Jadi Rahmi memilih untuk menunggunya sebentar lagi.
.............
Lima jam sudah berlalu, kali ini Rahmi benar-benar sedih. Segitu tidak pentingnya kah Jeno untuknya? Sampai lupa dengan pertemuan yang Jeno usulkan sendiri? Atau Jeno sedang mempermainkannya? Rahmi menangis, untuk yang kedua kalinya dia menangis karena seorang cowok.
TIK TIK TIK...
Rahmi mendongakkan kepalanya ke atas langit, ternyata langit juga ikut menangis dengan Rahmi sekarang. Warna biru cerah langit sudah di tutupi oleh awan yang gelap, hujan sudah turun.
__ADS_1
"Apa ini hari sialku?" Tanya Rahmi sambil tetap mempertahankan kepalanya menatap langit.
Dia sama sekali tidak beranjak dari duduknya ketika hujan mulai deras, orang lain, sudah berlarian mencari tempat untuk berteduh, sedangkan beberapa orang yang sudah tahu hari ini hujan, mengeluarkan payung untuk melindunhi diri mereka dari siraman hujan.
Gaun baru yang Rahmi pakai sudah mulai basah, Rahmi menangis, air matanya tersamar oleh airh hujan yang ikut mengguyur wajahnya.
"Rahmi?" Seseorang berdiri di samping Rahmi yang terduduk di atas kursi.
Orang itu memegang payung yang berwarna biru tua itu ke arah Rahmi, dia menghalangi air hujan untuk kembali membasahi Rahmi. Sedangkan orang itu membiarkan badannya di sapa air hujan.
Rahmi menurunkan kepalanya setelah menatap payung yang ada di atasnya.
"Kak Jeno?" Rahmi mengalihkan pandangannya ke empunya payung.
Orang itu tersenyum ke arah Rahmi, itu senyum yang di paksakan.
"Aku Jaemjn, bukan Jeno," katanya lirih, yang membuat Rahmi merasa bersalah.
"Jaemin," Rahmi berdiri dari duduknya.
Dengan cepat Rahmi menyambar payung yang di pegang Jaemin untuknya, lalu dia mengarahkan payung itu tepat di atas Jaemin.
"Maaf, aku kira kamu Kak Jeno," kali ini Rahmi yang di guyur hujan.
TAP
Jaemin menarik tangan Rahmi yang tak memegang payung, hingga membuat Rahmi mendekat ke arah Jaemin. Jarak mereka dekat, hingga membuat muka Rahmi bersemu merah. Itu membuat Rahmi juga terlindung dari hujan.
"Kamu tadi nangis," Jaemin tak menggubris permintaan maaf Rahmi, dia malah bertanya.
Namun yang di tanya hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Apa karena Jeno?" Jaemin sekali lagi melayangkan pertanyaan.
Tapi Rahmi tetap diam, perlahan tubub Rahmi bergetar, dia menangis.
Melihat Rahmi yang kembali menangis, tangan Jaemin menggepal.
"Aku tidak suka dia menangis," batin Jaemin.
TAP
Jaemin meraih bahu Rahmi dan memeluk gadis itu. Rahmi kaget dan berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Jaemin semakin menguat.
__ADS_1
"Menangislah, jangan di tahan," mendengar itu, Rahmi berhenti menarik dirinya, dia langsung tenggelam dalam tangisannya lagi. Tepatnya dalam pelukan Jaemin, di bawah payung yang di guyur hujan.