Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
Episode 34


__ADS_3

Langit sudah mulai berubah menjadi merah ke orenan. Burung-burung pun sudah mulai kembali ke sangkarnya. Begitu juga dengan Riani dan Jaemin, mereka ingin berpamitan dengan ibu panti dan anak-anak.


"Kamu gak nyambung sekolah Vin?" Riani berhenti di ambang pintu panti asuhan. Dia menatap anak gadis yang kini sudah mulai menjadi gadis remaja yang cantik.


"Enggak bu, Riani gak mau nyusahin mama," Riani menyebut ibu panti yang telah merawatnya dari kecil itu dengan sebutan mama.


"Hmm... zaman sekarang, harus sekolah Vin, kamu itu pintar, kalau masalah biaya ibu udah bicarakan sama mama kamu, kamu gak perlu mikirin itu, ibu yang akan biayain kamu sekolah," tatapan mata Riani begitu teduh.


"Aduh bu, aku gak mau repotin ibu," Riani menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Enggak Vin, kamu gak repotin ibu, Vivin udah ibu anggap kayak putri ibu sendiri. Mulai besok kamu sekolah, ibu udah belikan kamu baju seragam serta perlengkapan sekolah lainnya."


Mata Vivin mulai basah, dia langsung memeluk Riani dan melepaskan tangisnya di pundak Riani. Dia merasa sangat bersyukur, bisa kenal dengan ibu Riani. Wanita yang dermawan ini mau membantunya untuk menyambung sekolah.


Tak lama kedua perempuan itu berpelukan Jaemin datang dari belakang menatap heran.


"Vivin kenapa ma?" Tanya Jaemin saat mendengar suara isak tangis sahabatnya itu.


Mendengar suara Jaemin, Vivin menggigit bibir bawahnya agar berhenti terisak. Dia melepaskan pelukan dengan Riani, dan menghapus air mata yang tersandar di pipinya.


"Vivin mulai besok udah sekolah Jaem, jadi dia terharu mungkin?" Riani tersenyum ke arah Vivin, membuat Vivin menjadi salting.


"Oh ya? Sekolah dimana ma?" Tanya Jaemin antusias


"Satu sekolah sama kamu," sontak penuturan Riani membuat Vivin mau pun Jaemin kaget.


Mamanya tak memberi tau dia kalau Vivin akan sekolah bersamanya. Senyum Jaemin mengembang, dia bisa merasakan senang yang di rasakan Vivin.


"Wah, kalau gitu besok dan seterusnya kamu berangkat ke sekolah sama aku aja Vin, nanti aku jemput." Kata Jaemin antusias.


"Engg... gak usahlah Jaem, aku berangkat sendiri aja, aku gak mau ngerepotin kalian terus," Kata Vivin dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Mendengar itu Riani kembali menyentuh kedua pundak Vivin, dia menggarahkan tubuh Vivin agar menghadap kepadanya.


"Berapa kali ibu bilang, kamu sama sekali gak pernah merepotkan kita Vin," mendengar itu Vivin menatap wajah Riani dengan tatapan penuh terimakasih.


Lalu dia menatap Jaemin juga, Jaemin mengangguk kan kepalanya tanda sependapat dengan mamanya.


"Terimakasih Bu, Jaem, aku... benar-benar berterimakasih," untuk yang kesekian kalinya, Riani menarik Vivin kepelukannya.


Jaemin yang melihat itu tersenyum bahagia melihat kedua perempuan yang dia sayangi berpelukan seperti itu.



🌱🌱🌱🌱🌱


Ke esokan paginya seperti janji Jaemin, dia sudah melesat ke jalan raya dengan seragam sekolah yang sudah rapi namun di balut jaket. Pagi ini, jalan sudah mulai padat, di penuhi para siswa yang akan berangkat sekolah dan para pekerja yang akan berangkat kerja.


Jaemin menghentikan motornya tepat di depan rumah panti asuhan. Dari situ dia bisa melihat seorang gadis yang sudah rapi dan cantik dengan baju seragam yang sama dengannya.



Dengan senyun lebarnya dia berlari ke arah Jaemin.


"Ayo naik," Vivin mengangguk. Dan hari ini menjadi hari pertama untuk Vivin bisa satu sekolah dengan Jaemin, harapan yang dia kira takkan mungkin terjadi.


Karena sekolah Jaemin, adalah salah satu sekolah elit di situ. Jantung Vivin berdebar-debar, akankah dia bisa berbaur dengan teman-teman di sekolah barunya itu?.


🌱🌱🌱🌱🌱


"Vin ayo, kok bengong," Jaemin menatap Vivin yang masih berdiri di parkiran.


Vivin meremas ujung roknya, dia sangat gugup sekarang.

__ADS_1


"Takut?" Tanya Jaemin sambil berjalan ke arah Vivin yang tak beranjak dari tempatnya berdiri.


Vivin menganggukkan kepalanya malu-malu, membuat Jaemin tertawa pelan. Kenapa dia selalu nyaman dengan gadis pemalu? Rahmi dan Vivin, tak jauh berbeda, sama-sama gadis pemalu, namun bedanya, Rahmi itu irit bicara, kalau Vivin sebaliknya.


"Ya udah sini jalan di belakangku, alu antar kamu ke ruang kepala sekolah dulu ya?" Vivin mengangguk dan berjalan di belakang Jaemin, sambil menutupi wajahnya dengan rambut hitam panjang yang dia miliki.


"Jaemin," Vivin dan Jaemin serentak membalikkan badannya, melihat siapa yang memanggil Jaemin.


Vivin tertegun sejenak menyaksikan seorang gadis yang melambaikan tangan ke arah mereka dengan senyum manis di wajahnya.


"Dia cantik," Batin Vivin.



"Hay Mi, kamu baik-baik ajakan?" Tanya Jaemin saat Rahmi sudah sampai di dekat mereka.


"Iya, aku baik-baik aja kok, sekali lagi makasih ya," kata Rahmi sambil tersenyum tipis.


"Oh ya Mi, kenalin ini sahabat aku, namanya Vivin," sontak Rahmi melirik ke arah belakang Jaemin, ada perempuan yang bersembunyi di balik punggung Jaemin. Seperti anak kecil.


"Hallo, aku Rahmi," Rahmi mengulurkan tangannya ke samping Jaemin, berharap orang yang di belakang Jaemin membalas jabatan tangannya.


"Aku Vivin," Vivin agak sedikit gugup. Baru kali ini ada orang dari kalangan atas yang menjabat tangannya selain Jaemin dan Jeno.


"dia kelihatannya baik," batin Vivin.


"oh ya Mi, kamu mau nemenin Vivin ke ruang guru gak? Soalnya aku mau ke wc,"


"Oke, yuk Vin," tanpa persetujuan Vivin, Rahmi menggandeng tangan Vivin dan membawanya ke ruang guru.


Rahmi awalnya canggung dan takut. Tapi dia ingin berubah, di tambah lagi melihat Vivin yang kelihatannya takut melihat Rahmi. Dia ingin berteman dengan Vivin, sepertinya sifat merela tak jauh berbeda.

__ADS_1


__ADS_2