Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
Episode 26


__ADS_3

"Ya, kamu jadikan antar aku pulang? Nanti orang rumah khawatir kalau telat pulang," Rahmi menggerutu kepada Tia yang malah tidur-tiduran di atas kasur setelah selesai makan.


Padahalkan sesudah makan tidak baik langsung tidur. Rahmi sudah menegur temannya itu, tapi yah begitulah si Tianya tetap bodoh amat.


"Iya Mi, tapi tunggu sebentar ya, ngantuk nih habis makan," Tia menarik selimutnya hingga menutupi lehernya.


Rahmi yang mendengar itu kesal bukan main, dia langsung berdiri dari sofa yang tersedia di kamar itu dan menarik selimut Tia sekuat tenaganya. Sehingga selimut itu teronggok dengan jeleknya di atas lantai.


"Rahmi!!! Kamu marah ya????" Tia tersenyum jail ke arah Rahmi, yang mengundang pukulan hinggap di lengannya.


"Akhh... Iya Mi, iya, aku antar kamu sekarang, punya tangan kok kasar amat sih," Tia menggerutu sambil mengusap tangannya yang perih.


Rahmi memang memukul sekuat tenanganya. Dia sudah tidak tahan lagi, melihat tingkah Tia yang santai bak di pantai. Namun sepertinya pukulan tadi tak membuat Tia jera, lihatlah sekarang dia malah duduk sambil memejamkan mata dengan nyamannya di atas sofa bekas Rahmi duduk tadi.


"Cckk, aku pulang sendiri aja deh," Rahmi merajuk, dan menyosor ke arah pintu kamar. Baru saja tangan Rahmi menyampai gagang pintu,Tia langsung menggelayut manja di tangan putih Rahmi.


"Lepasin Ya, aku mau pulang," suara Rahmi datar tanpa nada.

__ADS_1


"Jangan marah dong, iya deh, yuk aku antar, nih udah bawa kunci mobilnya," Tia menaikkan kedua alisnya yang di balas jitakan di kening luasnya Tia.


"Dari tadi kek Ya," Rahmi langsung menarik tangan kiri Tia, sedangkan tangan kanannya mengusap kening Tia yang habis di cium tangan Rahmi.


'Nih cewek kok gak ada lembut-lembutnya sih,' Tia hanya berani menggerutu di dalam hati.


Kalau dia membiarkan mulut embernya berbicara seperti itu, mungkin sekarang Tia sudah di tendang oleh Rahmi. Melihat betapa ringannya Rahmi mengayunkan tangan padanya, pastinya kaki Rahmi pun tak kalah ringan untuk menendang bokongnya.


"Mau kemana dek?" Haechan ternyata baru keluar juga dari kamarnya. Dan kebetulan berpapasan dengan Tia dan Rahmi.


"Eh... kapan tuh kunci sama mu dek? Bukannya tadi di saku abang ya?" Seingat Haechan dia tidak ada memberikan kunci kepada adiknya yang tomboy itu.


"Aku ambil sendirilah, kalau minta sama abang gak bakalan di kasih, iya kan?" Tia kembali menaikkan kedua alisnya yang membuat Rahmi mau pun Haechan menjadi gemas dengan tingkah sesuka hatinya.


'Bagaimana Dika bisa tahan berteman sama adikku ini ya?' Haechan bertanya pada Tuhan kayaknya.


"Gak boleh, kamukan belum punya SIM dek, biar abang antar kalian berdua ya?" Haechan menawarkan dirinya.

__ADS_1


"Gak mau! Abang kalau bawa mobil lambat banget, yang ada nanti malam sampai di rumah Rahmi," Tia menggeleng dengan tegas.


"Pokoknya kamu gak boleh bawa mobil," Haechan mendekat ke arah adiknya itu, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak mau, aku mau nyetir," Tia tetap bersikukuh.


'Hah... kalau gini kapan kelarnya? Kaki udah pegel lagi berdiri dari tadi,' Rahmi menggerutu sendiri melihat tingkah kedua bersaudara ini.


Dengan santainya Rahmi melorot ke bawah dan duduk lesehan di atas lantai. Bodoh amatlah soal jaga imej, kaki dia udah gak mau di ajak kompromi lagi buat terus berdiri.


"Eh, maaf ya Mi, aku lupa kamu nungguin," Tia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.


Rahmi hanya memutar bola matanya kesal, lalu mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk melanjutkan perdebatan tak berfaedah itu lagi.


" Tia gak suka di bantah ya bang! Tia mau bawa mobil, TITIK. Kalau abang gak ngizinin Tia mogok makan," Tia menatap bola mata hitam Haechan lekat-lekat.


"Hah... ya sudah, tapi hati-hati, jangan ngebut-ngebut, nyebrang lihat depan belakang, sebelum belok hidupin lampu sen, kecepatan mobil jangan lebih dari 40 km," Haechan terus mencerocos seperti emak-emak bahkan lebih dari pada emak mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2