
"Mi? Kok bengong sih? Ayo masuk," Tia memanggil temannya itu yang ternyata masih berdiri di balik pagar rumahnya.
"Ya, kamu gak salah rumahkan?" Tanya Rahmi masih fokus menatap rumah yang bertingkat dua itu.
"Hahaha, ya enggak lah Mi, masa iya sama rumah sendiri aku salah," jawab Tia sambil menyeringai.
"Hmmm... bukan rumahmu Ya, tapi rumah ayahmu, kan ayahmu yang punya rumah," Rahmi melenggang masuk, menyusul Tia yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Terserah deh Mi," Tia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan Rahmi tadi.
Saat Tia membuka pintu seorang pembantu di situ langsung berjalan ke arah mereka. Terlihat dari wajahnya umurnya sudah hampir 60 tahunan. Sudah cukup tua, tapi masih bekerja di rumah sebesar ini, apa tidak kewalahan?
"Udah pulang non?" Wanita yang ternyata di panggil mbok oleh Tia itu menyapa Tia, lalu menatap ke arah Rahmi.
"Adek temannya non Tia? Wah, ini pertama kalinya non Tia bawa teman selain nak Dika," tutur mbok itu yang membuat ku cukup terkejut.
"Iya mbok, dia teman aku, oh ya, aku lapar nih mbok," mata Tia berbinar-binar dan tangannya menggelayut manja di tangan pembantunya itu.
Sepertinya Tia cukup dekat dengan pembantunya. Dia sama sekali tidak bertingkah layaknya pemilik rumah yang selalu menjaga imej dan menunjukkan status mereka lebih tinggi dari pada pembantunya. Tia lebih bertingkah seperti seorang cucu yang meminta makan kepada neneknya.
"Mbok udah selesai masak, ada ayam panggang ke sukaan non, tapi ganti baju dulu baru makan ya non," mbok itu mengusap kepala Tia penuh cinta.
__ADS_1
"Oke mbok, yuk Mi, ke kamar ku dulu ya," Rahmi yang masih tercengang dengan hubungan pembantu dan majikan itu hanya menatap Tia penuh ketakjuban, dia bahkan tak mendengar ajakan Tia untuk ke kamarnya.
"Mi? Kok bengong lagi sih? Hobi banget ya bengong, ayo... ke kamar ku dulu," Tia menepuk pundak Rahmi kesal, yang membuat Rahmi tersentak kaget.
"Iya Ya, tapi gak usah di pukul juga, sakit tau," Rahmi mengelus pundaknya yang terasa pedih karena di pukul Tia dengan cukup kuat.
Tia hanya menyeringai dan menarik tangan Rahmi menuju pintu kamarnya yang ada di lantai dua. Dia bahkan tidak meminta maaf kepada Rahmi atas pukulannya tadi yang membuat muka Rahmi terus di tekuk.
"Kamu tunggu di sini ya Mi, aku ganti bajunya sebentar kok," Rahmi menurut dan menunggu Tia di dekat sofa yang ada di sudut kamar Tia.
Kamar Tia di warnai dengan warna biru muda, mulai dari warna dinding, sprai, sofa, meja, bahkan lemarinya juga berwarna biru muda. Lebih tepatnya tidak ada warna lain selain warna biru di sini. Sambil melihat-lihat, tak sengaja tangan Rahmi menyenggol salah satu foto yang bertengger manis di atas meja rias Tia. Rahmi pun menegakkan foto itu kembali.
Di foto itu sepertinya Tia waktu kecil dengan seorang bocah laki-laki yang kelihatannya lebih tua dari Tia.
"Iya, itu abang aku Mi, Haechan namanya," kata Tia yang muncul dari belakang Rahmi.
"Oo.. kalian cuman berdua bersaudara?" Tanya Rahmi lagi.
"Yoi..., kamu sendiri?" Tia juga belum tau tentang keluarga Rahmi, toh baru beberapa minggu mereka baru berkenalan.
"Aku juga berdua, aku yang sulung, kalau adik aku laki-laki, namanya Jisung," terang Rahmi lengkap, karena tak mau nanti Tia banyak tanya lagi.
__ADS_1
"Aah, gitu," berbarengan dengan jawaban Tia, seseorang dari luar mengetuk pintu kamar dengan bertubi-tubi, seakan-akan ada bencana di luar kamar.
"Tia....Oi... Tia..." orang itu terus memanggil nama Tia, baru berhenti ketika Tia sudah membuka pintunya, di susul Rahmi yang mengikuti di belakangnya.
"Apaan sih bang, gak usah terika-teriak ya! Adek gak tuli," Tia memanggil adek ke dirinya akalu sudah di rumah.
"Makan yuk, kata mbok adek bawa teman, sekalian makan bareng kita," kata Haechan sambil melirik ke arah Rahmi.
"Hallo, salam kenal aku Haechan, abangnya Tia," Haechan mengulurkan tangannya ke arah Rahmi.
"Saya Rahmi Kak," jawab Rahmi tanpa membalas uluran tangan Rahmi.
"Hahaha, Rahmi gak suka salaman sama cowok bang, udah simpan aja tuh tangan," Tia mendorong tangan abangnya sambil tersenyum jail ke arah abangnya yang sedang menahan malu.
"Ah.. aku gak tau, maaf ya Mi," Haechan menyimpan tangannya di belakang punggung.
"Eh enggak kak, Rahmi yang minta maaf; Ragmi belum terbiasa aja," meraka saling meminta maaf sekarang.
"Udah lah, yuk makan, cacing di perut adek udah minta makan nih," Tia mendorong abangnya ke belakang agar memberi dia jalan keluar dan menarik tangan Rahmi untuk mengikutinya.
"Hmmm... ternyata masih ada cewek yang jaga diri kayak dia ya," gumam Haechan menatap kedua gadis itu menuruni tangga.
__ADS_1
(Ini visual Haechan nya ya..😊)