
Rahmi tergesa-gesa berlari di koridor sekolah menuju UKS. Setelah dia mendengar berita dari Tia kalau Jaemin masuk UKS karena tangannya yang terluka terkena lemparan bola basket dengan kuat. Sehingga lukanya berdarah lagi.
"Ini salah ku, seandainya saja kemarin aku hati-hati jalan, mungkin Jaemin gak bakalan terluka karena aku," batin Rahmi yang masih berlari menuju UKS. Entah kenapa UKS terasa sangat jauh dari kelasnya.
"Hah... sampai juga" Rahmi memegangi kedua lututnya seperti orang rukuk. Dia masih ngos-ngosan berusaha mengambil napas. Setelah merasa napasnya sedikit terkontrol dia pun membuka pintu UKS. Mata Rahmi memandangi sekitar, ada dua pintu di situ, yang satu kamar untuk para murid yang sakit sedangkan yang satunya lagi ruangan tempat persediaan obat. Rahmi memilih masuk ke pintu sebelah kiri, dia membukanya pelan, dan terlihat disitu beberapa kasur yang berjajar rapi yang di balut kain putih. Setiap kasur di batasi oleh tirai berwarna senada dengan kasurnya, Rahmi melihat ke kasur pertama tidak ada orang, dia terus berjalan sampai di kasur nomor tiga dia berhenti melangkah setelah menyibak tirai itu. Orang yang duduk di atas kasur menghadap jendela itu langsung menoleh ke arah Rahmi yang baru saja berdiri di belakangnya.
"Jaemin? Kamu oke?" Tanya Rahmi lalu melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di depan Jaemin. Rahmi mengambil kursi yang berdiam manis di pojok sebelah kiri, menyeretnya sampai di depan Jaemin, dia duduk di kursi itu sejajar dengan Jaemin.
"Aku oke kok Mi, Kamu kok tau aku disini?" Tanya Jaemin selidik.
Mendengar pertanyaan Jaemin, Rahmi tersenyum manis dan menjawab "Kalau mencari seorang Jaemin itu gak susah Jaem, tinggal tanya sama salah satu siswi pasti juga langsung tau, kamukan populer," mendengar jawaban Rahmi, Jaemin hanya mengangguk mengerti.
"Boleh aku lihat tanganmu?" Tanya Rahmi lalu berdiri dari kursinya, dia melihat ke arah luka Jaemin yang sekarang sudah di tutupi.
"Maaf, gara-gara aku..." Rahmi merasa bersalah.
"Gak apa-apa Mi, jangan merasa bersalah, oke?" Jaemin tak suka jika ini membuat Rahmi sedih.
__ADS_1
"Hmm.." Rahmi kembali duduk di kursinya. Dan suasana kembali hening. Sampai tiba-tiba perut Jaemin merasa lapar.
"Mi, kamu udah makan belum?" Kata Jaemin sambil memegangi perutnya yang lapar.
"Ee.. belum, tadi gak sempat ke kantin," Kata Rahmi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya udah ke kantin yuk" Jaemin berdiri dari duduknya dan dia menarik tangan Rahmi. Sontak Rahmi kaget melihat tangannya di tarik oleh bintang di sekolah ini (padahal dia juga bintang di sekolah itu).
Rahmi menarik tangannya dengan cepat, Jaemin yang tau itu menoleh ke arah Rahmi. "Emm... kamu lagi sakit Jaem, biar aku aja yang beli makanan, kamu tunggu di sini aja," kali ini, Rahmi yang menarik tangan Jaemin untuk kembali ke kasurnya.
"Aku gak apa-apa kok, cuman luka dikit," Jaemij gak mau nurut, dan Rahmi juga gak mau ngalah.
Bukannya terlihat kesal, Rahmi terlihat begitu imut. Dia sama saja dengan Jisung. Setiap mencoba marah pasti malah terlihat imut.
"Apa kau sekarang sedang marah Mi?" Tanya Jaemin menahan tawanya.
__ADS_1
"Menurutmu? Pakek acara nanya lagi" Rahmi mengerutkan keningnya tak suka.
"Kalau kayak gitu terus kalian gak bakalan bisa makan guys," Tia masuk sambil membawa dua roti dan minuman buat kedua temannya itu.
"Tia, terimakasih," Rahmi menyambar roti di tangan Tia, dan memberi yang satunya lagi kepada Jaemin.
"Kamu gak masuk kelas Mi?," Tanya Tia yang menyandarkan dirinya di dinding, mengarah ke Jaemin dan Rahmi yang sedang menikmati roti mereka.
"Hmm, iya, kan nanti kelasnya ibu galak," Jawab Rahmi yang membuat Tia menggelengkan kepalanya.
"Ibu Lia, bukan ibu galak Mi," Kata Tia yang di balas anggukan oleh Rahmi. Dia malas berdebat, ibu itu memang cocok di panggil galak kok.
"Kamu juga ke kelas kan Jaem?" Rahmi mengalihkan pandangannya ke Jaemin.
"Enggak Mi, abang aku datang mau jemput, katanya ada urusan yang harus di bahas." Jaemin meremas plastik roti itu dan berniat membuangnya ke tong sampag yang ada di pojok ruangan.
"Sini, biar aku yang buang," Rahmi langsung mengambil plastik di tangan Jaemin dan membuangnya bersama botol minuman.
__ADS_1
'Sepertinya ada yang mulai perhatian ke seseorang nih,' Batin Tia. Dia tersenyum melihat tingkah gadis yang sebelumnya dingin, menjadi begitu peduli dengan Jaemin.