Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 35


__ADS_3

Mungkin sudah di atur oleh takdir sedemikian rumitnya. Lihatlah sekarang Vivin dan Rahmi menjadi teman sekelas. Sesuatu yang sama persis seperti kisah-kisah di film mau pun novel romansa yang biasa di edarkan. Orang yang mencintai Jaemin dan orang yang di cintai Jaemin sekarang mulai menjadi sepasang teman.


Keduanya terlihat nyaman satu sama lain, mungkin karena merasa cocok dan memiliki pemikiran dan sifat yang sama. Terlihat jelas dari gunjingan seisi kelas saat Vivin mulai memperkenalkan dirinya.


Vivin berdiri tepat di depan teman satu kelasnya itu. Seperti ritual yang wajib, setiap murid baru harus memperkenalkan diri mereka.


Mungkin hanya Rahmi yang bisa melihat betapa gugupnya Vivin. Di saat Vivin menatap ke arah Rahmi, Rahmi memberikan senyumnya, mentransfer semangat untuk Vivin.


"Perkenalkan nama saya Vivin," singkat padat dan jelas. Membuat semua orang di kelas mengerutkan keningnya termasuk Rahmi.


"ee... nama keluargamu? Kok cuman Vivin doang?" Kata salah satu cewek yang duduk di bangku paling depan.


"ee.. itu.. aku.." Vivin tergagap, dia harus bilang apa?


Dia saja tidak tau siapa orang tuanya dari kecil dia sudah hidup di panti asuhan. Sepertinya orang tua Vivin tak menginginkan kelahirannya ke dunia ini.


"Jangan-jangan lo yang anak panti itu ya? Itu loh, kemarin mama ku bilang, kalau orang tuanya Jaemin daftarin salah satu anak panti ke sekolah kita," Itu adalah anak cowok yang berbadan tinggi, duduknya tepat di belakang Rahmi.


"Oh... pantesan gak punya nama belakang," saut salah satu murid di kelas itu, yang sontak mengundang tawa seisi kelas.


"Kalian bisa diam! Tolong jaga sikap sama Vivin," jawab wali kelas mereka dengan nada tegas.


Seisi kelas kembali sunyi, namun terlihat jelas di wajah beberapa siswa yang menahan tawa, rupanya mereka belum puas menertawakan Vivin. Rahmi menatap Vivin dengan iba, kenapa semua orang memandang rendah orang-orang yang memiliki ekonomi rendah dan anak panti? Uang menjadikan mereka sok hebat dari segalanya, merasa diri paling tinggi, hingga tak segan menginjak orang yang berada di bawah mereka. Memuakkan.


Vivin tertunduk, pandangannya mulai buyar karena air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.


"Vin, kamu duduk di samping Rahmi ya, yang tadi ngantar kamu ke kantor," kata wali kelas mereka yang tak lain bernama Bu Lis.


Vivin mengangguk lemah, dan berjalan melewati beberapa siswa yang menatapnya dengan jijik. Ini yang Vivin takutkan kalau sekolah di tempat elit seperti ini. Jika tidak karena segan dengan Riani mamanya Jaemin mungkin Vivin takkan mau.

__ADS_1


"Vin," Rahmi menepuk pundak Vivin yang sudah duduk di sebelahnya.


Rahmi menunduk sedikit untuk melihat wajah Vivin yang tertunduk dari tadi.


"Hah, ini," Rahmi mengulurkan sapu tangannya yang dia simpan di dalam tas kepada Vivin.


"Eh, gak usah Mi," Vivin menolak sambil mendongakkan kepalanya.


Dan air mata menetes karena tak terbendung lagi di pelupuk mata Vivin. Rahmi yang mendengar penolakan Vivin langsung mengelap sendiri air mata Vivin dengan sapu tangannya. Dia tak suka melihat orang yang tak bersalah tertindas seperti ini.


"Wah, kayaknya si gadis beku dapat teman tuh," Cibir salah satu cewek yang ada di depan Rahmi.


Rahmi yang sedari tadi memperhatikan Vivin langsung menatap ke arah cewek yang ada di depannya.


"Kamu bisa diam Mona? Atau perlu aku sumpel mulutmu dengan sapu tanganku agar kamu bisa diam? Sekali lagi aku dengar suaramu awas saja," tatapan mata Rahmi yang tadinya hangat berubah tanpa Ekspresi dalam waktu sekejap.


"Makasih Mi," jawab Vivin takut-takut.


"Vin, kau ada yang ganggu kamu lagi bilang ke aku, kan kita teman. Jangan terus diam di gituin oke?" Vivin hanya menggangguk mengerti.


Hari ini dia dapat seorang teman selain Jaemin, dia Rahmi.


"Emm.... Mi, ini kursinya memang kosongkan?" Tanya Vivin


"Enggak, ini kursinya Tia, tapi hari ini dia gak masuk, ada acara katanya. Kalau nanti dia balik ke sekolah, nanti kita bicarain kamu duduk dimana, di samping mona juga kosong," kata Rahmi menjelaskan.


"Aku gak mau duduk sama anak panti ya Mi!," Kata Mona tak setuju.


"OH," jawab Rahmi ketus tak peduli. Vivin yang melihat itu tersenyum takjub.

__ADS_1


"Kamu orangnya gak penakut ya Mi," kata Vivin.


"Eh, aku orangnya takut kalau ketemu orang asing Vin, tapi karena udah biasa ketemu sama teman sekelas, aku pun udah terbiasa, beda ceritanya kalau anak lokal lain," jelas Rahmi yang sama sekali tak di mengertu Vivin.


"takut ketemu orang asing? maksudnya?" batin Vivin. Dia tak mau bertanya lagi sama Rahmi, karena sekarang Rahmi sudah fokus memperhatikan buk Lis yang mengajar di depan kelas.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Jam istirahat Rahmi membawa Vivin ke kantin. Rahmi mau mengenalkan sekolah ini sama Vivin, tapi sebelum itu perut mereka perlu di isi terlebih dahulu.


"Rahmi, Vivin!," sontak kedua perempuang yang baru berniat duduk tadi menoleh ke asal suara.


"Jaemin," panggil Vivin dengan semangat.


Rahmi yang menyadari Vivin begitu bahagia bertemu Jaemin tersenyum lebar. Terlihat jelas bahwa Vivin sangat senang bertemu Jaemin.


"Kalian udah pesan belum?" Tanya Rahmi setelah sampai di dekat meja Vivin dan Rahmi.


"Belum Jaem, baru mau pesan," kata Rahmin mendahului Vivin.


"Ya udah biar aku yang pesan ya,"


Jaemin beranjak dari berdirinya dan pergi membeli makanan. Sedangkan Vivin dan Rahmi kembali duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Lihat deh, kayaknya tu murid baru suka sama Jaemin, gak sadar diri apa? Anak panti kayak dia suka sama Jaemin? Kan gak level," Itu Mona, teman sekelas Rahmi yang memang terkenal sebagai tukang gosip di sekolah itu.


Vivin menunduk lagi, dan Rahmi menggepal tangannya kesal.


"Jangan dengerin Vin, mereka cuman sirik aja," Rahmi berusaha menenangkan Vivin yanh sepertinya akan mulai menangis lagi.

__ADS_1


__ADS_2