Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 38


__ADS_3

"Apa kamu datang ke taman karena Kak Jeno yang minta?" Suara Rahmi datar. Tapi cukup mudah membuat Jaemin merasa tersinggung.


"Aku datang, bukan karena Jeno Mi, tapi karena KAMU," Jaemin menjawab dengan mantap, yang tanpa Jaemin sadari ada hati yang tak nyaman mendengar itu. Bukan hanya satu hati, tapi tiga hati sekaligus. Yaitu Rahmi, Jeno dan Vivin


Mata Rahmi bergetar, dia tak mau apa yang di fikirkannya sekarang itu benar. Tidak, mana mungkin Jaemin menyukainya, itu yang terus Rahmi katakan pada hatinya. Jaemin mengatakan itu pasti karena sudah menganggapnya sebagai teman. Benar, tidak lebih!.


Menyadari keterkejutan Rahmi, Jaemin merasa bersalah. Kenapa mulutnya tak menyaring kata-kata sebelum di keluarkan?


"Hmm, ma... maksudku, Iya, bang Jeno memang ngasih tau aku kalau kamu nungguin dia di taman. Dan aku yang tau kalau orang itu temanku, gak mungkin dong aku membiarkan mu menunggu terlalu lama. Dan bang Jeno waktu itu benar-benar tak bisa menemuimu kemarin."


"Kenapa?" Tanya Rahmi lagi. Kali ini, Rahmi memilih untuk tak memakai emosinya. Lagian, dia tak pantas memarahi Jaemin seperti itu, bagaimana pun ini tak seutuhnya salah Jaemin.


"Ada urusan mendadak Mi, dan percayalah, urusan itu benar-benar tak bisa dia tunda," Jaemin kembali meyakinkan Rahmi.


Berharap Rahmi tak lagi marah kepada Jeno. Jaemin menyadari itu, saat Jeno dan Rahmi mengalami kesalahpahaman, hati mereka tak ada yang tenang. Jaemin yakin sekali pasti mereka saling merindukan satu sama lain.

__ADS_1


Tak seperti Jaemin, yang hanya mengikhlaskan gadis yang di rinduinya merindui orang lain. Biarlah Jaemin yang terluka tapi jangan Jeno dan Rahmi.


"Gitu ya Jaem, aku kira dia lupa," kata Rahmi lirih.


"Enggak Mi, dia ngak mungkin lupa sama kamu,"


DEEEG....DEEG...


Kalimat Jaemin barusan ternyata mampu membuat muka Rahmi memerah. Sepertinya muka Rahmi merona karena tau bahwa Jeno gak melupakannya.


"Iya Jaem, aku percaya kok sama yang Jaemin bilang,"


"Setelah ini, Rahmi gak perlu lagi ragu sama aku, aku gak bakalan mau bohongin kamu Mi. Kamu tau sendirikan? Kalau merusak kepercayaan orang lain itu gak bagus?" Tanya Jaemin yang di balas anggukan oleh Rahmi.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱

__ADS_1


Di sisi lain, tepatnya di belakang Rahmi, ada Jeno, Vivin dan juga Tia yang menguping dari tadi. Jaemin maupun Rahmi tak mengetahui itu.


Tia yang bodoh amat karena gak ngerti sama masalah mereka hanya sibuk dengan game yang ada di handhonenya. Mungki dia terkesan cuek sama masalah sahabatnya. Tapi itulah Tia, dia tak suka ikut campur masalah orang lain. Dia akan menunggu Rahmi sendiri yang cerita padanya. Karena gak semua orang suka di campurin urusannya dan gak semua orang yang suka masalahnya di ketahui temannya.


Seperti Rahmi, Tia yakin, kalau Rahmi pasti akan cerita jika memang perlu, jika tidak dia pasti bisa mengurus masalahnya sendiri. Tia akan bertindak jika memang masalah itu mengganggu aktifitas Rahmi. Tapi ini cuman masalah cinta, dan Tia tak bisa ikut campur masalah hati orang lain. Teman tak harus selalu jadi pahlawan, karena terkadang teman juga harus tau batasan. Itu yang di katakan Tia.


Kalau Jeno dan Vivin lain cerita. Raut wajah mereka yang tadi tegang semakin tegang. Jeno yang mendengar pembicaraan mereka awalnya merasa kaget mendengar pernyataan Jaemin kalau dia ingin selalu menjaga Rahmi. Namun setelah dia mendengar pembicaraan sampai akhir, senyum Jeno kembali merekah, karena sepertinya Jaemin membantunya agar Rahmi tak terus marah padanya. Mungkin dia tak pantas salah paham dengan adiknya itu. Mana mungkin adiknya menyukai wanita yang juga dia cintai. Itu yang selalu Jeno harapkan.


Sedangkan Vivin, sepertinya mulai merasakan yang namanya cemburu.


Ah, apa pantas aku cemburu melihat Jaemin yang peduli banget sama Rahmi? Ayolah Vin, Jaemin bukan siapa-siapa kamu. Kamu harus tau diri.


Vivin selalu mengulang kata-kata itu di dalam hatinya. Berharap agar rasa sakit hati itu hilang. Tapi mungkin saat ini Vivin harus mau mengalah dengan egonya Dia harus jujur, kalau kali ini dia merasa sangat cemburu melihat kedekatan mereka. Vivin benar-benar muak dengan Rahmi kali ini. Tapi apa cinta kepada pria mampu membuat Vivin membenci temannya sendiri.


Siapa yang bisa menjamin kalau Vivin tetap baik kepada Rahmi?

__ADS_1


__ADS_2