Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 24


__ADS_3

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua para siswa dari setiap kelas berhamburan keluar, kecuali bagi mereka yang piket atau ada ekstrakulikuler. Di antara banyaknya siswa yang berjalan menuju gerbang sekolah, ada yang berlari, bercanda bersama teman, bahkan ada yang menjaili temannya di saat mau pulang. Tepat di luar pagar sekolah, ada sosok pria tinggi dengan setelan jas berpadukan dasi garis-garis putih, memandang setiap siswa yang lewat, seperti ada yang dia tunggu.


"Bang," pria berjas itu menoleh ke arah asal suara, itu suara Jaemin.


"Lama amat Jaem, jamuran gua tau gak," Jeno meletakkan tangannya ke dalam saku jelananya. Membuat diam tambah menawan, bak model yang memiliki tampang luar biasa. Sekilas para siswa yang lewat memperhatikan Jaemin dengan pria berjas itu, yang tak lain adalah Jeno. Sebagian siswi berbisik-bisik membicarakan betapa indahnya wajah dan postur kedua pria tampan itu. Jaemin sangat merasa tidak nyaman dengan tatapan para gadis-gadis yang mengganggu itu. Begitu juga dengan Jeno, saat mereka mengetahui ada begitu banyak orang yang memperhatikan, mereka pun langsung memasang muka tanpa ekspresi.


"Cepat masuk mobil, gua gak nyaman di liatin," kata Jeno, menepuk pundak adiknya itu.


Jaemin hanya mengangguk dan langsung menuju mobil mereka yang berdiri tak jauh dari pagar sekolah.


"Udah pakai lu gua bang?" Kata Jaemin yang menangkap gaya bicara abangnya yang berubah.


"Lebih nyaman kayak gini Jaem, soalnya kebiasaan di tempat jahit ngomongnya gitu," jelas Jeno sambil terus fokus melihat jalan.


"Hmm, okelah," Jawab Jaemin.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

__ADS_1


Rahmi yang baru keluar dari kelas karena tadi harus piket segera berlari ke arah pagar, saat mendapat pesan dari Tia bahwa dia dari tadi menunggunya.


"Tia," Rahmi berteriak dari dalam sekolah saat melihat Tia yang masih duduk di kursi dekat pagar.


"Udah selesai piketnya?" Tanya Tia sambil menyimpan handphonenya ke dalam saku rok.


"Udah, kok tiba-tiba nungguin aku sih Ya?" Tanya Rahmi setelah selesai mengambil nafas yang sempat ngos-ngosan gara-gara berlari tadi.


"Kak Dika hari ini latihan basket, soalnya kan mau ikut perlombaan, jadinya gak ada teman pulang, kamu kan tau Mi, aku gak suka pulang sendirian," jelas Tia sambil menggelayut manja di tangan Rahmi, membujuk Rahmi agar mau menemani dia pulang.


"Tapikan Ya, rumah kita itu beda jalan," Sepertinya Rahmi menolak permintaan Tia.


"Hah, oke deh, tapi janji ya, antar aku pulang?" Rahmi menekankan kata janji.


"Iya Mi, janji, udah yuk, pulang," Tia lalu menarik tangan Rahmi ke arah yang berlawanan dari rumahnya karena harus ke rumah Tia dulu.


Selama perjalanan Tia terus berbicara dan Rahmi terus menyimak. Sampai pada saat Tia membuka pembicaraan mengenai kejadian di dekat pagar tadi.

__ADS_1


"Mi, rupanya Jaemin punya abang yang gak kalah gantengnya loh, tadi abangnya nungguin dia di depan pagar, ya ampun, perhatian banget sama adeknya," kata Tia sambil menyatukan kedua tangannya sambil membayangkan kejadian di pagar tadi.


"Jaemin punya abang? Kok aku baru tau Ya?" Ini pertama kalinya Rahmi ngomong selama perjalanan.


"Yeee... tiba bahas tentang Jaemin, baru ngomong, dari tadi cuman ngangguk-ngangguk doang," Goda Rahmi yang membuat tangan Rahmi melayang memukul bahu temannya itu.


"Jawab pertanyaan ku Ya," Rahmi terlihat jengkel.


"Hahaha, iya mi, dia punya satu abang dan satu adek laki-laki, emangnya Jaemin belum cerita?" Tanya Tia menatap temannya itu.


"Belum, kita belum sedekat itu Ya," Jawab Rahmi kembalu memasang muka cueknya.


Tia hanya mengangguk saja, lalu dia menarik tangan Rahmi untuk berhenti berjalan.


"Udah sampai, nih rumah aku Mi, yuk masuk," Rahmi terperongoh sebentar menatap rumah Tia.


Selama ini Tia seperti gadis biasa, maksudnya dia tidak pernah terlihat seperti orang kaya atau memamerkan kekayaannya. Tidak seperti cewek lainnya, yang ke sekolah selalu memakai barang-barang mewah. Kalau di lihat dari atas sampai bawah, Tia hanya memakai barang-barang yang terjual di pasar seperti biasa.

__ADS_1


Lihatlah rumahnya yang besar dan megah, entah kenapa Rahmi merasa salut dengan sahabatnya ini. Akhirnya dia menemukan teman yang persis sepertinya. Ini bagus.


__ADS_2