
Rahmi terpaku di tempatnya. Merasa seakan tak percaya melihat Jeno di sini, kenapa dia ada di sekolah? Dan Vivin mengenalnya?
"Vin, kamu kenal Kak Jeno?" Rahmi menatap Vivin berharap gadis ini memberikannya informasi yang tak mengejutkan.
"Kenallah, kan Bang Jeno abangnya Jaemin, emangnya Rahmi gak tau?" Pertanyaan yang di layangkan Vivin kepada Rahmi, langsung membuat muka Rahmi berubah seratus delalan puluh derajat.
Wajah yang tadinya teduh kini terlihat seperti baru keluar dari kulkas. Sangat dingin. Tatapan Rahmi, mampu membuat semua orang merasa tak enak. Contohnya seperti Vivin saat ini.
"Mi, kamu marah sama aku? Kok lihat aku gitu banget?" Vivin mengeratkan tangannya di kedua tangan Rahmi. Berusaha menenangkan gadis itu, agar tak meledak.
"Enggak kok Vin, aku hanya kecewa aja, aku fikir Jaemin udah nganggap aku temannya tapi dia malah gak perna ngasih tahu sedikit pun tentang Jeno. Dan Kak Jeno juga gak pernah ngasih tau aku kalau adiknya Jaemin. Mereka memuakkan," tatapan yang tadinya menatap Vivin kini beralih menatap kedua cowok yang ada di depannya.
"Mi, biar aku jelaskan dulu," Jaemin melangkah mendekat, namun di tahan oleh ucapan Rahmi.
"Gak usah Jaem, aku muak mendengarkan penjelasan yang sama sekali gak guna." Tanpa aba-aba, Rahmi pergi meninggalkan Vivin dan Tia yang masih bengong, gak ngerti dengan apa yang terjadi.
Sedangkan Jaemin langsung berlari mengejar perempuan yang sudah pergi dengan amarah yang sudah siap untuk di ledakkan. Lain halnya dengan Jeno yang menunduk meratapi betapa jahatnya dia kepada Rahmi. Baru kali ini, Jeno begitu membenci dirinya sendiri.
🌱🌱🌱🌱
Entah apa yang membuat Rahmi begitu marah, padahal dia tak terlalu dekat dengan kedua cowok itu. Tapi entah kenapa informasi yang baru dia dapatkan itu begitu menyakitkan. Karena informasi itu datang dari Vivin bukan dari kedua orang yang sudah cukup lama dia kenal.
__ADS_1
"Mi," Rahmi yang tadi lagi sibuk dengan hatinya yang kesal itu tiba-tiba menabrak dada Jaemin yang menghadangnya tanpa aba-aba dari depan.
"AWw..," Rahmi memegangi keningnya yang sedikit sakit karena bertabrakan dengan dada Jaemin.
"Sakit," Jaemin yang melihat Rahmi langsung mengusap keningnya langsung merasa khawatir. Padahal dadanya juga sakit karena terbentur kepala kerasnya Rahmi.
Rahmi diam, dia menatap sepatunya tak berani melihat ke atas, malu, itu yang Rahmi rasakan sekarang.
"Mi, kok diam aja sih," Jaemin memegang kedua bahu Rahmi dengan tangannya itu.
Rahmi yang masih malu, sekarang semakin gugup karena baru pertama kali sedekat ini dengan cowok.
Rahmi menggigit bibir bawahnya.
'Jaemin sehat? dia nyuruh aku lihat dia? Ayolah, jarak kita dekat banget loh, ni Jaemin gak mau lepasin apa?' Rahmi terus menggerutu di dalam hatinya.
"Mi, dengerin aku dulu, jangan marah terus, oke?" Mendengar itu, Rahmi mendorong pelan tubuh Jaemin. Jaemin yang di dorong tanpa aba-aba langsung melepaskan tangannya dari bahu Rahmi.
Rahmi mengangkat kepalanya, menatap muka Jaemin yang masih bingung.
"Ya udah, mau ngomong apa?" Rahmi belum bisa mengontrol irama jantungnya, mukanya yang memerah di sadari oleh Jaemin.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya Jaemin menyentuh Rahmi lagi. Kali ini bukan bahunya tapi kening Rahmi.
"Kamu sakit Mi? Muka kamu kok merah gitu?" Yah itulah Jaemin, Rahmi yang di perlakukan seperti itu menggurutu untuk yang kesekian kalinya.
Rahmi baru sadar, kalau masih ada orang lebih polos darinya, apa Jaemin tak sadar kalau Rahmi sudaj begitu malu sekarang? Perlakuan Jaemin, benar-benar di luar dugaan Rahmi.
"Jaem, jangan mengalihkan pembicaraan," dengan kasar, Rahmi menepis tangan Jaemin dari keningnya.
Jaemin menundukkan kepalanya, bagaimana cara menjelaskannua kepada Rahmi?
"JAEMIN NA!," Rahmi meninggikan nadanya, dia tak suka di diamkan seperti itu. Tinggal jelaskan saja, kenapa susah sih?
Jaemin yang tiba-tiba di panggil dengan nada tinggi, langsung menatap mata Rahmi yang sekarang sudah kembali dengan tatapan tajamnya.
"Apa kamu datang ke taman karena Kak Jeno yang minta?" Suara Rahmi datar. Tapi cukup mudah membuat Jaemin merasa tersinggung.
"Aku datang, bukan karena Jeno Mi, tapi karena KAMU," Jaemin menjawab dengan mantap, yang tanpa Jaemin sadari ada hati yang tak nyaman mendengar itu. Bukan hanya satu hati, tapi tiga hati sekaligus.
__ADS_1