
Hujan telah reda, namun meninggalkan jejak pada tanah yang becek sehingga menciptakan lumpur di sepanjang jalan yang bertanah. Orang-orang yang tadi berteduh sudah berhamburan keluar dari tempat berteduh menuju rumah masing-masing. Hari sudah sore dan tak lama lagi akan menjelang malam.
Tak ketinggalan juga dua sejoli yang masih terdiam duduk di atas bangku taman, yang berbeda hanyalah tadi mereka mengenakan payung tapi sekarang payung itu sudah di tutup dan tergeletak di samping mereka.
"Kamu belum mau pulang Mi?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Jaemin.
Rahmi yang di tanya hanya menggeleng dengan wajah yang masih terlihat sembab. Jaemin menghela nafasnya berat. Dia tak menyangka bahwa abangnya bisa membuat janji kepada Rahmi di saat waktu yang bertepatan dengan pertemuannya bersama Intan.
FLASHBACK ON
Jeno tidak datang karena dia rupanya sudah membuat janji bertemu dengan Intan membahas pembatalan perjodohan mereka. Jeno yang tak bisa menghubungi Rahmi karena handphonenya tiba-tiba rusak karena terjatuh saat terburu-buru mengejar waktu bertemu dengan Intan. Alhasil dia meminjam handphone Intan untuk menghubungi Jaemin, karena cuman nomor Jaemin yang dia hafal.
"Hallo dek, ini Aku, Jeno," terdengar sautan dari sebrang.
"Hmm, apa bang?" Jaemin yang masih sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya merasa terganggu.
"Aku bisa minta tolong gak?"
__ADS_1
"Apaan? Penting ya? Lagi ngerjain tugas nih?"
Entah kenapa semenjak Jaemin tau tentang perasaan Jeno kepada Rahmi seperti apa, membuat dia ingin memberi jarak sebentar dengan abangnya, setidaknya sampai dia bisa sedikit ikhlas.
"Aduh, aku kemaren janjian sama Rahmi mau ketemuan di taman, aku gak ingat kalau sekarang juga ada janji sama Intan, bahas soal perjodohan itu. Apesnya handphone ku juga mati, aku gak bisa hubingin dia, kamu bisa temuin dia ke taman gak? Aku takut dia sendirian nungguin aku di sana," nada Jeno terdengar khawatir.
Dan ke khawatiran Jeno juga menular kepada Jaemin, dia langsung mematikan handphonenya tanpa membalas perkataan abangnya. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar kamar dan menyambar kunci motor yang terletak di atas meja dekat tv.
"Mau kemana Jaem? kok buru-buru?" Tanya ibu yang baru saja keluar dari kamar.
"Mau nemuin teman bu, aku pergi dulu ya," kata Jaemin sembari mencium tangan ibunya.
"Iya bu," Dengan sigap dia menghidupkan motornya, dan menarik gas.
Kali ini dia mengebut di jalanan, seakan-akan jalanan sudah menjadi hak miliknya.
Ketika dia sampai di taman, dia terus mencari keberadaan gadis pemalu itu. Kakinya berhenti mencari ketika sudah melihat gadis yang di carinya sedari tadi. Jaemin terus menatap Rahmi dari kejauhan belum berniat mendekat, mengganggu gadis itu.
__ADS_1
Tak lama hujan mulai turun, tebakan ibunya benar, dia membuka payung yang sedari tadi ada di tangannya. Baru saja ingin melangkah mendekati Rahmi hujan sudah turun dengan lebat.
Jaemin mendecak kesal, bukannya lari seperti yang lainnya, Rahmi malah tetap kekeh duduk di sana.
'Dia nangis?' menyadari itu Jaemin berlari ke arah Rahmi, tanpa peduli percikan air membasahi celana dan sepatunya, begitu juga dengan punggungnya yang ikut basah kareba tak tertutup sempurna oleh payung.
FLASHBACK OFF
"Udah mau malam, aku antar ya? Nanti orang rumah khawatir," Jaemin ingin sekali menggenggam tangan gadis itu, memberikannya sedikit rasa nyaman.
Tapi Jaemin takut, yang ada nanti dia membuat Rahmi takut bukan nyaman. Karena saat hujan tadi, dia memeluk Rahmi tanpas seizin Rahmi.
'Akh, kenapa tiba-tiba meluk Rahmi sih? Dia marah gak ya?' Tanyanya entah pada siapa.
"Aku pulang sendiri aja Jaem,aku gak mau terus nyusahin kamu," akhirnya Rahmi bersuara juga.
Jaemin gemas dengan tingkah cewek di sampingnya itu, kali ini sekali lagi Jaemin bsrtindak tanpa seizin Rahmi. Dia menarik tangan Rahmi, hingga membuat Rahmi kaget dan memandangi si penarik tangannya.
__ADS_1
"Kamu gak pernah ngerepotin aku Mi, dan aku gak akan pernah merasa di repotin kamu, sekarang kita pulang! Aku gak mau di bantah," dengan hati-hati dia menarik tangan Rahmi. Dan bodohnya, Rahmi menurut begitu saja, mengikuti langkah kaki pria yang menariknya.