
*Aku fikir melupakan mu bukanlah hal yang mudah. Menjauhi semua yang berhubungan denganmu ternyata tak gampang! Rasanya begitu tersisa saat harus menahan diri untuk tak memikirkan mu, untuk tak menatapmu. Padahal aku sangat merindui senyummu dan tawamu yang canggung. Andaikan melupakan itu semudah mencintaimu. Na Jaemin, rasa ini begitu menyiksaku. Maaf aku harus pergi.
(Rahmi*).
🌱🌱🌱🌱🌱
Jaemin meremas foto yang di berikan Jisung hingga membuat foto itu menjadi bulat seperti bakso. Dia menatap datar ke cermin yang ada di kamarnya. Ini wajah asli Jaemin. Wajah tanpa senyuman palsu, wajah tanpa ekspresi. Inilah Jaemin. Jaemin yang rapuh, dan tak ada yang mengetahui itu.
"Hah, sok kuat di depan Jisung. Lo memalukan Jaemin," kata Jaemin lirih kepada dirinya sendiri. Dia semakin menguatkan kepalan tangannya, lalu melempar foto yang sudah menjadi gumpalan kecil ke arah tong sampah.
"Maafin gua bang, gua berharap lo bahagia tapi gua gak bisa bahagia. Ini sakit," Jaemin menengadahkan wajahnya ke langit.
Berusaha membendung air mata yang akan turun, mungkin jika teman-temannya tau dia menangis hanya karena cewek dia pasti sudah di ejek teman-temannya selama sebulan penuh. Orang-orang akan mengatainya lebay. Tapi ini memang sakit, Jaemin tak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri. Coba lo bayangin, gimana rasanya melihat orang yang lo cintai bersama saudara lo sendiri.
Walau itu belum terjadi, tapi Jaemin yakin itu pasti akan terjadi. Melihat seberapa berharapnya Rahmi agar Jeno datang kepadanya. Melihat betapa kecewanya Rahmi saat yang datang adalah dirinya bukan Jeno.
🌱🌱🌱🌱
Rahmi terduduk di atas kasurnya setelah selesai mengganti pakaian dengan yang kering. Dia termenung menatap layar handphonenya yang tak kunjung mendapatkan notifikasi pesan atau panggilan dari seseorang yang dia tunggu. Siapa lagi kalau bukan Jeno.
Rahmi berharap Jeno menghubunginya dan menjelaskan kenapa Jeno tak menemui dirinya tadi siang. Sudah beberapa menit berlalu namun apa yang di tunggu tak kunjung tiba.
BRAK...
Rahmi melempar handphonenya ke atas meja yang ada di samping kasur, dia sudah capek. Mungkin apa yang di tunggu Rahmi takkan kunjung tiba, dia hanya buang-buang waktu saja. Rahmi memilih membaringkan tubuhnya dan bersiap tidur. Meskipun kantuj tak menyapanya dia tetap harus beristirahat, entah kenapa badannya terasa sangat lelah, apakah dia demam karena kehujanan tadi? Entahlah, yang pasti tubuhnya terasa sakit-sakit.
TIIIT TIIIT....
Mata Rahmi kembali terbuka dengan terpaksa. Entah siapa yang menelpon larut malam begini, jam di dinding menunjukkan pukul 23:28, sudah setengah dua belas malam.
"Hallo," Rahmi menekan tombol hijau yang ada di sebelah kiri handphonenya tanoa melihat nama yang tertera di sana.
"Rahmi," suara itu sudah cukup membuat mata Rahmi yang redup kembali terbuka lebar, suaranya tiba-tiba hilang, entah menyangkut dimana.
"Rahmi? Kamu dengar suara ku?" Benar, itu suara Jeno. Suara yang di tunggu Rahmi dari tadi.
__ADS_1
"Hmm," Jawab Rahmi, dia tak tau mau mengatakan apa.
"Maaf," Satu kata yang di ucapkan Jeno membuat mata Rahmi kembali berkaca-kaca mengingat Jeno tak datang menemuinya tadi.
"untuk?" Tanya Rahmi, walau sebenarnya dia tau, pria itu meminta maaf pasti karena kejadian itu.
"untuk tak menemuimu, aku tiba-tiba ada meeting Mi, saat aku mau menghubungimu handphoneku malah terjatuh dan mati. Aku tak bisa menghubungimu waktu itu," suara Jeno terdengar gugup. Apa dia berbohong?
Rahmi terdiam sejenak, entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar penjelasab Jeno. Setidak penting itukah dirinya bagi Jeno? Hah... Apa yang Rahmi harapkan? Jeno berlari kepadanya dan meninggalkan meetingnya begitu saja demi dirinya? Ayolah, Memangnya dia siapa Jeno?
Kenyataan bahwa dia bukan siapa-siapanya Jeno membuat dada Rahmi semakin sesak, Rahmi menggigit bibir bagian bawahnya. Dia menahan tangis yang akan keluar.
'Apa aku cemburu? Apakah ini cemburu? Aku marah hanya karena Jeno lebih mementingkan pekerjaannya dari pada aku? Kenapa aku harus marah? Hah... Apa aku sudah menjatuhkan hati kepada kak Jeno tanpa aku sadari? Memuakkan! Tak ku duga semudah itu Jeno bisa membuatku jatuh cinta lagi, dan merasakan sakit lagi.
"Iya gak apa-apa kok kak, lagian kan pekerjaan kakak lebih penting dari pada Rahmi. Udah dulu ya kak, Rahmi mau tidur, ini sudah tengah malam," suara Rahmi terdengar parau, iya, Rahmi jatuh cinta kepada Jeno. Dan dia baru sadar akan itu.
"Malam kak," Rahmi memutuskan panggilannya saat taknlagi mendengar balasan dari Jeno. Dia menatap handphonenya dengan perasaan agak sedikit merasa bersalah.
"Apa aku salah bicara?" Rahmi tak tau, dia benar-benar takkan bisa tidur hari ini.
🌱🌱🌱🌱
PRAANG
Pandangan Jeno agak memudar karena linangan air mata sudah mengisi pelupuk matanya. Rahmi marah padanya. Jeno sadar itu. Dia sudah membuat gadis yang sangat dia sayangi harus kehujanan karenanya. Di tambah lagi melihat Jaemin yang pulang juga dalam keadaan basah kuyup.
Jeno sangat tau dengan kekebalan tubuh Jaemin yang sangat rendah. Saat pulang tadi, muka Jaemin sudah pucat, dan terlihat sangat kacau. Wajah Jaemin begitu datar, yang membuat dia yakin Jaemin marah padanya adalah karena ucapan Jaemin saat masuk ke rumah.
"Lain kali, jangan mengajaknya ketemuan kalau kau tak bisa menepatinya bang, kau buat dia sedih, dia harus ke hujanan karena mu. Kau tau, dia menangis! Aku tak suka melihat teman ku menangis! Dan yang paling memuakkan yang membuatnya menangis itu adalah Kau bang! Aku tak mau lagi ikut campur urusan mu dengan Rahmi! Jika kau ingin mendekatinya pakai cara mu sendiri! Aku tak mau jadi peri cinta kalian!," Setelah mengatakan itu, Jaemin masuk ke kamarnya meninggalkan Jeno yang termenung tanpa bisa menjawab.
PRAANG
Kali ini bukan suara handphone yang beradu dengan dinding, tapi suara cermin yang beradu dengan Pukulan Jeno yang cukup kuat. Perlahan-lahan Darah segar mengalis di punggung tangannya.
Pikiran Jeno kacau, dia sangat marah pada dirinya sendiri. Karena dirinya Rahmi menangis. Karena dirinya Jaemin menjadi semarah itu. Padahal selama ini Jaemin tak pernah membentaknya seperti tadi.
__ADS_1
BRAAK
Mata Jeno yang tadi terfokus menatap bayangannya di cermin yang telah retak langsung beralih ke arah Pintu kamarnya yang terbuka dengan kuat.
"KAU GILA!!!" Kata Jaemin saat melihat tangan Jeno yang masih menempel ke kaca yang telah retak itu.
Jaemin langsung berlari keluar mencaru kotak P3K, setelah mendapati kotak itu dia masuk dengan wajah khawatir ke kamar abangnya itu.
"Jauhkan tanganmu dari kaca bang," Jaemin berdiri tepat di depan abangnya, mata mereka bertemu.
"CKK," Jaemin mendecak kesal, karena Jeno tak menurutinya, dia pun mengambil inisiatif sendiri buat menjauhkan tangan Jeno dari kaca. Lalu memperban luka di punggung tangannya Jeno.
"Kau pasti sudah menelponnya kan?" Tanya Jaemin masih sibuk dengan luka Jeno.
Namun yang di tanya tak kunjung menjawab. Lantas membuat Jaemin mengangkat kepalanya dan menatap wajah Jeno. Melihat wajah Jeno, Jaemin pun menghembuskan nafasnya pelan. Dia tersenyum tipis, sangat tipis.
"Bang," sapa Jaemin lembut, Dia menepuk punggung Jeno pelan agar Jeno keluar dari lamunannya.
Dan itu berhasil, Jeno membalas tatapan Jaemin.
"Lo pasti merasa bersalahkan? Kalau lo merasa bersalah, maka harus menebusnya bukan?"
Jeno mengangguk seperti anak kecil mendengar pernyataan Jaemin.
"Kalau begitu tebus kesalahan lo," kata Jaemin enteng.
"Caranya?"
"Buat dia tersenyum lagi, dan jangan buat dia menangis, Tunjukkan ke dia kalau lo itu benar-benar cinta sama dia, selesaikan? Lagian masalah perjodohan abang udah di bahas sama kak Intan kan?" Tanya Jaemin
"Udah Jaem, tinggalk menunggu Intan buat sampaikan ke ayahnya. Apa dia gak masalah kalau aku menunjukkan cintaku sama dia?" Tanya Jeno kembali membahas Rahmi.
"Tentu saja gak masalah, aku yakin cinta lo gak bertepuk sebelah tangan. Lo harus semangat buat dapatin orang yang lo suka. Jangan nyerah gitu aja dong," kata Jaemin menyemangati Jeno.
__ADS_1
Kata-kata Jaemin mungkin terdengar sok bijak kali ini, dia berbicara dengan senyum yang tak pergi dari wajahnya. Tapi semakin Jaemin tersenyum lebar dan menyemangati abangnya, semakin luka di hati Jaemin koyak semakin lebar. Jaemin tersenyum, menahan sakit di dadanya.
Aku kembali guys.... maaf ya, kalau bangak typo.