
"Sudah pulang kak?" tanya ibunya Rahmi yang bernama Lusi.
"iya ma, ada apa kok pada ngumpul?" Rahmi melihat kedua orang tuanya dan adiknya duduk di ruang tamu. Jarang-jarang mereka ngumpul kayak gini.
"Rahmi bentar lagi luluskan? Nyambung sekolahnya di luar kota ya?" kata ayah yang masih sibuk dengan handphonenya.
"Loh kok gitu, Mi kan mau nyambung disini ma, biar dekat sama teman" Rahmi menolak.
"Kamu sekolah itu cari ilmu atau ngikut teman?" kata ayahnya ketus.
Rahmi yang dengar jawaban ayahnya hanya bisa meghela nafas... tidak ada yang bisa menentang keputusan ayahnya kalau sudah mengeluarkan keputusan.
Rahmi segera masuk kamarnya dan mencari nomor Rudi pacarnya.
"Rud, aku nyambung sekolah di luar kota" tulis rahmi dan kemudian mengirimkannya kepada Rudi.
"Ooh... ya udah" tak berapa lama rudi menjawab pesan Rahmi.
"kok cuman bilang ya udah sih?"
"terus harus bilang apa mi?
"kok kamu sekarang cuek gitu sih?" Rahmi mulai merasa Rudi tak seperti dulu lagi, yang perhatian kepadanya.
" Udahlah Mi, gak usah memperbesar masalah. Aku lagi gak Mood ngomong sama kamu sekarang" dek..... dada rahmi terasa sesak.
"Ada apa sebenarnya Rud? jelasin ke aku?" Rahmi benar-benar jengkel.
"Kita putus ajalah ya Mi" Rudi membalas Sms Rahmi dengan kata Putus.
Rahmi tertegun menatap layar handphonenya. Dia tekan tombol power di handhonenya dan meletakkannya di atas meja riasnya. Dia terus menatap handphonenya yang telah di matikan itu. Tak ada niat untuk membalas sms dari Rudi. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan memilih membaringkan tubuhnya dia atas kasur lalu tertidur.
***
Keesokan paginya Rahmi telah bersiap-siap untuk segera berangkat bersama keluarganya pergi keluar kota tempat dimana Rahmi akan sekolah. Hari ini sampai beberapa hari ke depan Rahmi tidak sekolah, mengingat dia telah selesai ujian jadi tinggal menunggu kata lulus dari sekolah.
Selama perjalanan Rahmi memilih untuk tertidur tak ada niat untuk mengobrol dengan anggota keluarganya.
__ADS_1
"Kak...kak... tidur mulu, lihat tuh... katanya pengen lihat sawah, Tuh lihat..." Jisung adik laki-lakinya terus mengguncang tubuh Rahmi hingga dia terusik.
"Jisung! Jangan ganggu ngapa sih, gak nampak orang tidur apa!?" Rahmi membentak adiknya dengan nada yang cukup tinggi.
Membuat ibu dan ayahnya Rahmi yang sedang menyetir menatap Rahmi berang.
"Rahmi.... kok ngomong sama adek kayak gitu?" Lusi langsung menegur putri sulungnya itu.
"Dia gangguin Mi ma..." Rahmi berusaha membela dirinya.
"Kayak mana pun itu kamu gak boleh membentak sama adek kamu, harus sopan Mi, baik itu sama yang lebih tua atau yang lebih kecil" Lusi mengingatkan tentang sopan santun tanpa bosan kepada Rahmi.
Rahmi yang di ceramahi mamanya hanya menghembuskan nafasnya kasar dan mengangguk dengan pasrah. Dia memang salah, sekacau apapun suasana hatinya dia tetap harus menjadi pribadi yang baik buat adiknya dan tidak membentak adiknya sekasar itu. Lagian niat Jisung juga baik.
Sudah beberapa jam di atas Mobil Jisung merasa haus ingin minum. Jadi Tobi ayahnya Rahmi meminggirkan mobilnya tepat di depan minimarket kecil yang ada di pinggir jalan. Padahal tinggal sebentar lagi mereka akan sampai, tapi si Jisung ngotot mau minum sekarang.
"Kak ikut gak?" ajak Jisung kepada kakaknya setelah turun dari mobil.
"Iya, tunggu" Rahmi segera turun dari mobil setelah selesai merogoh isi tasnya mengambil uang dengan nominal 50.000.
Rahmi segera mencari snack kesukaannya dan berjalan menuju kasir,tapi Jisung adiknya yang rempong itu menarik tangannya membeli ice cream, Rahmi yang kesal tak bisa marah, dan menurut kemana pun adiknya menarik tangannya. Saat akan mengambil ice cream kesukaan mereka masing-masing, tiba-tiba ada seorang anak perempuan usia kisaran 4 tahun menarik ujung baju Rahmi.
"Hahah... kakak di panggil tante" kata Jisung masih dalam tawanya.
Rahmi yang mendengar cibiran adiknya itu segera menonjok lengan adiknya yang tinggi badannya mulai melampaui tinggi Rahmi.
"adek mau ini?, " Rahmi segera jongkok menyamakan tingginya dengan tinggi si kecil.
Si kecil yang ditanya mengangguk kan kepalanya dengan semangat.
"Oke, Sung, bayarin snack kakak sama ice creamnya ke kasir gih" Suruh Rahmi ke adiknya itu sambil memberikan ice cream di tangannya kepada bocah kecil itu.
" Nama kamu siapa kecil?" tanya Rahmi sambil memegang lengan anak itu.
"Nama ku..." belum selesai si kecil itu menjawabnya tiba -tiba ada seorang pria berlari ke arah adik kecil itu.
"Lili... kamu di sini ya" Kata pria itu lalu berhenti di belakang adik kecil yang kini Rahmi tau namanya, Lili.
__ADS_1
"oom..." Lili membalikkan badannya lalu tersenyum pada pria yang barusan dia panggil oom.
"kamu ngapai disini Li" Masih menatap Lili si kecil.
"Tadi Lili di kasih ec kliem sama tante ini" Lili lalu menunjuk ke arah Rahmi yang sekarang sudah berdiri dari jongkoknya.
Pria itu melihat ke arah Rahmi, lalu tersenyum ramah.
Tapi Rahmi hanya membalas dengan senyuman tipis di bibirnya.
"eee... kalau boleh tau berapa harga ice creamnya biar saya ganti" Tanya Jaemin Ragu. Iya pria itu jaemin, dan Lili adalah keponakannya anak dari kakaknya.
"oh gak usah, saya ikhlas kok kasih ke adeknya" kata Rahmi dengan nada datar.
"aah... oh ya kenalin saga Jaemin" Jaemin mengulurkan tangannya kepada Rahmi.
Rahmi hanya menatap tangan itu ragu untuk menjabatnya,lalu tiba-tiba Jisung datang dari belakang dan menarik tangan kakaknya.
"Ayo... aku udah bayar"
(ini visualnya Jisung ya😊)
Kata Jisung kepada kakaknya itu.
"Iya sebentar, Dada Lili, tante pergi dulu," Rahmi melambaikan tangannya ke arah Lili lalu menatap Jaemin dan membalas uluran tangan Jaemin.
"Saya Rahmi" Lalu melepaskan tangannya dan segera mengikuti adiknya.
Sedangkan Jaemin yang jabatan tangannga di balas tertegun menatap punggung Rahmi yang menghilang di balik pintu minimarket.
"Dia udah punya pacar ya?" gumam Jaemin kecewa.
Dia mengira bahwa Jisung adalah kekasihnya Rahmi, Dan entah kenapa dia kecewa dengan apa yang dia fikirkan.
__ADS_1
"Aneh... kok jadi mikirin mereka sih" Kata Jaemin lalu mengibaskan tangannga di depan mukanya sendiri karena memikirkan Rahmi dan cowok tadi.