Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 6


__ADS_3

Setelah masuk ke mobil Jisung menyenggol bahu kakaknya dengan bahunya.


"Hey hey.... tadi lagi ngobrol sama siapa hayo???" Jisung mencoba menggoda kakaknya yang tadi menjabat tangan seorang cowok.


Padahal setahu Jisung kakaknya tak pernah suka menyentuh cowok walau dalam hal bersalaman. Dia selalu punya cara buat ngeles agar tak bersalaman dengan cowok. Bukan sok jual mahal, hanya saja Rahmi tak terbiasa dekat dengan lawan jenis, terlebih lagi dari berita di tv dan di internet yang dia lihat betapa jahatnya laki-laki pada perempuan, mulai dari pengeniayaan fisik kepada perempuan sampai menyakiti batin perempuan. Bagi dia laki-laki susah di percaya, apalagi setelah di putuskan Rudi secara sepihak. Pria yang terlihat baik menurut Rahmi belum tentu bersikap baik.


"Sama oomnya si Lili" Rahmi berusaha cuek dan cuman fokus sama snack yang sedang asik dia kunyah.


"Oo... tapi aneh gak sih, kakak kok mau berjabat tangan sama oomnya si Lili itu, sedangkan sama mantannya aja belum pernah jabatan tangan" Jisung masih menggencarkan godaannya.


Jisung tau kalau kakaknya pacaran dengan Rudi. Karena Jisung dan Rahmi itu selalu curhat bareng. Kalau ada masalah, atau hal menarik yang mereka alami mereka selalu berbagi. Itu yang membuat di antara ke dua saudara ini tidak ada rahasia.


"hmm... entahlah Sung, kakak takut merasa gak enak di depan Lili, nannti dia fikir kakak sombong" Kini Rahmi mulai masuk dalam perangkap Jisung.


"hahaha.... kakak gak enak terlihat sombong di depan lili atau di depan abang ganteng tadi, hahaha" Kali ini Jisung puas melihat muka kakaknya yang kesal.


"Iya sih dia ganteng, tapi kakak biasa aja tuh, gak ada merasa tertarik atau apalah itu seperti yang kamu fikirin" Sepertinya Rahmi sudah mulai marah.


"Tentu saja kakak biasa saja melihat orang ganteng, toh setiap hari lihat orang ganteng kayak Jisung kan?" Jisung lalu menyibakkan rambutny ke atas, menunjukkan kepada kakaknya betapa gantengnya dia.


__ADS_1


"Ih... Dasar adek satu ini" Rahmi langsung menggelitik adiknya itu sampai tertawa terpingkal-pingkal.


Melihat kedua anaknya yang bergelut Lusi hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. Dia senang jika anaknya bisa terus akur seperti ini, tidak seperti dia dengan kakaknya.


"Oke... anak-anak kita sampai" Ayah memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah ruko konveksi.


Semuanya turun dari mobil menyusuli ayah mereka, yang sudah berjalan duluan masuk ke ruko itu.


"Eh bang udah sampai, Dek abang Tobi udah sampai nih" Pria yang menyalami Tobi itu segera memanggil istrinya.


"Kak... apa kabar" Dia lalu memyalami Lusi selaku kakak iparnya.


"Eh... udah pada sampai ayo masuk bang... kakak.... sama emm.. Rahmi dan Jisung kan?" Tanya wanita cantik yang baru saja datang menghampiri mereka, wanita itu adalah istri dari Deka.


"iya tante..."


Rahmi dan keluarganya masuk ke bagian dalam ruko itu, terlihat ada beberapa karyawan yang sibuk menjahit baju, yang kelihatannya dari satu konsumen, baju yang di jahit semua karyawan itu sama. Di sebelah Kiri Ada 7 mesin jahit begitu juga di sebelah kanan, sedangkan di bagian depan tadi adalah tempat menggantungkan baju-baju yang sudah siap. Di bagian depan dengan tempat karyawan menjahit itu di batasi triplek dan di beri sedikit pintu untuk keluar masuk. Sedangkan di bagian paling belakang mesin jahit ada meja yang cukup besar. Di situlah salah satu karyawannya memotong kain menjadi pola yang siap untuk di jahit. Agak kebelakang sedikit ada pintu di sebelah kiri itu pintu kamar mandi.


Sedangkan Rahmi sekeluarga di bawa ke lantai dua oleh Deka. Di sanalah mereka tinggal. Di lantai dua itu ada dapur di sebelah Kanan, di dekat dapur ada kamar mandi. Sedangkan ke depan ada satu kamar yang cukup besar, di sanalah tempat tidur karyawan yang laki-laki, di sampingnya ada kamar lagi itu kamar khusus perempuan. Sedangkan kamar oom dan tantenya terletak di paling depan sekali. Hanya saja kamar mereka dan para karyawan di batasi ruang tamu. Nah di ruang tamu itulah mereka duduk dan mengobrol.


"Jadi kalian udah siap untuk kerja?" tanya oom pada Rahmi dan Raihan tiba-tiba.

__ADS_1


"Kerja?" Segera Jisung menatap ayah dan ibunya bingung.


Sedangkan Rahmi tersenyum jengkel. Dia sudah menyadari bahwa ini adalah salah satu langkah orang tuanya untuk mendidik putra-putri mereka menjadi pribadi yang sempurna mandiri bukan hanya punya tingkah yang baik tapi juga pandai mengurus diri sendiri.


"Kerjanya jahit baju om?" Rahmi bertanya pada oomnya, melihat ada tiga mesin yang kelihatannya kosong di bawah.


Deka mengangguk mengiyakan.


"Hah... aku masih smp kelas 2 loh ma? masa iya suruh kerja" Jisung berusaha membujuk kedua orang tuanya.


"kami gak nanya kamu kelas berapa sayang. Sekarang kamu dan kakakmu tinggal dan sekolah di sini. Jisung mama percaya kamu bisa belajar menjahit dengan cepat dan dapat berteman dengan cepat pula di sini. Dan kami Rahmi, mama tau kamu sudah bisa menjahit, tinggal memperhalus keterampilanmu. Yang mau mama sampaikan sama kamu adalah mulailah buka diri, disini ada 4 orang karyawan perempuan di tambah kamu jadi 5. Akrab sama mereka, oke"


Jisung mengangguk setuju, sedangkan Rahmi...


"Mi usahain ya ma buat bisa berteman" Dia ragu apakah bisa akrab dengan mereka.


"Pasti bisa sayang, selama kamu mau membuka pintu pertemanan yang selalu kamu tutup, berani keluar dari zona nyaman yang selalu asik sendirian. Lagian pula kamu akan tinggal sama mereka, tidur satu kamar dengan mereka. Pasti bisa cepat akrab", Lusi mencoba menyemangati anaknya tadi.


Dan Rahmi mengangguk pasrah.


'hmm... yah mungkin sekarang saatnya aku keluar dari zona nyamanku sendirian" gumam Rahmi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2