Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
Episode 21


__ADS_3

"Jaem, udah mau berangkat sekolah?" Tanya Jeno yang keluar dari kamarnya bersamaan dengan Jaemin yang menutup pintu kamar.


"Iya bang," Jaemin mengangkat tasnya dan menyandang tepat di atas bahu.


"Aku antar ya?" Jeno langsung menarik tangan adiknya itu menuju tangga, Jaemin belum mengiyakan tapi Jeno langsung meminta izin ibu.


"Bang, aku bisa sendiri kok, gak perlu


di antar," Jaemin berteriak dari atas tangga, karena Jeno sudah duluan berlari ke arah ibu.


"Bu, aku antar Jaemin ke sekolah ya? Kepengen aja lihat-lihat sekolah, bolehkan?" Jeno bahkan tak mendengarkan Jaemin, dia tetap ngotot mau ngantar Jaemin.


"Terserah kalian, ibu mah gak masalah," kata ibu sambil mengangkat bahunya lalu duduk di atas meja makan.


"Yes, yok Jaem, mana kunci mobil?" Jeno mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Jaemin.


Jaemin langsung memasang muka kesal, tapi dia tidak bisa menolak, kalau Jeno ingin, dia pasti harus mendapatkan walau memakai paksaan kayak sekarang ini. Jaemin merogoh saku celananya, lalu melemparkan kunci mobil ke arah Jeno.


Setibanya di mobil Jaemin melihat abangnya yang begitu semangat seperti seorang anak kecil yang di ajak beli ice cream.


"Kok semangat banget, pasti ada sesuatu ya?" Jaemin menatap abangnya yang sekarang sudah membawa mobil keluar dari pagar rumah.


"Hemm, cerita gak ya?"


"Ya elah, gak usah kayak anak kecil deh bang?" Jaemin kesal kalau dia serius tapi di tanggapi bercanda oleh Jeno.


"Hah... aku bingung Jaem, apa aku harus menerima Intan lagi?" Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Jeno membahas Intan, Jaemin yang awalnya mulai kesal kini menatap abangnya lekat-lekat.


Ada kesedihan di situ, tidak seceria tadi. Apa akan seperti ini seterusnya? Setiap ada nama Intan senyum Jeno akan pudar? Lalu kenapa tadi Jeno terlihat begitu bahagia dan bersemangat? Apakah ada wanita lain di hatinya yang ingin dia temui? Jaemin mempunyai banyak pertanyaan di kepalanya tak tau mana yang harus di tanyakan dahulu.


Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena sekarang Jeno bukan hanya menunjukkan muka sedih, tapi matanya juga mulai berkaca-kaca.


"Ada masalah apa bang? Kamu gak pernah cerita kalau ada masalah?" Jaemin sangat penasaran sekarang.


"Ada orang lain di hatiku Jaem, gadis yang sebaya denganmu, gadis yang dingin, tapi begitu lemah, aku ingin selalu berada di dekatnya, menemaninya melewati segala ketakutannya, tapi sekarang Intan datang, dan malah akan menjadi calon istriku, kenapa dia datang Jaem? Kalau dia memang ingin kembali, kenapa tidak kembali waktu aku belum bertemu gadis itu?" Jeno memukul kemudi mobil, membuat Jaemin sadar bahwa ini bukan sekedar cinta monyet seperti waktu kecil dulu.

__ADS_1


Dari mata Jeno jelas dia mencintai gadis itu, dia tidak suka melihat abangnya kacau begini, tapi apa yang bisa dia lakukan?


"Kita jelaskan sama ayah, lagiankan abang belum menerima kak Intan, jadi tidak masalah untuk menolaknya bukan, mendengar dari penuturan abang tadi, abang lebih mencintai gadis itu dari pada kak Intan kan? Aku yakin ayah pasti akan ngerti kak Intan juga pasti mau menerima, kita kan tau, kak Intan itu orangnya gak egois," Jaemin berusaha memberikan pendapat, yang dia tidak tau pendapatnya itu bagus atau tidak.


Mungkin benar Intan akan menerima keputusan Jeno untuk menolaknya, tapi pasti Intan akan sangat terluka begitu juga Om Dimas. Dia pasti akan sangat kecewa. AH, ini rumit.


"Menurut mu begitu Jaem?" Tanya Jeno sambil fokus menyetir.


"Hmm, kita coba aja dulu," Jaemin masih ragu sama pendapatnya sendiri.


"Apa gadis itu juga mencintai mu bang?" Entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja.


"Entahlah, aku belum tau tentang perasaannya," Jeno lalu mengusap mukanya kasar dengan tangan kanannya.


"Kalau gitu kita pastikan dulu perasaan gadis itu, apa gunanya abang mempertahankan dia kalau ternyata dia gak suka sama abang, ya kan?" Mendengar penuturan Jaemin, Jeno menatap adiknya dengan senyuman penuh misteri.


"Ngapain senyum kayak gitu," Jaemin memundurkan tubuhnya ke dekat pintu mobil.


"Nah itu dia Jaem, aku mau minta bantuan kamu buat mastikan perasaan dia sama aku," Jelas Jeno yang membuat Jaemin tambah bingung.


"Dia satu sekolah sama kamu, coba deketin deh, jadi teman dia, nanti gali informasi tentang cowok yang lagi dia taksir siapa, mana tau orang itu aku," Jaemin mengangguk mengerti, tapi kemudian dia kaget dan menatap abangnya tak percaya.


"Satu sekolah sama aku? Siapa? wah, pasti dia punya kelebihan yang gak di miliki kak Intan, sampai-sampai gadis itu mampu menyingkirkan kak Intan dari hati lo bang, Wah... siapa sih?" Kali ini Jaemin begitu antusias.


Sebelum menjawab pertanyaan Jaemin, Jeno memberhentikan mobilnya dulu karena sudah sampai di depan pagar sekolah Jaemin. Tak lama Jeno pun turun dari mobil di ikuti Jaemin.


"Ngapain pakai acara turun segala? Lihat tuh, pada di liatin orang," Jaemin menunjuk sekitarnya dengan menggerakkan bola mata hitamnya itu.


"Itu, itu cewek yang aku taksir," bukannya menjawab pertanyaan Jaemin.


Jeno malah menunjuk ke arah gadis yang memakai seragam lengkap dengan tas sandang berwarna biru dan rambut yang di kincir kuda. Gadis itu sedang menatap gerbang sekolahnya.


Jaemin yang tadinya sibuk memperhatikan abangnya lantas mengikuti telunjuk Jeno dan mendapati seorang gadis mungil berdiri di dekat pagar. Seketika wajah Jaemin menjadi muram, tangannya menggepal dan jantungnya berdetak tak beraturan.


"Maksud abang, Rahmi?" Tanya Jaemin namun masih fokus memperhatikan Rahmi.

__ADS_1


"Kamu kenal dia Jaem?" Jeno lantas langsung menatap adiknya yang berdiri kaku di sampingnya.


"Kenal," kata Jaemin pelan, bahkan hampir tak terdengar oleh Jeno.


"Kenal?" Ulang Jeno memastikan. Jaemin hanya mengangguk, lalu menatap abangnya, tanpa senyuman. Tapi Jeno yang terlanjur senang tak memperhatikan perubahan ekspresi Jaemin.


"Kalau gitu gampang dong, kamu bisa nanyain ke dia tentang perasaannya,iyakan?" Jeno memegang pundak adiknya itu dengan di iringan senyuman yang membuat kaum hawa disekitarnya berteriak histeris.



"Aku usahain ya bang," Jaemin kehilangan semangatnya, bagaimana tidak, orang yang di sukai abangnya adalah orang yang dia sukai juga.


Jaemin melangkah menjauhi Jeno, dia berjalan menuju Rahmi, gadis yang masih sibuk memperhatikan gerbang sekolah. Setelah tepat berada di belakang Rahmi, Jaemin tersenyum tipis melihat tubuh pendek Rahmi.


Dia tak menduga bahwa ini akan terjadi, selama ini dirinya dan Jeno tak pernah memiliki selera yang sama, baik itu pakaian, warna, makanan atau pun minuman. Tapi sekarang? Mereka mencintai gadis yang sama. Gadis yang sangat sederhana, tapi penuh kepolosan dan begitu pendiam.


Jaemin belum pernah jatuh cinta selama ini, tapi mengapa sekali dia jatuh cinta, malah harus mencintai Rahmi, gadis yang juga mengisi hati abangnya. Pikiran Jaemin kacau, haruskah dia merelakan cinta pertamanya untuk abangnya? Selama ini, Jeno mengorbankan semuanya demi Jaemin, apakah ini cara Jaemin membalas kebaikan Jeno? Merelakan orang yang dia cintai?


"Rahmi," Jaemin memanggil Rahmi, dengan suara yang pelan, sehingga terdengar sedang berbisik, Rahmi yang merasa ada yang memanggilnya lantas membalikkan badannya kebelakang.


Sekita Rahmi langsung tersenyum manis ke arah Jaemin, " Jaemin," kata Rahmi, yang membuat Jaemin melebarkan senyumannya walau begitu terpaksa.


"Yuk ke kelas," Rahmi lalu menarik tangan kanan Jaemin, menggandengnya menuju sekolah yang ada di balik gerbang.


"Dia bahkan belum pernah tersenyum semanis itu padaku, apa mereka sebegitu dekat?" Jeno yang masih berdiri di samping mobil bergumam kecil. Lalu mendesah dan masuk ke dalam mobil.


"Apa Jaemin yang di hati Rahmi?" itulah pikiran yang terlintas saat ini di benak Jeno. Entah kenapa dia merasa sangat sedih.


Jaemin yang tangannya di tarik hanya mengikuti tubuh kecil yang melangkah sedikit di depannya. Harusnya dia senang karena Rahmi sudah mau menerimanya sebagai seorang teman. Tapi entah kenapa hatinya terasa hancur saat ini.


"Apakah kita hanya akan jadi teman?" Gumam Jaemin pelan, namun tertangkap telinga Rahmi, walau agak sedikit tidak jelas.


"Apa Jaem? Kamu ngomong apa tadi?" Rahmi menatap cowok yang sekarang sudah menyamai langkahnya,


"Bukan apa-apa Mi," Jaemin tersenyum ke arah Rahmi, namun senyuman itu tak terlihat seperti senyuman.

__ADS_1


"Ada apa dengannya, kenapa terlihat sedih?" Rahmi menangkap perubahan Jaemin, tapi tak berani bertanya.


__ADS_2