
"Jangan sembarangan mengambil ke simpulan kak, mungkin bang Jaemin ada masalah di rumah dan bukan ke salahan kakak," Jisung mencoba meyakini kakaknya.
"Hmm... bisa jadi sih Sung, semoga saja masalahnya cepat selesai," Rahmi menundukkan kepalanya menatap kedua pasang sepatu yang masih menempel di kakinya.
"Kenapa kakak pengen masalah bang Jaemin cepat selesai?" Jisung menatap wajah kakaknya yang menunduk itu lekat-lekat.
"Entahlah, kakak merasa sedih kalau lihat dimurung terus," Rahmi dengan enteng memberikan alasan yang membuat Jisung mulai berspekulasi.
"Kok kakak jadi sedih?" Jisung harap dengan pertanyaan ini bisa membuat kakaknya memperhatikan isi hatinya sendiri.
"Kakak gak tau, tiba-tiba aja merasa kek gitu," Rahmi mengangkat kedua bahunya.
Dia jujur, bahwa dia benar-benar tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia harap semoga ini hanya sekedar perasaan seorang sahabat kepada sahabatnya.
"Hah.. ya sudah deh, kakak gak ganti baju?" Jisung berdiri dari tempat duduknya tadi.
"Iya, ini mau ke kamar," Tanpa menunggu balasan Jisung, Rahmi segera masuk ke kamar setelah membuka kedua sepatu sekolahnya itu.
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
"TRIIIT....TRIIIT..."
Handphone Rahmi berdering, dengan malasnya Rahmi meraih handphonenya yang masih nyaman di dalam saku tasnya.
Rahmi mengerutkan kening, nomor yang tak di kenal, angkat gak ya?. Setau Rahmi orang yang tau nomornya hanya Jisung, Tia dan beberapa temannya di sekolah lama.
"Hallo?" Rahmi memilih mengangkat nomor itu, setelah dua kali menelpon.
"Rahmi? Ini nomor kamukan?" Itu suara cowok. Dan sepertinya tidak asing di telinganya.
"Hmm... maaf ini siapa?" Bukannya menjawab kata orang itu, dia malah bertanya balik.
"Ini aku, Jeno," mata Rahmi membulat seketika.
__ADS_1
Jantungnya mulai memutar irama cepat, dan dia gugup dalam sesaat.
"Hallo... Mi?" Jeno menyapa dari seberang, karena Rahmi tak kunjung bersuara.
"Eh iya kak, ada apa?" Sebisa mungkin dia menetralkan cara bicaranya agar tak terdengar gugup.
"Gak ada, cuman mau nanyain kabar kamu aja, udah lama kita gak ketemu ya?" Jeno menyapa dengan akrab, membuat Rahmi bingung mau jawab apa.
"Eh.. iya kak," hanya itu jawaban Rahmi.
"Hmm... oh ya Mi, besok kamu ada kegiatan gak? Kan hari minggu gak sekolah?" Tanya Jeno hati-hati.
"Hmm... gak ada sih kak, emang kenapa?" Ternyata kepala Rahmi sangat lama loadingnya.
"Mau ngajak kamu jalan-jalan, boleh gak,"
"Eh, tumben? Emang kakak gak sibuk," ayo Rahmi, " berusaha seakrab mungkin.
"hmm, kayaknya enggak Mi. Jadi bisakan? Kita ketemuannya di taman dekat sekolah kamu aja gimana?" Tanya Jeno dari sebrang.
"Eeh... kakak gak mau mampir ke sini dulu? Soalnya Jisung udah kangen tuh," dia teringat akan adiknya yang setiap malam selalu bilang kangen sama bang Jeno. Katanya Rindu di bangunin Jeno waktu mau berangkat sekolah.
"Kapan-kapan aja kakak mampirnya ya Mi, soalya kakak udah janji sama ayah kakak untuk gak boleh ke tempat kerja selama dua bulan," Jeno masih terikat dengan janji. Dia tak bisa melanggar sesuatu yang bernama janji itu.
"Oh gitu ya kak, hmm oke deh, besok jam berapa?" Tanya Rahmi memastikan.
"Jam satu siang kamu bisakan Mi?"
"Bisa kak," Rahmi mengangguj walau dia tau Jeno takkan melihat itu.
"Oke, besok kakak hubungin lagi," dan sambungan pun terputus.
"HUUUH...."
__ADS_1
Rahmi memegang dadanya yang berdebar sangat cepat, dengan sigap dia beralih ke arah cermin, terlihat bayangannya dari pantulan cermin. Dengan pipi yang sudah merona merah, seperti kepiting rebus.
"Mau aku antarin gak, besok?" Rahmi melompat dari tempat duduknya. Dan ternyata lompatannya tak mendarat mulus, dia terjatuh dengan kaki kiri yang tak pas memijak lantai.
"Hahahah....." Orang yang menyaksikan Rahmi jatuh di balik pintu tertawa terpingkal-pingkal, bahkan sampai harus memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.
"Bukannya bantuin, malah ketawa, dasar adik durhaka," Rahmi menatap adiknya itu tajam.
Sudah menguping pembicaraan orang, sekarang malah menertawainya yang terjatuh.
"Iya deh, sini Jisung bantu," Jisung memasang muka manyunnya ke arah Rahmi.
"Singkirkan wajahmu yang sok imut itu Sung," Rahmi memundurkan kening adiknya yang sekarang sedang berjongkok ke arahnya.
"Kan, Jisung mau bantuin di tolak, gak di bantuin di bilang durhaka, kakak maunya apa sih?" Kedua tangan putih Jisung kini terlipat di dadanya dia memutar bola matanya, seakan-akan sedang marah.
"Bodoh amat," Rahmi mencibiri adiknya yang sok imut itu.
"Iya deh, terserah kakak, yang penting senang," Jisung menghembuskan nafasnya, bahkan Rahmi begitu susah di ajak bercanda.
"Ngomong-ngomong gimana tawaran aku tadi, mau gak?" Jisung mengangkat kedua alisnya.
Kening Rahmi berkerut, tawaran yang mana di maksud Jisung? Apa tawaran yang tadi membuatnya terkejut hingga terjatuh?. Adik satu ini, emang gak tau sopan santun, pasti mendengar handphonenya berdering tadi, dia jadi kepo dan mencari tau. Hah.... payah kalau punya adik yang carenya over kayak gini.
"Kamu mau nganterin kakak? Ya gak apa-apa sih, dari pada pakai angkot, uang kakak berkurang nanti. Tapi mau pakai motor siapa?" Rahmi menatap adiknya itu.
"Motor bang Ridho, soalnya cuman bang Ridho sendiri yang gak jalan-jalan hari minggu, jadi bisa di pinjam motornya," Jawab Jisung dengan yakin.
Rahmi hanya manggut-manggut mengerti, dia malas melanjutkan obrolan, entah kenapa matanya terasa berat. Dia mengantuk sekarang.
"Sung keluar dulu ya, aku ngantuk nih," Dia mendorong adiknya keluar dari kamar.
__ADS_1
Jisung yang di dorong hanya pasrah. Melihat mata kakaknya, yang sudah tinggal beberapa watt lagi akan redup, dia pun mengerti.
Rahmi menatap kembali ke arah handphonenya. Dia kembali berdebar-debar, mengingat besok akan bertemu dengan Jeno.