
Jaemin menunggu Jeno di dekat parkiran mobil. Hari ini dia bawa mobil ke sekolah, tidak seperti biasanya dia membawa motor. Sambil menunggu Jeno dia terus memegangi tangannya yang terluka entah kenapa terasa begitu ngilu. Tak beberapa lama dia melihat mobil putih berhenti di depan gerbang, dan ada seorang laki-laki yang berjalan ke arahnya. Itu Jeno.
Melihat kedatangan abangnya itu Jaemin terpana. Bahkan dia gak sadar bahwa Jeno memanggil namanya dari tadi.
"Jaemin.... ngapa bengong," Jeno menepuk lengan Jaemin, dan itu tepat di dekat lukanya.
"Aa... kenapa sih dari tadi pagi ni luka di tabok mulu, sakit tau bang, tadi di tabok bola sekarang abang," Jaemin mengelus tangannya yang kesakitan.
"Astaga, tangan kamu luka? Kenapa?" Muka Jeno berubah khawatir. Dia langsung menyingsingkan lengan baju adiknya. Ternyata lukanya sudah di perban.
"Karena cinta bang," jawab Jaemin ambigu, membuat Jeno terkejut sekali lagi. Adiknya tiba-tiba ngomongin cinta? Apa dia gak salah dengar?
"Maksudmu Jaem?" Jeno mengernyitkan keningnya tanda tak paham.
"Aa... gak usah di pikirin bang, yuk naik," kata Jaemin melemparkan kunci mobilnya ke arah Jeno. Dengan sigap Jeno menangkap kunci yang terbang ke arahnya.
Setelah mereka masuk ke mobil, Jeno dengan sigap membantu adiknya memasang sabuk pengaman.
"Abang ngapain dekat-dekat aku," kata Jaemin langsung memundurkan badannya ke kursi mobil saat melihat Jeno mendekat ke arahnya.
"Mau bantuin kamu masang sabuk pengamanlah Jaem,emangnya mau ngapai lagi?" Kata Jeno melihat adiknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku bisa sendiri kok bang," Jaemin memukul tangan Jeno yang ada di depannya. Sontak membuat Jeno menarik tangannya sambil mengelus tangannya yang di pukul Jaemin, perih.
"Kamu mukul jangan kuat-kuat lah Jaem, sakit tau," Jeno masih mengelus punggung tangannya.
__ADS_1
"Masih mending bang, dari pada abang, luka aku yang di pukul," Kata Jaemin yang sudah selesai memasang sabuk pengamannya.
" Ya maaf, habisnya waktu aku datang kamu malah bengong, mikirin apa coba," Jeno mulai menghidupkan mobil dan membawanya keluar dari sekolah.
"Ah itu, aku terpana aja, abang kok tambah lama tambah ganteng sih," Jaemin mencoba menggoda abangnya itu, dia berharap abangnya itu jadi malu-malu kucing.
"Kamu baru tau Jaem, abang ganteng?" Jawab Jeno dengan agak sedikit sombong.
"Ish... geer amat, nyesel tadi bilang kamu ganteng bang, tau tadi aku diam aja," kata Jaemin sambil membuka kaca mobil dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Hahaha... dasar kamu," Jeno tak habis pikir sama tingkah adiknya yang malah terlihat seperti anak perempuan saat bersamanya, tapi ketika di luar dia akan berubah menjadi laki-laki cool. Adiknya memang seperti itu. Dan Jeno sudah memakluminya.
*****
"Kalian sudah sampai, duduk," kata ayah Jeno dan Jaemin dengan nada penuh wibawa seorang ayah.
"Teman lama kalian sudah pulang ke sini dari luar negeri, apa tidak ingin bertemu? Dia hanya bisa mampir sekarang soalnya ayahnya sibuk. Kalian ngertilah," Kata ibu yang datang dari arah kamar, sudah cantik dengan polesan make up tipis.
"Maksudnya kak Intan? Dia udah balik ke sini?" Tanya Jaemin dengan wajah berseri-seri, mendengar penuturan adiknya itu Jeno terdiam dan memandangi kedua tangannya yang kosong.
"Dia kembali? Tapi kenapa baru sekarang setelah sekian lama?" Tak seperti adiknya, Jeno malah terlihat sedih.
"Iya, Intan sudah pulang," jawab ibu sambil memegang pundak Jaemin,
"Kamu ganti baju dulu Jaemin, dan bawa tas kamu," kata ibu sembari menepuk pundak Jaemin pelan. Walau pun pelan, bagi Jaemin itu sangat sakit. Luka itu baru dua hari mampir di tangannya, tapi sudah tiga kali di pukuli. Jaemin ingin berteriak tapi di tahannya, dia takut ibu dan ayahnya tau soal luka itu. Bisa gawat, Jeno yang paham bahwa Jaemin merahasiakan lukanya dengan cepat mengambil tas Jaemin dan menariknya ke lantai atas, dimana kamar ketiga "J" itu berada.
"Ibu belum tau masalah lukamu Jaem?" Tanya Jeno setelah menutup pintu kamar Jaemin. Jaemin yang di tanya mengangguk.
__ADS_1
"Hmm, kalau gitu terus rahasiakan, aku takut mereka khawatir," kata Jeno mendukung apa yang di lakukan adiknya itu. Orang tua mereka memang terkenal lebay dalam masalah anaknya, pernah sekali waktu mereka masih kecil, tangan Jeno terkena duri bunga mawar, ibu serta ayah mereka langsung membawa Jeno ke rumah sakit. Benar-benar berlebihan. Orang rumah sakit saja berusaha menahan tawa melihat tingkah laku pasangan itu.
"Ya udah abang keluar dulu gih, aku mau ganti baju," Jaemin mendorong abangnya ke arah pintu yang di balas anggukan oleh Jeno. Sesampainya Jeno di luar pintu kamar Jaemin, dia termenung beberapa saat. Lalu memilih masuk ke kamarnya menunggu sampai orang tua mereka menyuruh turun ke bawah.
"Kenapa baru sekarang kamu pulang? Setelah aku memilih membuka hati untuk orang lain?" Kata Jeno menatap kalung yang dia simpan dengan rapi di dalam kotak berwarna biru tua.
"Kalau berniat pergi maka pergi saja jauh-jauh, kenapa harus kembali? Bukankah kau hanya peduli dengan dia?" Sekali lagi Jeno berbicara sendiri dengan kalung itu. Dia menggenggam kalung itu dengan kuat lalu melemparnya ke arah cermin yang ada di depannya. Alhasil kalung itu kembali memantul dan mengenai wajahnya, tepat di bagian pipi sebelah kiri.
"Arg.... menyebalkan," Jeno mengambil kalung itu, lalu meletakkannya kembali ke dalam kotak biru tua yang ada di dalam laci mejanya.
"Bruk..." Jeno membaringkan tubuhnya di atas kasur,
"Hah... kamu apa kabar Rahmi?", Entah kenapa dia merindukan gadis dingin itu. Yang selalu menjawab pertanyaannya dengan singkat lalu tatapan tanpa ekspresi.
"Woi bang, kirain udah ke bawah rupanya masih di sini," Jaemin langsung menyelonong masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Budayakan mengetuk pintu Jaem," Jeno merubah posisinya yang rebahan ke mode duduk.
"Malas bang, lecet nanti tangan Nana kalau ngetuk pintu," Dia memasang muka imutnya yang membuat Jeno jadi jijik.
"Hah... mulaikan mulai," Jeno melemparkan bantal tepat mengenai wajah Jaemin.
"Bang, ni muka berharga banget tau?" Jaemin menghempaskan bantal Jeno ke lantai. Tak peduli tatapan tak terima Jeno yang melihat bantalnya teronggok di atas lantai.
" Yuk ke bawah, kak Intan udah datang," Jaemin berjalan lagi ke arah pintu, lalu membiarkan pintu Jeno dalam keadaan terbuka.
"Apa aku harus menemuinya?" Tanya Jeno kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Harus bang, pastikan hati itu masih milik dia atau bukan," ternyata Jaemin masih di depan kamar Jeno dan tersenyum seraya memberikan semangat kepada abangnya yang terlihat gusar sedari tadi.