Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 7


__ADS_3

Orang tua Rahmi sudah pulang beberapa jam yang lalu setelah membantu anaknya membereskan barang-barang mereka. Sekarang sudah menjelang Malam, Rahmi terduduk sendiri di samping Ruko oomnya. Ada pohon besar disana yang tepat di bawah pohon itu ada satu bangku panjang, dan disitulah Rahmi duduk. Tidak seperti adiknya Raihan yang sudah mulai akrab dengan karyawan yang lainnya. Rahmi termenung menatap ke depan dengan tatapan kosongnya sendirian.



"Eh... ada orang ya?" tiba-tiba ada seorang laki-laki datang dari sebelah kanan sambil membawa secangkir kopi.


Rahmi melirik ke asal suara, "eh... ee... kakak mau duduk di sini? kalau gitu saya aja yang pergi" kata rahmi bersiap-siap berdiri.


"gak usah, duduk aja" orang itu lalu duduk di samping Rahmi.


Melihat orang itu duduk di sampingnya Rahmi pun kembali masuk dalam lamunannya.


"hmm... kalau boleh tau nama kamu siapa? Aku salah satu karyawan di sini" Tanya orang itu menatap ke arah Rahmi.


"Nama ku Rahmi kak" Jawab Rahmi sambil mengarahkan pandangannya ke orang itu.


"aku Jeno, salam kenal ya" Orang itu tersenyum ke arah Rahmi.



"Deg..." jantung Rahmi berdebar melihat senyuman Jeno. Baru kali ini dadanya berdebar karena seorang pria.


"hmm... iya kak" Rahmi jadi salah tingkah.


"kamu masih sekolah?" Tanya Jeno basa-basi.


"Iya kak, baru kelas 1 SMA" jawab Rahmi masih dengan menundukkan kepalanya.


Rahmi sedang mengontrol jantungnya yang bernyanyi tak karuan di hatinya saat ini. Jeno lalu meminum Kopi yang tadi dia bawa.

__ADS_1


"Sekolah dimana Mi?" Tanya Jeno berusaha memecah kecanggungan diatara mereka.


"Di SMA Insan Mutiara kak" Rahmi menjawab sesuai apa yang ditanyakan, tidak berniat bertanya balik. Membuat lawan bicaranya kehabisan bahan pembicaraan. Tapi bukan Jeno namanya kalau tidak bisa memecah kecanggungan di antara mereka.


"oh ya... Adek aku di situ juga sekolahnya, Dia juga baru kelas 1 SMA" jawab Jeno semangat.


Ah... Jeno selalu seperti itu, kalau sudah menyangkut tentang adiknya dia akan sangat bersemangat.


"Oh ya? Adik kakak laki-laki apa perempuan?" Tanya Rahmi mulai tertarik dengan pembicaraan ini.


"Adek kakak laki-laki, kami bertiga bersaudara, tapi semuanya laki-laki, adek kakak yang kelas 1 SMA ini yang nomor dua sedangkan yang kecil baru kelas 2 SMP". Jawabnya panjang lebar.


"Oh... begitu ya, siapa nama adek kakak?" Sebenarnya Rahmi saat mendengar adiknya Jeno laki-laki sudah membuat dia kembali tidak bersemangat untuk mengobrol, tapi tidak enak jika terus cuek dengan Jeno. Bagaimana pun sepertinya Jeno orang yang baik.


"Namanya itu.... AU...." Belum selesai Jeno menjawab tiba-tiba tangannya di pukul oleh seseorang. Ternyata orang itu Jisung.


"Ngapain berduaan sama kakakku disini? jangan macam-macam ya bang!" Tatapan Jisung mengintimidasi Jeno.



"Kalau gitu geser" kata Jisung sambil menggeser duduk Jeno yang dekat dengan kakaknya. Lalu dia duduk di tengah-tengah antara Jeno dan Rahmi.


"hahaha... Kamu kenapa sih dek? Aneh deh" Kata Rahmi tertawa lepas.


Jisung yang di tertawain kakaknya tidak terima. Memasang wajah kesal, namun sayangnya bukan terlihat seperti orang yang lagi kesal malah terlihat sangat imut. Dia mengembangkan kedua pipinya, lantas tindakannya itu membuat Jeno juga ikut tertawa bersama Rahmi.



"Oh... adek kakak benar-benar imut" Kata Rahmi lalu mengelus kepala Jisung.

__ADS_1


"Aaah... kakak, aku tu takut aja, kakakkan selalu jaga jarak sama cowok. Lah tiba-tiba aku lihat kakak tadi ngobrol sama bang Jeno, ya aku kaget. Takutnya kakak merasa gak nyaman" Jawab Jisung panjang lebar.


"Wah... adek kakak pengertian ya... Tapi gak apa-apa kok, kayaknya kak Jeno juga baik orangnya", jelas Rahmi, entah kenapa dia merasa nyaman saat tadi mengobrol dengan Jeno.


Tidak seperti dirinya yang biasanya, Rahmi itu sangat tidak nyaman dekat atau mengobrol dengan orang asing terutama laki-laki. Tapi sepertinya Jeno termasuk dalam pengecualian.


"Iya Sung, abang baik kok" Kata Jeno sambil menepuk dadanya bangga.


"Ih muji diri sendiri" Jawab Jisung meledek Jeno.


"Biarin" Kata Jeno sambil meminum kopi yang belum habis di gelasnya.


"Abang mau begadang? kok malam-malam mknum kopi?" Tanya jisung saat mencium bau kopi di dekatnya.


"Iya, bajunya belum selesai, besok harus sudah siap. Jadi sebelum tidur abang mau selesaikan dulu jahitannya" Jelas jeno lalu meletakkan cangkirnya yang kini telah kosong.


"Kalau mau di buruin ngapain disini nyantai-nyantai bang? Buang waktu tau gak sih, Sana-sana balik kerja" Jisung mendorong punggung Jeno agar segera pergi dari situ dan segera pergi bekerja.


"Ih iya Sung, tapi gak usah dorong-dorong juga"


"ya udah cepat pergi sana bang" Jisung tak mau mengalah dan terus menyuruh Jeno pergi sampai akhirnya Jeno menyerah dan masuk ke dalam ruko.


"Kamu kenapa sih dek?" Tanya Rahmi heran dengan adiknya.


"Kakak udah siap buat sakit hati lagi? Kalau belum siap, jangan deket-deket sama cowok. Karena kita gak tau cinta itu bisa datang dari mana dan jatuh pada siapa. Aku belum siap lihat kakak nangis dan murung terus kayak dulu habis di putusin bang Robi kurang ajar itu." Jisung lalu tersenyum kepada kakaknya.


Mungkin Jisung lebih kecil dari kakaknya 3 tahun, Tapi walau pun begitu dia selalu bertindak seperti abang. Dia sangat menyayangi kakaknya. Dia tidak akan suka jika melihat kakaknya bersedih. Di setiap kesempatan dia selalu melindungi kakaknya. Di tambah lagi Rahmi mempunya penyakit gangguan kecemasan. Yang kadang-kadang akan muncul jika ada masalah yang terjadi. Itulah yang membuat Jisung tak mau jauh dari kakaknya.


Rahmi yang mendengar penuturan adiknya itu membalas senyum adiknya, lalu kembali menatap langit malam seperti yang dia lakukan tadi sebelum Jeno datang.

__ADS_1


'Iya Jisung, aku belum siap buat terluka lagi' Batin Rahmi.


__ADS_2