
Sudah seminggu lebih Vivin sekolah. Dia pun sudah semakin akrab dengan Rahmi dan Tia. Sehingga Jaemin sendiri susah mencari Vivin setiap mau pulang sekolah karena asik mengobrol dengan Rahmi dan Tia hingga lupa waktu. Seperti hari ini. Jaemin hampir dibuat kesal oleh Vivin karena susah di cari padahal sudah waktu pulang. Jaemin sudah lama menunggu di parkiran. Namun ketiga gadis itu tak nampak juga batang hidungnya. Begitu juga di kelas, tidak ada siapa-siapa di sana. Apa merrka sudah pulang? Tapi kenapa Vivin tak mengabarinya? Biasanya Vivin selalu memberi tahunya kalau mau pulang bareng Rahmi.
"Jaem," Jaemin yang masih asik berjalan di koridor kelas terkejut saat ada yang memanggil namanya.
"Abang? Ngapain disini?" Itu Jeno. Jeno dengan wajah murungnya berjalab menghampiri Jaemin yang masih berdiam diri setia menunggu Jeno mendekat.
Jaemin malas jika dia yang harus berjalan mendekati abangnya itu. Karena kakinya sudah merasa pegal keliling sekolah sebanyak lima kali tapi tak juga menemukan ketiga gadis itu, apa benar mereka sudah pulang? Padahal sekarang hari sudah sore. Jaemin benar-benar di buat khawatir oleh ketiga gadis itu!
"Ada apa bang? Kok muka lo di tekuk gitu?" Alis Jaemin mengerut, melihat ekspresi tak menyenangkan dari abangnya itu.
"Om Dimas, dia tak setuju dengan pembatala perjodohan aku sama Intan Jaem. Dia marah sama ayah, katanya ayah sudah mengkhianatinya, aku harus gimana Jaem?"
Jaemin hampir tak bisa menatap bola mata Jeno kali ini, Jeno menunduk dan hanya fokus menatap keramik lantai yang sudah kotor karena belum di sapu oleh si penghuni kelas.
"Jadi gimana? Apa abang masih mau mengejar Rahmi?" Tidak, Jaemin sama sekali tidak bahagia mendengar kabar itu.
__ADS_1
Dia malah merasa sedih melihat Jeno yang murung seperti ini. Dia sama sekali tidak senang, melihat lawannya terpuruk. Oh bukan, bukan lawan. Bagi Jaemin, Jeno tetaplah abangnya. Dia bahkan tak mau berfikir Jeni adalah saingan dalam mendapatkan hati Rahmi. Karena cinta tak untuk menjadi perlombaan, yang ada menang dan kalahnya. Cinta bukan mainan.
"Aku gak tau Jaem," Kali ini suara Jeno terdengar parau. Sial, kali ini Jaemin benar-benar merasa marah, tak tau harus marah pada siapa. Dia tidak suka jika pria yang di depannya ini menangis. Siapa yang harus dia salahkan? Cintakah? Atau oom Dimas yang tak mau perjodohan Jeno batal? Atau Rahmi yang disalahkan karena telah membuat Jeno terperangkap dalam rasa padanya? Atau mungkin Takdir yang pantas di salahkan karena telah mempermainkan hati Jeno? Jaemin tak tau.
Dia malas berfikir sekarang!
Setidaknya sekarang Jaemin sadar akan satu hal. Bahwa cinta bisa merubah sosok yang kuat menjadi lemah, sosok yang bijak menjadi ceroboh, dan sosok yang baik menjadi jahat. Cinta memang luar biasa! Dia bisa merubah cowok yang tak sudi menangis, menjadi tersedu sedu karena cinta. Cinta memang pandai membuat seaeorang menerobos prinsipnya! Menerobos gengsinya!
Jaemin baru tau, kalau ternyata tidak hanya uang yang dapat mengendalikan manusia! Tapi cinta juga tak kalah mengocok hati manusia!
"Aku mau ketemu Rahmi Jaem," Kata Jeno masih dalam keadaan menunduk.
"Maksudnya? Abang kesini mau ketemu Rahmi? Untuk apa?" Kening Jaemin kembali berkerut.
Dia tau bahwa Rahmi bukan tipe orang pendendam. Tapi bagaimana pun, Rahmi pasti akan teringat dengan kejadian beberapa hari belakangan ini jika melihat Jeno. Dia takut Rahmi akan merasa tak nyaman.
"Aku masih punya hutang penjelasan sama dia Jaem,"
__ADS_1
"Emang abang siapanya Rahmi hah? Sampai harus menjelaskan setiap hal sama dia? Ingat bang! Lo bukan siapa-siapanya Rahmi!," Yaaaa...
Walau Jaemin seorang adik yang baik, tapi kadang rasa cemburu meledak tanpa dia sadari. Hingga membuat Jeno yang awalnya menunduk kini mengalihkan tatapannya ke arah Jaemin.
"Lo kenapa Jaem?"
"Hah... enggak, bukan apa-apa," aku hanya merasa ini bukan waktu yang tepat buat abang ketemu sama Rahmi," Jaemin berusaha mencari alasan biar Jeno tak mencurigainya.
"Tapi aku mau ketemu Rahmi sekarang,"
Mendengar itu, tangan Jaemin menggepal. Mengapa abangnya menjadi ngeyel seperti ini? Orang yang satu ini benar-benar tak peka terhadap suasana!.
"Bang Jeno?" Jeno dan Jaemin serentak memandang ke arah asal suara.
Ternyata yang memanggil adalah Vivin, dan disebelah Vivin ada Tia dan Rahmi!
Tia menatap takjub dengan ketampanan yang di miliki kedua pria yang ada di depannya. Sedangkan Vivin terlihat senang, karena bisa bertemu dengan Jeno yang selama ini selalu sibuk. Berbeda dengan Rahmi, yang seketika berubah murung dan terlihat tak nyaman saat melihat Jeno yang ada di hadapannya.
__ADS_1