Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 20


__ADS_3

Jeno dan Jaemin turun ke bawah, saat mendengar langkah kaki mereka, semua orang langsung melihat dan terkagum-kagum akan tampang anak Aditya. Mereka sudah lama tak bertemu 'Tiga J' sekali bertemu mereka benar-benar di buat terpana. Bagaimana tidak, semenjak masuk SMP, Jaemin sudah jarang ikut dengan ayahnya, dia lebih sering ikut ibunya dalam kegiatan amal. Sedangkan Jeno, semenjak memilih kerja di luar rumah untuk melepas kebosanannya dia semakin jarang muncul. Setelah bertahun-tahun baru sekarang bisa melihat anaknya Aditya yang memiliki paras rupawan. Namun sayang, Jun tidak ada di antara mereka. Kata Ibunya, Jun sibuk les untuk mengikuti perlombaan matematika.



"Wah kalian sudah besar rupanya ya?" Kata Dimas ayahnya Intan yang duduk tepat di depan Aditya.


"Tentu saja om, gak mungkinkan kecil terus," jawab Jaemin sambil mencium tangan Dimas yang di ikuti Jeno.


"Hahaha, Om bercanda," kata Dimas sambil memperhatikan Jeno.


"Kamu banyak berubah ya No, biasanya kalau ketemu oom girangnya bukan main, tapi sekarang kalem ya," Dimas lalu menepuk pundak Jeno pelan.


"Ah, perasaan oom aja kali, aku senang kok ketemu sama oom," Jeno berusaha menghilangkan ke gugupannya.


"Kalian duduk dulu," Aditya segera mengakhiri pembicaraan yang sepertinya membuat Jeno tak nyaman. Jaemin dan Jeno mengangguk dan segera duduk di bangku yang masih kosong, Jeno dengan cepat mengambil kursi yang ada di samping ayahnya, sehingga di depan Jeno sekarang adalah sang Ibu. Jaemin yang menyadari abangnya berusaha menjauhi Intan hanya tersenyum tipis, akhirnya dia menarik kursi yang berada di samping Jeno karena hanya itu yang tersisa. Sekarang tepat di depan Jaemin adalah Intan.


"Hallo kak, udah lama ya, kakak apa kabar?" Jaemin berusaha memecahkan kecanggungan yang mulai merasuki meja tempat mereka berkumpul.


"Aku baik Jaem, kamu udah masuk SMA sekarang kan?" Intan balik bertanya dengan senyum manisnya.


"Yoi kak," Jaemin menjawab dengan nada akrab, dia bahkan lupa kalau mereka sudah sempat berpisah bertahun-tahun lamanya. Dia juga lupa bahwa sekarang ada di dekat ayahnya dan rekan bisnis ayahnya. Harusnya dia berbicara formal tapi malah tidak. Ibu yang melihat tingkah Jaemin cuman bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. " Namanya juga anak muda," itu pikir Ibu Jaemin.


Berbanding terbalik dengan Jaemin, Jeno tetap diam tak berniat banyak tanya, Intan menyadari itu, apakah ini karena kesalahan yang dulu dia lakukan? Hmm... Intan sangat ingin menembus kesalahannya dan menjelaskan kesalah pahaman yang tercipta di antara mereka. Andaikan mereka mempunyai waktu berdua, dia pasti akan menjelaskan semuanya kepada Jeno. Dia tak terbiasa melihat Jeno yang terus diam tidak seperti dirinya yang biasanya.

__ADS_1


"Jeno, bukankah kamu yang akan menggantikan Aditya sementara memegang perusahaan?" Jeno yang di tanya langsung menoleh ke arah Dimas.


"Iya om, hanya sampai Jaemin sudah siap memegang posisinya," kata Jeno mantap.


"Hmm, begitu ya, kamu sekarang kelas berapa Jaem?" Kali ini Dimas beralih bertanya kepada Jaemin yang ada di sebelahnya.


"Aku masih kelas satu om," Jaemin menjawab sekenanya.


Dimas yang mendengar itu kembali mengangguk paham. Lalu tak berapa lama pembantu yang bertugas masak di rumah Aditya memberi tahukan bahwa makanan sudah selesai di hidangkan. Mereka berenam pun menuju meja makan dan makan bersama. Posisi duduknya pun tetap seperti tadi, dengan meja yang panjang di bagian ujung kiri adalah Aditya sedangkan di ujung kanan tepatnya di depan Aditya adalah Dimas, lalu di sebelah kiri Aditya berturut-turut ada Istrinya dan Intan, sedangkan di sebelah kanan ada Jaemin dan Jeno. Mereka menyantap makanan dengan beberapa kali di selingi obrolan ringan soal kehidupan mereka masing-masing dan kadang di bumbui tentang pembicaraan soal pekerjaan.


*****


Sudah hampir sejam Dimas dan putrinya Intan bertamu ke rumah Aditya. Sebelum Dimas pulang ke rumahnya dia ingin berbicara hal yang serius dengan keluarga Aditya. Karena sebenarnya hal ini lah tujuan utama Dimas datang berkunjung ke rumah Aditya.


"Apa Mas? Kayaknya penting," Aditya memposisikan duduknya dengan baik dan menatap sahabat lamanya itu.


"Aku mau menikahkan anakku Intan dengan putramu," sontak pernyataan Dimas membuat seluruh orang di ruangan itu kaget termasuk Intan. Dia tak menyangka ayahnya yang dulu memaksa Intan untuk pergi keluar kota untuk menjauhi 'Tiga J' tiba-tiba ingin menjodohkannya dengan salah satu di antara mereka. Ada apa dengan ayah?


"Sesuai dengan permintaan mu dulu Dit, aku sudah mendidik putriku dan menjadikan dia wanita yang pintar bahkan sekarang dia akan menjadi penerus perusahaanku, aku menyekolahkannya keluar negeri, agar bisa setara dengan putramu. Bukankah itu permintaanmu dulu? Dan sekarang aku sudah mengabulkannya," mendengar pernyataan Dimas, Aditya mengangguk sambil tersenyum sedangkan Jeno menatap ayahnya meminta penjelasan begitu juga dengan Intan yang menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya, ada rasa senang terselip di hatinya. Jadi ini tujuan ayah memintanya untuk pergi keluar negeri selama ini.


"Benar Dimas, aku masih ingat janjiku, dan kau tau itu, aku bukan tipe orang yang ingkar janji, sekarang katakan padaku, kepada siapa kau ingin menjodohkan putrimu?" Tanya Aditya antusias.


Mendengar pertanyaan ayahnya Jaemin dan Jeno menjadi gugup. Jaemin berdoa semoga itu bukan dirinya, sebenarnya bukan dia tidak menyukai Intan tapi pada dasarnya hatinya sudah di miliki oleh orang lain. Dan dia hanya ingin orang itu yang ada di sampingnya. Sedangkan Jeno, masuk dalam fase bimbang, seandainya itu dirinya, apa yang harus dia lakukan?

__ADS_1


"Aku mau Jeno yang menjadi menantuku, karena putriku mencintainya," Dimas mengatakannya dengan enteng tanpa memikirkan muka putrinya yang bersemu merah karena malu. Sedangkan Jeno merasa hatinya menjadi tak karuan, berdebar? Entahlah.


"Baiklah, bagaimana denganmu Jeno?" Kali ini semua mata menatap Jeno. Jaemin yang tadi bernafas lega juga ikut menatap abangnya penasaran. Apakah abangnya akan menerima lamaran dadakan ini? Apakah abangnya masih ada rasa kepada Intan? Cinta pertama Jeno?


"tolong beri saya waktu," Semua mengerutkan keningnya kecuali Jaemin, dia juga sudah menduga bahwa Jeno tidak akan menolak atau menerima saat ini. Berbeda dengan anggota keluarga yang lain, mereka merasa heran, bukankah dulu Jeno menyukai Intan?.


"Berapa lama nak Jeno?" Tanya Dimas meminta kepastian.


"Bisa kasih Jeno waktu sebulan oom? Kita sudah lama tak bertemu, Jadi pasti sudah banyak yang berubah di antara kita, bagaimana kalau kita saling mengenal terlebih dulu, mengenal pribadi masing-masing," jelas Jeno yang dibalas anggukan oleh Dimas.


"Oke, oom setuju sama kamu Jen, baiklah kalau begitu kami izin pamit dulu, karena inti dari pertemuan ini sudah di bahas," yah, begitulah sifat Dimas, selalu to the point, tak mau bertele-tele.


" Baiklah Mas, sampai bertemu besok, dan kalian berdua kapan mau mulai saling mengenalnya lagi?" Tanya Aditya kepada Jeno.


"Bisa aku minta nomor mu Tan? Nanti aku hubungi kapan bisa ketemuannya," Kata Jeno, tapi masih dengan tidak menatap wajah Intan. Jujur intan senang saat mendengar Jeno meminta nomornya, tapi melihat Jeno yang masih tak mau menatapnya membuat hatinya kembali sakit.


Setelah mendapatkan nomor Intan, Jeno langsung mengirim pesan yang juga langsung di baca oleh Intan.


"Aku menunggu penjelasanmu Tan," Kira-kira itu isi pesan dari Jeno. Intan menatap Jeno yang sekarang sedang menatap layar handphonenya.


"Kami pamit dulu," suara Dimas membuat Intan tersadar dari lamunannya dan menyalami Aditya dan juga istrinya, Intan lalu berlalu setelah membalas lambaian tangan dari Jaemin.


"Jaemin masih semanis dulu, dan ku harap aku bisa melihat sisi manismu lagi Jen," gumam Intan setelah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2