
"Iya bang, iya, yuk Mi aku antar," Tia langsung menarik tangan Rahmi, sehingga yang punya tangan langsung meloncat berdiri dari duduknya.
Dengan kekuatannya dia menyeret Rahmi keluar dari rumah seperti menggandeng boneka.
"Pelan-pelan Ya, aku orang loh," kata Rahmi yang masih susah menyesuaikan langkah kakinya.
"Harus cepat Mi, nanti bang Haechan berubah pikiran," jawab Tia.
BRAAK
Pintu mobil tertutup, Rahmu menatap ke arah kemudi.
"Kamu benaran bisa bawa mobilkan Ya?" Entah kenapa setelah masuk mobil baru bertanya, aturannya dia bertanya dari tadi.
"Bisa dong, udah deh, kamu santai aja ya Mi, aku udah 3 tahun bawa mobil, di ajarin sama ayah, bahkan aku lebih jago loh dari pada si Haechan," Tia sepertinya mulai menyombongkan diri.
"Abang Haechan Ya, bukan Si Haechan, itu abang mu, sopan sedikit," lagi-lagi tangan Tia mendapat pukulan dari Rahmi.
"Kelihatannya aja lemah ya Mi, padahal aslinya kamu tu garang," Tia meledek ke arah Rahmi, yang di balas sorotan mata tajam Rahmi.
Tia mendengus kesal, lalu memilih untuk fokus menyetir saja.
__ADS_1
"Abang aky over banget sama aku Mi, apa-apa harus lapor dulu, apa-apa harus minta izin dulu, hah... berasa lebih dari pada emak aku tau gak, dia berlebihan banget carenya," Tia ternyata sedang curhat soal perlakuan abangnya yang agak sedikit menggganggunya itu.
"Masih mending kamu Ya, kalau aku, si Jisung tuh yang selalu bertindak layaknya seorang abang padahal dia lebih kecil dari aku, semuanya selalu dia perhatikan, mulai aku makan apa, jam tidurku, bahkan temanku dia yang pilih," Rahmi mengingat tingkah adiknya yang begitu over padanya.
Jisung selalu melindunginya, tapi walau merasa sedikit terganggu setidaknya Rahmi merasa nyaman karena ada orang yang selalu melindunginya.
"Wah, kalau aku sih masalah teman dia gak mau ambil pusing, ternyata ada yang lebih over dari pada abang aku ya, hahahaha," mereka tertawa bersama, entah dimana letak lucunya.
"Aku cuman boleh punya teman cewek Ya, kalau ada teman cowok dia bakalan banyak tanya dan terus mengintrogasi, kalau dia merasa tidak suka, dia bakalan mengikuti aku seharian, dan melarang buat siapa saja dekat denganku," Rahmi melanjutkan penjelasan tentang tingkah abstrak adiknya.
"Mungkin dia khawatir Mi, takut kamu terluka lagi," Tia mulai setuju dengan tifkah Over Jisung.
"Ya, berhenti di sini," Rahmi menepuj pundak Tia.
"Di sini kamu kerja Mi?" Tia memperhatikan ruko milik pamannya Rahmi.
"Yoi, mau singgah dulu gak?" Tanya Rahmi basa basi.
"Lain kali aja deh Mi, udah hampir sore, nanti mama ku ke buru pulang," Tia menolak ajakan Rahmi.
"Oke, kalau gitu aku masuk dulu, hati-hati Ya," Rahmi melambaikan tangannya ke arah mobil.
__ADS_1
"Kok baru pulang sekarang? Pulang sama siapa? Gak cowokkan?" Baru juga mau masuk, tapi sudah di hujani pertanyaan dari Jisung yang tengah berdiri di depannya.
"Aku pulang sama Tia dek, teman sekelasnya kakak," Rahmi berlalu dari hadapan Jisung setelah memberikan jawaban.
"Oh, kak Tia yang sering kakak ceritain?" Jising mengekori kakaknya dari belakang.
"Iya Sung," Jawab Rahmi sekenanya.
"Kalau cuek sama orang lain boleh kak, tapi sama Jisung jangan," Jisung memegang pundak kakaknya.
Saat Rahmi berbalik menatap Jisung, dia tertegun, ada yang gak beres sama kakaknya.
"Ada masalah di sekolah?" Tanya Jisung to the point.
"Hmm, Jaemin," Rahmi langsung curhat dengan adiknya itu.
Entah kenapa dia merasa lebih nyaman bercerita kepada adiknya, dari pada orang lain. Di tambah lagi, dengan Jisung yang langsung tau dan peka akan dirinya. Membuat Rahmi tak bisa membohongi adiknya kalau dia ada masalah.
"Bang Jaemin? Kenapa?" Jisung mengkerutkan alisnya tak mengerti.
"Kakak gak tau, dia kelihatan aneh hari ini, lebih sering melamun, gak kayak biasanya, dia pecicilan dan banyak omong, apa kakak ada salah ya sama dia?" Rahmi menerka-nerka kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1