Cinta Si Pemalu (NoMin)

Cinta Si Pemalu (NoMin)
episode 11


__ADS_3

Di rumah keluarga ADITYA


Di ruang tamu semua keluarga berkumpul tapi sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jaemin anak nomor dua keluarga itu sedang asik dengan leptopnya, tangannya lincah menekan tombol-tombol itu. matanya sibuk memperhatikan layar yang menyala. Sedangkan Jun anak bungsu dalam keluarga ADITYA asik dengan game onlinenya, kadang sekali-kali dia berteriak kesal dan senang. Entahlah dia asik dengan dunianya sendiri, tak menghiraukan kalau suaranya dapat mengganggu orang lain.


Riani istri sekaligus ibu di rumah itu pun sedang asik mengotak-atik hpnya. Biasalah, belanja online. Berbeda dengan sang pemimpin keluarga yang sibuk dengan dokumen yang bertumpuk di atas meja tamu. Dia memilih bekerja di tengah keluarganya dari pada di ruang kerja, katanya bosan dan sunyi. Berbeda dengan orang lain yang lebih senang kerja dalam kondisi tenang dan sunyi.


"hmm... abang kapan pulang ma?" Jun yang terlihat kesal karena sepertinya kalah dalam permainan melemparkan hpnya ke samping.


"Nanti abang pulang" Kata Riani yang masih sibuk memilih baju-baju di handphonenya. Jaemin yang kaget mendengar penuturan ibunya itu menyipitkan matanya dan meletakkan laptopnya tepat di samping handphone Jun.


"Tumben abang pulangnya cepat, kan biasanya 2 minggu sekali ma, perasaan terakhir kali abang pulang itu 5 hari yang lalu" kata Jaemin sambil mengingat ngingat.


"Ayah yang nyuruh abang kalian pulang, soalnya ada yang mau ayah omongin sama abang kalian" Kali ini Aditya yang menjawab pertanyaan putranya. Jaemin dan Jun hanya mengangguk mengerti tak berminat untuk bertanya lagi, karena pastilah pembicaraanya mengenai bisnis keluarga. Mereka berdua pun kembali kepada kegiatan awalnya, Jun bermain game lagi dan Jaemin sibuk dengan leptopnya.


Tak selang beberapa lama bel rumah berbunyi, mendengar suara bel salah satu pembantu di rumah itu bergegas menuju pintu utama untuk membukakan pintu. Dan terlihatlah dari sana Seorang pria tampan idaman para kaum hawa melenggang masuk dengan stelan baju santai. Baju kemeja berwarna putih dengan lampisan luaran berwarna kuning yang di padukan dengan celana jeans.

__ADS_1


"Aku pulang" Teriak orang itu melihat keluarganya yang masih belum sadar akan kedatangannya. Jun yang mendengar suara itu sontak menghentikan gamenya dan berlari ke arah pria itu.


"Abang.... kangen" Jun langsung memeluk abangnya manja. Jaemin yang melihat itu terkekeh kecil dan berjalan ke arah abangnya lalu melepas paksa Jun yang masih nyaman nempel sama abang tertua mereka itu.


"Udah dong Jun lama amat pelukannya, kan abang juga mau peluk" Kata Jaemin kesal karena bukannya melepaskan pelukannya malah Jun semakin kuat memegang pinggang abangnya itu.


"Udah-udah, abang kalian baru pulang, biarin dia duduk dulu" Kata ibu yang menengahi pertengkaran Jun dan Jaemin.


Ayah yang melihat anak tertuanya itu langsung memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya. Pria itu hanya mengangguk setuju sembari langsung menghenyakkan badannya di atas sofa. Jun dan Jaemin bak anak kembar meniru abangnya dan duduk manis di samping Ibunya. Jun di sebelah kanan Lani dan Jaemin di sebelah kiri Lani.


"Ini minumannya tuan muda" Kata salah satu pembantu sambil meletakkan segelas jus jeruk di atas meja kepada anak tertua keluarga itu.


Iya... pria itu adalah Jeno, pria yang bekerja di toko konveksi. Bukannya senang Jeno malah menolak permintaan ayahnya itu.


"Maaf yah, bukan Jeno ingin membangkang, tapi... biarlah Jaemin yang menjadi pewaris perusahaan ayah. Karena dialah yang berhak, Jaemin adalah anak sulung asli di keluarga ADITYA" Mendengar penuturan Jeno, Aditya beserta anggota keluarganya yang lain menatap heran.

__ADS_1


"Maksud abang apa. Kenapa menyerahkannya sama aku? Abng adalah yang sulung jadi abang yang pantas" Kata Jaemin sembari memperbaiki posisi duduknya.


"Jaemin, Abang hanyalah anak angkat di keluarga ini sebelum kelahiranmu, aku bukan berasal dari keluarga ini. Jadi abang tidak pantas mendapatkan hak ahli waris" Kata Jeno menatap adiknya, Jaemin. Mendengar penuturan anaknya Aditya angkat bicara.


"Jeno! Bagi kami kau adalah putra kami dan anak sulung di keluarga ini. Ayah ingin kamu membuang ingatan bahwa kamu anak angkat. Bagi kami kamu adalah anak kandung kami juga". Aditya berusaha meyakinkan.


"Ayah, Jeno paham dan mengerti sekali bahwa kalian tak pernah membedakan aku dengan kedua adikku. Tapi berbeda dengan Kakek dan nenek, lagian pula. Bagaimana pun kita tak bisa memungkiri bahwa Jaemin adalah anak sulung yang kandung dalam keluarga Aditya. Ayah biarkan Jaemin yang menjadi pewaris. Aku tak butuh harta apapun itu ayah, kasih sayang kalian saja sudah cukup buatku. Jadi biarlah Jaemin mendapatkan haknya." Jawab Jeno panjang lebar.


"Gak,gak bisa gitu bang" Kata Jaemin yang masih tak terima. Sedangkan Aditya terdiam di dalam pikirannya. Benar kata Jeno, bagaimana pun Jaemin adalah anak kandung tertua dalam keluarganya.


"Ya sudah baiklah, Ayah tidak mau memaksa, Jaemin kamu ayah nyatakan sebagai pewaris berikutnya. Dan kamu Jeno selama Jaemin masih sekolah kamu yang memegang tanggung jawab perusahaan. Kalian mengerti? Ini sudah keputusan bulat ayah. Tidak ada yang boleh membantah". Mendengar penekanan terakhir ayahnya Jeno dan Jaemin hanya bisa mengangguk menyetujui. Mungkin ini jalan takdir mereka yang sebenarnya.


"Dan Jeno masih ada hukuman buat kamu karena membantah keinginan ayah" Aditya menatap mata Jeno datar.


"Iya yah. Jeno siap di hukum" Kata Jeno tak kalah berwibawa dari pada ayahnya.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh kerja selama dua bulan dan harus kerja di kantor untuk mempelajari urusan kantor lebih jauh, kamu ingat, selama Jaemin masih sekolah kamu yang akan mengemban tugas di kantor membantu ayah.


"Baik yah" Jawab Jeno yakin.


__ADS_2