
Setelah sampai di depan kelas Rahmi, mereka berdua pun berhenti. Jaemin yang sedari tadi hanya diam kini mulai bicara.
"Mau berapa lama lagi Mi, gandeng tangan aku?" Mendengar itu sontak Rahmi terkaget dan dengan cepat melepas tangannya dari tangan Jaemin.
"Ah... kenapa aku mengandeng tangan Jaemin?" Rahmi bertanya pada dirinya sendiri tapi terdengar oleh Jaemin.
"Mana aku tau, kan kamu yang gandeng Mi," Blus, pipi Rahmi memerah karena malu. Dia tak pernah seperti ini biasanya.
"Apa udah mulai mau nerima aku sebagai teman nih? Gak dingin lagikan?" Jaemin menahan senyumnya karena melihat pipi Rahmi yang memerah.
"Hmm," Rahmi mengangguk malu-malu.
Mata Jaemin membulat, ternyata dia sudah di anggap teman oleh gadis pemalu itu.
"Kenapa? Padahal dulu kayak takut sama aku," Jaemin penasaran.
__ADS_1
"Hmm, mungkin kamu gak jahat kayak orang lain," jawaban Rahmi terdengar ambigu, sehingga bukannya membuat jelas malah menbuat Jaemin mengerutkan kening tanda bingung.
"Maksudnya Mi? Kamu fikir semua orang jahat gitu?"
"Hmm," Rahmi mengangguk lagi.
"Lalu kenapa aku gak jahat dimatamu Mi?"
"Karena kemarin Jaemin mau nolongin Rahmi, bahkan gak mikirin keselamatan sendiri," Jawab Rahmi yang memperjelas semuanya, Jaemin mengangguk lalu memberikan senyumannya kepada Rahmi.
"Mi, makasih sudah gak berfikir aku jahat, tapi aku cuman mau bilang sebagai seorang teman. Bukannya menggurui ya Mi, gini loh Mi, di dunia ini gak semua orang jahat, semua manusia sebenarnya terlahir sebagai orang yang baik, cuman salah paham, salah pergaulan, salah didikanlah yang buat mereka jahat, jauh di lubuk hati semua orang sebenarnya mereka punya sifat baik," Jaemin menjelaskan itu kepada Rahmi, karena entah kenapa dia berfikir yang membuat Rahmi menjadi begitu pemalu dan pendiam mungkin karena pemikirannya yang salah itu.
Jaemin tersenyum dan memberikan anggukan. Rahmi yang di respon begitu hanya bengong.
"Ya udah, aku ke kelas dulu ya, sampai ketemu di kantin," Jaemin melambaikan tangannya dan berlalu di koridor kelas.
__ADS_1
"Hmm," Rahmi bergumam sambil menatap punggung Jaemin yang mulai menjauh.
"Mi! Cie... yang pagi-pagi udah di kasih senyum sama Jaemin," Tia merangkul Rahmi dari belakang yang membuat Rahmi agak sedikit menunduk.
"Apaan sih Ya, gak ada yang perlu di cie-ciein, lihat tuh, anak kelas pada nengok karena suaramu," Rahmi membuka tangan Tia yang melingkar di lehernya.
"Hmm, iya deh, tapi menurut aku ya Mi, kalian itu cocok, yang ceweknya pendiam yang cowoknya dingin, kalau di satuin pasti lucu," Tia terus berceloteh sampai mereka tiba di dekat tempat duduk.
"Enggak," Rahmi melepas tasnya dan menaruhnya di atas meja.
"Apanya yang enggak? Kamu gak suka sama Jaemin? Hayo... apa ada orang lain di hati kamu ya?" Tia masih menggoda Rahmi.
"Enggak ada Tia," Rahmi melipat tangannya di atas meja setelah menyumpal telinganya dengan Earphone dan merebahkan kepalanya di atas meja. Tia yang melihat itu menggerutu kesal karena gagal menggoda Rahmi.
🌱🌱🌱🌱🌱
__ADS_1
Jaemin terduduk di kursinya yang berada paling belakang di dekat jendela. Raut wajahnya yang tadi tersenyum kepada Rahmi, sudah berubah tanpa ekpresi, Seperti senyuman itu cuman untuk Rahmi di sekolah ini. Dia menatap keluar jendela, sekali-kali memainkan pena yang ada di tangannya. Dia bingung, harus bagaimana sekarang. Terus mendekati Rahmi sebagai seorang teman, dan melupakan cintanya? Hah, andai saja jatuh cinta tak serumit ini. Kalau tau bakalan begini, dia akan memilih untuk tak pernah bertemu dengan Rahmi.