Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 9


__ADS_3

“Awalnya saat aku masuk pertama kali di


sekolah Garuda Abadi, dan mendapat kelas yang disitu ada Angga, Saat aku masuk


semua orang sangat menerima ku, dan juga para lelaki yang sangat senang


mendapat teman baru di kelas.”


“Lelaki itu bukan senang lagi kalau ada


wanita secantik nona masuk ke kelas mereka,” sahut Jeni dalam hati.


“Namun ada satu lelaki yang dia biasa


saja, raut wajahnya tidak menggambarkan apapun, mulai dari situ aku penasaran


dengan namanya, lalu sampai dimana aku disuruh memilih tempat duduk, banyak


lelaki yang menawarkan tempat duduk kepada ku kecuali Angga, dia hanya diam


melihat temannya yang heboh, dan aku melihat ada kursi kosong tepat di depan


meja Angga jadi aku duduk pas di depan nya, kemudian aku bertanya kepada nya.”



“Hai, namaku Melani, nama kamu siapa?” tanyaku kepada Angga.


“Oh iya, namaku Angga, salam kenal,” Jawabnya.


“Ohh Angga, nama yang bagus,” ucapku sambil memasang wajah senyum


manis.



“Mulai dari situ aku tau namanya, dan berharap bisa berteman


dengannya, lalu pada jam istirahat aku melihatnya diam di kelas dan tak


melakukan apapun dia hanya melihat ke arah luar jendela, yang ternyata dia


tidak membawa bekal makan siangnya, kemudian aku menawarkan bekal makan siangku


kepada nya.”



“Kamu tidak makan Angga?” tanyaku kepadanya yang melihat diam


saja.


“Aku lupa membawa bekal ku, karena tadi aku buru-buru,” jawabnya.


“Aku membawa bekal makan siang, mau makan bersama?”


“Tidak, itu makan siangmu, kau juga pasti lapar.”


“Tidak usah malu, ayo kita makan bersama,” kataku yang mengajaknya


makan bersama.



“Dan kami akhirnya makan bersama, aku sangat suka melihat dia


sedang makan, dia terlihat imut saat makan, mulai dari situ aku sudah ada rasa


suka kepadanya, lalu aku memintanya untuk menemaniku ke perpustakaan untuk


melihat buku-buku yang ada di perpustakaan, dan aku menemukan satu buku yang


bertuliskan Aku Cinta Kamu, kemudian aku mengambil buku itu dan melihat


isi bukunya, dan yang aku temukan adalah nama Angga di situ yang bertanda dia


pernah baca buku itu, dan aku melihat pembatas halaman itu yang berarti Angga


belum menyelesaikan isi buku itu, lalu aku memilih buku itu yang aku pinjam


dari perpustakaan, dan setelah itu aku ada rasa suka kepada Angga, yaa walaupun


aneh tapi itu yang aku rasakan.”


“Hmm…jadi seperti itu nona bisa suka kepada orang yang bernama


Angga,” ujarnya yang mendengarkan cerita panjangku.


Sebenarnya cerita yang aku ceritakan tadi, tidak sepenuhnya benar


dalam cerita yang sesungguhnya.


“Lalu saat aku melihat barang-barang aksesoris ini aku berniat

__ADS_1


membeli satu untuk Angga, namun aku tidak yakin Angga akan menerimanya, karena


ini hanya barang murah,” kataku yang ragu.


“Aku yakin dia akan menerimanya,” ucap Jeni dengan yakin.


Jeni yakin kalau Angga akan menerima hadiah murah ini? Tapi bagaimana


bisa, ketika sesuatu orang special baginya tetapi memberi hadiah yang murah.


Aku ingin mendengar penjelasan Jeni kenapa Angga bisa menerima hadiah murahan


yang di beli di alun-alun.


Aku pun bertanya kepada Jeni.


“Kenapa kamu bisa yakin?” tanyaku penasaran.


“Karena bukan seberapa mahal barang itu, namun seberapa tulus


pemberian itu,” ujarnya.


“Jika dia orang yang baik, dia akan menerima hadiah itu tanpa


melihat seberapa mahal barang yang di beri,” lanjut kata Jeni.


“Jika itu kata mu, aku akan mencoba memberinya sesuatu yang kecil,


contoh kaya gantungan kecil ini,” kataku dengan raut wajah senyum.


Jeni pun membalas perkataan ku dengan senyuman yang menandakan dia


senang dengan sikap aku ini.


Akhirnya aku membeli sebuah gantungan yang di jual oleh pedagang


aksesoris, aksesoris yang biasa di taruh di kunci atau di tas, aku membeli dua,


yaitu gantungan huruf M dan juga A. Aku akan memberi gantungan huruf M kepada


Angga dan huruf A untuk ku simpan atau mungkin akan ku gunakan di gantungan tas.


Aku bertanya kepada Jeni tentang hadiah gantungan yang akan aku


beri kepada Angga.


“Menurut mu bagaimana? Aku akan memberi nya yang huruf M dan aku yang


huruf A,” kataku sambil tersenyum dan menunjukan aksesoris itu di hadapan Jeni.


saja,” ujar Jeni.


Aku balas jawaban Jeni dengan senyuman dan juga membeli kedua


aksesoris itu.


***


Aku dan juga Safira berkeliling dan melihat-lihat sekitaran alun-alun,


dan sepertinya Safira sedang melihat ke arah penjual boneka, apa dia ingin


membeli boneka? Tatapan nya seperti orang yang ingin membeli suatu barang. Aku


pun bertanya kepadanya.


“Kau tertarik dengan boneka yang disana?” tanyaku sambil melihat ke


arah penjual boneka.


“Em…tidak, aku hanya teringat kenangan,” ujarnya.


“Kenangan?”


Kenangan apa yang di maksud Safira, atau mungkin dia dulu


mempunyai pacar kemudian pacarnya itu membelikan boneka.


“Apa jangan-jangan kamu punya pacar, dan pacar mu itu membelikan


boneka,” kataku dengan ekspresi terkejut.


“Jangan mikir aneh-aneh, aku tidak punya pacar.”


Tidak punya? Kalau begitu bagus jadi aku bisa lebih dekat dengan


nya. Aku kira dia sudah mempunyai pacar.


“Lalu kenangan apa yang kau maksud?” tanyaku.


“Kenangan saat hari ulang tahunku, saat itu ibuku memberi sebuah


boneka beruang yang besar kepada ku, aku sangat suka dengan pemberiannya,”

__ADS_1


ucapnya sambil melihat ke penjual boneka.


“Lalu kenapa kau tidak membelikan nya juga satu untuk ibumu, tidak


perlu yang besar, setidaknya itu hadiah special dari mu kepada ibumu,” ujarku


menghadap ke Safira.


“Tapi ibuku tidak sedang ulang tahun,” sanggah Safira.


Hadeuh bocah satu ini, memangnya memberi hadiah harus pada saat


hari ulang tahunnya, kan tidak perlu. Memberi hadiah bisa kapan saja dan tidak


perlu menunggu hari special, terlebih kepada orang tua, mereka berhak mendapat


apa saja dari kita tanpa melihat hari special.


“Memangnya harus menunggu hari special untuk memberi nya hadiah,”


ujarku.


Kemudian Safira melihat ke arah ku. Dan aku meneruskan.


“Mereka yang sudah merawat kita dari kita tidak tau apa-apa sampai


sekarang, kurasa mereka berhak mendapat sebuah hadiah dari anaknya dan tidak


harus menunggu hari special untuk memberi mereka hadiah.”


Aku berbicara seperti ini seolah-olah aku yang paling bijak hehe,


tapi tidak apa-apa aku seperti ini lumayan terlihat keren juga kok. Sepertinya


jika aku sudah besar nanti, aku akan menjadi motivator untuk anak-anak muda


yang masih labil dalam hidupnya.


“Tumben kamu tiba-tiba


menjadi bijak seperti ini,” ujarnya.


“Em…yaa aku kadang menjadi bijak sesaat.”


“Jadi apa menurut mu aku harus membelikannya untuk ibuku?”


“Iyaa, anggap saja oleh-oleh dari alun-alun.”


Dan kami berdua pergi


menuju pedagang boneka untuk membeli satu yang akan Safira berikan kepada


ibunya. Sepertinya bagus juga yaa jika memberi boneka ke seseorang yang aku


sukai, tapi sepertinya Safira sudah biasa dengan hadiah boneka, lalu kalau aku


beli boneka, aku akan berikan kepada siapa?


Pada saat itu aku sedang memikirkan adik perempuan ku.


Kurasa tidak, cukup martabak bangka saja tidak usah pakai hadiah


boneka-bonekaan. Aku melihat Safira yang sedang melihat-lihat boneka yang pada


akhirnya dia memilih boneka hiu yang berukuran kecil.


“Jadi kau membeli boneka hiu untuk ibumu,” ujarku kepadanya.


“Iyaa…aku memilih ini saja karena menurut ku boneka ini lucu.”


Aku bisa melihat senyum tulus Safira saat memilih boneka hiu itu,


sepertinya hadiah itu akan murni dari hatinya untuk ibunya tercinta. Aku juga


merasa senang karena baru pertama kali melihat ia tersenyum seperti itu, yang


dimana saat pertama kali bertemu raut wajahnya sangat judes.


“Sepertinya kita sudah membeli barang dan jalan-jalan bagaimana


kita istirahat terlebih dahulu,” ujarku.


“Hmm baiklah, dimana tempat yang bagus?” katanya sambil melihat


sekeliling.


“Hmm,” aku yang juga melihat sekeliling.


“Ahh itu dia, bagaimana kalau kita duduk disana, kursi itu masih


kosong,” lanjut kataku.


“Hmm, baiklah,” katanya sambil mengangguk-ngangguk kepala.

__ADS_1


Kami pun pergi menuju kursi kosong itu dan menempatinya untuk


istirahat.


__ADS_2