
“Awalnya saat aku masuk pertama kali di
sekolah Garuda Abadi, dan mendapat kelas yang disitu ada Angga, Saat aku masuk
semua orang sangat menerima ku, dan juga para lelaki yang sangat senang
mendapat teman baru di kelas.”
“Lelaki itu bukan senang lagi kalau ada
wanita secantik nona masuk ke kelas mereka,” sahut Jeni dalam hati.
“Namun ada satu lelaki yang dia biasa
saja, raut wajahnya tidak menggambarkan apapun, mulai dari situ aku penasaran
dengan namanya, lalu sampai dimana aku disuruh memilih tempat duduk, banyak
lelaki yang menawarkan tempat duduk kepada ku kecuali Angga, dia hanya diam
melihat temannya yang heboh, dan aku melihat ada kursi kosong tepat di depan
meja Angga jadi aku duduk pas di depan nya, kemudian aku bertanya kepada nya.”
“Hai, namaku Melani, nama kamu siapa?” tanyaku kepada Angga.
“Oh iya, namaku Angga, salam kenal,” Jawabnya.
“Ohh Angga, nama yang bagus,” ucapku sambil memasang wajah senyum
manis.
“Mulai dari situ aku tau namanya, dan berharap bisa berteman
dengannya, lalu pada jam istirahat aku melihatnya diam di kelas dan tak
melakukan apapun dia hanya melihat ke arah luar jendela, yang ternyata dia
tidak membawa bekal makan siangnya, kemudian aku menawarkan bekal makan siangku
kepada nya.”
“Kamu tidak makan Angga?” tanyaku kepadanya yang melihat diam
saja.
“Aku lupa membawa bekal ku, karena tadi aku buru-buru,” jawabnya.
“Aku membawa bekal makan siang, mau makan bersama?”
“Tidak, itu makan siangmu, kau juga pasti lapar.”
“Tidak usah malu, ayo kita makan bersama,” kataku yang mengajaknya
makan bersama.
“Dan kami akhirnya makan bersama, aku sangat suka melihat dia
sedang makan, dia terlihat imut saat makan, mulai dari situ aku sudah ada rasa
suka kepadanya, lalu aku memintanya untuk menemaniku ke perpustakaan untuk
melihat buku-buku yang ada di perpustakaan, dan aku menemukan satu buku yang
bertuliskan Aku Cinta Kamu, kemudian aku mengambil buku itu dan melihat
isi bukunya, dan yang aku temukan adalah nama Angga di situ yang bertanda dia
pernah baca buku itu, dan aku melihat pembatas halaman itu yang berarti Angga
belum menyelesaikan isi buku itu, lalu aku memilih buku itu yang aku pinjam
dari perpustakaan, dan setelah itu aku ada rasa suka kepada Angga, yaa walaupun
aneh tapi itu yang aku rasakan.”
“Hmm…jadi seperti itu nona bisa suka kepada orang yang bernama
Angga,” ujarnya yang mendengarkan cerita panjangku.
Sebenarnya cerita yang aku ceritakan tadi, tidak sepenuhnya benar
dalam cerita yang sesungguhnya.
“Lalu saat aku melihat barang-barang aksesoris ini aku berniat
__ADS_1
membeli satu untuk Angga, namun aku tidak yakin Angga akan menerimanya, karena
ini hanya barang murah,” kataku yang ragu.
“Aku yakin dia akan menerimanya,” ucap Jeni dengan yakin.
Jeni yakin kalau Angga akan menerima hadiah murah ini? Tapi bagaimana
bisa, ketika sesuatu orang special baginya tetapi memberi hadiah yang murah.
Aku ingin mendengar penjelasan Jeni kenapa Angga bisa menerima hadiah murahan
yang di beli di alun-alun.
Aku pun bertanya kepada Jeni.
“Kenapa kamu bisa yakin?” tanyaku penasaran.
“Karena bukan seberapa mahal barang itu, namun seberapa tulus
pemberian itu,” ujarnya.
“Jika dia orang yang baik, dia akan menerima hadiah itu tanpa
melihat seberapa mahal barang yang di beri,” lanjut kata Jeni.
“Jika itu kata mu, aku akan mencoba memberinya sesuatu yang kecil,
contoh kaya gantungan kecil ini,” kataku dengan raut wajah senyum.
Jeni pun membalas perkataan ku dengan senyuman yang menandakan dia
senang dengan sikap aku ini.
Akhirnya aku membeli sebuah gantungan yang di jual oleh pedagang
aksesoris, aksesoris yang biasa di taruh di kunci atau di tas, aku membeli dua,
yaitu gantungan huruf M dan juga A. Aku akan memberi gantungan huruf M kepada
Angga dan huruf A untuk ku simpan atau mungkin akan ku gunakan di gantungan tas.
Aku bertanya kepada Jeni tentang hadiah gantungan yang akan aku
beri kepada Angga.
“Menurut mu bagaimana? Aku akan memberi nya yang huruf M dan aku yang
huruf A,” kataku sambil tersenyum dan menunjukan aksesoris itu di hadapan Jeni.
saja,” ujar Jeni.
Aku balas jawaban Jeni dengan senyuman dan juga membeli kedua
aksesoris itu.
***
Aku dan juga Safira berkeliling dan melihat-lihat sekitaran alun-alun,
dan sepertinya Safira sedang melihat ke arah penjual boneka, apa dia ingin
membeli boneka? Tatapan nya seperti orang yang ingin membeli suatu barang. Aku
pun bertanya kepadanya.
“Kau tertarik dengan boneka yang disana?” tanyaku sambil melihat ke
arah penjual boneka.
“Em…tidak, aku hanya teringat kenangan,” ujarnya.
“Kenangan?”
Kenangan apa yang di maksud Safira, atau mungkin dia dulu
mempunyai pacar kemudian pacarnya itu membelikan boneka.
“Apa jangan-jangan kamu punya pacar, dan pacar mu itu membelikan
boneka,” kataku dengan ekspresi terkejut.
“Jangan mikir aneh-aneh, aku tidak punya pacar.”
Tidak punya? Kalau begitu bagus jadi aku bisa lebih dekat dengan
nya. Aku kira dia sudah mempunyai pacar.
“Lalu kenangan apa yang kau maksud?” tanyaku.
“Kenangan saat hari ulang tahunku, saat itu ibuku memberi sebuah
boneka beruang yang besar kepada ku, aku sangat suka dengan pemberiannya,”
__ADS_1
ucapnya sambil melihat ke penjual boneka.
“Lalu kenapa kau tidak membelikan nya juga satu untuk ibumu, tidak
perlu yang besar, setidaknya itu hadiah special dari mu kepada ibumu,” ujarku
menghadap ke Safira.
“Tapi ibuku tidak sedang ulang tahun,” sanggah Safira.
Hadeuh bocah satu ini, memangnya memberi hadiah harus pada saat
hari ulang tahunnya, kan tidak perlu. Memberi hadiah bisa kapan saja dan tidak
perlu menunggu hari special, terlebih kepada orang tua, mereka berhak mendapat
apa saja dari kita tanpa melihat hari special.
“Memangnya harus menunggu hari special untuk memberi nya hadiah,”
ujarku.
Kemudian Safira melihat ke arah ku. Dan aku meneruskan.
“Mereka yang sudah merawat kita dari kita tidak tau apa-apa sampai
sekarang, kurasa mereka berhak mendapat sebuah hadiah dari anaknya dan tidak
harus menunggu hari special untuk memberi mereka hadiah.”
Aku berbicara seperti ini seolah-olah aku yang paling bijak hehe,
tapi tidak apa-apa aku seperti ini lumayan terlihat keren juga kok. Sepertinya
jika aku sudah besar nanti, aku akan menjadi motivator untuk anak-anak muda
yang masih labil dalam hidupnya.
“Tumben kamu tiba-tiba
menjadi bijak seperti ini,” ujarnya.
“Em…yaa aku kadang menjadi bijak sesaat.”
“Jadi apa menurut mu aku harus membelikannya untuk ibuku?”
“Iyaa, anggap saja oleh-oleh dari alun-alun.”
Dan kami berdua pergi
menuju pedagang boneka untuk membeli satu yang akan Safira berikan kepada
ibunya. Sepertinya bagus juga yaa jika memberi boneka ke seseorang yang aku
sukai, tapi sepertinya Safira sudah biasa dengan hadiah boneka, lalu kalau aku
beli boneka, aku akan berikan kepada siapa?
Pada saat itu aku sedang memikirkan adik perempuan ku.
Kurasa tidak, cukup martabak bangka saja tidak usah pakai hadiah
boneka-bonekaan. Aku melihat Safira yang sedang melihat-lihat boneka yang pada
akhirnya dia memilih boneka hiu yang berukuran kecil.
“Jadi kau membeli boneka hiu untuk ibumu,” ujarku kepadanya.
“Iyaa…aku memilih ini saja karena menurut ku boneka ini lucu.”
Aku bisa melihat senyum tulus Safira saat memilih boneka hiu itu,
sepertinya hadiah itu akan murni dari hatinya untuk ibunya tercinta. Aku juga
merasa senang karena baru pertama kali melihat ia tersenyum seperti itu, yang
dimana saat pertama kali bertemu raut wajahnya sangat judes.
“Sepertinya kita sudah membeli barang dan jalan-jalan bagaimana
kita istirahat terlebih dahulu,” ujarku.
“Hmm baiklah, dimana tempat yang bagus?” katanya sambil melihat
sekeliling.
“Hmm,” aku yang juga melihat sekeliling.
“Ahh itu dia, bagaimana kalau kita duduk disana, kursi itu masih
kosong,” lanjut kataku.
“Hmm, baiklah,” katanya sambil mengangguk-ngangguk kepala.
__ADS_1
Kami pun pergi menuju kursi kosong itu dan menempatinya untuk
istirahat.