
Melani
***
Setelah aku dan Jeni membeli aksesoris
kami melanjutkan berkeliling alun-alun. Namun saat aku dan Jeni melanjutkan
berkeliling, aku melihat Angga sedang duduk di kursi, aku merasa senang bisa
bertemu dengan Angga disini dan aku berniat berlari menghampiri dan memanggil
namanya.
Tetapi, saat aku ingin meneriakkan
namanya aku melihat ada seorang perempuan duduk di samping Angga, aku terkejut
saat melihatnya. Aku memperhatikan wanita itu dan teringat suatu hal saat
berjalan bersama Angga di lorong sekolah menuju ke perpustakaan.
Pada saat itu kami berjalan berdua
melewati lorong dan tiba-tiba Angga berhenti mendadak, kemudian melihat ke arah
luar jendela. Dan melihat ada seseorang di bawah pohon jambu yang lebat di
dekat lapangan upacara sekolah. Dan saat wanita itu menoleh ke arah kami aku
melihat ekspresi wajah Angga yang penasaran dengan wanita itu. Dan aku ingat
wajah wanita itu.
Dan sekarang aku melihat nya sedang
duduk bersama dengan Angga, ahh mungkin dia cuman temannya saja. Tapi aku
melihat ada sebuah boneka di tangan wanita itu, jangan-jangan Angga yang
memberikan boneka itu.
“Nona?” sahut Jeni.
Kenapa hati ini terasa sangat sakit,
padahal aku ini bukan siapa-siapanya Angga, kenapa perasaan ini bisa sampai
sejauh itu. Perasaan yang membuat dada ku sangat sesak saat melihat mereka di
depan mataku, aku harus bersikap apa?
“Nona?” sahut Jeni.
Aku menggenggam gantungan yang aku beli
sebagai hadiah dariku untuk Angga, aku melihat gantungan ini yang berada di
tangan ku, dan berfikir. “Apa sekarang gantungan ini ada nilainya?” Aku
bertanya kepada diriku ini.
“Nona?” sahut Jeni lagi.
Kemudian aku melihat Angga yang
menyentuh tangan wanita itu seakan-akan meraihnya, aku melihatnya dengan rasa
sangat sesak di hati ku ini.
Flashback Masa Kecil Melani
Aku berumur 5 tahun saat itu menangis di pinggir jalan karena
berpisah dari orang tuaku lalu kemudian aku tersesat, aku hanya bisa menangis
berharap ada orang yang menolong ku. Namun tidak ada satu pun yang datang
menolongku saat itu, sampai datang dua orang yang mendekat menghampiri ku.
“Kamu kenapa?” tanya seorang lelaki yang berumur sama seperti ku.
“Kamu berpisah dengan orang tuamu yaa?” tanya seorang wanita yang
ternyata ibu dari anak cowok itu.
“Iyaa, aku tersesat, aku tidak tau harus jalan ke mana,” kataku
sambil menangis.
Kemudian anak lelaki itu berkata kepada ku dengan nada yang agak
keras.
“Jangan menangis!” katanya.
Karena kaget dan sedikit takut aku pun berhenti menangis.
“Kamu tidak boleh nyerah dan tidak boleh nangis!” katanya.
“Hmm?” aku yang terdiam melihat anak lelaki itu.
__ADS_1
“Siapa nama kamu?” tanya ibu itu kepada ku.
“Namaku Melani.”
“Jadi nama kamu Melani ya, kenapa kamu bisa berpisah dengan orang
tua mu?” tanya ibu itu kepadaku.
Saat itu aku sedikit tenang karena ada yang mengajak ku berbicara,
dan rasa sedih ini sudah mulai reda karena kehadiran mereka berdua.
“Aku tadi bilang kepada orang tuaku ingin main sebentar, namun
saat aku berkeliling aku lupa jalan menuju orang tua ku,” kataku.
Kemudian anak lelaki itu memegang tangan ku seolah-olah sedang
bergandengan tangan, dan dia berkata kepadaku.
“Namaku Angga Saputra, biasa di panggil Angga, kamu tidak boleh
menangis, ayuk kita cari orang tua mu,” katanya sambil memegang tanganku yang
sedang takut. Dan aku melihat ibu dari Angga yang hanya tersenyum kepada ku dan
berkata.
“Ayuk kita cari orang tuamu,” ujar ibunya Angga. Dan akupun menganggukkan
kepalaku.
Akhirnya mereka berdua
menemaniku untuk mencari orang tuaku, dengan Angga yang menggandeng tangan ku
selama perjalanan, aku merasa sangat tenang saat Angga memegang tangan ku pada
saat itu. Dan aku berhasil bertemu orang tuaku dan berlari menuju mereka.
“Ayah!” kataku sambil berlari menuju nya dan menangis.
“Melani, kamu dari mana saja, ayah sangat khawatir.”
“Aku tersesat dan mereka membantu ku untuk mencari ayah.”
Kemudian ayahku melihat ke arah Angga dan juga ibunya, dan ayah ku
bilang ke mereka.
“Terima kasih sudah menemani Melani dan juga mengantarkannya,”
kata terima kasih dari ayahku.
Lalu mereka berdua pergi meninggalkanku, semenjak itu aku selalu
mengingat wajah Angga dan juga aku masih ingat genggaman tangan nya saat
menemaniku di kala sedih.
Dan sekarang aku melihat Angga memegang tangan wanita itu,
walaupun aku tidak punya hak untuk melarangnya akan tetapi hatiku menolak saat
melihat nya di depan mataku ini. Aku tidak kuat lagi berada disini dan rasanya
aku ingin pergi dari sini.
Kemudian aku berlari menjauh menuju ke parkiran mobil dan juga
meninggalkan Jeni disitu. Jeni terkejut dengan sikap ku yang tiba-tiba menangis
dan pergi meninggalkannya.
“Nona?!” teriak Jeni.
***
“Apa kamu senang menghabiskan malam ini
disini?” tanyaku ke Safira.
“Yaa, aku senang, tapi aku jadi ingin
mengajak ibuku ke sini, bersantai bersamanya,” ujarnya.
“Aku juga ingin mengajak ayahku tapi,”
lanjut ucap Safira.
“Tapi?”
“Sebenarnya ayah dan juga ibuku
bercerai, kemudian aku memilih untuk hidup bersama ibuku, kejadian itu sudah
sejak aku SD,” katanya dengan tatapan bengong seolah-olah ada yang sangat
dipikirkannya.
Flashback Masa Kecil Safira
__ADS_1
Pada saat itu aku sedang menggambar di kamar, kemudian aku
mendengar suara orang seperti sedang berdebat. Akupun langsung menghampiri asal
suara itu, yang ternyata itu adalah kedua orang tuaku yang sedang berdebat, kami
saat itu mengalami krisis ekonomi di keluarga.
Ayahku di pecat oleh perusahaan nya, dan kedua orang tuaku
berdebat soal ekonomi keluarga yang mengakibatkan perceraian mereka. Kemudian
aku memilih untuk mengikut dengan ibuku, dan ibuku membangun sebuah kedai makan,
berjalan selama beberapa bulan dan kedai mulai menjadi ramai, dan berhasil
membangun tempat yang lebih besar sampai membuka cabang baru yang ibuku namakan
Café Laboon yang sekarang sudah berada di seluruh Indonesia. Lalu ayahku
mendapat pekerjaan baru dan sekarang menjadi Manajer di perusahaan besar.
Aku ingin sekali mereka bersama lagi, aku tak mau mereka pisah
seperti ini, dan juga aku berharap bertemu dengan ayahku. Aku rindu sekali
dengannya, dia yang mengajariku untuk selalu mandiri dan tidak mudah bergantung
kepada orang lain.
**
Setelah aku mendengar cerita masa lalu nya aku merasa kasihan
kepada Safira, kemudian aku menggenggam salah satu tangannya dan berkata.
“Kalau begitu kenapa kamu tidak mencoba untuk menyatukan mereka
Kembali, dengan begitu kalian bisa bersama kembali,” ucapku sambil menggenggam
tangan Safira.
“Memang terdengar mudah jika kita bicara tanpa ada usaha,” ujarnya
sambil melihat ke arah bawah.
“Berarti kamu harus menunggu waktu yang tepat, aku yakin kamu bisa
menyatukan mereka.”
“Lagi-lagi kamu sangat percaya diri.”
“Aku hanya mencoba membuatmu merasa lebih baik,” ujarku.
“Terima kasih.”
Kami melihat banyak bintang-bintang malam dari bawah sini, yaa
walaupun disini ramai tapi kami masih bisa menikmati bintang pada malam hari
ini. Dan aku teringat karena aku ke sini dengan mengendarai motor, aku berniat
mengajaknya pulang bersama menggunakan motor yang aku bawa.
Dia akan menerima nya atau tidak yaa? Memang aku sedikit gugup
untuk bilang kepadanya tapi ini adalah kesempatan untuk ku agar bisa pulang
bersamanya, dan terlebih lagi hanya berdua. Suasana angin dingin di malam hari
membuatku menjadi merinding seperti orang yang sedang menahan buang air besar,
namun bila aku tidak bilang maka kesempatan emas ini akan hilang begitu saja
tanpa adanya usaha sedikitpun.
Kurasa aku harus bilang kepadanya.
“Em…Safira, kamu mau tidak nanti saat pulang, kamu bersama aku
naik motor, kebetulan aku membawa motor ke sini,” ajakku kepada Safira dengan
mata yang melirak-lirik.
“Hah?!” Safira terkejut karena tiba-tiba aku yang mengajak pulang
bersama.
“Bagaimana? berbahaya jika wanita pulang sendiri malam-malam
begini,” kataku.
“Bukannya lebih berbahaya pulang bersama kamu yaa,” suara hati
Safira dengan tatapan mencurigakan ke arah ku.
“Bagaimana?” kataku.
“Hmm…baiklah malam ini aku akan pulang bersama mu,” jawabnya
sambil memejamkan mata.
__ADS_1