Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 10


__ADS_3

Melani


***


Setelah aku dan Jeni membeli aksesoris


kami melanjutkan berkeliling alun-alun. Namun saat aku dan Jeni melanjutkan


berkeliling, aku melihat Angga sedang duduk di kursi, aku merasa senang bisa


bertemu dengan Angga disini dan aku berniat berlari menghampiri dan memanggil


namanya.


Tetapi, saat aku ingin meneriakkan


namanya aku melihat ada seorang perempuan duduk di samping Angga, aku terkejut


saat melihatnya. Aku memperhatikan wanita itu dan teringat suatu hal saat


berjalan bersama Angga di lorong sekolah menuju ke perpustakaan.


Pada saat itu kami berjalan berdua


melewati lorong dan tiba-tiba Angga berhenti mendadak, kemudian melihat ke arah


luar jendela. Dan melihat ada seseorang di bawah pohon jambu yang lebat di


dekat lapangan upacara sekolah. Dan saat wanita itu menoleh ke arah kami aku


melihat ekspresi wajah Angga yang penasaran dengan wanita itu. Dan aku ingat


wajah wanita itu.


Dan sekarang aku melihat nya sedang


duduk bersama dengan Angga, ahh mungkin dia cuman temannya saja. Tapi aku


melihat ada sebuah boneka di tangan wanita itu, jangan-jangan Angga yang


memberikan boneka itu.


“Nona?” sahut Jeni.


Kenapa hati ini terasa sangat sakit,


padahal aku ini bukan siapa-siapanya Angga, kenapa perasaan ini bisa sampai


sejauh itu. Perasaan yang membuat dada ku sangat sesak saat melihat mereka di


depan mataku, aku harus bersikap apa?


“Nona?” sahut Jeni.


Aku menggenggam gantungan yang aku beli


sebagai hadiah dariku untuk Angga, aku melihat gantungan ini yang berada di


tangan ku, dan berfikir. “Apa sekarang gantungan ini ada nilainya?” Aku


bertanya kepada diriku ini.


“Nona?” sahut Jeni lagi.


Kemudian aku melihat Angga yang


menyentuh tangan wanita itu seakan-akan meraihnya, aku melihatnya dengan rasa


sangat sesak di hati ku ini.


Flashback Masa Kecil Melani



Aku berumur 5 tahun saat itu menangis di pinggir jalan karena


berpisah dari orang tuaku lalu kemudian aku tersesat, aku hanya bisa menangis


berharap ada orang yang menolong ku. Namun tidak ada satu pun yang datang


menolongku saat itu, sampai datang dua orang yang mendekat menghampiri ku.


“Kamu kenapa?” tanya seorang lelaki yang berumur sama seperti ku.


“Kamu berpisah dengan orang tuamu yaa?” tanya seorang wanita yang


ternyata ibu dari anak cowok itu.


“Iyaa, aku tersesat, aku tidak tau harus jalan ke mana,” kataku


sambil menangis.


Kemudian anak lelaki itu berkata kepada ku dengan nada yang agak


keras.


“Jangan menangis!” katanya.


Karena kaget dan sedikit takut aku pun berhenti menangis.


“Kamu tidak boleh nyerah dan tidak boleh nangis!” katanya.


“Hmm?” aku yang terdiam melihat anak lelaki itu.

__ADS_1


“Siapa nama kamu?” tanya ibu itu kepada ku.


“Namaku Melani.”


“Jadi nama kamu Melani ya, kenapa kamu bisa berpisah dengan orang


tua mu?” tanya ibu itu kepadaku.


Saat itu aku sedikit tenang karena ada yang mengajak ku berbicara,


dan rasa sedih ini sudah mulai reda karena kehadiran mereka berdua.


“Aku tadi bilang kepada orang tuaku ingin main sebentar, namun


saat aku berkeliling aku lupa jalan menuju orang tua ku,” kataku.


Kemudian anak lelaki itu memegang tangan ku seolah-olah sedang


bergandengan tangan, dan dia berkata kepadaku.


“Namaku Angga Saputra, biasa di panggil Angga, kamu tidak boleh


menangis, ayuk kita cari orang tua mu,” katanya sambil memegang tanganku yang


sedang takut. Dan aku melihat ibu dari Angga yang hanya tersenyum kepada ku dan


berkata.


“Ayuk kita cari orang tuamu,” ujar ibunya Angga. Dan akupun menganggukkan


kepalaku.


Akhirnya mereka berdua


menemaniku untuk mencari orang tuaku, dengan Angga yang menggandeng tangan ku


selama perjalanan, aku merasa sangat tenang saat Angga memegang tangan ku pada


saat itu. Dan aku berhasil bertemu orang tuaku dan berlari menuju mereka.


“Ayah!” kataku sambil berlari menuju nya dan menangis.


“Melani, kamu dari mana saja, ayah sangat khawatir.”


“Aku tersesat dan mereka membantu ku untuk mencari ayah.”


Kemudian ayahku melihat ke arah Angga dan juga ibunya, dan ayah ku


bilang ke mereka.


“Terima kasih sudah menemani Melani dan juga mengantarkannya,”


kata terima kasih dari ayahku.


Lalu mereka berdua pergi meninggalkanku, semenjak itu aku selalu


mengingat wajah Angga dan juga aku masih ingat genggaman tangan nya saat


menemaniku di kala sedih.



Dan sekarang aku melihat Angga memegang tangan wanita itu,


walaupun aku tidak punya hak untuk melarangnya akan tetapi hatiku menolak saat


melihat nya di depan mataku ini. Aku tidak kuat lagi berada disini dan rasanya


aku ingin pergi dari sini.


Kemudian aku berlari menjauh menuju ke parkiran mobil dan juga


meninggalkan Jeni disitu. Jeni terkejut dengan sikap ku yang tiba-tiba menangis


dan pergi meninggalkannya.


“Nona?!” teriak Jeni.


***


“Apa kamu senang menghabiskan malam ini


disini?” tanyaku ke Safira.


“Yaa, aku senang, tapi aku jadi ingin


mengajak ibuku ke sini, bersantai bersamanya,” ujarnya.


“Aku juga ingin mengajak ayahku tapi,”


lanjut ucap Safira.


“Tapi?”


“Sebenarnya ayah dan juga ibuku


bercerai, kemudian aku memilih untuk hidup bersama ibuku, kejadian itu sudah


sejak aku SD,” katanya dengan tatapan bengong seolah-olah ada yang sangat


dipikirkannya.


Flashback Masa Kecil Safira

__ADS_1



Pada saat itu aku sedang menggambar di kamar, kemudian aku


mendengar suara orang seperti sedang berdebat. Akupun langsung menghampiri asal


suara itu, yang ternyata itu adalah kedua orang tuaku yang sedang berdebat, kami


saat itu mengalami krisis ekonomi di keluarga.


Ayahku di pecat oleh perusahaan nya, dan kedua orang tuaku


berdebat soal ekonomi keluarga yang mengakibatkan perceraian mereka. Kemudian


aku memilih untuk mengikut dengan ibuku, dan ibuku membangun sebuah kedai makan,


berjalan selama beberapa bulan dan kedai mulai menjadi ramai, dan berhasil


membangun tempat yang lebih besar sampai membuka cabang baru yang ibuku namakan


Café Laboon yang sekarang sudah berada di seluruh Indonesia. Lalu ayahku


mendapat pekerjaan baru dan sekarang menjadi Manajer di perusahaan besar.


Aku ingin sekali mereka bersama lagi, aku tak mau mereka pisah


seperti ini, dan juga aku berharap bertemu dengan ayahku. Aku rindu sekali


dengannya, dia yang mengajariku untuk selalu mandiri dan tidak mudah bergantung


kepada orang lain.


**


Setelah aku mendengar cerita masa lalu nya aku merasa kasihan


kepada Safira, kemudian aku menggenggam salah satu tangannya dan berkata.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak mencoba untuk menyatukan mereka


Kembali, dengan begitu kalian bisa bersama kembali,” ucapku sambil menggenggam


tangan Safira.


“Memang terdengar mudah jika kita bicara tanpa ada usaha,” ujarnya


sambil melihat ke arah bawah.


“Berarti kamu harus menunggu waktu yang tepat, aku yakin kamu bisa


menyatukan mereka.”


“Lagi-lagi kamu sangat percaya diri.”


“Aku hanya mencoba membuatmu merasa lebih baik,” ujarku.


“Terima kasih.”


Kami melihat banyak bintang-bintang malam dari bawah sini, yaa


walaupun disini ramai tapi kami masih bisa menikmati bintang pada malam hari


ini. Dan aku teringat karena aku ke sini dengan mengendarai motor, aku berniat


mengajaknya pulang bersama menggunakan motor yang aku bawa.


Dia akan menerima nya atau tidak yaa? Memang aku sedikit gugup


untuk bilang kepadanya tapi ini adalah kesempatan untuk ku agar bisa pulang


bersamanya, dan terlebih lagi hanya berdua. Suasana angin dingin di malam hari


membuatku menjadi merinding seperti orang yang sedang menahan buang air besar,


namun bila aku tidak bilang maka kesempatan emas ini akan hilang begitu saja


tanpa adanya usaha sedikitpun.


Kurasa aku harus bilang kepadanya.


“Em…Safira, kamu mau tidak nanti saat pulang, kamu bersama aku


naik motor, kebetulan aku membawa motor ke sini,” ajakku kepada Safira dengan


mata yang melirak-lirik.


“Hah?!” Safira terkejut karena tiba-tiba aku yang mengajak pulang


bersama.


“Bagaimana? berbahaya jika wanita pulang sendiri malam-malam


begini,” kataku.


“Bukannya lebih berbahaya pulang bersama kamu yaa,” suara hati


Safira dengan tatapan mencurigakan ke arah ku.


“Bagaimana?” kataku.


“Hmm…baiklah malam ini aku akan pulang bersama mu,” jawabnya


sambil memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2