Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 14


__ADS_3

Safira


***


Hari ini aku di antar ke sekolah oleh ibu menggunakan mobil, aku


cukup senang di antar olehnya. Dia mau meluangkan waktunya untukku.


“Hari ini ibu tumben sekali mengantarku ke sekolah, padahal aku


bisa naik taxi, jadi ibu bisa langsung pergi ke Cafe,” kataku dengan raut wajah


senang.


“Memangnya ibu tidak boleh mengantarkan anak sematawayangnya ke


sekolah, ibu juga mau sesekali mengantarkan anak ibu sendiri ke sekolah.”


“Baiklah, untuk hari ini aku akan menerimanya,” kataku dengan


wajah senyum tulus.


Akhirnya kami masuk ke mobil dan ibuku mengendarai mobilnya karena


aku belum punya SIM, jadi aku tidak bisa mengendarai mobil untuk saat ini. Tapi


semalam Angga membawa motor ke alun-alun memangnya dia sudah punya SIM C yaa?


Sepanjang perjalanan aku dan ibu mengobrol dengan santai, sampai


dimana ia menanyakan soal semalam aku jalan berdua ke alun-alun bersama Angga.


“Bagaimana jalan-jalan bersama Angga semalam? Apa kau senang jalan


bersamanya? Apa dia orang yang baik? Kau tidak pernah bilang kalau punya teman


lelaki,” tanya ibuku yang sangat penasaran.


“Ibu ini, yaa seperti biasanya hanya jalan-jalan keliling saja dan


membeli makanan dan juga membeli boneka yang aku berikan untuk ibu. Jika ibu


bertanya kepada ku apakah aku senang jalan bersamanya? Jawabannya aku tidak


tau, dia juga orang yang cukup baik menurutku, sejak aku bertemunya aku judes


sekali kepadanya, namun saat pulang sekolah tiba-tiba dia mengajak ku untuk


jalan bersamanya di alun-alun,” kataku dengan wajah yang bingung bagaimana


harus menjawabnya.


“Sepertinya kamu masih malu-malu yaa,” kata ibuku dengan wajah


senyum.


“Maksudnya malu-malu?” tanyaku karena penasaran.


“Tidak, mungkin suatu hari kamu akan mengetahui nya sendiri.”


“Ahh ibu ini.”


Perbincangan ibu barusan membuatku kebingungan untuk menjawabnya,


aku sendiripun tidak tau perasaan apa ini saat aku bersamanya, aku merasa


sangat tenang saat di dekatnya, seperti sedang ada yang menjagaku.


Dan juga aku senang bisa ngobrol berdua bersama ibu, akupun merasa


sangat tenang saat berdua dengan ibu. Orang yang merawatku dan membesarkanku


sampai sekarang ini, dan juga aku ingin sekali bertemu dengan ayah kembali, aku


ingin mereka bersatu kembali seperti dulu dengan begitu kita bisa menjadi

__ADS_1


keluarga yang sempurna.


Cuaca hari ini sangat bagus tidak panas dan juga tidak mendung,


pas sekali bila di sebut dengan cuaca yang sempurna. Hari ini ada mata pelajaran


olahraga jadi kurasa cuaca ini cukup bagus untuk mata pelajaran itu.


“Cuaca hari ini cukup bagus yaa bu, tidak terlalu panas dan juga


tidak mendung,” ujarku.


“Iyaa, enaknya saat cuaca seperti ini adalah minum kopi dan duduk


santai di teras depan rumah sambil menikmati cuacanya,” kata ibuku.


Kenapa ibu membicarakan itu, bukannya itu kebiasaan ibu dan juga


ayah saat mereka masih bersama, mereka selalu bersama saat cuaca bagus ini


datang, menikmati kopi bersama dan duduk santai di teras depan rumah. Apa ibu


merindukan momen itu bersama ayah?


“Bukankah itu yang di lakukan ibu bersama ayah saat dulu?” ujarku


spontan.


“Ahh benarkah? Ibu tidak mengingatnya sama sekali,” kata ibuku dengan


wajah kebohongan.


Ibu sepertinya berbohong terhadap dirinya sendiri, aku bisa


melihat dari raut wajahnya yang penuh kebohongan. Apa mungkin ibu juga


merindukan ayah namun tidak berani mengungkapkan perasaan nya, jika memang


benar begitu aku harus membantu ibu.


“Ibu, apa ibu merindukan ayah?” kataku dengan tatapan mengarah ke


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya balik ibuku.


“Aku hanya ingin memastikan ucapan ibu tadi saja, barangkali ibu


rindu dengan ayah, aku bisa membantu ibu,” kataku.


“Hmm tidak, tidak usah di bahas lagi yaa, nah itu di depan


sekolahmu, kita sudah sampai,” kata ibuku dengan mengelak pembicaraan.


Kami pun sampai di sekolah, ibu memberhentikan mobil tepat di


depan gerbang sekolah dan memberi tau sesuatu kepadaku.


“Belajarlah yang rajin, oke Safira,” kata semangat dari ibu.


“Iyaa bu, aku sekolah dulu yaa,” kataku. Kemudian aku salim ke ibu


lalu membuka pintu mobil dan siap masuk ke dalam sekolah namun, sebelum itu ibu


berkata kembali kepadaku dengan membuka kaca mobil.


“Yang rajin yaa,” kata semangat lagi dari ibu. Lalu aku


membalasnya dengan senyumanku.


Aku jalan meninggalkan ibu dengan wajah yang cemas, cemas karena


perkataan ibu di mobil tadi. Apa benar ibu masih merindukan ayah, jika benar


kan itu sangat bagus, kita tinggal bersatu kembali dan kembali bersama-sama.


Aku melihat ke arah langit dan berharap semua akan berjalan dengan

__ADS_1


lancar tanpa gangguan, aku harap kami bersatu kembali, menjadi keluarga yang


utuh tanpa ada yang hilang di antara kami. Menjadi keluarga yang sempurna, itu


impian ku sekarang.


Aku selalu masuk lewat lobi karena itu adalah jalan tercepat


menuju gedung Bahasa. Namun saat aku membuka pintu untuk keluar lobi tiba-tiba


dari samping kanan ku ada seseorang yang berlari terburu-buru, saat aku membuka


pintu lobi dia terkejut dan tidak bisa memberhentikan dirinya, lalu pada


akhirnya dia menabrak ku.


“Ahh, aku minta maaf, aku tidak bermaksud menabrak mu, aku sedang


buru-buru ke ruang guru,” katanya terengah-engah.


“Em, tidak apa-apa. Aku juga salah karena membuka pintu secara


mendadak, aku tidak tau kalau ada orang yang sedang berlari, aku juga minta


maaf.”


“Memangnya ada apa sampai kamu terburu-buru gitu?” sambung


tanyaku.


“Hari ini temanku tidak masuk sekolah karena sakit, perwakilan


keluarganya menitipkan surat ini kepadaku untuk di berikan ke wali kelas. Jadi


aku buru-buru ke ruang guru untuk menyerahkan surat ini,” jawabnya.


“Ohh jadi seperti itu, kalau begitu kamu bisa lanjut lagi ke ruang


guru, maaf ya soal tadi,” kataku.


“Iyaa, aku juga, permisi,” katanya sambil pamit kepadaku. Diapun


meninggalkan ku, namun saat aku hendak melanjutkan langkahku tiba-tiba orang


itu memanggilku.


“Permisi, kalau boleh tau siapa namamu?” tanyanya. Aku terkejut


karena dia menanyakan namaku, aku pun menjawabnya, sekaligus bertanya kembali.


“Namaku Safira dari jurusan Bahasa, salam kenal, lalu namamu?”


tanyaku balik.


“Namaku Putri dari jurusan IPA, salam kenal juga, semoga kita bisa


menjadi teman baik, kalau begitu aku permisi,” katanya. Jurusannya sama seperti


jurusan Angga, ternyata tidak semua orang bisa nyebelin, mungkin ada beberapa


orang yang asik bila di ajak ngobrol.


Akupun kembali melanjutkan perjalanan menuju gedung Bahasa, Hmm


kenapa letak gedung Bahasa harus berada di belakang sekolah, terlebih lagi


sekolah ini cukup luas, jadi aku harus berjalan yang lumayan panjang ke


belakang sekolah.


Jam pelajaran pertama dimulai pukul 08:00, sekarang baru pukul


07:30 jadi aku masih bisa ke kantin terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas.


Karena di kelas pasti akan sangat membosankan, harus menunggu 30 menit sebelum

__ADS_1


mata pelajaran pertama di mulai, lebih baik ke kantin bersantai dulu di sana.


***


__ADS_2