
Safira
***
Hari ini aku di antar ke sekolah oleh ibu menggunakan mobil, aku
cukup senang di antar olehnya. Dia mau meluangkan waktunya untukku.
“Hari ini ibu tumben sekali mengantarku ke sekolah, padahal aku
bisa naik taxi, jadi ibu bisa langsung pergi ke Cafe,” kataku dengan raut wajah
senang.
“Memangnya ibu tidak boleh mengantarkan anak sematawayangnya ke
sekolah, ibu juga mau sesekali mengantarkan anak ibu sendiri ke sekolah.”
“Baiklah, untuk hari ini aku akan menerimanya,” kataku dengan
wajah senyum tulus.
Akhirnya kami masuk ke mobil dan ibuku mengendarai mobilnya karena
aku belum punya SIM, jadi aku tidak bisa mengendarai mobil untuk saat ini. Tapi
semalam Angga membawa motor ke alun-alun memangnya dia sudah punya SIM C yaa?
Sepanjang perjalanan aku dan ibu mengobrol dengan santai, sampai
dimana ia menanyakan soal semalam aku jalan berdua ke alun-alun bersama Angga.
“Bagaimana jalan-jalan bersama Angga semalam? Apa kau senang jalan
bersamanya? Apa dia orang yang baik? Kau tidak pernah bilang kalau punya teman
lelaki,” tanya ibuku yang sangat penasaran.
“Ibu ini, yaa seperti biasanya hanya jalan-jalan keliling saja dan
membeli makanan dan juga membeli boneka yang aku berikan untuk ibu. Jika ibu
bertanya kepada ku apakah aku senang jalan bersamanya? Jawabannya aku tidak
tau, dia juga orang yang cukup baik menurutku, sejak aku bertemunya aku judes
sekali kepadanya, namun saat pulang sekolah tiba-tiba dia mengajak ku untuk
jalan bersamanya di alun-alun,” kataku dengan wajah yang bingung bagaimana
harus menjawabnya.
“Sepertinya kamu masih malu-malu yaa,” kata ibuku dengan wajah
senyum.
“Maksudnya malu-malu?” tanyaku karena penasaran.
“Tidak, mungkin suatu hari kamu akan mengetahui nya sendiri.”
“Ahh ibu ini.”
Perbincangan ibu barusan membuatku kebingungan untuk menjawabnya,
aku sendiripun tidak tau perasaan apa ini saat aku bersamanya, aku merasa
sangat tenang saat di dekatnya, seperti sedang ada yang menjagaku.
Dan juga aku senang bisa ngobrol berdua bersama ibu, akupun merasa
sangat tenang saat berdua dengan ibu. Orang yang merawatku dan membesarkanku
sampai sekarang ini, dan juga aku ingin sekali bertemu dengan ayah kembali, aku
ingin mereka bersatu kembali seperti dulu dengan begitu kita bisa menjadi
__ADS_1
keluarga yang sempurna.
Cuaca hari ini sangat bagus tidak panas dan juga tidak mendung,
pas sekali bila di sebut dengan cuaca yang sempurna. Hari ini ada mata pelajaran
olahraga jadi kurasa cuaca ini cukup bagus untuk mata pelajaran itu.
“Cuaca hari ini cukup bagus yaa bu, tidak terlalu panas dan juga
tidak mendung,” ujarku.
“Iyaa, enaknya saat cuaca seperti ini adalah minum kopi dan duduk
santai di teras depan rumah sambil menikmati cuacanya,” kata ibuku.
Kenapa ibu membicarakan itu, bukannya itu kebiasaan ibu dan juga
ayah saat mereka masih bersama, mereka selalu bersama saat cuaca bagus ini
datang, menikmati kopi bersama dan duduk santai di teras depan rumah. Apa ibu
merindukan momen itu bersama ayah?
“Bukankah itu yang di lakukan ibu bersama ayah saat dulu?” ujarku
spontan.
“Ahh benarkah? Ibu tidak mengingatnya sama sekali,” kata ibuku dengan
wajah kebohongan.
Ibu sepertinya berbohong terhadap dirinya sendiri, aku bisa
melihat dari raut wajahnya yang penuh kebohongan. Apa mungkin ibu juga
merindukan ayah namun tidak berani mengungkapkan perasaan nya, jika memang
benar begitu aku harus membantu ibu.
“Ibu, apa ibu merindukan ayah?” kataku dengan tatapan mengarah ke
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya balik ibuku.
“Aku hanya ingin memastikan ucapan ibu tadi saja, barangkali ibu
rindu dengan ayah, aku bisa membantu ibu,” kataku.
“Hmm tidak, tidak usah di bahas lagi yaa, nah itu di depan
sekolahmu, kita sudah sampai,” kata ibuku dengan mengelak pembicaraan.
Kami pun sampai di sekolah, ibu memberhentikan mobil tepat di
depan gerbang sekolah dan memberi tau sesuatu kepadaku.
“Belajarlah yang rajin, oke Safira,” kata semangat dari ibu.
“Iyaa bu, aku sekolah dulu yaa,” kataku. Kemudian aku salim ke ibu
lalu membuka pintu mobil dan siap masuk ke dalam sekolah namun, sebelum itu ibu
berkata kembali kepadaku dengan membuka kaca mobil.
“Yang rajin yaa,” kata semangat lagi dari ibu. Lalu aku
membalasnya dengan senyumanku.
Aku jalan meninggalkan ibu dengan wajah yang cemas, cemas karena
perkataan ibu di mobil tadi. Apa benar ibu masih merindukan ayah, jika benar
kan itu sangat bagus, kita tinggal bersatu kembali dan kembali bersama-sama.
Aku melihat ke arah langit dan berharap semua akan berjalan dengan
__ADS_1
lancar tanpa gangguan, aku harap kami bersatu kembali, menjadi keluarga yang
utuh tanpa ada yang hilang di antara kami. Menjadi keluarga yang sempurna, itu
impian ku sekarang.
Aku selalu masuk lewat lobi karena itu adalah jalan tercepat
menuju gedung Bahasa. Namun saat aku membuka pintu untuk keluar lobi tiba-tiba
dari samping kanan ku ada seseorang yang berlari terburu-buru, saat aku membuka
pintu lobi dia terkejut dan tidak bisa memberhentikan dirinya, lalu pada
akhirnya dia menabrak ku.
“Ahh, aku minta maaf, aku tidak bermaksud menabrak mu, aku sedang
buru-buru ke ruang guru,” katanya terengah-engah.
“Em, tidak apa-apa. Aku juga salah karena membuka pintu secara
mendadak, aku tidak tau kalau ada orang yang sedang berlari, aku juga minta
maaf.”
“Memangnya ada apa sampai kamu terburu-buru gitu?” sambung
tanyaku.
“Hari ini temanku tidak masuk sekolah karena sakit, perwakilan
keluarganya menitipkan surat ini kepadaku untuk di berikan ke wali kelas. Jadi
aku buru-buru ke ruang guru untuk menyerahkan surat ini,” jawabnya.
“Ohh jadi seperti itu, kalau begitu kamu bisa lanjut lagi ke ruang
guru, maaf ya soal tadi,” kataku.
“Iyaa, aku juga, permisi,” katanya sambil pamit kepadaku. Diapun
meninggalkan ku, namun saat aku hendak melanjutkan langkahku tiba-tiba orang
itu memanggilku.
“Permisi, kalau boleh tau siapa namamu?” tanyanya. Aku terkejut
karena dia menanyakan namaku, aku pun menjawabnya, sekaligus bertanya kembali.
“Namaku Safira dari jurusan Bahasa, salam kenal, lalu namamu?”
tanyaku balik.
“Namaku Putri dari jurusan IPA, salam kenal juga, semoga kita bisa
menjadi teman baik, kalau begitu aku permisi,” katanya. Jurusannya sama seperti
jurusan Angga, ternyata tidak semua orang bisa nyebelin, mungkin ada beberapa
orang yang asik bila di ajak ngobrol.
Akupun kembali melanjutkan perjalanan menuju gedung Bahasa, Hmm
kenapa letak gedung Bahasa harus berada di belakang sekolah, terlebih lagi
sekolah ini cukup luas, jadi aku harus berjalan yang lumayan panjang ke
belakang sekolah.
Jam pelajaran pertama dimulai pukul 08:00, sekarang baru pukul
07:30 jadi aku masih bisa ke kantin terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas.
Karena di kelas pasti akan sangat membosankan, harus menunggu 30 menit sebelum
__ADS_1
mata pelajaran pertama di mulai, lebih baik ke kantin bersantai dulu di sana.
***