Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 17


__ADS_3

Melani


***


“Apa hadiah dariku sudah kamu taruh di atas mejanya?” tanyaku ke


supirku yang menaruh kotak itu di atas meja Angga.


“Sudah nona, semua berjalan dengan lancar,” balasnya.


“Baiklah, baguslah kalau begitu.”


Kira-kira Angga sudah mengambil kotak itu atau belum yaa? Dan juga


di dalam nya ada surat dariku yang aku tulis sendiri dengan tanganku. Aku


berharap dia mau menerima hadiah sederhanaku, dan semoga dia tidak tau bahwa


akulah yang memberinya hadiah.


“Nona anda harus berbaring di kasur anda, jangan terlalu banyak


jalan dan berdiri seperti itu. Nona sekarang harus berbaring di kasur agar


cepat sembuh,” kata Jeni yang mengkhawatirkan ku.


“Iyaa-iyaa aku tau, aku hanya sedang berfikir bagaimana reaksi


Angga saat menerima hadiah itu. Apakah dia senang atau tidak,” kataku, mondar


mandir di kamar.


“Iyaa tapi anda sekarang harus berbaring di kasur, jika anda


seperti ini terus maka anda akan lama sembuh dan juga akan lama untuk bertemu


dengan Angga. Jadi kumohon nona untuk berbaring men-istirahatkan tubuh anda


agar cepat sembuh,” ujar Jeni sambil menuntunku ke kasur.


“Menurutmu caraku ini sudah benar belum? Dengan memberi nya secara


diam-diam gitu tanpa dia tau siapa yang memberinya,” kataku yang berbaring di


kasur.


“Kalau soal itu lebih baik nona mencari taunya sendiri,” jawab


Jeni.


“Hmm, kenapa kamu jawabnya seperti itu Jeni?” tanyaku lagi karena


bingung.


“Karena nona yang menyukai Angga, jika banyak menggunakan caraku


maka kesannya aku yang menyukai Angga,”


“Bukannya aku hanya meminta saran darimu, kamu ini,” ucapku.


“Nona harus menggunakan cara nona sendiri untuk mengungkapkan


perasaan nona kepada Angga, dengan begitu semua usaha nona adalah murni usaha


nona.”


***


Hmm, sekolah hari ini berjalan seperti biasanya. Kami bertiga


berkumpul di meja tempat duduk ku, kami berencana untuk menjenguk Melani yang


sedang sakit di rumah. Karena aku tidak tau alamat nya, maka aku tanya langsung


saja kepada mereka.


“Nanti kita akan menjenguk Melani, tapi ada masalah yaitu aku


tidak tau dimana rumah Melani,” ujarku yang duduk di kursi sambil memejamkan


mata.


“Aku juga tidak tau dimana rumahnya,” ujar Rehan.


“Aku juga,” ujar Putri.


Hah? Diantara kita bertiga tidak ada yang tau dimana rumah nya


Melani, lalu bagaimana kita ingin menjenguknya jika tidak tau alamat rumahnya.


Ada-ada ajah masalah. Tapi aku menyarankan ke mereka untuk bertanya kepada wali


kelas tentang alamat rumah Melani, karena aku yakin wali kelas punya data


pribadi Melani.


“Hmm, dari pada kita pusing memikirkan dimana rumahnya, lebih baik


kita tanya langsung saja kepada wali kelas. Mungkin wali kelas tau alamatnya,


pasti dia punya data pribadi Melani,” ujarku.


“Hmm, ide yang bagus,” ucap Putri yang setuju.


Aku, Rehan, Putri, kami bertiga pergi ke ruang guru untuk menemui


wali kelas kami, untuk menanyai tentang alamat rumah Melani. Di saat kami masuk


dan menemui wali kelas kami, kami langsung menanyainya soal alamat rumah


Melani.


“Ibu, kami ingin bertanya tentang alamat rumah Melani. Kami


bertiga ingin menjenguk ke rumahnya, kira-kira ibu tau alamat rumah Melani


tidak bu?” tanya Putri, sopan dan dengan nada halus.


“Hmm, rumah Melani yaa. Ibu lihat dulu yaa di data siswa,” ujar


wali kelas kami.


Ibu wali kelas membuka laci kecil di meja nya, dan mengambil


dokumen siswa kelas kami, lalu mencari data siswa Melani. Setelah ketemu, ibu


wali kelas melihat datanya Melani dan memberi tau kami bertiga tentang alamatnya.


“Alamat Melani berada di Bekasi Timur, nanti alamat lengkapnya


akan Ibu catat yaa, pokoknya kalian hati-hati kesana nya,” ucap wali kelas ku.


Kemudian wali kelas kami menulis lengkap alamatnya di kertas


kosong, lalu memberikannya kepada kami. Sekarang kami bertiga sudah punya


alamat lengkapnya Melani dan siap untuk pergi kesana, karena aku membawa sepeda,


jadi bakalan capek jika naik sepeda dari Bekasi Kabupaten ke Bekasi Timur. Kami


memutuskan untuk naik taxi online, dan karena kedua temanku ini adalah orang


punya jadi aku tidak perlu khawatir soal biaya taxi nya, dan juga sepedaku


sudah di bawa pulang oleh orang suruhan Rehan untuk membawanya pulang ke rumah,


orang kaya memang beda.


Setelah perjalanan sekitar 15 menit lebih akhirnya kami sampai di


depan rumahnya Melani, ternyata rumahnya lumayan besar, jadi ini rumah orang


kaya seperti Melani. Kami menekan tombol bell rumah dan tak lama kemudian ada


pelayan nya Melani yang menghampiri kami bertiga.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan rumah Melani.


“Kami bertiga teman sekelas Melani, karena tadi Melani tidak masuk


sekolah jadi kami datang ke sini untuk menjenguknya,” balas Putri kepada


pelayan itu.


“Ohh jadi begitu, baiklah silakan masuk. Akan saya antarkan ke


kamar nona,” ujar pelayan.


Lalu kami bertiga di antarkan ke kamarnya Melani oleh pelayan


rumahnya. Di saat aku masuk ke dalam rumahnya, sungguh benar-benar rumah idaman


sekali. Langit-langit yang tinggi, ruangan yang sangat luas dan terlihat sangat


modern.


Melani


***


Aku dan juga Jeni sedang ngobrol berdua

__ADS_1


di kamar, tiba-tiba suara ketukan pintu dari pintu masuk kamarku. “Masuk,”


kataku. Dan ternyata yang datang adalah Putri, Rehan dan juga Angga, aku


terkejut mereka datang ke rumah, dan juga ada Angga ikut bersama mereka.


“Permisi, ahh Melani bagaimana kondisi


mu sekarang? Apa sudah baikan atau belum?” tanya Putri yang khawatir.


“Aku sudah mulai baikan, cuman tadi pagi


aku merasa tubuhku berat sekali. Karena aku istirahat cukup jadi sekarang sudah


mulai baikan,” balasku, memejam mata dan tersenyum.


Aku senang mereka datang menjenguk ku,


dan aku lebih senang karena Angga juga datang untuk menjenguk ku. Apa aku sedang


bermimpi? Hati ku terasa sangat tenang seolah penyakit yang aku rasakan


sekarang hilang seketika, saat melihat Angga datang ke sini.


Pasti mereka haus dan lapar setelah


sampai perjalanan menuju ke sini, aku harus menyiapkan makanan untuk mereka


yang datang menjengukku. Aku menyuruh Jeni untuk menyiapkan makanan untuk


mereka.


“Jeni, siapkan makan dan minum untuk


temanku, mereka pasti lelah saat perjalanan ke sini,” pintaku kepada Jeni.


“Baik nona akan saya siapkan, saya juga


akan siapkan meja di samping kasur nona agar bisa sambil ngobrol dengan teman


nona,” balas Jeni dengan siap.


“Aduh terima kasih, kami jadi merepotkan


tuan rumah begini,” sahut Putri, malu dan meletakkan tangannya di atas


kepalanya.


“Tidak apa-apa tenang saja.”


“Oiya, bagaimana ceritanya kamu bisa


sakit?” tanya Rehan penasaran.


“Aku juga tidak tau, semalam aku pergi


ke alun-alun Kota untuk refreshing. Aku menikmati makanan jalanan di sana,


benar-benar enak makanan jalanan. Pasti karena aku kelelahan tadi malam lalu


tubuhku bereaksi dan jadilah seperti ini,” kataku yang bercerita.


“Kamu semalam pergi ke alun-alun Kota?


Semalam juga aku pergi kesana, kenapa kita tidak ketemu yaa,” ucap Angga.


Angga merespon ceritaku, aku ingin


sekali bertanya kepadanya soal kejadian semalam, kira-kira dia bakal jawab apa


ya? Aku berharap jawaban yang membuat hati ku senang saat mendengarnya, dan


bukan menyakiti hatiku lagi.


“Hmm? Kamu kesana juga? Aku juga tidak


melihatmu disana, memang nya kamu kesana pergi sama siapa?” tanyaku yang


penasaran akan jawaban Angga selanjutnya.


“Aku kesana bersama orang yang kebetulan


aku sedang mencoba mendekatinya, jadi aku mengajaknya pergi jalan ke alun-alun


Kota, dan juga supaya aku bisa lebih dekat lagi dengan nya,” jawabnya, wajah


senyum sambil melirikkan mata ke arah atas langit-langit.


Orang yang sedang aku coba dekati yaa?


Jadi Angga suka sama wanita itu, aku sudah menduganya. Kejadian malam itu aku


melihat Angga memegang tangan wanita itu, aku melihat nya secara langsung


melihatnya, seperti ada yang mencoba menyerang hati ku.


“Benarkah? Jarang-jarang kau jalan


berdua dengan wanita, apa kau sedang kesambet? Yang aku tau kau tidak terlalu


mempedulikan soal wanita, tapi sepertinya kau sekarang sedang merasakan jatuh


cinta yaa,” sahut Putri yang sedang mengejek Angga.


“Angga memang seperti itu, susah sekali


di tebak,” ucap Rehan yang juga ikut mengejek Angga.


“Oyy kenapa kau ikut-ikutan,” Angga yang


sebal.


Jadi selama ini Angga tidak pernah yang


namanya jatuh cinta kepada lawan jenis nya? Kalau begitu wanita itu adalah


orang pertama yang membuat Angga jatuh cinta, sungguh beruntungnya. Aku tidak


akan menyerah walaupun ini menyakitkan, aku tidak akan menyerah.


“Tapi apa benar kondisi mu sudah baikan


sekarang?” tanya Angga kepadaku.


“Emm tenang saja, aku sekarang sudah


baikan. Terlebih saat kalian datang ke sini untuk menjengukku, itu cukup membantuku,”


kataku, memejamkan mata dan tersenyum tulus.


“Baguslah kalau begitu,” kata Angga yang


bernapas lega.


Aku sangat senang saat Angga menanyakan


kondisiku, aku seperti sedang sangat di perhatikan olehnya. Tapi pasti bagi dia


itu ini hanya kata-kata saja yang selalu orang tanyakan kepada orang yang


sedang sakit. Tapi bagiku kata itu, kalimat itu, adalah semangat untuk diriku


sendiri.


“Oiya, tadi Angga mendapat hadiah misterius


entah dari siapa, sepertinya ada yang suka kepadamu diam-diam,” ucap Rehan yang


berusaha mengejek Angga lagi.


“Benarkah?” kataku yang berpura-pura


tidak tau apa-apa.


“Iyaa, hadiah itu tiba-tiba muncul di


atas mejanya sesaat selesai pelajaran olahraga di lapangan, kira-kira siapa yaa


pengagum rahasianya Angga? jadi membuatku penasaran, dan juga ada pesan untuk


mu kan, tapi kau malah tidak mau berbagi isinya dengan kami,” kata Putri yang


juga penasaran.


“Oyy ini kan hadiah untuk ku, jadi aku


akan membukanya sendiri di rumah,” kata Angga dengan wajah datar.


Syukurlah mereka sama sekali tidak


menyadarinya kalau hadiah itu berasal dariku, aku membelinya di alun-alun Kota


semalam saat aku pergi kesana. Dari hadiah itu aku hanya berharap Angga suka


dan menerima hadiah sederhana itu, karena aku penasaran kesannya saat mendapat


hadiah itu, akupun bertanya langsung kepadanya.


“Lalu bagaimana perasaan mu saat


menerima hadiah itu dari orang misterius itu?” tanyaku yang sangat penasaran

__ADS_1


terhadap jawaban Angga selanjutnya.


“Jujur awalnya aku bingung ini dari


siapa, saat aku tau hadiah ini di tujukan kepada ku hatiku senang,” kata Angga.


“Ehh...? Tumben sekali aku mendengar


jawaban seperti itu darinya,” ucap Rehan di dalam hatinya.


“Walaupun aku tidak tau siapa yang


memberinya, aku hanya bisa berterima kasih. Yaa walaupun hanya sebuah gantungan


huruf yang kecil, aku sangat menghargai hadiahnya dan menerima dengan senang


hati, mungkin kalau aku tau siapa yang memberinya aku akan hadiah miliknya ini,”


kata Angga sepenuh hati.


Aku terkejut dengan jawabannya Angga, rasa


senang, bahagia, terharu. Kata-katanya begitu sangat hangat dan membuat ku


sangat, sangat, sangat senang ketika aku mendengarnya langsung tepat di depan


hadapanku ini, syukurlah kalau dia menyukai hadiahnya. Dan juga dia


menggantungnya di tas sekolah miliknya, benar-benar lucu.


“Oyy Angga, kapan-kapan bantu aku untuk


mendekati wanita yaa,” ucap Rehan dengan wajah yang antusias.


“Hmm? Jadi kau ingin dekat dengan wanita


juga? Kalau begitu tenang saja aku akan membantumu untuk mendekati wanita yang


kau suka,” kata Angga, membalas dengan senyum di wajahnya.


“Benarkah? Terima kasih Angga kau memang


sahabat terbaikku,” kata Rehan sambil memeluk Angga dan membuatnya sesak.


“Kalau begitu jangan memelukku seperti


ini, kau benar-benar membuat dada ku sesak.”


Kemudian ada suara ketukan pintu dari


pintu kamarku, yang ternyata itu adalah Jeni yang sudah selesai menyiapkan


makan untuk Angga dan teman yang lainnya.


“Makanannya sudah siap nona,” kata Jeni.


“Baiklah, bawakan langsung saja ke sini


agar kita bisa makan bersama disini,” kataku.


“Baik nona.”


Dan kami pun makan bersama di kamarku,


yaa walaupun terdengar kurang sopan makan di tempat yang dimana untuk tidur,


tapi percayalah ini cukup menyenangkan.


***


DRING... DRING... (Suara handphone ku


berbunyi dari dalam tas saat ingin makan bersama).


Sepertinya ada pesan masuk ke handphone


ku, aku langsung mengambil handphone dari dalam tasku dan melihat siapa yang


mengirimku pesan. Tertulis “Pelatih Markus” ini dari pelatih taekwondo ku, ada


apa pelatih Markus memberi pesan kepadaku? Tumben sekali. Saat aku buka isi


pesannya tertulis dan poster perlombaan.


Persiapin 2 bulan lagi ada kejuaraan


tingkat Jawa Barat, yang di adakan oleh pemerintah Jawa Barat. Kesiapan nya


emang mepet tapi ikut ajah, latihan di tambah jadi seminggu 5 kali, libur di


hari sabtu minggu. Oke, tetap semangat.


Kenapa pelatih selalu ngasih info


pertandingan selalu mepet banget, tapi yaa mau bagaimana lagi kalau pelatih


sudah bilang aku tidak bisa menolak, ini juga ada baiknya untuk ku.


“Angga pesan dari siapa?” tanya Rehan


penasaran.


“Dari pelatihku, dia memberi tau 2 bulan


lagi ada pertandingan tingkat Jawa Barat yang di adakan pemerintah Provinsi


langsung, huh selalu saja mendadak memberi tau nya,” kataku, mengeluarkan nafas


lega namun hatiku tidak.


Pelatih ini, 2 bulan itu waktu yang


sangat singkat untuk persiapan, apa yang sebenarnya dipikirkan pelatih. Aku


harus lebih keras lagi latihannya jika waktu nya hanya sedikit seperti ini,


tapi dari ucapan pelatih latihan seminggu 5 kali kayaknya pelatih benar-benar


serius.


“Tingkat Provinsi? Hebat,” sahut Melani


yang kagum.


“Iyaa, tapi aku sudah pernah mengikuti


pertandingan di luar negeri, yaa walaupun tidak sering banget, palingan hanya


sekali dalam setahun,”


“Hebat,” Melani yang masih kagum.


“Kalau begitu kabarin aku yaa saat hari-H


nya, aku akan datang melihat pertandinganmu,” kata Rehan dengan semangat.


“Aku juga ikut,” sahut Putri.


“Aku juga,” sahut Melani.


“Kalian ini, iyaa-iyaa akan aku kabarin


saat hari-H nya, dari pada memikirkan itu lebih baik kita habiskan saja makanan


yang sudah siap di depan mata kita ini,” kataku, melihat ke arah makanan.


Kemudian setelah selesai makan-makan aku


di antar pulang oleh supirnya Rehan yang datang menjemput ke rumah Melani. Aku


melihat sepedaku yang sudah ada di rumah, enak sekali jadi orang kaya tinggal


menyuruh maka akan segera di lakukan. Dari pada memikirkan itu aku ingin tau


isi surat dari orang yang memberiku hadiah gantungan ini.


Aku masuk ke dalam rumah dan langsung


pergi ke kamarku, aku bersih-bersih sebentar dan setelah selesai aku mengambil


surat itu dan segera membacanya. Aku membacanya di depan jendela yang mengarah


ke halaman depan rumah, tertulis untuk Angga.


Halo, bagaimana kabarmu? Semoga kamu


dalam keadaan baik – baik saja. Maafin aku yaa memberimu hadiah dengan cara


seperti ini, soalnya aku ini orangnya pemalu, aku tidak berani bila memberi ini


langsung kepadamu. Oleh karena itu, aku menggunakan cara ini.


Dan maaf juga yaa hadiah nya hanya


gantungan kunci huruf, soalnya aku bingung ingin memberi apa kepadamu. Aku


harap hadiahku bisa kamu terima walaupun hanya hadiah murahan seperti itu, di


jaga baik – baik yaa hadiah itu, karena barang itu mewakili perasaanku, jadi


jangan sampai hilang ataupun hancur.

__ADS_1


Dari M.


__ADS_2