
Melani
***
“Apa hadiah dariku sudah kamu taruh di atas mejanya?” tanyaku ke
supirku yang menaruh kotak itu di atas meja Angga.
“Sudah nona, semua berjalan dengan lancar,” balasnya.
“Baiklah, baguslah kalau begitu.”
Kira-kira Angga sudah mengambil kotak itu atau belum yaa? Dan juga
di dalam nya ada surat dariku yang aku tulis sendiri dengan tanganku. Aku
berharap dia mau menerima hadiah sederhanaku, dan semoga dia tidak tau bahwa
akulah yang memberinya hadiah.
“Nona anda harus berbaring di kasur anda, jangan terlalu banyak
jalan dan berdiri seperti itu. Nona sekarang harus berbaring di kasur agar
cepat sembuh,” kata Jeni yang mengkhawatirkan ku.
“Iyaa-iyaa aku tau, aku hanya sedang berfikir bagaimana reaksi
Angga saat menerima hadiah itu. Apakah dia senang atau tidak,” kataku, mondar
mandir di kamar.
“Iyaa tapi anda sekarang harus berbaring di kasur, jika anda
seperti ini terus maka anda akan lama sembuh dan juga akan lama untuk bertemu
dengan Angga. Jadi kumohon nona untuk berbaring men-istirahatkan tubuh anda
agar cepat sembuh,” ujar Jeni sambil menuntunku ke kasur.
“Menurutmu caraku ini sudah benar belum? Dengan memberi nya secara
diam-diam gitu tanpa dia tau siapa yang memberinya,” kataku yang berbaring di
kasur.
“Kalau soal itu lebih baik nona mencari taunya sendiri,” jawab
Jeni.
“Hmm, kenapa kamu jawabnya seperti itu Jeni?” tanyaku lagi karena
bingung.
“Karena nona yang menyukai Angga, jika banyak menggunakan caraku
maka kesannya aku yang menyukai Angga,”
“Bukannya aku hanya meminta saran darimu, kamu ini,” ucapku.
“Nona harus menggunakan cara nona sendiri untuk mengungkapkan
perasaan nona kepada Angga, dengan begitu semua usaha nona adalah murni usaha
nona.”
***
Hmm, sekolah hari ini berjalan seperti biasanya. Kami bertiga
berkumpul di meja tempat duduk ku, kami berencana untuk menjenguk Melani yang
sedang sakit di rumah. Karena aku tidak tau alamat nya, maka aku tanya langsung
saja kepada mereka.
“Nanti kita akan menjenguk Melani, tapi ada masalah yaitu aku
tidak tau dimana rumah Melani,” ujarku yang duduk di kursi sambil memejamkan
mata.
“Aku juga tidak tau dimana rumahnya,” ujar Rehan.
“Aku juga,” ujar Putri.
Hah? Diantara kita bertiga tidak ada yang tau dimana rumah nya
Melani, lalu bagaimana kita ingin menjenguknya jika tidak tau alamat rumahnya.
Ada-ada ajah masalah. Tapi aku menyarankan ke mereka untuk bertanya kepada wali
kelas tentang alamat rumah Melani, karena aku yakin wali kelas punya data
pribadi Melani.
“Hmm, dari pada kita pusing memikirkan dimana rumahnya, lebih baik
kita tanya langsung saja kepada wali kelas. Mungkin wali kelas tau alamatnya,
pasti dia punya data pribadi Melani,” ujarku.
“Hmm, ide yang bagus,” ucap Putri yang setuju.
Aku, Rehan, Putri, kami bertiga pergi ke ruang guru untuk menemui
wali kelas kami, untuk menanyai tentang alamat rumah Melani. Di saat kami masuk
dan menemui wali kelas kami, kami langsung menanyainya soal alamat rumah
Melani.
“Ibu, kami ingin bertanya tentang alamat rumah Melani. Kami
bertiga ingin menjenguk ke rumahnya, kira-kira ibu tau alamat rumah Melani
tidak bu?” tanya Putri, sopan dan dengan nada halus.
“Hmm, rumah Melani yaa. Ibu lihat dulu yaa di data siswa,” ujar
wali kelas kami.
Ibu wali kelas membuka laci kecil di meja nya, dan mengambil
dokumen siswa kelas kami, lalu mencari data siswa Melani. Setelah ketemu, ibu
wali kelas melihat datanya Melani dan memberi tau kami bertiga tentang alamatnya.
“Alamat Melani berada di Bekasi Timur, nanti alamat lengkapnya
akan Ibu catat yaa, pokoknya kalian hati-hati kesana nya,” ucap wali kelas ku.
Kemudian wali kelas kami menulis lengkap alamatnya di kertas
kosong, lalu memberikannya kepada kami. Sekarang kami bertiga sudah punya
alamat lengkapnya Melani dan siap untuk pergi kesana, karena aku membawa sepeda,
jadi bakalan capek jika naik sepeda dari Bekasi Kabupaten ke Bekasi Timur. Kami
memutuskan untuk naik taxi online, dan karena kedua temanku ini adalah orang
punya jadi aku tidak perlu khawatir soal biaya taxi nya, dan juga sepedaku
sudah di bawa pulang oleh orang suruhan Rehan untuk membawanya pulang ke rumah,
orang kaya memang beda.
Setelah perjalanan sekitar 15 menit lebih akhirnya kami sampai di
depan rumahnya Melani, ternyata rumahnya lumayan besar, jadi ini rumah orang
kaya seperti Melani. Kami menekan tombol bell rumah dan tak lama kemudian ada
pelayan nya Melani yang menghampiri kami bertiga.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan rumah Melani.
“Kami bertiga teman sekelas Melani, karena tadi Melani tidak masuk
sekolah jadi kami datang ke sini untuk menjenguknya,” balas Putri kepada
pelayan itu.
“Ohh jadi begitu, baiklah silakan masuk. Akan saya antarkan ke
kamar nona,” ujar pelayan.
Lalu kami bertiga di antarkan ke kamarnya Melani oleh pelayan
rumahnya. Di saat aku masuk ke dalam rumahnya, sungguh benar-benar rumah idaman
sekali. Langit-langit yang tinggi, ruangan yang sangat luas dan terlihat sangat
modern.
Melani
***
Aku dan juga Jeni sedang ngobrol berdua
__ADS_1
di kamar, tiba-tiba suara ketukan pintu dari pintu masuk kamarku. “Masuk,”
kataku. Dan ternyata yang datang adalah Putri, Rehan dan juga Angga, aku
terkejut mereka datang ke rumah, dan juga ada Angga ikut bersama mereka.
“Permisi, ahh Melani bagaimana kondisi
mu sekarang? Apa sudah baikan atau belum?” tanya Putri yang khawatir.
“Aku sudah mulai baikan, cuman tadi pagi
aku merasa tubuhku berat sekali. Karena aku istirahat cukup jadi sekarang sudah
mulai baikan,” balasku, memejam mata dan tersenyum.
Aku senang mereka datang menjenguk ku,
dan aku lebih senang karena Angga juga datang untuk menjenguk ku. Apa aku sedang
bermimpi? Hati ku terasa sangat tenang seolah penyakit yang aku rasakan
sekarang hilang seketika, saat melihat Angga datang ke sini.
Pasti mereka haus dan lapar setelah
sampai perjalanan menuju ke sini, aku harus menyiapkan makanan untuk mereka
yang datang menjengukku. Aku menyuruh Jeni untuk menyiapkan makanan untuk
mereka.
“Jeni, siapkan makan dan minum untuk
temanku, mereka pasti lelah saat perjalanan ke sini,” pintaku kepada Jeni.
“Baik nona akan saya siapkan, saya juga
akan siapkan meja di samping kasur nona agar bisa sambil ngobrol dengan teman
nona,” balas Jeni dengan siap.
“Aduh terima kasih, kami jadi merepotkan
tuan rumah begini,” sahut Putri, malu dan meletakkan tangannya di atas
kepalanya.
“Tidak apa-apa tenang saja.”
“Oiya, bagaimana ceritanya kamu bisa
sakit?” tanya Rehan penasaran.
“Aku juga tidak tau, semalam aku pergi
ke alun-alun Kota untuk refreshing. Aku menikmati makanan jalanan di sana,
benar-benar enak makanan jalanan. Pasti karena aku kelelahan tadi malam lalu
tubuhku bereaksi dan jadilah seperti ini,” kataku yang bercerita.
“Kamu semalam pergi ke alun-alun Kota?
Semalam juga aku pergi kesana, kenapa kita tidak ketemu yaa,” ucap Angga.
Angga merespon ceritaku, aku ingin
sekali bertanya kepadanya soal kejadian semalam, kira-kira dia bakal jawab apa
ya? Aku berharap jawaban yang membuat hati ku senang saat mendengarnya, dan
bukan menyakiti hatiku lagi.
“Hmm? Kamu kesana juga? Aku juga tidak
melihatmu disana, memang nya kamu kesana pergi sama siapa?” tanyaku yang
penasaran akan jawaban Angga selanjutnya.
“Aku kesana bersama orang yang kebetulan
aku sedang mencoba mendekatinya, jadi aku mengajaknya pergi jalan ke alun-alun
Kota, dan juga supaya aku bisa lebih dekat lagi dengan nya,” jawabnya, wajah
senyum sambil melirikkan mata ke arah atas langit-langit.
Orang yang sedang aku coba dekati yaa?
Jadi Angga suka sama wanita itu, aku sudah menduganya. Kejadian malam itu aku
melihat Angga memegang tangan wanita itu, aku melihat nya secara langsung
melihatnya, seperti ada yang mencoba menyerang hati ku.
“Benarkah? Jarang-jarang kau jalan
berdua dengan wanita, apa kau sedang kesambet? Yang aku tau kau tidak terlalu
mempedulikan soal wanita, tapi sepertinya kau sekarang sedang merasakan jatuh
cinta yaa,” sahut Putri yang sedang mengejek Angga.
“Angga memang seperti itu, susah sekali
di tebak,” ucap Rehan yang juga ikut mengejek Angga.
“Oyy kenapa kau ikut-ikutan,” Angga yang
sebal.
Jadi selama ini Angga tidak pernah yang
namanya jatuh cinta kepada lawan jenis nya? Kalau begitu wanita itu adalah
orang pertama yang membuat Angga jatuh cinta, sungguh beruntungnya. Aku tidak
akan menyerah walaupun ini menyakitkan, aku tidak akan menyerah.
“Tapi apa benar kondisi mu sudah baikan
sekarang?” tanya Angga kepadaku.
“Emm tenang saja, aku sekarang sudah
baikan. Terlebih saat kalian datang ke sini untuk menjengukku, itu cukup membantuku,”
kataku, memejamkan mata dan tersenyum tulus.
“Baguslah kalau begitu,” kata Angga yang
bernapas lega.
Aku sangat senang saat Angga menanyakan
kondisiku, aku seperti sedang sangat di perhatikan olehnya. Tapi pasti bagi dia
itu ini hanya kata-kata saja yang selalu orang tanyakan kepada orang yang
sedang sakit. Tapi bagiku kata itu, kalimat itu, adalah semangat untuk diriku
sendiri.
“Oiya, tadi Angga mendapat hadiah misterius
entah dari siapa, sepertinya ada yang suka kepadamu diam-diam,” ucap Rehan yang
berusaha mengejek Angga lagi.
“Benarkah?” kataku yang berpura-pura
tidak tau apa-apa.
“Iyaa, hadiah itu tiba-tiba muncul di
atas mejanya sesaat selesai pelajaran olahraga di lapangan, kira-kira siapa yaa
pengagum rahasianya Angga? jadi membuatku penasaran, dan juga ada pesan untuk
mu kan, tapi kau malah tidak mau berbagi isinya dengan kami,” kata Putri yang
juga penasaran.
“Oyy ini kan hadiah untuk ku, jadi aku
akan membukanya sendiri di rumah,” kata Angga dengan wajah datar.
Syukurlah mereka sama sekali tidak
menyadarinya kalau hadiah itu berasal dariku, aku membelinya di alun-alun Kota
semalam saat aku pergi kesana. Dari hadiah itu aku hanya berharap Angga suka
dan menerima hadiah sederhana itu, karena aku penasaran kesannya saat mendapat
hadiah itu, akupun bertanya langsung kepadanya.
“Lalu bagaimana perasaan mu saat
menerima hadiah itu dari orang misterius itu?” tanyaku yang sangat penasaran
__ADS_1
terhadap jawaban Angga selanjutnya.
“Jujur awalnya aku bingung ini dari
siapa, saat aku tau hadiah ini di tujukan kepada ku hatiku senang,” kata Angga.
“Ehh...? Tumben sekali aku mendengar
jawaban seperti itu darinya,” ucap Rehan di dalam hatinya.
“Walaupun aku tidak tau siapa yang
memberinya, aku hanya bisa berterima kasih. Yaa walaupun hanya sebuah gantungan
huruf yang kecil, aku sangat menghargai hadiahnya dan menerima dengan senang
hati, mungkin kalau aku tau siapa yang memberinya aku akan hadiah miliknya ini,”
kata Angga sepenuh hati.
Aku terkejut dengan jawabannya Angga, rasa
senang, bahagia, terharu. Kata-katanya begitu sangat hangat dan membuat ku
sangat, sangat, sangat senang ketika aku mendengarnya langsung tepat di depan
hadapanku ini, syukurlah kalau dia menyukai hadiahnya. Dan juga dia
menggantungnya di tas sekolah miliknya, benar-benar lucu.
“Oyy Angga, kapan-kapan bantu aku untuk
mendekati wanita yaa,” ucap Rehan dengan wajah yang antusias.
“Hmm? Jadi kau ingin dekat dengan wanita
juga? Kalau begitu tenang saja aku akan membantumu untuk mendekati wanita yang
kau suka,” kata Angga, membalas dengan senyum di wajahnya.
“Benarkah? Terima kasih Angga kau memang
sahabat terbaikku,” kata Rehan sambil memeluk Angga dan membuatnya sesak.
“Kalau begitu jangan memelukku seperti
ini, kau benar-benar membuat dada ku sesak.”
Kemudian ada suara ketukan pintu dari
pintu kamarku, yang ternyata itu adalah Jeni yang sudah selesai menyiapkan
makan untuk Angga dan teman yang lainnya.
“Makanannya sudah siap nona,” kata Jeni.
“Baiklah, bawakan langsung saja ke sini
agar kita bisa makan bersama disini,” kataku.
“Baik nona.”
Dan kami pun makan bersama di kamarku,
yaa walaupun terdengar kurang sopan makan di tempat yang dimana untuk tidur,
tapi percayalah ini cukup menyenangkan.
***
DRING... DRING... (Suara handphone ku
berbunyi dari dalam tas saat ingin makan bersama).
Sepertinya ada pesan masuk ke handphone
ku, aku langsung mengambil handphone dari dalam tasku dan melihat siapa yang
mengirimku pesan. Tertulis “Pelatih Markus” ini dari pelatih taekwondo ku, ada
apa pelatih Markus memberi pesan kepadaku? Tumben sekali. Saat aku buka isi
pesannya tertulis dan poster perlombaan.
Persiapin 2 bulan lagi ada kejuaraan
tingkat Jawa Barat, yang di adakan oleh pemerintah Jawa Barat. Kesiapan nya
emang mepet tapi ikut ajah, latihan di tambah jadi seminggu 5 kali, libur di
hari sabtu minggu. Oke, tetap semangat.
Kenapa pelatih selalu ngasih info
pertandingan selalu mepet banget, tapi yaa mau bagaimana lagi kalau pelatih
sudah bilang aku tidak bisa menolak, ini juga ada baiknya untuk ku.
“Angga pesan dari siapa?” tanya Rehan
penasaran.
“Dari pelatihku, dia memberi tau 2 bulan
lagi ada pertandingan tingkat Jawa Barat yang di adakan pemerintah Provinsi
langsung, huh selalu saja mendadak memberi tau nya,” kataku, mengeluarkan nafas
lega namun hatiku tidak.
Pelatih ini, 2 bulan itu waktu yang
sangat singkat untuk persiapan, apa yang sebenarnya dipikirkan pelatih. Aku
harus lebih keras lagi latihannya jika waktu nya hanya sedikit seperti ini,
tapi dari ucapan pelatih latihan seminggu 5 kali kayaknya pelatih benar-benar
serius.
“Tingkat Provinsi? Hebat,” sahut Melani
yang kagum.
“Iyaa, tapi aku sudah pernah mengikuti
pertandingan di luar negeri, yaa walaupun tidak sering banget, palingan hanya
sekali dalam setahun,”
“Hebat,” Melani yang masih kagum.
“Kalau begitu kabarin aku yaa saat hari-H
nya, aku akan datang melihat pertandinganmu,” kata Rehan dengan semangat.
“Aku juga ikut,” sahut Putri.
“Aku juga,” sahut Melani.
“Kalian ini, iyaa-iyaa akan aku kabarin
saat hari-H nya, dari pada memikirkan itu lebih baik kita habiskan saja makanan
yang sudah siap di depan mata kita ini,” kataku, melihat ke arah makanan.
Kemudian setelah selesai makan-makan aku
di antar pulang oleh supirnya Rehan yang datang menjemput ke rumah Melani. Aku
melihat sepedaku yang sudah ada di rumah, enak sekali jadi orang kaya tinggal
menyuruh maka akan segera di lakukan. Dari pada memikirkan itu aku ingin tau
isi surat dari orang yang memberiku hadiah gantungan ini.
Aku masuk ke dalam rumah dan langsung
pergi ke kamarku, aku bersih-bersih sebentar dan setelah selesai aku mengambil
surat itu dan segera membacanya. Aku membacanya di depan jendela yang mengarah
ke halaman depan rumah, tertulis untuk Angga.
Halo, bagaimana kabarmu? Semoga kamu
dalam keadaan baik – baik saja. Maafin aku yaa memberimu hadiah dengan cara
seperti ini, soalnya aku ini orangnya pemalu, aku tidak berani bila memberi ini
langsung kepadamu. Oleh karena itu, aku menggunakan cara ini.
Dan maaf juga yaa hadiah nya hanya
gantungan kunci huruf, soalnya aku bingung ingin memberi apa kepadamu. Aku
harap hadiahku bisa kamu terima walaupun hanya hadiah murahan seperti itu, di
jaga baik – baik yaa hadiah itu, karena barang itu mewakili perasaanku, jadi
jangan sampai hilang ataupun hancur.
__ADS_1
Dari M.