
Di Rumah Angga
Aku sedang asik bermalas-malasan di
kasur, ini hari terakhir latihan rutin. Pas sekali sekarang hari Sabtu, berarti
nanti malam adalah malam Minggu. Aku harus berusaha keras dan memenangkan
kejuaraan ini, aku tidak akan kalah dari Rehan.
Sekarangpun aku masih tidak percaya,
orang lain yang menyukai Safira adalah temanku sendiri yaitu Rehan. Dia sendiri
cerita bahwa dia menyukai Safira lebih dulu sebelum aku, sepertinya Rehan yang
sekarang sudah benar-benar tidak mau kalah denganku. Kalau begitu aku juga
tidak akan kalah darinya.
Tidak lama dari saat aku memikirkan
Rehan dan juga Safira, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Siapa yang datang
sore-sore begini? Paling cuman tetangga temannya ibu, ingin meminjam barang
lagi dari ibu. Itu baru asumsiku saja sih.
“Angga tolong buka pintunya!” teriak
ibu.
“Iyaa!”
Teriak ibu benar-benar kencang, bahkan
sampai ke kamarku masih terdengar. Sepertinya asumsiku soal tentang ibu yang
cocok menjadi penyanyi, sekarang sudah mulai menurun. Pasti yang mendengar
teriakannya seperti ini akan sakit kuping.
Aku segera keluar kamar dan membuka
pintu untuk tamu yang datang sore-sore begini. Namun setelah aku membuka pintu
untuk tamu yang datang, aku terkejut dengan siapa yang datang saat ini. Dia
adalah Melani.
“Ha–halo Angga,” Melani yang gugup.
Dia ngapain datang sore-sore begini,
kan latihannya baru mulai jam 19:00. Dan kenapa setiap bicara denganku dia
selalu gugup gitu, bicaralah dengan normal, karena aku juga adalah temanmu ini.
Aduh dia ini.
“Cepat sekali kamu datangnya, kan
latihan baru mulai nanti,” kataku yang masih sedikit terkejut.
“A–apa tidak boleh?”
Bukannya aku tidak membolehkan dia
datang ke sini sih, aku hanya kaget yang dia datang tiba-tiba begini. Aku tidak
masalah jika dia datang berkunjung, tapi setidaknya dia hubungi aku dulu
sebelum berangkat sangat awal-awal begini.
“Em…boleh sih, aku hanya terkejut saja
kamu yang datang tiba-tiba begini, lain kali datang beritahu aku dulu yaa.”
“Baiklah, jika nanti aku ingin datang ke
sini lagi, aku akan memberi tahumu,” katanya dengan wajah tersenyum manis.
Tunggu dulu “jika nanti aku ingin
datang ke sini lagi?” apa dia akan datang lagi ke sini seterusnya? Sepertinya
kedepannya akan menjadi sedikit merepotkan. Tidak lama dari itu, ibu datang
menghampiri pintu depan.
“Wah, ternyata ada temannya Angga
datang ke rumah. Jarang sekali Angga kedatangan temannya. Selamat datang,” kata
ibuku, dengan wajah tersenyum senang.
Kenapa ibu jadi senang begitu, jarang
sekali ibu begini ke temanku yang lain, walaupun emang jarang juga temanku
datang ke rumah. Apa karena yang datang kali ini wanita, jadi ibu bersikap
seperti itu, aku tidak tau bagaimana jalan pikiran wanita.
“Oiya aku membawa sesuatu,” kata
Melani, sambil menyatukan kedua tangannya.
Melani yang berkata seperti itu,
kemudian dia memanggil Jeni untuk membawa sesuatu yang Melani maksud itu. Aku
terkejut dengan apa yang Jeni bawa, sebuah kotak yang cukup besar, mungkin bisa
dari perut atasku sampai kepalaku.
“A–apa i–itu?” aku yang terkejut dengan
apa yang Jeni bawa.
Aku benar-benar terkejut dan bingung,
dan juga penasaran dengan isi kotak yang dibawanya. Dan juga kenapa dia membawa
sesuatu itu, apa dia tidak repot untuk membawanya. Yaa aku tau, Melani
membawanya dengan mobil.
“Besar sekali,” kata ibuku, dengan terkejut.
“Apa itu isinya?” tanyaku penasaran.
Dia hanya membalas dengan senyuman dan
tidak menjawab sama sekali, tapi ibuku menyuruh Melani dan Jeni untuk masuk ke dalam.
Jadi kami membuka barang ini di ruang tamu, karena sekarang kondisinya ayah
sedang lembur kerja, dan Riska sedang kerja kelompok di rumah temannya. Di
rumah hanya ada aku dan juga ibu saja.
“Aku jadi merasa merepotkan temannya
Angga,” kata ibuku.
“Tidak, tidak sama sekali aku merasa
kerepotan. Justru aku tidak enak jika datang ke sini tidak membawa apapun, dan
juga aku senang membawa ini ke sini,” kata Melani.
__ADS_1
“Kalau begitu, lebih baik kita buka
saja kotaknya,” sahutku.
Dari pada kelamaan bicara, yang ada
kotaknya tidak di buka sama sekali. Jujur saja aku penasaran dengan isi dari
kotak ini, tapi aku mencium sesuatu yang manis dari dalam, aku yakin ibu juga
menciumnya. Apa ini makanan? Tapi yang benar saja ini terlalu besar untuk
ukuran makanan.
“Oiya maaf, Jeni tolong bukakan
kotaknya,” kata Melani.
“Baik nona.”
Melani menyuruh Jeni untuk membuka
kotak besar itu, aku jadi semakin penasaran saat Jeni menyentuh kotak itu untuk
membukanya. Aku masih bimbang dengan jawaban makanan, karena mana mungkin
makanan sebesar ini.
Jeni membuka kotak itu dan
memperlihatkan isi dari kotak.
Aku dan ibu terkejut dengan isinya,
ternyata dugaanku benar, bau manis ini benar-benar makanan. Tapi aku masih
tidak percaya Melani membawa kue sebesar ini, aku hanya terdiam melihat kotak
berisi kue itu dibuka oleh Jeni.
“Besar sekali, apa kamu tidak kerepotan
saat membawa ini?” tanya ibuku, yang kebingungan.
Yang dikatakan ibu memang benar, apa
Melani tidak kerepotan membawa kue ini. mempertahankan bentuknya saat dijalan
agar tidak rusak, apa hobinya adalah membuat dirinya sendiri kesusahan. Mungkin
jika aku, aku tidak akan membawa barang sebesar ini, karena akan membuat diriku
sendiri kesulitan.
“Tidak sama sekali, justru aku senang
membawa ini. Jadi ibu tidak perlu khawatir,” kata Melani dengan mengangkat
kedua tangannya setara dadanya.
“Ibu?” kataku dalam hati, yang sedikit
terkejut dengan ucapannya Melani.
“Kue ini besar sekali, jadi lebih baik
kita makan bersama saja,” kata ibu sekaligus saran darinya.
“Baik ibu,” kata Melani, dengan wajah
senyumnya yang sangat manis.
“Ibu!?” kataku dalam hati.
Pada akhirnya kue ini ibu potong dan
dimakan bersama di ruang tamu, masing-masing dari kami pasti mendapat bagian,
karena kue ini benar-benar besar, jadi hampir mustahil tidak mendapat bagian.
“Mm…kue ini benar-benar sangat enak,”
kata ibuku yang mencicipi kue dari Melani.
“Syukurlah kalau begitu,” Melani yang
sangat senang.
Aku melihat ekspresi ibu yang seperti
itu, apa kue ini selezat itu? Sampai ekspresi ibu seperti itu. Aku menjadi
penasaran karena ibu mencicipinya, aku mengambil sendok di piringku dan
mengambil kuenya. Kemudian aku masukan ke dalam mulutku untuk mencicipi
rasanya.
“Angga, bagaimana?” tanya Melani.
Rasa ini! aku belum pernah mencobanya sebelumnya.
Rasa ini sangat beda dari yang lain, ini benar-benar lezat. Pantas saja ibu
sampai ber-ekspresi seperti tadi, ekspresi ibu ternyata tidak ada kebohongan
sama sekali. Aku sangat suka dengan kue ini.
“Ini sangat enak,” kataku, sambil
terdiam.
Melani sepertinya sangat senang saat
aku dan ibu memakan kue ini, oiya ngomong-ngomong kue ini, Melani buat sendiri
atau dia membelinya? Apa aku tanya saja ya. Jika beli aku ingin tau di mana
tempatnya, agar aku juga bisa membelinya lain waktu.
“Kamu membelinya atau membuatnya,
Melani?” tanyaku karena penasaran.
“Sebenarnya ini aku beli di toko, lalu
karena pemilik toko adalah kenalan ibuku sejak aku masih kecil, jadi dia memberikan
ini kepadaku. Padahal aku ingin sekali membayarnya, karena ini adalah kue
paling enak buatan nya.”
Jadi ini di beri oleh kenalannya ibunya
Melani, beruntung sekali punya kenalan yang bisa membuat kue seenak ini. Aku
jadi semakin penasaran tempatnya di mana, jadi aku langsung saja menanyakan
tempatnya kepada Melani.
“Kalau aku boleh tau di mana tempatnya?
Aku juga ingin tau di mana toko kue yang menjual kue seenak ini,” tanyaku,
sambil duduk di sofa dengan salah satu kakiku aku angkatkan.
“Jadi begitu yaa, kalau kamu ingin tau
di mana tempatnya, kapan-kapan aku bisa mengantarkan kamu ke sana,” jawab
Melani dengan santai.
__ADS_1
Jika aku tau tempat yang jual kue ini,
aku bisa membeli satu kue di sana untuk aku berikan kepada Safira. Dengan
begitu aku bisa menarik Safira kembali, karena kondisi sekarang adalah Safira
sedang dekat dengan Rehan. Di saat aku menanyakan di mana toko tempat menjual
kue ini, ibu bertanya kepada Melani kenapa datang ke sini.
“Ngomong-ngomong Melani, kamu ke sini
sedang ada apa ya? Apa kamu ingin pergi bersama Angga malam ini? Jika pergi
berdua saja berarti kalian ingin pergi kencan?” tanya ibu yang bisa membuat
orang salah paham.
Hah? Ibu ini main melontarkan
pertanyaan yang ngawur tanpa di filter, jangan bikin suasana yang akan menjadi
salah paham seperti ini. Seketika semua terdiam dengan pertanyaan ibu tadi,
jadi aku tidak banyak pikir langsung bilang kepadanya.
“Tidak, aku dan Melani sudah ada janji.
Malam ini dia ingin ikut ke tempat latihanku, jadi aku menyuruhnya untuk pergi
ke rumahku terlebih dahulu, karena lebih baik kesananya bersama.”
“Ohh jadi seperti itu, kenapa tidak
bilang dari tadi,” kata ibu dengan senyum.
“Ibu sendiri saja yang main langsung
berkata seperti tadi.”
Jadi kami sambil menunggu malam, kami
berempat ngobrol bersama dan makan kue yang di bawakan oleh Melani kepada aku
dan ibu. Dia datang ke rumahku kira-kira jam 17:15, dia datang terlalu cepat,
sampai aku kaget saat membuka pintu rumah.
Malam Hari
Aku dan juga Melani segera berangkat ke
tempat latihan agar aku tidak telat latihan, kami pamit ke ibu sebelum
berangkat. Agar kalian tau bahwa restu orang tua itu penting sebelum latihan
ataupun kegiatan lainnya, pastikan kalian izin kepada mereka.
“Ibu kami berangkat dulu yaa,” aku yang
pamit kepada ibu, sambil menaiki sepeda yang ada di teras rumah.
“Iyaa, hati-hati yaa kalian. Aku jadi
teringat masa muda pergi berdua bersama ayahmu, dulu dia menjemput ibu di rumah
menggunakan motor jadulnya, itu masa-masa indah saat ibu masih muda,” ujar ibu,
sambil menyatukan kedua tangannya seperti memohon.
Hadeuh, mulai lagi cerita orang tua,
terkadang para orang tua menceritakan masa kecil yang sangat susah. Dan membuat
cerita itu sebuah pelajaran kepada anak-anaknya termasuk aku yang menjadi
korban ceritanya. Dan sekarang ibu menceritakan masa lalunya dengan ayah.
“Wah, indahnya cerita ibu bersama
ayah,” sahut Melani yang kagum dengan cerita ibu, sambil mengepalkan kedua
tangan nya seolah-olah cerita tadi begitu menggemaskan.
Sekarang malah Melani yang kagum dengan
cerita seperti itu, sebenarnya apa yang mereka pikirkan, aku tidak mengerti.
Aku melihat jam di tanganku, waktu menunjukan 30 menit lagi latihan akan segera
di mulai. Oleh karena itu aku beritahu Melani agar cepat.
“Melani, ayo kita berangkat. Jangan
sampai kita terlambat datang kesana, karena jika terlambat yang akan dihukum
itu aku bukan kamu,” ujarku, sambil menaiki sepeda, duduk diam di kursi sepeda
yang siap untuk di jalankan.
Kalau kita terlambat kesana, yang ada
aku akan dihukum. Aku tidak mau dihukum, aku mencoba untuk mendisiplinkan diri
saat ingin latihan, walaupun terkadang aku bermalas-malasan. Tapi kalau urusan
ini maka beda lagi ceritanya.
“A–angga, kamu ngapain naik sepeda?”
tanya Melani kebingungan.
“Kan kita mau ke sana, jadi aku sudah
siap untuk berangkat,” jawabku.
“Kita akan naik mobil kesananya.”
Mobil? Kenapa tidak bilang saja dari
awal. Aku sudah siap berangkat menaiki sepedah, tapi tak apalah. Menurutku ini
akan sedikit nyaman jika berangkat menggunakan mobil, pasti mereka
teman-temanku akan kaget saat aku berangkat menggunakan mobil mewah seperti
ini.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal,
Melani,” kataku.
“Hehe, maaf.”
Kami pamit lagi kepada ibu sebelum
berangkat. “Kami berangkat dulu, ibu,” kataku. Setelah kami pamit kepada ibu,
tiba-tiba ibu nyeletuk kembali dengan berkata. “Iyaa, hati-hati yaa kalian, aku
iri sekali dengan anak muda yang berpacaran.” Seketika wajah Melani menjadi
sangat merah karena mendengar ucapan ibunya Angga. Sedangkan Angga terlihat
datar saat mendengar ucapan ibunya.
Dan kamipun berangkat ke tempat
latihan, ternyata nyaman juga pergi ke tempat latihan dengan mobil mewah,
apalagi di supirin begini, berasa seperti atlet profesional saja. Di sepanjang
__ADS_1
perjalanan Melani hanya diam gemetaran, apa aku ini seperti monster sampai dia
seperti itu.