Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 28


__ADS_3

Di Rumah Angga


Aku sedang asik bermalas-malasan di


kasur, ini hari terakhir latihan rutin. Pas sekali sekarang hari Sabtu, berarti


nanti malam adalah malam Minggu. Aku harus berusaha keras dan memenangkan


kejuaraan ini, aku tidak akan kalah dari Rehan.


Sekarangpun aku masih tidak percaya,


orang lain yang menyukai Safira adalah temanku sendiri yaitu Rehan. Dia sendiri


cerita bahwa dia menyukai Safira lebih dulu sebelum aku, sepertinya Rehan yang


sekarang sudah benar-benar tidak mau kalah denganku. Kalau begitu aku juga


tidak akan kalah darinya.


Tidak lama dari saat aku memikirkan


Rehan dan juga Safira, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Siapa yang datang


sore-sore begini? Paling cuman tetangga temannya ibu, ingin meminjam barang


lagi dari ibu. Itu baru asumsiku saja sih.


“Angga tolong buka pintunya!” teriak


ibu.


“Iyaa!”


Teriak ibu benar-benar kencang, bahkan


sampai ke kamarku masih terdengar. Sepertinya asumsiku soal tentang ibu yang


cocok menjadi penyanyi, sekarang sudah mulai menurun. Pasti yang mendengar


teriakannya seperti ini akan sakit kuping.


Aku segera keluar kamar dan membuka


pintu untuk tamu yang datang sore-sore begini. Namun setelah aku membuka pintu


untuk tamu yang datang, aku terkejut dengan siapa yang datang saat ini. Dia


adalah Melani.


“Ha–halo Angga,” Melani yang gugup.


Dia ngapain datang sore-sore begini,


kan latihannya baru mulai jam 19:00. Dan kenapa setiap bicara denganku dia


selalu gugup gitu, bicaralah dengan normal, karena aku juga adalah temanmu ini.


Aduh dia ini.


“Cepat sekali kamu datangnya, kan


latihan baru mulai nanti,” kataku yang masih sedikit terkejut.


“A–apa tidak boleh?”


Bukannya aku tidak membolehkan dia


datang ke sini sih, aku hanya kaget yang dia datang tiba-tiba begini. Aku tidak


masalah jika dia datang berkunjung, tapi setidaknya dia hubungi aku dulu


sebelum berangkat sangat awal-awal begini.


“Em…boleh sih, aku hanya terkejut saja


kamu yang datang tiba-tiba begini, lain kali datang beritahu aku dulu yaa.”


“Baiklah, jika nanti aku ingin datang ke


sini lagi, aku akan memberi tahumu,” katanya dengan wajah tersenyum manis.


Tunggu dulu “jika nanti aku ingin


datang ke sini lagi?” apa dia akan datang lagi ke sini seterusnya? Sepertinya


kedepannya akan menjadi sedikit merepotkan. Tidak lama dari itu, ibu datang


menghampiri pintu depan.


“Wah, ternyata ada temannya Angga


datang ke rumah. Jarang sekali Angga kedatangan temannya. Selamat datang,” kata


ibuku, dengan wajah tersenyum senang.


Kenapa ibu jadi senang begitu, jarang


sekali ibu begini ke temanku yang lain, walaupun emang jarang juga temanku


datang ke rumah. Apa karena yang datang kali ini wanita, jadi ibu bersikap


seperti itu, aku tidak tau bagaimana jalan pikiran wanita.


“Oiya aku membawa sesuatu,” kata


Melani, sambil menyatukan kedua tangannya.


Melani yang berkata seperti itu,


kemudian dia memanggil Jeni untuk membawa sesuatu yang Melani maksud itu. Aku


terkejut dengan apa yang Jeni bawa, sebuah kotak yang cukup besar, mungkin bisa


dari perut atasku sampai kepalaku.


“A–apa i–itu?” aku yang terkejut dengan


apa yang Jeni bawa.


Aku benar-benar terkejut dan bingung,


dan juga penasaran dengan isi kotak yang dibawanya. Dan juga kenapa dia membawa


sesuatu itu, apa dia tidak repot untuk membawanya. Yaa aku tau, Melani


membawanya dengan mobil.


“Besar sekali,” kata ibuku, dengan terkejut.


“Apa itu isinya?” tanyaku penasaran.


Dia hanya membalas dengan senyuman dan


tidak menjawab sama sekali, tapi ibuku menyuruh Melani dan Jeni untuk masuk ke dalam.


Jadi kami membuka barang ini di ruang tamu, karena sekarang kondisinya ayah


sedang lembur kerja, dan Riska sedang kerja kelompok di rumah temannya. Di


rumah hanya ada aku dan juga ibu saja.


“Aku jadi merasa merepotkan temannya


Angga,” kata ibuku.


“Tidak, tidak sama sekali aku merasa


kerepotan. Justru aku tidak enak jika datang ke sini tidak membawa apapun, dan


juga aku senang membawa ini ke sini,” kata Melani.

__ADS_1


“Kalau begitu, lebih baik kita buka


saja kotaknya,” sahutku.


Dari pada kelamaan bicara, yang ada


kotaknya tidak di buka sama sekali. Jujur saja aku penasaran dengan isi dari


kotak ini, tapi aku mencium sesuatu yang manis dari dalam, aku yakin ibu juga


menciumnya. Apa ini makanan? Tapi yang benar saja ini terlalu besar untuk


ukuran makanan.


“Oiya maaf, Jeni tolong bukakan


kotaknya,” kata Melani.


“Baik nona.”


Melani menyuruh Jeni untuk membuka


kotak besar itu, aku jadi semakin penasaran saat Jeni menyentuh kotak itu untuk


membukanya. Aku masih bimbang dengan jawaban makanan, karena mana mungkin


makanan sebesar ini.


Jeni membuka kotak itu dan


memperlihatkan isi dari kotak.


Aku dan ibu terkejut dengan isinya,


ternyata dugaanku benar, bau manis ini benar-benar makanan. Tapi aku masih


tidak percaya Melani membawa kue sebesar ini, aku hanya terdiam melihat kotak


berisi kue itu dibuka oleh Jeni.


“Besar sekali, apa kamu tidak kerepotan


saat membawa ini?” tanya ibuku, yang kebingungan.


Yang dikatakan ibu memang benar, apa


Melani tidak kerepotan membawa kue ini. mempertahankan bentuknya saat dijalan


agar tidak rusak, apa hobinya adalah membuat dirinya sendiri kesusahan. Mungkin


jika aku, aku tidak akan membawa barang sebesar ini, karena akan membuat diriku


sendiri kesulitan.


“Tidak sama sekali, justru aku senang


membawa ini. Jadi ibu tidak perlu khawatir,” kata Melani dengan mengangkat


kedua tangannya setara dadanya.


“Ibu?” kataku dalam hati, yang sedikit


terkejut dengan ucapannya Melani.


“Kue ini besar sekali, jadi lebih baik


kita makan bersama saja,” kata ibu sekaligus saran darinya.


“Baik ibu,” kata Melani, dengan wajah


senyumnya yang sangat manis.


“Ibu!?” kataku dalam hati.


Pada akhirnya kue ini ibu potong dan


dimakan bersama di ruang tamu, masing-masing dari kami pasti mendapat bagian,


karena kue ini benar-benar besar, jadi hampir mustahil tidak mendapat bagian.


“Mm…kue ini benar-benar sangat enak,”


kata ibuku yang mencicipi kue dari Melani.


“Syukurlah kalau begitu,” Melani yang


sangat senang.


Aku melihat ekspresi ibu yang seperti


itu, apa kue ini selezat itu? Sampai ekspresi ibu seperti itu. Aku menjadi


penasaran karena ibu mencicipinya, aku mengambil sendok di piringku dan


mengambil kuenya. Kemudian aku masukan ke dalam mulutku untuk mencicipi


rasanya.


“Angga, bagaimana?” tanya Melani.


Rasa ini! aku belum pernah mencobanya sebelumnya.


Rasa ini sangat beda dari yang lain, ini benar-benar lezat. Pantas saja ibu


sampai ber-ekspresi seperti tadi, ekspresi ibu ternyata tidak ada kebohongan


sama sekali. Aku sangat suka dengan kue ini.


“Ini sangat enak,” kataku, sambil


terdiam.


Melani sepertinya sangat senang saat


aku dan ibu memakan kue ini, oiya ngomong-ngomong kue ini, Melani buat sendiri


atau dia membelinya? Apa aku tanya saja ya. Jika beli aku ingin tau di mana


tempatnya, agar aku juga bisa membelinya lain waktu.


“Kamu membelinya atau membuatnya,


Melani?” tanyaku karena penasaran.


“Sebenarnya ini aku beli di toko, lalu


karena pemilik toko adalah kenalan ibuku sejak aku masih kecil, jadi dia memberikan


ini kepadaku. Padahal aku ingin sekali membayarnya, karena ini adalah kue


paling enak buatan nya.”


Jadi ini di beri oleh kenalannya ibunya


Melani, beruntung sekali punya kenalan yang bisa membuat kue seenak ini. Aku


jadi semakin penasaran tempatnya di mana, jadi aku langsung saja menanyakan


tempatnya kepada Melani.


“Kalau aku boleh tau di mana tempatnya?


Aku juga ingin tau di mana toko kue yang menjual kue seenak ini,” tanyaku,


sambil duduk di sofa dengan salah satu kakiku aku angkatkan.


“Jadi begitu yaa, kalau kamu ingin tau


di mana tempatnya, kapan-kapan aku bisa mengantarkan kamu ke sana,” jawab


Melani dengan santai.

__ADS_1


Jika aku tau tempat yang jual kue ini,


aku bisa membeli satu kue di sana untuk aku berikan kepada Safira. Dengan


begitu aku bisa menarik Safira kembali, karena kondisi sekarang adalah Safira


sedang dekat dengan Rehan. Di saat aku menanyakan di mana toko tempat menjual


kue ini, ibu bertanya kepada Melani kenapa datang ke sini.


“Ngomong-ngomong Melani, kamu ke sini


sedang ada apa ya? Apa kamu ingin pergi bersama Angga malam ini? Jika pergi


berdua saja berarti kalian ingin pergi kencan?” tanya ibu yang bisa membuat


orang salah paham.


Hah? Ibu ini main melontarkan


pertanyaan yang ngawur tanpa di filter, jangan bikin suasana yang akan menjadi


salah paham seperti ini. Seketika semua terdiam dengan pertanyaan ibu tadi,


jadi aku tidak banyak pikir langsung bilang kepadanya.


“Tidak, aku dan Melani sudah ada janji.


Malam ini dia ingin ikut ke tempat latihanku, jadi aku menyuruhnya untuk pergi


ke rumahku terlebih dahulu, karena lebih baik kesananya bersama.”


“Ohh jadi seperti itu, kenapa tidak


bilang dari tadi,” kata ibu dengan senyum.


“Ibu sendiri saja yang main langsung


berkata seperti tadi.”


Jadi kami sambil menunggu malam, kami


berempat ngobrol bersama dan makan kue yang di bawakan oleh Melani kepada aku


dan ibu. Dia datang ke rumahku kira-kira jam 17:15, dia datang terlalu cepat,


sampai aku kaget saat membuka pintu rumah.


Malam Hari


Aku dan juga Melani segera berangkat ke


tempat latihan agar aku tidak telat latihan, kami pamit ke ibu sebelum


berangkat. Agar kalian tau bahwa restu orang tua itu penting sebelum latihan


ataupun kegiatan lainnya, pastikan kalian izin kepada mereka.


“Ibu kami berangkat dulu yaa,” aku yang


pamit kepada ibu, sambil menaiki sepeda yang ada di teras rumah.


“Iyaa, hati-hati yaa kalian. Aku jadi


teringat masa muda pergi berdua bersama ayahmu, dulu dia menjemput ibu di rumah


menggunakan motor jadulnya, itu masa-masa indah saat ibu masih muda,” ujar ibu,


sambil menyatukan kedua tangannya seperti memohon.


Hadeuh, mulai lagi cerita orang tua,


terkadang para orang tua menceritakan masa kecil yang sangat susah. Dan membuat


cerita itu sebuah pelajaran kepada anak-anaknya termasuk aku yang menjadi


korban ceritanya. Dan sekarang ibu menceritakan masa lalunya dengan ayah.


“Wah, indahnya cerita ibu bersama


ayah,” sahut Melani yang kagum dengan cerita ibu, sambil mengepalkan kedua


tangan nya seolah-olah cerita tadi begitu menggemaskan.


Sekarang malah Melani yang kagum dengan


cerita seperti itu, sebenarnya apa yang mereka pikirkan, aku tidak mengerti.


Aku melihat jam di tanganku, waktu menunjukan 30 menit lagi latihan akan segera


di mulai. Oleh karena itu aku beritahu Melani agar cepat.


“Melani, ayo kita berangkat. Jangan


sampai kita terlambat datang kesana, karena jika terlambat yang akan dihukum


itu aku bukan kamu,” ujarku, sambil menaiki sepeda, duduk diam di kursi sepeda


yang siap untuk di jalankan.


Kalau kita terlambat kesana, yang ada


aku akan dihukum. Aku tidak mau dihukum, aku mencoba untuk mendisiplinkan diri


saat ingin latihan, walaupun terkadang aku bermalas-malasan. Tapi kalau urusan


ini maka beda lagi ceritanya.


“A–angga, kamu ngapain naik sepeda?”


tanya Melani kebingungan.


“Kan kita mau ke sana, jadi aku sudah


siap untuk berangkat,” jawabku.


“Kita akan naik mobil kesananya.”


Mobil? Kenapa tidak bilang saja dari


awal. Aku sudah siap berangkat menaiki sepedah, tapi tak apalah. Menurutku ini


akan sedikit nyaman jika berangkat menggunakan mobil, pasti mereka


teman-temanku akan kaget saat aku berangkat menggunakan mobil mewah seperti


ini.


“Kenapa kamu tidak bilang dari awal,


Melani,” kataku.


“Hehe, maaf.”


Kami pamit lagi kepada ibu sebelum


berangkat. “Kami berangkat dulu, ibu,” kataku. Setelah kami pamit kepada ibu,


tiba-tiba ibu nyeletuk kembali dengan berkata. “Iyaa, hati-hati yaa kalian, aku


iri sekali dengan anak muda yang berpacaran.” Seketika wajah Melani menjadi


sangat merah karena mendengar ucapan ibunya Angga. Sedangkan Angga terlihat


datar saat mendengar ucapan ibunya.


Dan kamipun berangkat ke tempat


latihan, ternyata nyaman juga pergi ke tempat latihan dengan mobil mewah,


apalagi di supirin begini, berasa seperti atlet profesional saja. Di sepanjang

__ADS_1


perjalanan Melani hanya diam gemetaran, apa aku ini seperti monster sampai dia


seperti itu.


__ADS_2