Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 36


__ADS_3

Angga – Melani


***


Pertandingan


klaster ke-3 Angga sudah berakhir, di detik-detik terakhir Angga kecolongan


point dari lawannya, hingga skor akhir menjadi 6-7. Kemenangan untuk Darla


Febius dari Bogor.


Angga


benar-benar terkejut dengan serangan terakhir Darla, hingga dia tidak bisa


menghindar dari serangannya. Namun, hasil akhir sudah di tentukan, waktu tidak


bisa di ulang kembali. Apapun keputusan sekarang adalah kenyataan. Dengan


begini Angga hanya menjadi juara ke-2.


Angga pergi


keluar lapangan menghampiri pelatih Markus, dia berjalan dengan wajah yang


sangat kecewa. Dia menundukkan kepalanya dan pandangannya mengarah ke bawah, ia


seperti tidak sanggup untuk berjalan tegap dan pandangan ke depan.


Ketika Angga


sampai di hadapan pelatih Markus, di situlah sosok seorang pelatih ada


untuknya. Pelatih Markus memegang kepalanya dengan tangan kanan, wajah pelatih


Markus tersenyum bangga kepada Angga, tidak ada penyesalan terhadap kekalahan


Angga di final.


“Kamu udah


melakukan yang terbaik, Angga.”


Pelatih


Markus yang memegang kepala Angga dengan wajah tersenyum bangga. Pelatih Markus


puas dengan usaha Angga selama dua bulan ini, karena pelatih Markus tau bahwa


kita tidak akan tau bagaimana hasilnya nanti. Namun dengan melihat usaha Angga,


dia merasa cukup puas akan hal itu.


Kemudian


Angga memeluk pelatih Markus sambil menangis dalam pelukannya, rasa sedih,


kecewa, bercampur menjadi satu di dalam perasaan Angga. Dia hanya bisa menangis


dan menerima kenyataan dari hasil tadi.


“Menangislah Angga,


tidak ada yang melarangmu untuk menangis,” kata pelatih Markus kepada Angga


yang ada dalam pelukannya.


Memang


perasaan Angga sedang sangat tidak bagus, usaha selama dua bulannya berlatih

__ADS_1


sangat keras. Kini dia menerima hasil yang kurang memuaskan, dia merasa usaha


dan latihannya hanya sia-sia. Namun, sekali lagi pelatih Markus, sosok pelatih


yang mengerti perasaan anak didiknya.


“Kamu boleh


menangis, tapi jangan pernah menganggap untuk berhenti berusaha. Ini bukan


akhir, perjalananmu masih panjang. Kamu belum kalah, sabeum gak bilang kamu


kalah. Kata kalah hanya akan ada ketika kamu berhenti berusaha dan berjuang. Masih banyak


kejuaraan di kedepannya, jadi persiapkan dirimu. Oke.”


Pelatih


Markus kemudian memegang kedua pundak Angga dengan kedua tangannya, lalu


berkata kepada Angga. “Ayo kita kembali,” dengan wajah tersenyum tulus.


Mereka


berduapun pergi meninggalkan lapangan pertandingan, mereka turun ke bawah


memasuki lorong yang menjadi akses menuju arena pertandingan. Ketika turun dan


memasuki lorong Angga berkata kepada pelatih Markus.


“Sabeum, aku


ingin menyendiri sebentar.”


Pelatih


Markus yang paham maksud dari ucapannya Angga, dan menerimanya. “Baiklah,


Kemudian pelatih


Markus meninggalkan Angga di sana. Angga ingin menyendiri sementara waktu,


untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Dia duduk di pinggir jalan lorong, gelap


dan tidak ada siapapun yang lewat di lorong itu. Angga duduk dengan menekuk


kedua lututnya lalu menutupi wajahnya. Dia kembali menangis di sana, menangis


sendirian di lorong yang gelap.


Sementara itu


Melani terkejut dengan kekalahan Angga, dia melihat Angga menangis di pelukan


pelatih Markus. Perasaan Melani ikut sedih atas kekalahannya, namun ia juga


sangat bangga kepada Angga karena usahanya yang begitu keras dan tidak mudah


menyerah.


Melani


menoleh dan melihat pelatih Markus yang naik ke kursi penonton menuju


perkumpulan timnya. Namun Melani tidak melihat ada Angga di belakangnya,


pelatih Markus jalan sendirian ke atas tanpa ada Angga. Melani penasaran ke mana


perginya Angga.


“Ayah aku

__ADS_1


pergi sebentar yaa,” kata Melani kepada ayahnya.


“Mau ke mana


kamu?” tanya ayahnya penasaran.


“Sebentar


saja kok, aku mau turun ke bawah.”


Melani dengan


buru-buru turun ke bawah, ia pergi menuju lorong yang menjadi penghubung ke


dalam arena lapangan. Ia sangat tergesa-gesa dengan jalan cepatnya, dia turun


dan memasuki lorong gelap itu dan melihat di sana Angga yang sedang duduk


menundukkan kepalanya.


Melani


melihat Angga di sana, sendirian, seperti merenung atas kekalahannya. Melani


yang melihat itu kemudian mengeluarkan air matanya, dan segera berlari menuju


Angga yang sedang sendiri. Ia berlari begitu cepat untuk meraih Angga di sana.


Sesampainya


Melani langsung memeluk Angga yang sedang bersedih. Dia mendekap Angga dalam


pelukannya di iringi dengan air mata yang mengalir di wajah Melani.


“Kamu sudah


melakukan yang terbaik, Angga,” kata Melani sambil menangis.


“Aku sudah


kalah oleh Rehan, aku sudah kalah.”


“Tidak, kamu


tidak kalah. Rehan sendiri yang berbuat curang pada saat itu, sekarang tidak


ada hubungannya lagi dengan hal seperti itu. Kamu tidak perlu memikirkan soal


itu lagi, kamu hanya perlu memikirkan dirimu saja.”


Melani


mencoba untuk menenangkan Angga di sana, di dalam lorong gelap dengan minim


suara dari luar. Perasaan Angga mulai membaik saat Melani mencoba


menenangkannya, ia merasa hangat di pelukannya, hangat dan membuat hatinya


tenang.


Aku akan


selalu bersamamu, membantumu dalam kesulitan. Ketika kamu sedang dalam keadaan


sulit, aku akan datang untuk membantu dan menemanimu. Rasa yang membuat dirimu


sakit, kesal, jengkel, aku akan menerima semua rasa itu bersamamu. Kata hati Melani.


“Teruslah


berjuang, Angga.”

__ADS_1


***


__ADS_2