
Angga – Melani
***
Pertandingan
klaster ke-3 Angga sudah berakhir, di detik-detik terakhir Angga kecolongan
point dari lawannya, hingga skor akhir menjadi 6-7. Kemenangan untuk Darla
Febius dari Bogor.
Angga
benar-benar terkejut dengan serangan terakhir Darla, hingga dia tidak bisa
menghindar dari serangannya. Namun, hasil akhir sudah di tentukan, waktu tidak
bisa di ulang kembali. Apapun keputusan sekarang adalah kenyataan. Dengan
begini Angga hanya menjadi juara ke-2.
Angga pergi
keluar lapangan menghampiri pelatih Markus, dia berjalan dengan wajah yang
sangat kecewa. Dia menundukkan kepalanya dan pandangannya mengarah ke bawah, ia
seperti tidak sanggup untuk berjalan tegap dan pandangan ke depan.
Ketika Angga
sampai di hadapan pelatih Markus, di situlah sosok seorang pelatih ada
untuknya. Pelatih Markus memegang kepalanya dengan tangan kanan, wajah pelatih
Markus tersenyum bangga kepada Angga, tidak ada penyesalan terhadap kekalahan
Angga di final.
“Kamu udah
melakukan yang terbaik, Angga.”
Pelatih
Markus yang memegang kepala Angga dengan wajah tersenyum bangga. Pelatih Markus
puas dengan usaha Angga selama dua bulan ini, karena pelatih Markus tau bahwa
kita tidak akan tau bagaimana hasilnya nanti. Namun dengan melihat usaha Angga,
dia merasa cukup puas akan hal itu.
Kemudian
Angga memeluk pelatih Markus sambil menangis dalam pelukannya, rasa sedih,
kecewa, bercampur menjadi satu di dalam perasaan Angga. Dia hanya bisa menangis
dan menerima kenyataan dari hasil tadi.
“Menangislah Angga,
tidak ada yang melarangmu untuk menangis,” kata pelatih Markus kepada Angga
yang ada dalam pelukannya.
Memang
perasaan Angga sedang sangat tidak bagus, usaha selama dua bulannya berlatih
__ADS_1
sangat keras. Kini dia menerima hasil yang kurang memuaskan, dia merasa usaha
dan latihannya hanya sia-sia. Namun, sekali lagi pelatih Markus, sosok pelatih
yang mengerti perasaan anak didiknya.
“Kamu boleh
menangis, tapi jangan pernah menganggap untuk berhenti berusaha. Ini bukan
akhir, perjalananmu masih panjang. Kamu belum kalah, sabeum gak bilang kamu
kalah. Kata kalah hanya akan ada ketika kamu berhenti berusaha dan berjuang. Masih banyak
kejuaraan di kedepannya, jadi persiapkan dirimu. Oke.”
Pelatih
Markus kemudian memegang kedua pundak Angga dengan kedua tangannya, lalu
berkata kepada Angga. “Ayo kita kembali,” dengan wajah tersenyum tulus.
Mereka
berduapun pergi meninggalkan lapangan pertandingan, mereka turun ke bawah
memasuki lorong yang menjadi akses menuju arena pertandingan. Ketika turun dan
memasuki lorong Angga berkata kepada pelatih Markus.
“Sabeum, aku
ingin menyendiri sebentar.”
Pelatih
Markus yang paham maksud dari ucapannya Angga, dan menerimanya. “Baiklah,
Kemudian pelatih
Markus meninggalkan Angga di sana. Angga ingin menyendiri sementara waktu,
untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Dia duduk di pinggir jalan lorong, gelap
dan tidak ada siapapun yang lewat di lorong itu. Angga duduk dengan menekuk
kedua lututnya lalu menutupi wajahnya. Dia kembali menangis di sana, menangis
sendirian di lorong yang gelap.
Sementara itu
Melani terkejut dengan kekalahan Angga, dia melihat Angga menangis di pelukan
pelatih Markus. Perasaan Melani ikut sedih atas kekalahannya, namun ia juga
sangat bangga kepada Angga karena usahanya yang begitu keras dan tidak mudah
menyerah.
Melani
menoleh dan melihat pelatih Markus yang naik ke kursi penonton menuju
perkumpulan timnya. Namun Melani tidak melihat ada Angga di belakangnya,
pelatih Markus jalan sendirian ke atas tanpa ada Angga. Melani penasaran ke mana
perginya Angga.
“Ayah aku
__ADS_1
pergi sebentar yaa,” kata Melani kepada ayahnya.
“Mau ke mana
kamu?” tanya ayahnya penasaran.
“Sebentar
saja kok, aku mau turun ke bawah.”
Melani dengan
buru-buru turun ke bawah, ia pergi menuju lorong yang menjadi penghubung ke
dalam arena lapangan. Ia sangat tergesa-gesa dengan jalan cepatnya, dia turun
dan memasuki lorong gelap itu dan melihat di sana Angga yang sedang duduk
menundukkan kepalanya.
Melani
melihat Angga di sana, sendirian, seperti merenung atas kekalahannya. Melani
yang melihat itu kemudian mengeluarkan air matanya, dan segera berlari menuju
Angga yang sedang sendiri. Ia berlari begitu cepat untuk meraih Angga di sana.
Sesampainya
Melani langsung memeluk Angga yang sedang bersedih. Dia mendekap Angga dalam
pelukannya di iringi dengan air mata yang mengalir di wajah Melani.
“Kamu sudah
melakukan yang terbaik, Angga,” kata Melani sambil menangis.
“Aku sudah
kalah oleh Rehan, aku sudah kalah.”
“Tidak, kamu
tidak kalah. Rehan sendiri yang berbuat curang pada saat itu, sekarang tidak
ada hubungannya lagi dengan hal seperti itu. Kamu tidak perlu memikirkan soal
itu lagi, kamu hanya perlu memikirkan dirimu saja.”
Melani
mencoba untuk menenangkan Angga di sana, di dalam lorong gelap dengan minim
suara dari luar. Perasaan Angga mulai membaik saat Melani mencoba
menenangkannya, ia merasa hangat di pelukannya, hangat dan membuat hatinya
tenang.
Aku akan
selalu bersamamu, membantumu dalam kesulitan. Ketika kamu sedang dalam keadaan
sulit, aku akan datang untuk membantu dan menemanimu. Rasa yang membuat dirimu
sakit, kesal, jengkel, aku akan menerima semua rasa itu bersamamu. Kata hati Melani.
“Teruslah
berjuang, Angga.”
__ADS_1
***