
Melani
***
Pagi yang cerah di hari Senin, walaupun
hari ini adalah hari yang indah dan bagus. Namun, tetap saja ini adalah hari
dimana seluruh siswa mengeluh. Aku juga harus siap-siap, karena aku tidak mau
terlambat untuk upacara sekolah.
Terkadang aku masih memikirkan tentang
pertandingan Angga kemarin, aku berharap sekarang perasaan hatinya sudah
membaik. Karena beberapa hari ke belakang dia mengalami hal yang lumayan berat,
dari melihat Safira yang jalan berdua bersama Rehan, Rehan yang menyatakan
perasaannya kepada Safira, dan yang terakhir adalah kekalahan Angga saat di
final kemarin.
Aku segera bangkit dari kasur untuk
bersiap-siap. Ketika aku bangun dan duduk, aku melihat buku Aku Cinta Kamu yang berada di atas meja belajarku. Aku sudah membaca ke semua halaman buku
itu. Buku itu sangat bagus, aku sangat menyukainya.
Suara ketukan pintu kamarku.
“Iyaa masuk ajah,” ujarku.
Ternyata itu adalah ayahku yang masuk
ke kamarku. “Huh ayah? Ayah belum berangkat?” tanyaku penasaran.
“Ayah berangkat nanti siang,” balasnya,
“kamu jangan kebanyakan di kasur, cepat mandi dan siap-siap pergi ke sekolah.
Sekarang hari Senin jangan sampai terlambat untuk upacara bendera.”
“Iyaa-iyaa,” jawabku dengan nada
sedikit malas.
Kemudian ayah langsung pergi dari
kamarku setelah memperingatkanku. Tapi aku suka dengan ayah yang seperti itu.
Aku benar-benar menyukainya. Baiklah sekarang waktunya untuk siap-siap jangan
kebanyakan berlama-lama di atas kasur.
Setelah aku bersiap-siap, aku sudah
siap dari segala hal, sekarang tinggal berangkat. Aku pamit ke ayahku, aku
salim kepadanya dan pergi. Hari ini Jeni yang mengantarkanku ke sekolah, ayah
sepertinya masih sedikit sibuk. Tapi tidak apalah, dia memang seperti itu, aku
memakluminya.
Saat di perjalanan, di dalam mobil aku
bersama Jeni, dia berkata kepadaku.
“Nona,” sahut Jeni, “Apa nona masih
berharap kepada Angga, apa nona masih berfikir dia akan menjadi milik nona?
Bukan aku bermaksud, tapi pada kenyataannya Angga hanya menganggap nona sebagai
teman biasa saja sama seperti teman kelas lain. Tidak ada yang special dari
nona di mata Angga, apa nona masih berharap kepadanya?”
“Aku terkejut kamu tiba-tiba bilang
seperti itu,” kataku, “Aku tidak tau harus berbuat apalagi, aku menyukai Angga
sejak aku masih kecil. Aku masih mengingatnya sampai sekarang walaupun dia lupa
denganku, tapi aku tidak apa-apa. Selama aku bisa dekat dengan Angga, aku
merasa cukup untuk itu.”
“Bukankah itu menyakitkan, nona.”
“Aku percaya terhadap diriku sendiri,
dan juga aku percaya kepada Angga.”
Setelah itu Jeni tidak berkata apa-apa
lagi, dia hanya mencoba mengingatkan kepada Melani bahwa mendekati Angga
hanyalah sia-sia. Jeni berfikir, Melani hanya menyakiti dirinya sendiri dari pada
membuat dirinya senang.
“Huh? Kita sampai di sekolah,” kataku
melihat keluar jendela mobil, “Jeni kalau begitu aku pergi duluan yaa, dadah.”
“Iyaa, belajar terus yang rajin, nona
Melani.”
***
Aku sekarang sedang berangkat ke
sekolah menggunakan sepeda. Hari ini benar-benar cerah dan indah, pas banget
pergi ke sekolah menggunakan sepeda di hari yang begitu cerah dan indah. Coba
cuaca seperti ini berjalan setiap waktu, namun sayangnya itu tidak mungkin.
Aku mengayuh sepeda dengan santai,
sekalian menikmati cuaca hari ini. Pikiranku masih saja memikirkan tentang
pertandingan kemarin, padahal itu adalah hasil akhirnya. Dan tidak biasanya aku
seperti ini, biasanya jika aku kalah dalam pertandingan aku menerimanya dengan
lapang dada. Tapi sekarang entah bagaimana susah untukku menerima kenyataan
itu.
Aku kalah di karenakan aku kecolongan
di detik terakhir, dan aku kecolongan di round ke tiga detik terakhir.
Mengingatnya membuat hatiku terasa sesak. Aku harus mengambil sebuah
pembelajaran dari pertandingan kemarin.
Tanpa sadar aku sudah sampai di
sekolah, segera aku pergi ke tempat parkir untuk memarkirkan sepedaku.
Rata-rata di sekolah ini kebanyakan membawa motor ataupun mobil, sangat sedikit
yang membawa sepeda. Mungkin lebih tepatnya hanya aku yang membawa sepeda.
Aku pergi dari tempat parkir menuju
gerbang depan. Setelah aku masuk dari gerbang, tanpa di duga aku bertemu dengan
__ADS_1
Rehan di sana. Apa ini kebetulan kita bertemu di sini, dia juga sepertinya baru
sampai di sini, tapi dia tidak sedang bersama Safira hari ini.
“Yoo, Angga.”
Kami jalan bersama menuju kelas. Rehan
tampak biasa saja, apa dia tidak merasa tidak enak terhadapku karena dia sudah
berbuat curang kepadaku. Aku tau dia menyadari bahwa akupun sudah tau tentang
itu.
“Tumben sekali kau tidak bersama
Safira,” kataku, “biasanya kau selalu bersama kalau berangkat sekolah, sekarang
kenapa?” tanyaku sambil berjalan menuju kelas.
“Aku bilang kepadanya kalau aku
berangkat duluan,” balasnya, “dan aku di dekat pintu gerbang menunggumu, aku
ingin membicarakan sesuatu kepadamu.”
Sesuatu? Apa yang ingin Rehan bahas
kali ini. Tumben sekali dia, kemarin saja dia tidak datang ke tempat
pertandinganku. Aku di sana tidak melihatnya sama sekali, aku hanya bertemu
dengan Putri, Melani dan juga ayahnya Melani.
“Membicarakan sesuatu kepadaku?”
tanyaku.
“Iyaa,” katanya, “Apa kau tau kalau
kemarin aku datang ke tempat pertandinganmu? Aku melihat pertandinganmu di
sana. Akupun tau bagaimana hasilnya.”
Dia datang ke sana? Serius? Aku tidak
melihat dia di mana-mana saat itu, dan dia juga tau hasil pertandinganku. Lalu
sebenarnya apa yang ingin dia bilang kepadaku? Aku jadi penasaran apa yang
ingin dia katakan.
“Kau datang? Aku tidak melihatmu sama
sekali kemarin,” kataku.
“Aku berada di ujung, mungkin kau akan
susah untuk menemukanku,” ujar Rehan, “tapi saat di pertandingan final kau
kalah satu point oleh lawanmu kan?”
“Benar,” balasku, “Aku kecolongan point
saat di detik terakhir, lalu sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan kepadaku,”
aku yang frontal.
“Sebenarnya aku ingin meminta maaf
kepadamu.”
Minta maaf? Ehh? Aku sangat terkejut
Rehan yang tiba-tiba bilang seperti itu. Terlebih lagi dia bilangnya dengan
tenang, wajahnya seperti biasanya. Aku terkejut dengan kondisi ini, lebih baik
aku pura-pura tidak tau saja.
“Kenapa kau bertanya, bukankah kau
sudah mengetahuinya,” kata Rehan, “Aku berbuat curang kemarin. Aku menembak
Safira lebih dulu sebelum pertandingan kita berdua berakhir, aku mohon maafkan
aku, Angga. Dan aku mohon kepadamu izinkan aku menjadi seseorang untuk Safira.”
Heh? Dia meminta namun di barengi
dengan meminta kepadaku untuk melepaskan Safira? Yang benar saja. tapi aku juga
melihat ke tulusan Rehan dalam meminta maaf, aku jadi bingung. Apakah aku harus
melepaskan Safira dariku?
Jika di ingat-ingat, Rehan adalah yang
lebih dulu menyukai Safira di bandingkan denganku. Karena dia tidak berani
mengungkapkan perasaannya, makanya dia tidak berani untuk mendekati Safira. Tapi
cara dia untuk mendekati Safira adalah dengan memanfaatkanku, jadi aku harus
apa? Apa aku harus melepaskan Safira untuk Rehan?
“Sebenarnya aku bingung ingin
menjawabnya,” kataku, “sebenarnya aku sedikit kesal dengan sikapmu saat di
taman itu, ternyata begini yaa rasa sakitnya ketika orang yang kita sukai dekat
dengan orang lain. Mungkin itu juga perasaanmu saat aku bilang jalan bersama
Safira ke alun-alun, aku memahaminya. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi,
sekarang aku ingin bebas.”
“Kau serius, Angga?” tanya Rehan sekali
lagi tidak percaya.
“Iyaa, aku serius. Jaga baik-baik
Safira, jangan sampai kau membuatnya sakit hati karena sikapmu seperti kemarin
terhadapku.”
“Terima kasih, kalau soal itu kau tidak
perlu bilang, aku pasti akan menjaganya. Angga sekali lagi terima kasih,” Rehan
dengan senyum senangnya.
Setelah itu kami lanjut berjalan menuju
kelas kami. Masalah aku dan juga Rehan akhirnya terselesaikan, yaa walaupun aku
butuh waktu untuk melepaskannya. Karena aku tidak mau bermusuhan dengan Rehan
yang dia adalah sahabatku dari kelas satu.
Ketika aku dan juga Rehan masuk ke
dalam ruang kelas, ternyata masih sedikit yang datang. Tapi aku melihat Putri
yang sedang duduk di mejanya membaca buku. Dan juga aku melihat tasnya Melani,
namun orangnya tidak ada di sana. Melani pergi ke mana yaa.
Kemudian aku dan juga Rehan menghampiri
Putri yang sedang baca buku di mejanya. Aku ingin bertanya kepadanya di mana
__ADS_1
Melani.
“Pagi Putri,” sapa dariku.
“Ohh kalian berdua toh, ada apa?” tanya
Putri.
“Kamu tau di mana Melani, aku cuman
lihat tasnya doang, tapi orangnya gak ada di sini.”
“Emm, aku tidak tau. Tadi dia tidak
bilang apa-apa terus langsung pergi begitu saja, memangnya ada apa, Angga?”
tanya Putri.
“Tidak, aku hanya ingin berbicara
kepadanya, kalau begitu makasih yaa.”
“Iyaa sama-sama, dan kamu Angga jangan
patah semangat yaa. Aku tau memang menyakitkan dengan hasil kemarin, tapi aku
tau kamu orangnya pasti akan lanjut terus tanpa berhenti,” kata Putri yang
menyemangatiku.
“Iyaa terima kasih.”
Kemudian aku dan Rehan menaruh tas kami
masing-masing di tempat duduk kami. Setelah aku menaruh tas aku langsung pergi
keluar untuk mencari Melani, ketika aku sudah mendekati pintu dan ingin pergi
keluar kelas, Rehan memanggilku.
“Kau mau ke mana, Angga?” tanyanya
penasaran.
“Aku mau mencari Melani bentar, aku
ingin bicara dengannya,” balasku.
“Ya sudah kalau begitu.”
Setelah itu aku langsung pergi keluar
kelas mencari Melani.
Aku pergi ke kantin untuk melihatnya di
sana, aku berfikir dia sedang ada di kantin membeli sesuatu. Karena Melani
terkadang lupa membawa alat tulisnya, jadi mungkin dia ada di kantin sedang
membeli alat tulis. Namun saat aku ke sana, dia tidak ada di kantin.
Setelah dari kantin aku pergi ke taman
sekolah, barangkali dia ada di sana. Aku tidak punya alasan apapun untuk
menjelaskan kenapa dia ada di sana, tapi aku hanya menebak saja. siapa tau
benar dia ada di sana. Saat aku sampai ternyata dia tidak ada di taman. Dia ini
pergi ke mana yaa.
Akupun pergi dari situ dan lanjut pergi
mencarinya lagi, saat aku jalan mendekati gedung IPA aku melihat di bagian atap
gedung, ada seseorang yang sedang berdiri melihat langit. Aku mencoba fokus
untuk melihat orang di sana, rambut hitam panjang itu. Itu Melani, jadi dia di
sana. Aku langsung pergi ke atas gedung IPA.
Ketika aku sampai di atas gedung aku
membuka pintu untuk pergi ke luar di bagian atas gedung IPA, akupun membuka
pintunya dan melihat Melani di sana sedang menatap langit. Dia ini sedang apa
di atas sini, apa hanya menatap langit saja, sendirian pula.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini,
Melani?” sahutku dari belakangnya. Kemudian Melani menyadari kehadiranku, dan
menoleh ke belakang.
“Ehh Angga?” dengan wajah bingung, “aku
hanya sedang refreshing saja kok, sambil memikirkan seseorang,” kata Melani
menatap Angga.
Dia sepertinya sudah terbiasa denganku,
sudah tidak gagap lagi saat bicara denganku. Baguslah jadi akan mudah saat
bicara padanya.
“Kamu kenapa bisa tau kalau aku ada di
sini? Dan kenapa kamu datang menemuiku?” tanya Melani penasaran.
“Aku melihatmu dari bawah, aku mencari
mu di kantin dan di taman tapi tidak ada. Aku ingin bicara denganmu saja.”
“Bi–bi–bicara denganku?” Melani yang
gugup.
“Iyaa, aku ingin terima kasih kepadamu.
Kamu udah menenangkanku saat di GOR kemarin, kalau bukan karenamu mungkin aku
sekarang masih tidak bisa menerima kekalahan itu, jadi aku ingin terima kasih
kepadamu.”
Pipi Melani memerah, karena Angga
bilang seperti itu. Melani jadi gugup untuk membalas ucapan Angga, dia jadi
bingung.
“E–eh, tidak perlu di pikirkan soal
itu,” kata Melani memejamkan mata, sambil tersenyum malu.
“Dari pada di situ sendiri, lebih baik
di kelas saja, ayuk ke kelas,” kataku mengajak Melani, sambil sedikit berbalik
arah ke belakang.
“Emm,” Melani menganggukkan kepala
dengan wajah tersenyum sambil berlari menuju Angga untuk pergi ke kelas
bersama.
Kamipun pergi ke kelas bersama dari
atap sekolah. Aku merasa lega setelah mengucapkan terima kasih kepada Melani,
__ADS_1
dia benar-benar orang yang baik. “Em…Melani, anterin aku kantin sebentar yuk,
aku lupa membawa pulpen.” “Kamu lupa membawa pulpen? Ya sudah lah ayuk.”