Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 37


__ADS_3

Melani


***


Pagi yang cerah di hari Senin, walaupun


hari ini adalah hari yang indah dan bagus. Namun, tetap saja ini adalah hari


dimana seluruh siswa mengeluh. Aku juga harus siap-siap, karena aku tidak mau


terlambat untuk upacara sekolah.


Terkadang aku masih memikirkan tentang


pertandingan Angga kemarin, aku berharap sekarang perasaan hatinya sudah


membaik. Karena beberapa hari ke belakang dia mengalami hal yang lumayan berat,


dari melihat Safira yang jalan berdua bersama Rehan, Rehan yang menyatakan


perasaannya kepada Safira, dan yang terakhir adalah kekalahan Angga saat di


final kemarin.


Aku segera bangkit dari kasur untuk


bersiap-siap. Ketika aku bangun dan duduk, aku melihat buku Aku Cinta Kamu yang berada di atas meja belajarku. Aku sudah membaca ke semua halaman buku


itu. Buku itu sangat bagus, aku sangat menyukainya.


Suara ketukan pintu kamarku.


“Iyaa masuk ajah,” ujarku.


Ternyata itu adalah ayahku yang masuk


ke kamarku. “Huh ayah? Ayah belum berangkat?” tanyaku penasaran.


“Ayah berangkat nanti siang,” balasnya,


“kamu jangan kebanyakan di kasur, cepat mandi dan siap-siap pergi ke sekolah.


Sekarang hari Senin jangan sampai terlambat untuk upacara bendera.”


“Iyaa-iyaa,” jawabku dengan nada


sedikit malas.


Kemudian ayah langsung pergi dari


kamarku setelah memperingatkanku. Tapi aku suka dengan ayah yang seperti itu.


Aku benar-benar menyukainya. Baiklah sekarang waktunya untuk siap-siap jangan


kebanyakan berlama-lama di atas kasur.


Setelah aku bersiap-siap, aku sudah


siap dari segala hal, sekarang tinggal berangkat. Aku pamit ke ayahku, aku


salim kepadanya dan pergi. Hari ini Jeni yang mengantarkanku ke sekolah, ayah


sepertinya masih sedikit sibuk. Tapi tidak apalah, dia memang seperti itu, aku


memakluminya.


Saat di perjalanan, di dalam mobil aku


bersama Jeni, dia berkata kepadaku.


“Nona,” sahut Jeni, “Apa nona masih


berharap kepada Angga, apa nona masih berfikir dia akan menjadi milik nona?


Bukan aku bermaksud, tapi pada kenyataannya Angga hanya menganggap nona sebagai


teman biasa saja sama seperti teman kelas lain. Tidak ada yang special dari


nona di mata Angga, apa nona masih berharap kepadanya?”


“Aku terkejut kamu tiba-tiba bilang


seperti itu,” kataku, “Aku tidak tau harus berbuat apalagi, aku menyukai Angga


sejak aku masih kecil. Aku masih mengingatnya sampai sekarang walaupun dia lupa


denganku, tapi aku tidak apa-apa. Selama aku bisa dekat dengan Angga, aku


merasa cukup untuk itu.”


“Bukankah itu menyakitkan, nona.”


“Aku percaya terhadap diriku sendiri,


dan juga aku percaya kepada Angga.”


Setelah itu Jeni tidak berkata apa-apa


lagi, dia hanya mencoba mengingatkan kepada Melani bahwa mendekati Angga


hanyalah sia-sia. Jeni berfikir, Melani hanya menyakiti dirinya sendiri dari pada


membuat dirinya senang.


“Huh? Kita sampai di sekolah,” kataku


melihat keluar jendela mobil, “Jeni kalau begitu aku pergi duluan yaa, dadah.”


“Iyaa, belajar terus yang rajin, nona


Melani.”


***


Aku sekarang sedang berangkat ke


sekolah menggunakan sepeda. Hari ini benar-benar cerah dan indah, pas banget


pergi ke sekolah menggunakan sepeda di hari yang begitu cerah dan indah. Coba


cuaca seperti ini berjalan setiap waktu, namun sayangnya itu tidak mungkin.


Aku mengayuh sepeda dengan santai,


sekalian menikmati cuaca hari ini. Pikiranku masih saja memikirkan tentang


pertandingan kemarin, padahal itu adalah hasil akhirnya. Dan tidak biasanya aku


seperti ini, biasanya jika aku kalah dalam pertandingan aku menerimanya dengan


lapang dada. Tapi sekarang entah bagaimana susah untukku menerima kenyataan


itu.


Aku kalah di karenakan aku kecolongan


di detik terakhir, dan aku kecolongan di round ke tiga detik terakhir.


Mengingatnya membuat hatiku terasa sesak. Aku harus mengambil sebuah


pembelajaran dari pertandingan kemarin.


Tanpa sadar aku sudah sampai di


sekolah, segera aku pergi ke tempat parkir untuk memarkirkan sepedaku.


Rata-rata di sekolah ini kebanyakan membawa motor ataupun mobil, sangat sedikit


yang membawa sepeda. Mungkin lebih tepatnya hanya aku yang membawa sepeda.


Aku pergi dari tempat parkir menuju


gerbang depan. Setelah aku masuk dari gerbang, tanpa di duga aku bertemu dengan

__ADS_1


Rehan di sana. Apa ini kebetulan kita bertemu di sini, dia juga sepertinya baru


sampai di sini, tapi dia tidak sedang bersama Safira hari ini.


“Yoo, Angga.”


Kami jalan bersama menuju kelas. Rehan


tampak biasa saja, apa dia tidak merasa tidak enak terhadapku karena dia sudah


berbuat curang kepadaku. Aku tau dia menyadari bahwa akupun sudah tau tentang


itu.


“Tumben sekali kau tidak bersama


Safira,” kataku, “biasanya kau selalu bersama kalau berangkat sekolah, sekarang


kenapa?” tanyaku sambil berjalan menuju kelas.


“Aku bilang kepadanya kalau aku


berangkat duluan,” balasnya, “dan aku di dekat pintu gerbang menunggumu, aku


ingin membicarakan sesuatu kepadamu.”


Sesuatu? Apa yang ingin Rehan bahas


kali ini. Tumben sekali dia, kemarin saja dia tidak datang ke tempat


pertandinganku. Aku di sana tidak melihatnya sama sekali, aku hanya bertemu


dengan Putri, Melani dan juga ayahnya Melani.


“Membicarakan sesuatu kepadaku?”


tanyaku.


“Iyaa,” katanya, “Apa kau tau kalau


kemarin aku datang ke tempat pertandinganmu? Aku melihat pertandinganmu di


sana. Akupun tau bagaimana hasilnya.”


Dia datang ke sana? Serius? Aku tidak


melihat dia di mana-mana saat itu, dan dia juga tau hasil pertandinganku. Lalu


sebenarnya apa yang ingin dia bilang kepadaku? Aku jadi penasaran apa yang


ingin dia katakan.


“Kau datang? Aku tidak melihatmu sama


sekali kemarin,” kataku.


“Aku berada di ujung, mungkin kau akan


susah untuk menemukanku,” ujar Rehan, “tapi saat di pertandingan final kau


kalah satu point oleh lawanmu kan?”


“Benar,” balasku, “Aku kecolongan point


saat di detik terakhir, lalu sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan kepadaku,”


aku yang frontal.


“Sebenarnya aku ingin meminta maaf


kepadamu.”


Minta maaf? Ehh? Aku sangat terkejut


Rehan yang tiba-tiba bilang seperti itu. Terlebih lagi dia bilangnya dengan


tenang, wajahnya seperti biasanya. Aku terkejut dengan kondisi ini, lebih baik


aku pura-pura tidak tau saja.


“Kenapa kau bertanya, bukankah kau


sudah mengetahuinya,” kata Rehan, “Aku berbuat curang kemarin. Aku menembak


Safira lebih dulu sebelum pertandingan kita berdua berakhir, aku mohon maafkan


aku, Angga. Dan aku mohon kepadamu izinkan aku menjadi seseorang untuk Safira.”


Heh? Dia meminta namun di barengi


dengan meminta kepadaku untuk melepaskan Safira? Yang benar saja. tapi aku juga


melihat ke tulusan Rehan dalam meminta maaf, aku jadi bingung. Apakah aku harus


melepaskan Safira dariku?


Jika di ingat-ingat, Rehan adalah yang


lebih dulu menyukai Safira di bandingkan denganku. Karena dia tidak berani


mengungkapkan perasaannya, makanya dia tidak berani untuk mendekati Safira. Tapi


cara dia untuk mendekati Safira adalah dengan memanfaatkanku, jadi aku harus


apa? Apa aku harus melepaskan Safira untuk Rehan?


“Sebenarnya aku bingung ingin


menjawabnya,” kataku, “sebenarnya aku sedikit kesal dengan sikapmu saat di


taman itu, ternyata begini yaa rasa sakitnya ketika orang yang kita sukai dekat


dengan orang lain. Mungkin itu juga perasaanmu saat aku bilang jalan bersama


Safira ke alun-alun, aku memahaminya. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi,


sekarang aku ingin bebas.”


“Kau serius, Angga?” tanya Rehan sekali


lagi tidak percaya.


“Iyaa, aku serius. Jaga baik-baik


Safira, jangan sampai kau membuatnya sakit hati karena sikapmu seperti kemarin


terhadapku.”


“Terima kasih, kalau soal itu kau tidak


perlu bilang, aku pasti akan menjaganya. Angga sekali lagi terima kasih,” Rehan


dengan senyum senangnya.


Setelah itu kami lanjut berjalan menuju


kelas kami. Masalah aku dan juga Rehan akhirnya terselesaikan, yaa walaupun aku


butuh waktu untuk melepaskannya. Karena aku tidak mau bermusuhan dengan Rehan


yang dia adalah sahabatku dari kelas satu.


Ketika aku dan juga Rehan masuk ke


dalam ruang kelas, ternyata masih sedikit yang datang. Tapi aku melihat Putri


yang sedang duduk di mejanya membaca buku. Dan juga aku melihat tasnya Melani,


namun orangnya tidak ada di sana. Melani pergi ke mana yaa.


Kemudian aku dan juga Rehan menghampiri


Putri yang sedang baca buku di mejanya. Aku ingin bertanya kepadanya di mana

__ADS_1


Melani.


“Pagi Putri,” sapa dariku.


“Ohh kalian berdua toh, ada apa?” tanya


Putri.


“Kamu tau di mana Melani, aku cuman


lihat tasnya doang, tapi orangnya gak ada di sini.”


“Emm, aku tidak tau. Tadi dia tidak


bilang apa-apa terus langsung pergi begitu saja, memangnya ada apa, Angga?”


tanya Putri.


“Tidak, aku hanya ingin berbicara


kepadanya, kalau begitu makasih yaa.”


“Iyaa sama-sama, dan kamu Angga jangan


patah semangat yaa. Aku tau memang menyakitkan dengan hasil kemarin, tapi aku


tau kamu orangnya pasti akan lanjut terus tanpa berhenti,” kata Putri yang


menyemangatiku.


“Iyaa terima kasih.”


Kemudian aku dan Rehan menaruh tas kami


masing-masing di tempat duduk kami. Setelah aku menaruh tas aku langsung pergi


keluar untuk mencari Melani, ketika aku sudah mendekati pintu dan ingin pergi


keluar kelas, Rehan memanggilku.


“Kau mau ke mana, Angga?” tanyanya


penasaran.


“Aku mau mencari Melani bentar, aku


ingin bicara dengannya,” balasku.


“Ya sudah kalau begitu.”


Setelah itu aku langsung pergi keluar


kelas mencari Melani.


Aku pergi ke kantin untuk melihatnya di


sana, aku berfikir dia sedang ada di kantin membeli sesuatu. Karena Melani


terkadang lupa membawa alat tulisnya, jadi mungkin dia ada di kantin sedang


membeli alat tulis. Namun saat aku ke sana, dia tidak ada di kantin.


Setelah dari kantin aku pergi ke taman


sekolah, barangkali dia ada di sana. Aku tidak punya alasan apapun untuk


menjelaskan kenapa dia ada di sana, tapi aku hanya menebak saja. siapa tau


benar dia ada di sana. Saat aku sampai ternyata dia tidak ada di taman. Dia ini


pergi ke mana yaa.


Akupun pergi dari situ dan lanjut pergi


mencarinya lagi, saat aku jalan mendekati gedung IPA aku melihat di bagian atap


gedung, ada seseorang yang sedang berdiri melihat langit. Aku mencoba fokus


untuk melihat orang di sana, rambut hitam panjang itu. Itu Melani, jadi dia di


sana. Aku langsung pergi ke atas gedung IPA.


Ketika aku sampai di atas gedung aku


membuka pintu untuk pergi ke luar di bagian atas gedung IPA, akupun membuka


pintunya dan melihat Melani di sana sedang menatap langit. Dia ini sedang apa


di atas sini, apa hanya menatap langit saja, sendirian pula.


“Apa yang sedang kamu lakukan di sini,


Melani?” sahutku dari belakangnya. Kemudian Melani menyadari kehadiranku, dan


menoleh ke belakang.


“Ehh Angga?” dengan wajah bingung, “aku


hanya sedang refreshing saja kok, sambil memikirkan seseorang,” kata Melani


menatap Angga.


Dia sepertinya sudah terbiasa denganku,


sudah tidak gagap lagi saat bicara denganku. Baguslah jadi akan mudah saat


bicara padanya.


“Kamu kenapa bisa tau kalau aku ada di


sini? Dan kenapa kamu datang menemuiku?” tanya Melani penasaran.


“Aku melihatmu dari bawah, aku mencari


mu di kantin dan di taman tapi tidak ada. Aku ingin bicara denganmu saja.”


“Bi–bi–bicara denganku?” Melani yang


gugup.


“Iyaa, aku ingin terima kasih kepadamu.


Kamu udah menenangkanku saat di GOR kemarin, kalau bukan karenamu mungkin aku


sekarang masih tidak bisa menerima kekalahan itu, jadi aku ingin terima kasih


kepadamu.”


Pipi Melani memerah, karena Angga


bilang seperti itu. Melani jadi gugup untuk membalas ucapan Angga, dia jadi


bingung.


“E–eh, tidak perlu di pikirkan soal


itu,” kata Melani memejamkan mata, sambil tersenyum malu.


“Dari pada di situ sendiri, lebih baik


di kelas saja, ayuk ke kelas,” kataku mengajak Melani, sambil sedikit berbalik


arah ke belakang.


“Emm,” Melani menganggukkan kepala


dengan wajah tersenyum sambil berlari menuju Angga untuk pergi ke kelas


bersama.


Kamipun pergi ke kelas bersama dari


atap sekolah. Aku merasa lega setelah mengucapkan terima kasih kepada Melani,

__ADS_1


dia benar-benar orang yang baik. “Em…Melani, anterin aku kantin sebentar yuk,


aku lupa membawa pulpen.” “Kamu lupa membawa pulpen? Ya sudah lah ayuk.”


__ADS_2