
Melani
***
Aku sedang berada dimana ini? Aku lupa
jalan menuju kelas ku. Seharusnya aku tak berlari dari Angga, jadi aku bisa
berjalan bersama menuju kelas. Kelas ku berada di lantai 2, tapi aku tak
menemukan tangga disini, jika aku masuk lebih dalam daerah sekolah, aku akan
semakin tersesat.
“Melani!” teriak seseorang yang
memanggilku.
Saat aku menoleh ternyata itu Rehan, aku
selamat. Tapi orang yang di sampingnya it–it–itu Angga! Kenapa dia bisa bersama
Rehan, aku harus bersikap apa, aduh aku bingung. Ini gawat, ini gawat, mereka semakin
mendekat. Aku harus bersikap biasa.
“Melani kau sedang apa disini? Kau tidak
ke kelas?” tanya Rehan.
“Aku ingin ke kelas, tapi aku lupa
jalannya menuju kelas,” jawabku sambil tersenyum manis.
“Tadi kau ku panggil kenapa lari?” tanya
Angga kepadaku.
Aku harus jawab apa? Jika aku jawab karena
malu berdekatan dengannya itu akan terdengar aneh, jika aku bilang padanya aku
tak sanggup melihat nya itu sama saja. Aku harus jawab apa ini. Ahh iya aku
tau!
“Maaf ya Angga tadi aku langsung lari,
karena perutku sakit jadi aku buru-buru menuju toilet,” jawabku dengan malu.
Kenapa aku menjadikan sakit perut ini
sebagai alasan! Ini sama saja membuatku malu. Apalagi di hadapan Angga.
“Ohh seperti itu, kalau begitu ayo kita
jalan bersama menuju kelas” ucap Angga.
“…,” Aku yang terdiam sambil menundukkan
kepala.
Yaa pada akhirnya aku, Rehan, dan juga
Angga berjalan bersama menuju ruang kelas, seandainya aku tak lari saat Angga
menghampiriku, mungkin aku sudah jalan berdua dengannya. Hmm…aku telah
melewatkan kesempatan emasku untuk berdua dengannya.
Apa Angga hari ini membawa bekal makan
siang atau tidak ya? Jika dia tidak membawa makan siang aku bisa makan bersama
dengan bekal siang ku. Apa aku tanyakan saja yaa, tapi bagaimana jika dia bawa?
Apa yang harus aku lakukan? Aku tau, jika dia membawa bekal, aku akan mengajak
nya makan bersama saja. Tapi ku tanyakan saja saat sudah di ruang kelas.
***
Akhirnya aku, Melani, dan juga Rehan sampai di ruang kelas, aku
geser pintu ruang kelas dengan tangan kanan ku, huh? Ternyata baru sedikit yang
sampai di sekolah. Aku berjalan menuju tempat duduk ku untuk menaruh tasku,
tapi tunggu, kenapa Melani membuntuti ku dari belakang? Sepertinya dia mau
membicarakan sesuatu hal kepada ku. Lebih baik aku tanyakan langsung saja.
“Emm…Melani,” sahut ku sambil berbalik arah menghadap nya.
Kenapa dia langsung menundukkan kepala dan pandangan nya seperti
itu? Perempuan yang unik. Dia terlihat imut saat seperti itu. Jadi lebih baik
langsung kutanyakan saja.
“Emm…Melani ada yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya ku
kepada nya.
“Em…Angga, kamu hari ini membawa bekal makan siang atau tidak?”
tanyanya sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata.
“Ohh…jadi kau ingin bertanya tentang itu, jadi kau tak bawa makan
siang ya? Mau makan bersama aku dengan bekal yang kubawa?” tanya ku balik.
Melani
***
Huh, aku terkejut dengan pernyataan
Angga. Aku berniat mengajaknya makan siang dengan bekal ku, tapi kenapa malah
dia yang mengajak ku makan siang dengan bekal nya, itu membuat aku salting tau.
Angga mungkin beranggapan aku menanyakan ini karena aku tidak membawa bekal
makan siang, tetapi sebaliknya.
Tapi, ini bisa menjadi kesempatan ku
untuk makan bersama nya seperti kemarin akan tetapi menggunakan bekal makan
siangnya. Tak apalah aku merasa sangat senang dengan ajakan nya, lalu kenapa
dalam hati ini seperti berbunga bunga, aku tak kuat menahan rasanya. Lebih baik
aku jawab saja kalau aku mau.
“Emm…iya aku tak bawa bekal makan siang
hari ini, aku lupa,” kata ku sambil menundukkan kepala dan tersipu malu.
“Tenang saja nanti kita makan bersama
menggunakan bekal makan siangku, kebetulan aku membawa sendok dan juga garpu,
kau bisa menggunakan sendok dan aku garpu,” ujar nya dengan senyum wajahnya.
Itu membuat ku sangat senang sampai-sampai
tak terbendung, mungkin dengan aku tak membawa makan siang ku setiap hari, aku
akan makan bersama dengannya setiap hari juga. Aku tak menduga dengan ajakan
nya seperti ini. Aku sangat senang.
“Benarkah? Kau mau berbagi makanan
dengan ku? Maaf yaa merepotkan mu,” ucapku.
“Aku tak merasa keberatan jika membagi
makan siang ku, jika suatu hari kau lupa lagi membawa makan siang mu, jangan
lupa bilang kepada ku, aku pasti membagi makan siang ku untuk mu juga,” ujar
nya dengan senyum dan rasa percaya diri.
Aku sangat terkejut dengan ucapan Angga
yang seperti itu. Aku sungguh tersipu dengan sikap Angga hari ini, sepertinya
lebih baik aku tak membawa bekal makan siang setiap hari saja deh. Supaya aku
bisa makan bersama dengannya dan dengan menggunakan satu tempat makan.
“Emm…Melani, wajah mu memerah,” ucapnya
karena melihat wajahku memerah.
__ADS_1
“….”
Tidak! Kenapa harus dalam keadaan
seperti ini wajah ku memerah. Itu membuat ku sangat teramat malu jika
menunjukan wajahku yang memerah di hadapan Angga. Aku harap dia tidak berfikir
yang aneh-aneh.
“Melani?” katanya dengan bingung.
“Ah, tidak-tidak, mungkin karena ini aku
tadi berlari dari gerbang sekolah menuju ke dalam sekolah,” kataku dengan wajah
senyum menghadapnya.
“Ohh jadi gitu, ya udah lebih baik kau
duduk dulu di bangku mu,” katanya sambil duduk di kursi nya.
“Iya.”
***
Tumben sekali Melani hari ini lupa
membawa bekal makan siang, apa tidak ada yang menyiapkannya? Tidak mungkin,
orang sekaya dia pasti ada yang menyiapkan bekal makan siang nya. Atau dia yang
memasak sendiri.
Kemudian aku membuka tasku untuk
mengeluarkan buku, namun aku sadar saat aku melihat isi tas ku, aku lupa
membawa pulpen. Hadeuh kenapa hal sepele ini bisa aku lupakan, lebih baik aku
beli pulpen di kantin sekolah dulu sebelum pelajaran dimulai, aku akan ajak
Rehan untuk menemaniku. Kemudian aku menghampiri nya,
“Rehan kamu mau temani aku ke kantin
tidak? Aku lupa membawa pulpen ku,”
“Kau ini, baiklah. Lain kali kau harus
lupa membawa tas mu sendiri,” sindir Rehan.
“Terima kasih,” ucapku.
Aku pergi bersama Rehan menuju kantin
untuk membeli pulpen, lebih enak ke kantin mengajak teman dari pada sendiri.
Kami berjalan melalui lorong karena itu rute tercepat untuk menuju kantin. Saat
kami berjalan dan aku menoleh ke arah jendela, aku melihat wanita itu di bawah
pohon jambu yang sangat lebat. Kemudian aku memberhentikan Rehan dengan menepuk
Pundak nya.
“Tunggu sebentar,” ucapku.
“Hmm? Ada apa?” tanyanya.
“Rehan apa engkau tau nama wanita itu? Yang
sedang berdiri di bawah pohon jambu disana?” kataku sambil menunjuk ke arah
wanita itu.
“Ohh…wanita itu, kalau tidak salah dia
anak seangkatan kita,” jawab Rehan sambil melihat wanita itu.
“Seangkatan?” aku terkejut.
“Iyaa, memang nya kau tidak tau? Dasar
kau ini anak yang doyan di kelas, dia anak dari kelas Bahasa 4.”
Jadi dia anak dari kelas Bahasa, pantas
saja aku tak mengenal nya karena kelasnya lumayan jauh dari kelas ku, karena
aku kelas IPA. Jadi sekolah kami mempunyai 3 jurusan, IPA, IPS, dan Bahasa.
lumayan jauh jaraknya.
Apa lebih baik aku bilang langsung saja
kepada Rehan, dengan begitu aku bisa langsung tau namanya, karena dia tau
jurusan dan juga kelas nya, mungkin dia tau namanya jika aku bertanya langsung.
“Apa kau tau namanya?” tanyaku.
“Tidak,” jawabnya dengan singkat.
“Hah?” aku yang bingung dan kaget.
“Kenapa tidak kau saja langsung bertanya
kepada nya, aku tau kau ingin kenalan dengan nya kan, karena itu lebih baik kau
langsung bertanya kepada nya,” ujar Rehan.
“Enteng sekali kau mengatakannya.”
“Ayo kita kesana dulu sebelum pergi ke
kantin,” ajak Rehan sambil menarik lengan ku.
Rehan kenapa kau yang jadi terburu buru
seperti itu, padahal aku yang ingin mengenal nya. Rehan cara mu mengenalkan aku
kepada nya bisa tidak untuk lebih halus, tidak dengan menarik ku, itu membuat
ku merasa sangat tegang.
Tapi ini adalah kesempatan untuk
mendekat dan menanyakan langsung kepadanya, aku tak boleh menyia-nyiakan
kesempatan ini. Apakah aku bisa menanyakan namanya di hadapan orangnya
langsung, ini membuat ku gugup. Aku berharap aku tak berbicara yang tidak-tidak
agar dia tidak merasa ilfil kepadaku.
“Nah kurasa ini sudah cukup dekat, ayo
kau dekati dan berkenalan dengan nya,” ujar Rehan yang semangat.
“Kau ini, selalu mendadak sekali,”
ucapku.
“Bukannya kau yang mendadak, menunjuk
wanita itu dan bertanya dia dari kelas apa,” balas Rehan.
“Kurasa itu lebih tepatnya hanya
kebetulan.”
“Kalau begitu tidak usah banyak omong,
sana!” Rehan sambil mendorong ku.
Rehan, kurang ajar kenapa dia mendadak
begini, dan apa maksud dari senyum di wajahnya itu, apa pingin ku tendang
wajahnya. Sekarang tinggal aku untuk mencoba mendekati dan bertanya kepadanya.
Jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya, apa aku gugup?
Aku berjalan perlahan mendekatinya,
jalan sangat hati-hati. Hati ku terasa sangat aneh saat ingin mendekatinya,
ayolah Rehan tolong aku disini. Aku menoleh ke belakang dan melihat Rehan
sedang bersembunyi di balik tembok, cih anak itu.
Tanpa sadar saat aku berjalan sambil
menoleh ke belakang, aku semakin mendekati wanita itu dan menabraknya. Wanita
itu pun menoleh ke belakang dan berbalik arah menghadapku, aku melihat wajahnya
__ADS_1
dari jarak yang sangat dekat. Wajahnya begitu cantik menawan, sampai-sampai aku
terdiam melamun.
“Hey…kau tidak apa-apa?” katanya sambil
melihatku.
“Ohh aku tak apa-apa,” ujarku dengan
gugupnya.
Aku harus gimana? Aku harus berbicara
apa? Jangan sampai percakapan ini mati karena tidak ada komunikasi di antara
kita. Ayo berfikir, ayo, aku tau harus berbicara apa agar percakapan ini tidak
berhenti.
“Anu…em…,” aku dengan gagapnya.
“Kau sedang apa datang ke sini?”
tanyanya saat aku gagap bicara.
“Kau sendiri kenapa disini?” tanyaku balik.
“Aku selalu disini setiap hari, dan kau tidak
ada urusan dengan ku lebih baik kau pergi dari sini atau aku yang akan pergi,”
ucapnya dengan tatapan sinis.
Galak sekali dia, padahal aku ingin
bertanya namanya tapi kenapa aku masih saja gugup untuk berbicara. Tapi aku
tidak berbohong dia itu cantiknya sama seperti Melani, memiliki badan yang
indah, yang menjadi pembeda Melani dan dia adalah aku memiliki perasaan
terhadapnya.
“Baiklah aku pergi,” ujarnya sambil
pergi meninggalkan ku.
“Tunggu!” teriakku.
“Beri tau siapa namamu?” tanya ku
kepadanya.
“Safira, namaku Safira,” jawabnya lalu
pergi meninggalkan ku sendiri di pohon jambu yang lebat.
Safira yaa, nama yang indah. Dia orang
yang cukup susah untuk di ajak bicara mungkin lain kali jika kita bertemu aku
akan mengajakmu berbicara. Jika aku sudah memutuskan maka akan ku laksanakan,
itu pasti. Kemudian aku pergi menemui Rehan yang sedang menunggu ku di
belakang.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Rehan.
“Namanya Safira, saat dia memberi tau
namanya kemudian dia langsung pergi,” jawabku.
“Kau sudah tau kan, sekarang kita ke
kantin untuk membeli pulpen mu.”
Setelah aku memberanikan diri untuk
bertanya kepadanya aku baru sadar, saat aku bertanya dan tau namanya, dia belum
mengetahui namaku. Seharusnya tadi aku beritahu juga namaku kepadanya, aku
benar-benar lupa memberi tau nya. Kira-kira dia pergi ke mana yaa.
Aku dan juga Rehan pergi menuju kantin
untuk membeli pulpen dan Rehan yang ingin jajan sekalian, padahal makanan di
kantin ini mahal-mahal, aku tidak kaget karena Rehan termasuk keluarga orang
yang ber-ekonomi kelas atas jadi wajar saja untuknya.
Di saat kami berada di kantin, aku
melihat Safira di ujung tempat duduk kantin. Dia sendirian, kenapa tidak gabung
bersama temannya? Aku memperhatikannya yang sedang diam sibuk bermain
handphone, tapi dia menyadari keberadaan ku di kantin dan sedang melihatnya.
Aku mencoba mendekatinya lagi, aku berjalan menuju ke arah nya.
“Emm….”
“Ada apa kau datang ke sini?” tanya nya
sambil sibuk bermain handphone.
“Em…di kelas Bahasa yang pelajari apa
saja ya?” tanya ku karena gugup.
“Hmm?”
Kenapa aku nanya yang tidak penting
seperti ini, ayo cari topik pembicaraan jangan sampai terputus pembicaraan ini.
Rehan masih sibuk memilih jajanan nya, ini kesempatan ku setelah dia main pergi
begitu saja saat di pohon jambu dekat lapangan upacara.
“Apa aku boleh duduk?” tanyaku.
“Silahkan,” jawabnya.
“Kau kenapa sendiri disini? Tidak
bersama teman mu yang lain?” tanyaku penasaran.
“Aku tidak punya teman.”
“Huh???”
Tidak punya teman? Kasus nya hampir sama
seperti Melani yang tidak punya teman. Melani tidak punya teman karena dia anak
orang kaya, temannya merasa tidak nyaman bila bergaul dengan Melani dan
temannya memutuskan untuk tidak bergaul dengannya.
“Kau tidak punya teman? Kenapa?” tanyaku
lagi.
“Kenapa engkau ingin tau?”
“Em...tidak, hanya ingin tau saja,
sendirian seperti ini memangnya kau tidak merasa kesepian?” ujarku.
“Aku sudah terbiasa dengan
kesendirianku, jadi kau tak perlu khawatir.”
Perempuan ini cantik tapi sangat sulit
di ajak komunikasi, aku harus bicara apa lagi yaa? Supaya ada bahan untuk di
bicarakan. Otak ku stack bingung harus bicara apa.
“Dah, aku mau pergi ke kelas dulu,”
ucapnya sambil pergi meninggalkanku.
“Tung–”
Hadeuh, sulit sekali untuk di ajak
bicara. Kemudian pelayan yang mempunyai kedai makanan di kantin menghampiri ku
dan berkata.
“Total 30.000 Rupiah,” Ujarnya sambil
__ADS_1
mengulurkan tangannya.
“Hah???”