
Melani
***
Perasaan yang masih mengganjal di
hatiku, aku melihatnya langsung dengan mataku, aku tidak tau harus seperti apa
perasaanku ini namun hati ku seperti menolaknya. Aku hanya terbaring di kasur
dan tubuh ku menolak untuk bangkit, aku mendengar seseorang mendekatiku.
“Nona, apa kau tidak apa-apa?” tanya
Jeni yang datang kepada ku dengan keadaan khawatir.
“Yaa aku tidak apa-apa, kau tidak perlu
cemas seperti itu.”
Menatap langit-langit kamar sambil
menarik nafas panjang, tubuhku terasa berat bahkan saat aku ingin mencoba
bangkit. Hari ini ada jadwal mata pelajaran olahraga, aku ingin datang ke
sekolah dan bertemu kembali dengan Angga, aku tau hatiku ini masih terasa
sangat sakit namun aku ingin melihatnya, aku tak peduli apapun yang
menghalangiku, aku akan tetap berjuang untuk bertemunya.
Kemudian aku mencoba bangkit dari
rebahan ku di kasur, aku mencoba namun tubuh ini terasa sangat berat dan kepala
ku sangat pusing, tapi aku harus bertemu dengannya.
“Nona apa benar tidak apa-apa?” tanya
Jeni yang khawatir.
“Aku tidak apa-apa, aku harus sekolah
dan bertemu dengan Angga,” kataku yang masih berusaha bangkit.
“Nona masih saja memikirkan Angga
padahal kejadian di alun-alun membuatnya menangis semalaman penuh,” kata suara
hati Jeni.
Saat aku mencoba untuk bangkit tiba-tiba
aku merasakan pusing yang bertambah kuat, dengan ekspresi kesakitan di hadapan
Jeni.
“Nona!” Jeni yang mendekatiku.
“Apa nona tidak apa-apa?” sambil
memegang ku dan mengarahkan tangannya ke keningku.
“Suhu tubuhnya naik, nona sedang demam,
kenapa dia tidak bilang saja,” kata suara hati Jeni.
“Nona, lebih baik anda kembali berbaring,
anda demam, anda harus istirahat,” kata Jeni sambil menuntunku kembali berbaring.
“Tidak, hari ini ada mata pelajaran
olahraga, aku harus datang,” kataku.
__ADS_1
“Memangnya ada hubungannya?” kata Jeni
dengan bingung dan dengan wajah datar.
Angga pasti akan kelelahan saat
pelajaran olahraga, aku harus ada di sampingnya untuk memberinya minum. Aku
takut Angga lupa membawa air minumnya dan berharap dia akan meminum dari
pemberianku.
“Angga pasti kelelahan saat mata
pelajaran ini, aku ingin ada di sampingnya dan memberi minum untuknya,” kataku
kepada Jeni dengan wajah serius.
“Nona masih memikirkan dia ternyata,
padahal nona melihatnya memegang tangan wanita saat di alun-alun,” kata Jeni.
Aku tau dia memegang tangan wanita saat
di alun-alun, hatiku pun merasa sakit saat melihatnya, akupun langsung lari dan
tak ingin melihatnya pada saat itu, tapi apa karena ini aku sudah menyerah
untuk mendekatinya. Tentu tidak.
“Jeni, seseorang pernah berkata kepada
ku untuk tidak menyerah dan menangis, yaa aku tau saat itu aku menangis namun
setelah itu aku mencoba untuk berhenti jika tidak dia akan membentak ku dengan
kalimat ‘Jangan menangis!’” kataku dengan suara lembut sambil mengingat masa
lalu.
“Kamu tidak boleh nyerah dan tidak boleh nangis!”
“Seseorang? Siapa?” Jeni yang bingung dengan kata “seseorang”.
“Rahasia,” kataku dengan wajah sedikit menjengkelkan.
Aku melihat ekspresi Jeni yang sedikit sebal karena perkataan ku
tadi, tapi tidak apa, jarang-jarang Jeni aku ledek seperti ini.
“Yang terpenting aku harus ke sekolah dan bertemu dengannya lagi,”
kataku, ngotot dan bersikeras.
“Tidak nona, anda sebaiknya ber-istirahat saja di kasur dan
berbaring, anda sekarang sedang demam,” sanggah Jeni.
“Hmm dasar kau ini.”
“Maaf nona tapi kesehatan anda lebih penting,” katanya.
Hmm tidak seru sekali harus berbaring di kamar seharian, padahal
aku hanya ingin bertemu dengannya. Tiba-tiba sakit kepala ku terasa lagi, dan
aku ber-ekspresi kesakitan di wajahku, lalu Jeni khawatir melihat ku seperti ini
dan berkata.
“Nona, lebih baik anda istirahat, jika besok sudah baikan, nona
__ADS_1
bisa melihat Angga lagi di sekolah,” katanya dengan khawatir.
“Baiklah,” kataku pasrah.
Kemudian Jeni memanggil dokter ke rumah untuk memeriksaku, pada
akhirnya aku pasrah dengan keadaanku sekarang, jika aku memaksa diriku untuk
pergi maka sakit ini akan bertambah lama yang berarti aku akan lama juga untuk
bertemu dengan Angga. Lalu Jeni menuliskan surat untuk wali kelas ku bahwasanya
aku izin tidak masuk sekolah karena sakit.
Setelah menunggu 1 jam dokter yang di panggil Jeni akhirnya datang
juga ke rumah, kemudian aku di periksa olehnya. Kata dokter itu aku demam yang
lumayan tinggi, jika aku memaksa untuk banyak bergerak maka kepala ku akan
sakit. Dokter itu menyarankan untuk istirahat sampai besok dan makan teratur
untuk hari ini, dan juga ia memberikan obat kapsul yang pasti itu tidak enak.
Setelah memberi tau cara makan obatnya, dokter itu pamit untuk pulang.
Dan yang merawatku sekarang adalah Jeni.
“Nona sudah dengarkan kata dokter, kan? Nona harus istirahat full,”
kata Jeni.
“Iyaa-iyaa aku dengar,” kataku dengan jengkel.
“Nona pagi ini akan sarapan bubur, saya akan beritahu koki untuk
memasak bubur untuk orang yang sedang sakit, apa nona perlu sesuatu lagi?”
tanyanya kepadaku.
“Aku mau Angga,” kataku dengan wajah cemberut.
“Hmm nona, Angga hari ini sedang sekolah jadi mana mungkin kita
panggil dia sekarang, yang ada kita akan mengganggunya.”
“Padahal itu yang sangat aku inginkan.”
Aku menoleh ke arah meja belajarku dan melihat ada buku itu “Aku
Cinta Kamu”, aku ingin meneruskan cerita dari buku itu, namun kondisi ku
yang sekarang akan sulit untuk membacanya. Kalau begitu aku meminta kepada Jeni
untuk membacanya untuk ku.
“Kalau begitu tolong bacakan aku buku itu,” kataku sambil menunjuk
buku Aku Cinta Kamu yang berada di atas meja belajar.
Jeni menoleh dan melihat buku yang aku tunjuk dan dia berkata.
“Baiklah nona.”
Jeni mengambil buku itu dan membacanya untuk ku, dia duduk di
ranjang pas di samping kepalaku.
“Kau bisa baca saat terakhir aku baca, aku sudah membatasi
halamannya,” kataku.
“Baik nona.”
Kemudian
__ADS_1
Jeni membacanya dengan suara yang sangat lembut seolah-olah sedang membacakan
dongeng untuk anak-anak yang ingin tidur.