Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 8


__ADS_3

Akhirnya aku sampai juga di tempat


pertemuan yang kami janjikan, dilihat dari wajah Safira sepertinya aku telat.


“Ke mana saja kau? Aku sudah menunggu 30


menit lebih,” katanya dengan wajah kesal.


“Maaf yaa, tadi aku mengisi bensin


terlebih dahulu.”


“Bensin?”


“Iyaa aku ke sini membawa motor, karena


bensin motorku mau habis jadi aku beli bensin terlebih dahulu.”


Aku masih terengah-engah karena aku


berlari dari parkiran motor menuju tempat pertemuan, dan sudah ku duga, aku


terlambat. Tapi setidaknya dia tidak balik untuk pulang ke rumah.


“Mau minum?” ujarnya sambil menunjukan


botol air miliknya.


“Oh hiya, terima kasih,” kataku sambil


mengambil botol airnya.


“Aku tadi saat menunggu sempat jalan-jalan


sebentar dan membeli minum, karena kau sangat lama, padahal aku sudah ada niat


untuk pulang,” katanya.


Aku memperhatikan pakaian nya malam hari


ini sungguh cocok dengannya, pakaian dia agak sedikit tebal, mungkin karena


suhu malam hari ini lumayan dingin.


“Tampilan mu hari ini sangat cocok


dengan mu,” kataku dengan memuji nya.


“…,” Safira yang terdiam malu.


“Kau kenapa tiba-tiba jadi diam begitu?


Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?” kataku dengan bingungnya.


“Ti–ti–tidak, ini hanya kebiasaan ku


saja,” jawab nya dengan gugup.


Kenapa dia jadi gugup seperti itu,


bukannya yang harus gugup itu aku. Aku harus cepat mencari solusi agar tidak


terjadi stop komunikasi, bila itu terjadi akan menjadi canggung di antara ke


dua belah pihak.


“Pakaian mu hari ini terlihat tebal,”


ujarku.


“Iyaa karena malam hari ini lumayan


dingin, aku tidak begitu suka suhu dingin jadi aku memakai pakaian yang lumayan


tebal,” katanya.


Lalu aku lihat lagi, sepertinya dia


sedang kedinginan. Kedua tangan nya yang memeluk tubuh nya sendiri dan kaki


yang sedikit membentuk huruf V. Kalau begitu aku ajak jalan-jalan keliling saja


agar tubuhnya bergerak dan mengurangi rasa dingin.


“Sepertinya kau terlihat kedinginan,”


ujarku.


“Kau pintar sekali dalam hal menebak yaa.”


“Kalau begitu ayo kita jalan-jalan, agar


tubuhmu bergerak.”


“Baiklah….”


Kamipun pergi jalan-jalan berdua


mengelilingi alun-alun, banyak sekali orang yang berjualan, dari yang berjualan


makanan sampai aksesoris. Dan juga banyak sekali para keluarga yang datang


bersama anak-anaknya, mungkin kapan-kapan aku akan ajak adik perempuan ku ke


sini.


Aku juga melihat sekelilingku tidak


sedikit juga ada orang yang datang ke sini bersama pasangan nya, mungkin kata


yang paling tepat mereka sedang pacaran. Kalau begitu aku juga sedang pacaran


dong hehe. Tapi pacaran hanya untuk orang sudah ber status pacar, kalau aku


dengan Safira apa bisa di sebut pacar?


Oiya aku harus mengajaknya berbicara,


ini saat yang lumayan pas, jalan sambil ngobrol.


“Oiya


Safira,” ujarku.


“Iyaa, ada apa?”


“Menurutmu bagaimana tempat ini?”


tanyaku sambil berjalan.


“Apa aku harus memberi tau kepada mu?”


jawabnya dengan judes.


Dia ini padahal aku sudah berusaha untuk


mengajaknya berbicara, tapi dia malah balas pertanyaanku dengan wajah yang begitu

__ADS_1


jutek.


“Kurasa begitu,” ucapku.


“Tempat ini tidak terlalu buruk dan juga


tidak buruk untuk bersantai.”


“Apa kamu pernah ke sini sebelumnya?”


tanyaku.


“Tidak, karena aku lebih suka


menghabiskan waktu di rumah dari pada keluar rumah seperti ini,” jawabnya.


“Tapi sekarang kau sedang pergi keluar


dan menghabiskan waktu di sini,” ujarku.


“Itupun karena kau yang memaksa ku untuk


datang ke sini.”


Perasaan aku tidak memaksanya untuk


datang, kenapa dia mencoba memutar balikan fakta yang ada, dasar wanita ini.


Tiba-tiba suara handphone ku berbunyi


saat aku berjalan berdua dengan Safira, ternyata itu adik perempuan ku yang


menelpon, mau apa dia ini? Padahal aku sedang berjalan-jalan.


“Safira maaf yaa, aku harus menjawab telepon


dari adikku,” kataku.


“Iyaa tidak apa-apa.”


“Halo iya ada Riska?” tanyaku.


Oiya nama adik perempuan ku adalah Riska


Mutiara, ada apa dia menelpon ku padahal aku lagi senang-senang.


“Kakak, saat pulang nanti aku boleh titip


makanan untuk di bawa pulang tidak?” tanyanya dengan suaranya yang imut.


Kenapa suara dia saat di telepon sangat


imut, padahal saat berbicara langsung dengannya imutnya tidak seperti ini.


“Kau harusnya tau kakak sedang bersantai


bersama teman kakak,” Sanggah ku.


“Tapi aku lagi ingin sekali makanan


itu,” katanya masih dengan suaranya yang imut.


Aku pun menyerah dan aku mendengarkan


permintaan nya.


“Iyaa, kau mau di belikan makanan apa?”


tanyaku.


“Tolong belikan


“Iyaa kakak akan belikan nanti saat


pulang,” kataku dengan raut wajah sebel.


“Terima kasih kakak ku tersayang,


kalau begitu selamat senang-senang nya, dah,” katanya lalu mematikan


telepon nya.


Hmm, dia ini ada ajah saat aku lagi


begini malah pesan makanan, padahal aku ingin menikmati bersantai malam hari


ini.


“Itu tadi adik mu?” tanya Safira karena


penasaran.


“Iyaa dia adik ku namanya Riska Mutiara


biasa di panggil Riska.”


“Ada apa dia menelpon mu?” tanya Safira.


“Dia ingin saat pulang nanti aku belikan


martabak bangka.”


“Biarkan lah, dia itu kan adikmu.”


Melani


***


Akhirnya aku sampai juga di alun-alun, wah


ramai sekali yaa malam ini, aku kira tidak akan seramai ini. Aku keluar dari


mobil dan mengajak Jeni untuk menemaniku jalan-jalan di alun-alun.


“Jeni kamu ikut dengan ku, kamu temani aku


jalan-jalan keliling ya,” ucapku dengan wajah yang tersenyum.


“Baik nona, memang nya kita akan ke mana?”


tanya nya.


“Pertama kita akan muter-muter terlebih


dahulu, dan setelah itu kita akan cari jajanan ringan untuk mengisi perut kita.”


“Bukannya nona sudah makan tadi saat di


rumah,” ucap Jeni.


“Tapi perutku berkata bahwa kita harus


mencicipi makanan jalanan disini,”


“Hmm terserah nona saja deh,” katanya


sambil memegang kening.

__ADS_1


Baiklah kita akan jalan dari mana dulu


yaa, kiri? Kanan? Aku menggunakan tang ting tung untuk memilih jalan yang akan aku


dahului pertama.


“Kanan? atau kiri yaa?” aku yang


berbicara sendiri.


“Bukannya sama saja nona mau itu kanan


atau kiri,” sahut Jeni.


“Ahh kalau begitu kita akan langsung


menuju tengah saja, jika kita lewat tengah kita bisa melihat sisi kanan dan


juga sisi kiri.”


“Hadeuh,” hembusan nafas Jeni sambil


memegang kening.


“Jeni ayo ikut aku!” kataku sambil jalan


menuju ke tengah alun-alun.


“Baik nona,” jawab Jeni.


Aku dan juga Jeni berjalan menuju tengah


agar bisa melihat dengan mudah sisi kanan dan juga sisi kiri alun-alun. Hmm banyak


sekali jajanan disini dan penjual aksesoris, tapi aku melihat Jeni yang sedang


melirik aksesoris yang di jual pedagang aksesoris.


Sepertinya Jeni ingin kesana melihat-lihat,


Jeni juga jarang-jarang pergi keluar seperti ini, baiklah kalau begitu.


“Jeni kamu ingin melihat aksesoris di


sana kan?” ujarku kepadanya.


“Em…tidak nona, saya ikut nona saja,”


jawabnya dengan terkejut.


“Kalau begitu kita kesana melihat


aksesoris yang di jual pedagang itu, ayo!”


“Em…baiklah nona.”


Kami berdua mengunjungi pedagang yang


menjual aksesoris, ternyata dia menjual aksesoris seperti gelang, kalung


gantungan dll. Dan saat aku lihat Jeni rupanya dia melihat aksesoris itu dengan


wajah serius, Hmm lebih baik aku diamkan saja dulu, biarkan dia memilih


aksesoris yang dia suka.


Akupun melihat juga aksesoris yang di


jual, hmm mungkin aku juga membeli 1 untuk di berikan kepada Angga, tapi apa


Angga akan suka dengan pemberian seperti ini? Aku takut saat aku memberi ini ia


tolak, yang ada nanti malah jarak aku dan Angga menjadi jauh karena penolakan seperti


itu.


Aku pun bertanya kepada Jeni soal aku


ingin memberi aksesoris murah kepada Angga.


“Jeni…menurut mu, bila seorang lelaki mendapat


hadiah dari seorang perempuan, tetapi hadiahnya murah bagaimana?” tanyaku


sambil menundukkan kepalaku.


“Nona ingin memberi hadiah ke lelaki?


Kalau boleh tau siapa lelakinya,” tanya balik Jeni.


“Ah tidak, aku hanya ingin tau saja,”


kataku sambil wajah penuh senyum.


“Hmm?” Jeni dengan tatapan mencurigakan.


“Ada apa? Kenapa melihat ku dengan


tatapan seperti itu?” aku yang panik dengan tatapan Jeni.


“Tidak, tidak apa-apa, tapi yang nona


maksud dengan hadiah murah yang seperti apa?” tanya Jeni.


Jika aku memberi tau hadiah nya, nanti


Jeni malah menertawakan ku lagi. Atau aku beri tau saja ke Jeni bahwa aku suka


dengan Angga, pasti aku akan sering di ledekin oleh Jeni. Aku ragu untuk


memberi tau nya. Tapi lebih baik aku beri tau dari pada aku pendam sendiri.


“Jadi sebenarnya aku suka dengan teman


sekelasku di sekolah,” kataku dengan malunya.


Jeni terkejut mendengar kata-kata ku


barusan yang bilang kalau aku suka dengan teman sekelas di sekolah.


“Sudah ku duga, pasti nona sedang suka


dengan seseorang, kalau boleh tau, nama orang yang nona suka siapa namanya?”


tanyanya dengan antusias.


“Namanya Angga,” kataku.


Lalu wajahku memerah dan aku merasa


sangat malu dan canggung berkata nama seseorang yang aku suka.


“Lihat nona, wajah nona menjadi merah,”


katanya dengan senang.


“Kalau boleh tau, nona bisa menyukai

__ADS_1


lelaki itu karena apa?” lanjut tanya Jeni.


__ADS_2