
Akhirnya aku sampai juga di tempat
pertemuan yang kami janjikan, dilihat dari wajah Safira sepertinya aku telat.
“Ke mana saja kau? Aku sudah menunggu 30
menit lebih,” katanya dengan wajah kesal.
“Maaf yaa, tadi aku mengisi bensin
terlebih dahulu.”
“Bensin?”
“Iyaa aku ke sini membawa motor, karena
bensin motorku mau habis jadi aku beli bensin terlebih dahulu.”
Aku masih terengah-engah karena aku
berlari dari parkiran motor menuju tempat pertemuan, dan sudah ku duga, aku
terlambat. Tapi setidaknya dia tidak balik untuk pulang ke rumah.
“Mau minum?” ujarnya sambil menunjukan
botol air miliknya.
“Oh hiya, terima kasih,” kataku sambil
mengambil botol airnya.
“Aku tadi saat menunggu sempat jalan-jalan
sebentar dan membeli minum, karena kau sangat lama, padahal aku sudah ada niat
untuk pulang,” katanya.
Aku memperhatikan pakaian nya malam hari
ini sungguh cocok dengannya, pakaian dia agak sedikit tebal, mungkin karena
suhu malam hari ini lumayan dingin.
“Tampilan mu hari ini sangat cocok
dengan mu,” kataku dengan memuji nya.
“…,” Safira yang terdiam malu.
“Kau kenapa tiba-tiba jadi diam begitu?
Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?” kataku dengan bingungnya.
“Ti–ti–tidak, ini hanya kebiasaan ku
saja,” jawab nya dengan gugup.
Kenapa dia jadi gugup seperti itu,
bukannya yang harus gugup itu aku. Aku harus cepat mencari solusi agar tidak
terjadi stop komunikasi, bila itu terjadi akan menjadi canggung di antara ke
dua belah pihak.
“Pakaian mu hari ini terlihat tebal,”
ujarku.
“Iyaa karena malam hari ini lumayan
dingin, aku tidak begitu suka suhu dingin jadi aku memakai pakaian yang lumayan
tebal,” katanya.
Lalu aku lihat lagi, sepertinya dia
sedang kedinginan. Kedua tangan nya yang memeluk tubuh nya sendiri dan kaki
yang sedikit membentuk huruf V. Kalau begitu aku ajak jalan-jalan keliling saja
agar tubuhnya bergerak dan mengurangi rasa dingin.
“Sepertinya kau terlihat kedinginan,”
ujarku.
“Kau pintar sekali dalam hal menebak yaa.”
“Kalau begitu ayo kita jalan-jalan, agar
tubuhmu bergerak.”
“Baiklah….”
Kamipun pergi jalan-jalan berdua
mengelilingi alun-alun, banyak sekali orang yang berjualan, dari yang berjualan
makanan sampai aksesoris. Dan juga banyak sekali para keluarga yang datang
bersama anak-anaknya, mungkin kapan-kapan aku akan ajak adik perempuan ku ke
sini.
Aku juga melihat sekelilingku tidak
sedikit juga ada orang yang datang ke sini bersama pasangan nya, mungkin kata
yang paling tepat mereka sedang pacaran. Kalau begitu aku juga sedang pacaran
dong hehe. Tapi pacaran hanya untuk orang sudah ber status pacar, kalau aku
dengan Safira apa bisa di sebut pacar?
Oiya aku harus mengajaknya berbicara,
ini saat yang lumayan pas, jalan sambil ngobrol.
“Oiya
Safira,” ujarku.
“Iyaa, ada apa?”
“Menurutmu bagaimana tempat ini?”
tanyaku sambil berjalan.
“Apa aku harus memberi tau kepada mu?”
jawabnya dengan judes.
Dia ini padahal aku sudah berusaha untuk
mengajaknya berbicara, tapi dia malah balas pertanyaanku dengan wajah yang begitu
__ADS_1
jutek.
“Kurasa begitu,” ucapku.
“Tempat ini tidak terlalu buruk dan juga
tidak buruk untuk bersantai.”
“Apa kamu pernah ke sini sebelumnya?”
tanyaku.
“Tidak, karena aku lebih suka
menghabiskan waktu di rumah dari pada keluar rumah seperti ini,” jawabnya.
“Tapi sekarang kau sedang pergi keluar
dan menghabiskan waktu di sini,” ujarku.
“Itupun karena kau yang memaksa ku untuk
datang ke sini.”
Perasaan aku tidak memaksanya untuk
datang, kenapa dia mencoba memutar balikan fakta yang ada, dasar wanita ini.
Tiba-tiba suara handphone ku berbunyi
saat aku berjalan berdua dengan Safira, ternyata itu adik perempuan ku yang
menelpon, mau apa dia ini? Padahal aku sedang berjalan-jalan.
“Safira maaf yaa, aku harus menjawab telepon
dari adikku,” kataku.
“Iyaa tidak apa-apa.”
“Halo iya ada Riska?” tanyaku.
Oiya nama adik perempuan ku adalah Riska
Mutiara, ada apa dia menelpon ku padahal aku lagi senang-senang.
“Kakak, saat pulang nanti aku boleh titip
makanan untuk di bawa pulang tidak?” tanyanya dengan suaranya yang imut.
Kenapa suara dia saat di telepon sangat
imut, padahal saat berbicara langsung dengannya imutnya tidak seperti ini.
“Kau harusnya tau kakak sedang bersantai
bersama teman kakak,” Sanggah ku.
“Tapi aku lagi ingin sekali makanan
itu,” katanya masih dengan suaranya yang imut.
Aku pun menyerah dan aku mendengarkan
permintaan nya.
“Iyaa, kau mau di belikan makanan apa?”
tanyaku.
“Tolong belikan
“Iyaa kakak akan belikan nanti saat
pulang,” kataku dengan raut wajah sebel.
“Terima kasih kakak ku tersayang,
kalau begitu selamat senang-senang nya, dah,” katanya lalu mematikan
telepon nya.
Hmm, dia ini ada ajah saat aku lagi
begini malah pesan makanan, padahal aku ingin menikmati bersantai malam hari
ini.
“Itu tadi adik mu?” tanya Safira karena
penasaran.
“Iyaa dia adik ku namanya Riska Mutiara
biasa di panggil Riska.”
“Ada apa dia menelpon mu?” tanya Safira.
“Dia ingin saat pulang nanti aku belikan
martabak bangka.”
“Biarkan lah, dia itu kan adikmu.”
Melani
***
Akhirnya aku sampai juga di alun-alun, wah
ramai sekali yaa malam ini, aku kira tidak akan seramai ini. Aku keluar dari
mobil dan mengajak Jeni untuk menemaniku jalan-jalan di alun-alun.
“Jeni kamu ikut dengan ku, kamu temani aku
jalan-jalan keliling ya,” ucapku dengan wajah yang tersenyum.
“Baik nona, memang nya kita akan ke mana?”
tanya nya.
“Pertama kita akan muter-muter terlebih
dahulu, dan setelah itu kita akan cari jajanan ringan untuk mengisi perut kita.”
“Bukannya nona sudah makan tadi saat di
rumah,” ucap Jeni.
“Tapi perutku berkata bahwa kita harus
mencicipi makanan jalanan disini,”
“Hmm terserah nona saja deh,” katanya
sambil memegang kening.
__ADS_1
Baiklah kita akan jalan dari mana dulu
yaa, kiri? Kanan? Aku menggunakan tang ting tung untuk memilih jalan yang akan aku
dahului pertama.
“Kanan? atau kiri yaa?” aku yang
berbicara sendiri.
“Bukannya sama saja nona mau itu kanan
atau kiri,” sahut Jeni.
“Ahh kalau begitu kita akan langsung
menuju tengah saja, jika kita lewat tengah kita bisa melihat sisi kanan dan
juga sisi kiri.”
“Hadeuh,” hembusan nafas Jeni sambil
memegang kening.
“Jeni ayo ikut aku!” kataku sambil jalan
menuju ke tengah alun-alun.
“Baik nona,” jawab Jeni.
Aku dan juga Jeni berjalan menuju tengah
agar bisa melihat dengan mudah sisi kanan dan juga sisi kiri alun-alun. Hmm banyak
sekali jajanan disini dan penjual aksesoris, tapi aku melihat Jeni yang sedang
melirik aksesoris yang di jual pedagang aksesoris.
Sepertinya Jeni ingin kesana melihat-lihat,
Jeni juga jarang-jarang pergi keluar seperti ini, baiklah kalau begitu.
“Jeni kamu ingin melihat aksesoris di
sana kan?” ujarku kepadanya.
“Em…tidak nona, saya ikut nona saja,”
jawabnya dengan terkejut.
“Kalau begitu kita kesana melihat
aksesoris yang di jual pedagang itu, ayo!”
“Em…baiklah nona.”
Kami berdua mengunjungi pedagang yang
menjual aksesoris, ternyata dia menjual aksesoris seperti gelang, kalung
gantungan dll. Dan saat aku lihat Jeni rupanya dia melihat aksesoris itu dengan
wajah serius, Hmm lebih baik aku diamkan saja dulu, biarkan dia memilih
aksesoris yang dia suka.
Akupun melihat juga aksesoris yang di
jual, hmm mungkin aku juga membeli 1 untuk di berikan kepada Angga, tapi apa
Angga akan suka dengan pemberian seperti ini? Aku takut saat aku memberi ini ia
tolak, yang ada nanti malah jarak aku dan Angga menjadi jauh karena penolakan seperti
itu.
Aku pun bertanya kepada Jeni soal aku
ingin memberi aksesoris murah kepada Angga.
“Jeni…menurut mu, bila seorang lelaki mendapat
hadiah dari seorang perempuan, tetapi hadiahnya murah bagaimana?” tanyaku
sambil menundukkan kepalaku.
“Nona ingin memberi hadiah ke lelaki?
Kalau boleh tau siapa lelakinya,” tanya balik Jeni.
“Ah tidak, aku hanya ingin tau saja,”
kataku sambil wajah penuh senyum.
“Hmm?” Jeni dengan tatapan mencurigakan.
“Ada apa? Kenapa melihat ku dengan
tatapan seperti itu?” aku yang panik dengan tatapan Jeni.
“Tidak, tidak apa-apa, tapi yang nona
maksud dengan hadiah murah yang seperti apa?” tanya Jeni.
Jika aku memberi tau hadiah nya, nanti
Jeni malah menertawakan ku lagi. Atau aku beri tau saja ke Jeni bahwa aku suka
dengan Angga, pasti aku akan sering di ledekin oleh Jeni. Aku ragu untuk
memberi tau nya. Tapi lebih baik aku beri tau dari pada aku pendam sendiri.
“Jadi sebenarnya aku suka dengan teman
sekelasku di sekolah,” kataku dengan malunya.
Jeni terkejut mendengar kata-kata ku
barusan yang bilang kalau aku suka dengan teman sekelas di sekolah.
“Sudah ku duga, pasti nona sedang suka
dengan seseorang, kalau boleh tau, nama orang yang nona suka siapa namanya?”
tanyanya dengan antusias.
“Namanya Angga,” kataku.
Lalu wajahku memerah dan aku merasa
sangat malu dan canggung berkata nama seseorang yang aku suka.
“Lihat nona, wajah nona menjadi merah,”
katanya dengan senang.
“Kalau boleh tau, nona bisa menyukai
__ADS_1
lelaki itu karena apa?” lanjut tanya Jeni.