Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 13


__ADS_3

*


Sang wanita berusaha mengungkapkan perasaannya ke sang pria, namun


hati kecilnya berkata “Ini belum saatnya memberitahu rasa cintamu” karena


hatinya seolah memerintahkannya untuk tidak menyatakan cintanya, dan ia terus


menahan rasa cinta itu.


Dan sang pria pada akhirnya mempunyai pacar, sang wanita terkejut


dengan berita yang ia dengar. “Kenapa bisa begini” kata hati kecilnya. “Seandainya


aku berkata lebih dulu kepadanya, mungkin aku sudah menjadi miliknya”. Dia


selalu menyesali akan dirinya sendiri, dia merasa bahwa dirinya telat


mengungkapkan perasaan nya kepada sang pria.


*


“Jeni apa kau tau cerita yang barusan kau baca itu, cerita itu


sama persis seperti kondisi ku sekarang ini,” kataku.


“…,” Jeni yang hanya terdiam tidak berbicara sedikit pun.


“Apa menurutmu aku sama dengan karakter wanita dalam cerita itu?”


tanyaku.


Jeni mengarahkan pandangannya ke arah jendela dan berkata


kepadaku.


“Tidak menurutku.”


“Kenapa tidak? Bukankah sama persis,” sahutku.


“Yang ku kenal nona adalah wanita yang sangat kuat, dia tidak


mudah goyah hanya karena ini, dia orang yang sangat kuat menurutku,” kata Jeni.


“Kenapa kau selalu bisa seyakin itu? Pada saat aku menanyakan


tentang gantungan kau pun berkata padaku dan yakin dengan ucapan mu, apa yang


membuatmu yakin Jeni?” tanyaku.


“Aku hanya mengikuti apa kata hatiku saja, dan aku selalu untuk


mencoba berfikir positif, oleh karena itu aku yakin dan percaya dengan apa yang


aku ucapkan.”


“Hmm, jadi begitu.”


Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, dan dia


berkata dari luar pintu.


“Nona, bubur anda sudah siap,” katanya.


Ternyata itu adalah koki yang datang untuk mengantarkan makanan


untukku, lalu Jeni membukakan pintu untuknya dan mengambil bubur yang di bawa


oleh koki.


“Ini adalah bubur yang aku buat khusus untuk nona Melani agar


cepat sembuh,” kata kokiku.


“Baiklah terima kasih, sisanya biar aku yang urus,” kata Jeni.


“Baiklah.”


Jeni


sekarang menjadi perawat untukku selama aku sakit, dia menyuapiku makan dan


membantuku untuk meminum obat, dan juga dia menemani ku istirahat agar aku


cepat lekas sembuh. Mungkin lain kali akan ku balas dengan hal lain.


***


“Kau bagaimana soal kompetisi programing


mu?” tanyaku kepada Rehan.


“Aku ikut kompetisi itu, dan aku masih


punya waktu 1 minggu sebelum kompetisi itu di mulai,” jawabnya.

__ADS_1


“Lalu kesiapanmu?” tanyaku lagi.


“Sudah 80%.”


80%? Memangnya cukup? Waktu seminggu


bukannya sudah dekat. Yaa walaupun aku tidak mengerti soal programing tapi


tetap saja aku sebagai temannya menanyakan kesiapannya sebelum kompetisi itu di


mulai.


“Apa 80% itu cukup untuk waktu


seminggu?”


“Akan ku usahakan.”


Hadeuh dia ini, tapi itulah Rehan dia


selalu optimis walaupun sudah mepet satu minggu. Sekarang aku dengannya sedang


berjalan di lorong sekolah menuju kelas kami, lalu kami bertemu di depan lobby


jadi sekalian saja jalan bersama menuju kelas.


“Oiya apa kamu tidak ada kejuaraan


taekwondo lagi?” tanya Rehan.


“Belum ada, aku belum mendapat info


tentang kejuaraan dari pelatihku,” jawabku.


“Tapi apa latihan mu masih berlanjut?”


tanyanya.


“Kalau soal latihan masih tetap, namun


soal kejuaraan aku belum mendapat info.”


Kapan yaa kejuaraan lagi? Aku sudah


menunggu untuk datang kejuaraan dan aku sudah siap untuk bertempur kembali.


Seharusnya tidak lama lagi akan ada kejuaraan, walaupun aku belum tau kapan,


aku harus tetap latihan untuk melatih kesiapanku lagi.


jalan berdua bersama Safira, pasti dia terkejut saat mendengarnya.


“Hey Rehan apa kau tau, semalam aku


jalan berdua di alun-alun bersama Safira, dan kau tau yang lebih seru, aku


mengantarkannya pulang ke rumahnya, sekarang aku tau di mana alamat rumah


Safira,” ujarku dengan senang.


“Serius? Kau berhasil mendekatinya? Padahal


dia orang yang susah di ajak berbicara apalagi dengan seorang lelaki, bagaimana


kau bisa mengajaknya jalan?” tanya Rehan penasaran.


“Saat pulang sekolah aku bertemu


dengannya di dekat gerbang sekolah, aku ingat bahwa malam itu aku tidak ada


jadwal latihan, lalu aku menghampirinya dan mengajaknya untuk pergi jalan ke


alun-alun, yaa memang awalnya sedikit sulit untuk mengajaknya tapi pada


akhirnya aku berhasil mengajaknya,” kataku.


“Semalam aku hanya belajar programing,


aku merasa tidak ada waktu untuk banyak bermain, aku harus bisa memenangkan


kompetisi itu dengan usahaku sendiri. Kau tau, jika seseorang berhasil menjadi


juara dengan usaha keras nya sendiri maka akan ada rasa bangga terhadap diri


sendiri dan dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri,” kata Rehan.


“Iyaa, aku pun merasakan hal itu, saat


aku berhasil menjadi juara satu kejuaraan taekwondo tingkat Kabupaten, aku


merasa sangat bangga terhadap diriku sendiri dan aku merasa sangat percaya


diri. Padahal baru tingkat Kabupaten,” kataku.


“Hmm, tapi kau hebat bisa mendekati

__ADS_1


Safira. Kalau tidak salah pernah ada lelaki dari kelas sebelahnya mencoba untuk


mendekatinya, namun yang kau tau Safira adalah orang yang selalu ingin sendiri


dan hampir tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya” ujar Rehan.


“Tapi saat kau sudah kenal dengannya,


dia tidak seperti apa yang dibicarakan orang-orang, menurutku dia orang yang


baik,” kataku.


“Hmm, aku mengerti,” ujar Rehan.


Kami ngobrol sambil berjalan menuju


kelas kami, dan saat kami sampai di depan kelas lalu ingin masuk ke dalam tiba-tiba


ada Putri yang jalan keluar, tetapi pandangan nya mengarah ke belakang dan


tidak melihat ke depannya, alhasil dia menabrakku.


“Em, Angga aku minta maaf. Aku sedang


buru-buru pergi ke wali kelas di ruang guru untuk memberikan surat izin ini


kepadanya,” ujar Putri dengan tergesa-gesa.


Surat izin? Apa Putri hari ini mau izin?


Tumben sekali Putri hari ini mau izin, biasanya dia jarang sekali yang namanya


izin, apalagi dengan keadaan tergesa-gesa seperti ini. Mungkin ada sesuatu hal


yang penting sampai-sampai Putri harus izin hari ini.


Tapi tunggu dulu, aku melihat sekilas ke


dalam. Tas putri ada di mejanya dan tersusun dengan rapi, jika dia mempunyai


surat untuk izin kenapa dia tidak langsung berikan saja ke wali kelas di ruang


guru, kenapa harus meletakkan tas dulu di kelas.


Aku jadi penasaran, kalau begitu aku ingin


memastikannya saja.


“Surat izin? Hari ini kau mau izin


kenapa Put?” tanyaku karena bingung.


“Tidak, aku tidak sedang ingin izin,”


jawabnya.


“Lalu surat itu?”


“Ini surat dari Melani, hari ini dia


tidak masuk izin karena sakit. Dia demam tinggi saat pagi tadi sekali, lalu


beberapa saat kemudian ada supirnya Melani datang ke kelas untuk mengantarkan


surat ini, dan menitipkan surat ini,” katanya.


“Kalau begitu aku mau langsung berikan


ini ke wali kelas, permisi,” sambung Putri.


Jadi hari ini Melani sakit, berarti meja


di depan ku kosong. Biasanya dia selalu menengok ke belakang dan memintaku


membantu menjawab soal-soal terlebih soal matematika, kenapa aku seperti merasa


kesepian ya, dia kan bukan siapa-siapa aku. Tapi dia tetap saja temanku.


“Melani sakit? Hmm aku tidak bisa


melihat nya dong, kenapa yang sakit harus Melani, kenapa tidak orang yang di


samping ku saja yang sakit, kan itu terdengar sangat bagus,” ejek Rehan dengan


wajah menjengkelkan.


“Hah?!”


“Tidak, aku hanya bercanda. Jangan di


masukan ke hati yaa HAHAHA,” ujar Rehan sambil berjalan dan tertawa.


“Apa bokong dia ingin aku tendang?!”


kataku dalam hati dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2