
*
Sang wanita berusaha mengungkapkan perasaannya ke sang pria, namun
hati kecilnya berkata “Ini belum saatnya memberitahu rasa cintamu” karena
hatinya seolah memerintahkannya untuk tidak menyatakan cintanya, dan ia terus
menahan rasa cinta itu.
Dan sang pria pada akhirnya mempunyai pacar, sang wanita terkejut
dengan berita yang ia dengar. “Kenapa bisa begini” kata hati kecilnya. “Seandainya
aku berkata lebih dulu kepadanya, mungkin aku sudah menjadi miliknya”. Dia
selalu menyesali akan dirinya sendiri, dia merasa bahwa dirinya telat
mengungkapkan perasaan nya kepada sang pria.
*
“Jeni apa kau tau cerita yang barusan kau baca itu, cerita itu
sama persis seperti kondisi ku sekarang ini,” kataku.
“…,” Jeni yang hanya terdiam tidak berbicara sedikit pun.
“Apa menurutmu aku sama dengan karakter wanita dalam cerita itu?”
tanyaku.
Jeni mengarahkan pandangannya ke arah jendela dan berkata
kepadaku.
“Tidak menurutku.”
“Kenapa tidak? Bukankah sama persis,” sahutku.
“Yang ku kenal nona adalah wanita yang sangat kuat, dia tidak
mudah goyah hanya karena ini, dia orang yang sangat kuat menurutku,” kata Jeni.
“Kenapa kau selalu bisa seyakin itu? Pada saat aku menanyakan
tentang gantungan kau pun berkata padaku dan yakin dengan ucapan mu, apa yang
membuatmu yakin Jeni?” tanyaku.
“Aku hanya mengikuti apa kata hatiku saja, dan aku selalu untuk
mencoba berfikir positif, oleh karena itu aku yakin dan percaya dengan apa yang
aku ucapkan.”
“Hmm, jadi begitu.”
Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, dan dia
berkata dari luar pintu.
“Nona, bubur anda sudah siap,” katanya.
Ternyata itu adalah koki yang datang untuk mengantarkan makanan
untukku, lalu Jeni membukakan pintu untuknya dan mengambil bubur yang di bawa
oleh koki.
“Ini adalah bubur yang aku buat khusus untuk nona Melani agar
cepat sembuh,” kata kokiku.
“Baiklah terima kasih, sisanya biar aku yang urus,” kata Jeni.
“Baiklah.”
Jeni
sekarang menjadi perawat untukku selama aku sakit, dia menyuapiku makan dan
membantuku untuk meminum obat, dan juga dia menemani ku istirahat agar aku
cepat lekas sembuh. Mungkin lain kali akan ku balas dengan hal lain.
***
“Kau bagaimana soal kompetisi programing
mu?” tanyaku kepada Rehan.
“Aku ikut kompetisi itu, dan aku masih
punya waktu 1 minggu sebelum kompetisi itu di mulai,” jawabnya.
__ADS_1
“Lalu kesiapanmu?” tanyaku lagi.
“Sudah 80%.”
80%? Memangnya cukup? Waktu seminggu
bukannya sudah dekat. Yaa walaupun aku tidak mengerti soal programing tapi
tetap saja aku sebagai temannya menanyakan kesiapannya sebelum kompetisi itu di
mulai.
“Apa 80% itu cukup untuk waktu
seminggu?”
“Akan ku usahakan.”
Hadeuh dia ini, tapi itulah Rehan dia
selalu optimis walaupun sudah mepet satu minggu. Sekarang aku dengannya sedang
berjalan di lorong sekolah menuju kelas kami, lalu kami bertemu di depan lobby
jadi sekalian saja jalan bersama menuju kelas.
“Oiya apa kamu tidak ada kejuaraan
taekwondo lagi?” tanya Rehan.
“Belum ada, aku belum mendapat info
tentang kejuaraan dari pelatihku,” jawabku.
“Tapi apa latihan mu masih berlanjut?”
tanyanya.
“Kalau soal latihan masih tetap, namun
soal kejuaraan aku belum mendapat info.”
Kapan yaa kejuaraan lagi? Aku sudah
menunggu untuk datang kejuaraan dan aku sudah siap untuk bertempur kembali.
Seharusnya tidak lama lagi akan ada kejuaraan, walaupun aku belum tau kapan,
aku harus tetap latihan untuk melatih kesiapanku lagi.
jalan berdua bersama Safira, pasti dia terkejut saat mendengarnya.
“Hey Rehan apa kau tau, semalam aku
jalan berdua di alun-alun bersama Safira, dan kau tau yang lebih seru, aku
mengantarkannya pulang ke rumahnya, sekarang aku tau di mana alamat rumah
Safira,” ujarku dengan senang.
“Serius? Kau berhasil mendekatinya? Padahal
dia orang yang susah di ajak berbicara apalagi dengan seorang lelaki, bagaimana
kau bisa mengajaknya jalan?” tanya Rehan penasaran.
“Saat pulang sekolah aku bertemu
dengannya di dekat gerbang sekolah, aku ingat bahwa malam itu aku tidak ada
jadwal latihan, lalu aku menghampirinya dan mengajaknya untuk pergi jalan ke
alun-alun, yaa memang awalnya sedikit sulit untuk mengajaknya tapi pada
akhirnya aku berhasil mengajaknya,” kataku.
“Semalam aku hanya belajar programing,
aku merasa tidak ada waktu untuk banyak bermain, aku harus bisa memenangkan
kompetisi itu dengan usahaku sendiri. Kau tau, jika seseorang berhasil menjadi
juara dengan usaha keras nya sendiri maka akan ada rasa bangga terhadap diri
sendiri dan dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri,” kata Rehan.
“Iyaa, aku pun merasakan hal itu, saat
aku berhasil menjadi juara satu kejuaraan taekwondo tingkat Kabupaten, aku
merasa sangat bangga terhadap diriku sendiri dan aku merasa sangat percaya
diri. Padahal baru tingkat Kabupaten,” kataku.
“Hmm, tapi kau hebat bisa mendekati
__ADS_1
Safira. Kalau tidak salah pernah ada lelaki dari kelas sebelahnya mencoba untuk
mendekatinya, namun yang kau tau Safira adalah orang yang selalu ingin sendiri
dan hampir tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitarnya” ujar Rehan.
“Tapi saat kau sudah kenal dengannya,
dia tidak seperti apa yang dibicarakan orang-orang, menurutku dia orang yang
baik,” kataku.
“Hmm, aku mengerti,” ujar Rehan.
Kami ngobrol sambil berjalan menuju
kelas kami, dan saat kami sampai di depan kelas lalu ingin masuk ke dalam tiba-tiba
ada Putri yang jalan keluar, tetapi pandangan nya mengarah ke belakang dan
tidak melihat ke depannya, alhasil dia menabrakku.
“Em, Angga aku minta maaf. Aku sedang
buru-buru pergi ke wali kelas di ruang guru untuk memberikan surat izin ini
kepadanya,” ujar Putri dengan tergesa-gesa.
Surat izin? Apa Putri hari ini mau izin?
Tumben sekali Putri hari ini mau izin, biasanya dia jarang sekali yang namanya
izin, apalagi dengan keadaan tergesa-gesa seperti ini. Mungkin ada sesuatu hal
yang penting sampai-sampai Putri harus izin hari ini.
Tapi tunggu dulu, aku melihat sekilas ke
dalam. Tas putri ada di mejanya dan tersusun dengan rapi, jika dia mempunyai
surat untuk izin kenapa dia tidak langsung berikan saja ke wali kelas di ruang
guru, kenapa harus meletakkan tas dulu di kelas.
Aku jadi penasaran, kalau begitu aku ingin
memastikannya saja.
“Surat izin? Hari ini kau mau izin
kenapa Put?” tanyaku karena bingung.
“Tidak, aku tidak sedang ingin izin,”
jawabnya.
“Lalu surat itu?”
“Ini surat dari Melani, hari ini dia
tidak masuk izin karena sakit. Dia demam tinggi saat pagi tadi sekali, lalu
beberapa saat kemudian ada supirnya Melani datang ke kelas untuk mengantarkan
surat ini, dan menitipkan surat ini,” katanya.
“Kalau begitu aku mau langsung berikan
ini ke wali kelas, permisi,” sambung Putri.
Jadi hari ini Melani sakit, berarti meja
di depan ku kosong. Biasanya dia selalu menengok ke belakang dan memintaku
membantu menjawab soal-soal terlebih soal matematika, kenapa aku seperti merasa
kesepian ya, dia kan bukan siapa-siapa aku. Tapi dia tetap saja temanku.
“Melani sakit? Hmm aku tidak bisa
melihat nya dong, kenapa yang sakit harus Melani, kenapa tidak orang yang di
samping ku saja yang sakit, kan itu terdengar sangat bagus,” ejek Rehan dengan
wajah menjengkelkan.
“Hah?!”
“Tidak, aku hanya bercanda. Jangan di
masukan ke hati yaa HAHAHA,” ujar Rehan sambil berjalan dan tertawa.
“Apa bokong dia ingin aku tendang?!”
kataku dalam hati dengan kesal.
__ADS_1