
Pulang Latihan
Akhirnya aku
bisa istirahat dengan tenang, aku harus menjadi juara di kejuaraan kali ini.
tidak akan kubiarkan Rehan mendapat juara 1 begitu saja, aku juga akan mendapat
juara 1 di kejuaraan ini. Lihat saja nanti.
“Akhirnya kamu
di izinkan untuk ikut kejuaraan, Angga,” kata Melani dengan wajah yang senang.
“Mm…dengan
ini aku bisa membalas juara satu Rehan,” kataku dengan mengepalkan tangan
kananku dan mengangkatnya setara dada.
“Mm…,” Melani
yang menganggukkan kepalanya dengan wajah senang penuh senyum.
Aku tidak
akan menyerah begitu saja, Rehan. Liat nanti saat di terakhir aku akan bisa
mempertahankan Safira dengan menjadi juara 1, kau juga harusnya bersiap dengan
hal itu, Rehan. Karena aku tidak akan menyerah.
“Apa kita
akan langsung pulang?” tanyaku.
“Oiya aku ada
tempat yang ingin aku kunjungi yaitu Cafe Laboon di dekat jalan raya depan,
bagaimana kalau kita ke sana? Aku penasaran dengan tempatnya,” ujar Melani
dengan semangat.
Cafe Laboon
yaa, itu Cafe milik ibunya Safira. Apa Melani tidak pernah ke sana sama sekali?
Kalau iya tidak masalah bagiku untuk menemaninya ke Cafe Laboon, dia juga sudah
menemaniku latihan. Sesekali kurasa tidak masalah.
__ADS_1
“Baiklah, ayuk
kita kesana.”
“Iyaa,”
Melani dengan semangatnya.
Cafe Laboon
“Wah ternyata
tempatnya bagus juga yaa,” ujar Melani yang melihat-lihat sekeliling isi Cafe.
Tempat ini
memang bagus, jujur saja aku juga suka dengan tempat ini bila di pakai untuk
berkumpul sepulang sekolah atau mahasiswa dari kampus. Karena tempatnya yang begitu
santai dan membuat relax pikiran.
“Ayo kita
cari tempat duduk,” kataku kepada Melani.
“Mm…ayuk.”
tempat duduk untuk berdua, karena lagi-lagi Jeni tidak mau ikut masuk ke dalam.
Dia bilang katanya ingin tidur di dalam mobil, dia akan menunggu kami sampai
selesai makan-makan di sini. Benar-benar pelayan yang baik hati.
Aku menemukan
tempat duduk untuk berdua, dan lagi tempat duduk yang kudapat menggunakan sofa,
jadi lebih nyaman saat duduk. Pas sekali karena aku habis selesai latihan jadi
ini sungguh cocok denganku.
“Kalau begitu
aku pesan dulu yaa, aku ingin tau apa saja menu di sini,” kata Melani.
Benar juga,
Melani baru pertama kali mengunjungi tempat ini, wajar jika dia ingin melihat
beberapa menu di Cafe ini. Namun tidak perlu khawatir karena menu makanan dan
__ADS_1
minuman di sini benar-benar membuat lidah di manjakan.
“Iyaa pesan
saja.”
Melani
melambaikan tangannya ke arah pelayan yang berada di meja pelayan untuk
memanggilnya datang ke sini. Satu pelayan wanita datang menghampiri kami, dengan
berpakaian beda dari pelayan yang lain. Dia mengenakan baju bebas, sedangkan
pelayan yang lain mengenakan seragam khusus pelayan Cafe Laboon.
Saat pelayan
itu mendekati kami, dia berkata. “Iya nona dan tuan, mau pesan apa?” katanya
dengan sangat sopan. Pada saat itu pandangan ku dan juga Melani sedang
menghadap ke arah luar jendela, karena tempat duduk kami berada persis di
samping jendela.
Karena tempat
duduk di dekat jendela itu salah satu pilihan terbaik saat di restauran atau
tempat makan umum. Karena kita bisa melihat ke luar jendela, melihat mobil melintas
dan orang yang sedang berjalan di trotoar.
Apalagi di
padukan dengan suasana yang sudah malam, banyak lampu-lampu di luar yang
menyala. Yang membuat jalanan malam menjadi sangat indah, dan suara mobil
melintas terkadang terdengar me-relax otak, itu menurutku.
Setelah
pelayan itu menanyakan pesanan yang akan Melani pesan, aku dan juga Melani
memalingkan pandangan dari jendela dan menghadap ke pelayan itu. Aku dan Melani
secara bersamaan merasa sangat kaget dengan pelayan ini, dia ini.
“Safira?!”
__ADS_1