Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 30


__ADS_3

Pulang Latihan


Akhirnya aku


bisa istirahat dengan tenang, aku harus menjadi juara di kejuaraan kali ini.


tidak akan kubiarkan Rehan mendapat juara 1 begitu saja, aku juga akan mendapat


juara 1 di kejuaraan ini. Lihat saja nanti.


“Akhirnya kamu


di izinkan untuk ikut kejuaraan, Angga,” kata Melani dengan wajah yang senang.


“Mm…dengan


ini aku bisa membalas juara satu Rehan,” kataku dengan mengepalkan tangan


kananku dan mengangkatnya setara dada.


“Mm…,” Melani


yang menganggukkan kepalanya dengan wajah senang penuh senyum.


Aku tidak


akan menyerah begitu saja, Rehan. Liat nanti saat di terakhir aku akan bisa


mempertahankan Safira dengan menjadi juara 1, kau juga harusnya bersiap dengan


hal itu, Rehan. Karena aku tidak akan menyerah.


“Apa kita


akan langsung pulang?” tanyaku.


“Oiya aku ada


tempat yang ingin aku kunjungi yaitu Cafe Laboon di dekat jalan raya depan,


bagaimana kalau kita ke sana? Aku penasaran dengan tempatnya,” ujar Melani


dengan semangat.


Cafe Laboon


yaa, itu Cafe milik ibunya Safira. Apa Melani tidak pernah ke sana sama sekali?


Kalau iya tidak masalah bagiku untuk menemaninya ke Cafe Laboon, dia juga sudah


menemaniku latihan. Sesekali kurasa tidak masalah.

__ADS_1


“Baiklah, ayuk


kita kesana.”


“Iyaa,”


Melani dengan semangatnya.


Cafe Laboon


“Wah ternyata


tempatnya bagus juga yaa,” ujar Melani yang melihat-lihat sekeliling isi Cafe.


Tempat ini


memang bagus, jujur saja aku juga suka dengan tempat ini bila di pakai untuk


berkumpul sepulang sekolah atau mahasiswa dari kampus. Karena tempatnya yang begitu


santai dan membuat relax pikiran.


“Ayo kita


cari tempat duduk,” kataku kepada Melani.


“Mm…ayuk.”


tempat duduk untuk berdua, karena lagi-lagi Jeni tidak mau ikut masuk ke dalam.


Dia bilang katanya ingin tidur di dalam mobil, dia akan menunggu kami sampai


selesai makan-makan di sini. Benar-benar pelayan yang baik hati.


Aku menemukan


tempat duduk untuk berdua, dan lagi tempat duduk yang kudapat menggunakan sofa,


jadi lebih nyaman saat duduk. Pas sekali karena aku habis selesai latihan jadi


ini sungguh cocok denganku.


“Kalau begitu


aku pesan dulu yaa, aku ingin tau apa saja menu di sini,” kata Melani.


Benar juga,


Melani baru pertama kali mengunjungi tempat ini, wajar jika dia ingin melihat


beberapa menu di Cafe ini. Namun tidak perlu khawatir karena menu makanan dan

__ADS_1


minuman di sini benar-benar membuat lidah di manjakan.


“Iyaa pesan


saja.”


Melani


melambaikan tangannya ke arah pelayan yang berada di meja pelayan untuk


memanggilnya datang ke sini. Satu pelayan wanita datang menghampiri kami, dengan


berpakaian beda dari pelayan yang lain. Dia mengenakan baju bebas, sedangkan


pelayan yang lain mengenakan seragam khusus pelayan Cafe Laboon.


Saat pelayan


itu mendekati kami, dia berkata. “Iya nona dan tuan, mau pesan apa?” katanya


dengan sangat sopan. Pada saat itu pandangan ku dan juga Melani sedang


menghadap ke arah luar jendela, karena tempat duduk kami berada persis di


samping jendela.


Karena tempat


duduk di dekat jendela itu salah satu pilihan terbaik saat di restauran atau


tempat makan umum. Karena kita bisa melihat ke luar jendela, melihat mobil melintas


dan orang yang sedang berjalan di trotoar.


Apalagi di


padukan dengan suasana yang sudah malam, banyak lampu-lampu di luar yang


menyala. Yang membuat jalanan malam menjadi sangat indah, dan suara mobil


melintas terkadang terdengar me-relax otak, itu menurutku.


Setelah


pelayan itu menanyakan pesanan yang akan Melani pesan, aku dan juga Melani


memalingkan pandangan dari jendela dan menghadap ke pelayan itu. Aku dan Melani


secara bersamaan merasa sangat kaget dengan pelayan ini, dia ini.


“Safira?!”

__ADS_1


__ADS_2