Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 11


__ADS_3

Melani


***


Aku berlari menjauh menuju parkiran, aku


tidak sanggup melihat apa yang tadi aku lihat, aku hanya ingin pulang itu saja.


Saat aku sampai di parkiran, disini begitu sangat sepi dan tidak ada orang,


gelap lagi sunyi.


Di sini aku hanya bisa menangis


sekencang-kencang nya, dan bertanya kepada diriku sendiri, “Kenapa aku menangis


kepada orang yang aku sendiri bukan siapa-siapa nya.” Aku tau itu! Aku tau itu!


Aku tau itu!


Jeni pun datang juga ke parkiran dan


melihat ku.


“Nona,” dengan suara pelan.


“Aku tidak mau melihat yang seperti itu


lagi Jeni, aku tidak sanggup,” kataku sambil menangis sampai air mataku mengalir


terus-menerus.


“Jangan-jangan nona menangis karena


melihat lelaki yang menggenggamtangan seorang perempuan,” ucap Jeni di dalam hatinya.


“Nona, nona memang mengena–” kata Jeni,


lalu langsung di potong oleh ku.


“Angga! Itu Angga!”


Kemudian Jeni mendekatiku dan memeluk


ku, Jeni mencoba membuatku untuk tenang dan mencoba agar aku berhenti menangis.


Aku tidak punya siapa-siapa kecuali Jeni yang menemaniku saat itu, tubuhku

__ADS_1


lemas dan hanya bisa menangis karena melihatnya saat duduk bersama.


Seakan-akan di dunia ini hanya aku yang


mengalami hal yang menyakitkan, aku tau ini adalah egoku yang ingin Angga hanya


untuk ku. Kehidupan ini penuh dengan ego manusia yang mereka inginkan termasuk


diriku ini, tapi aku tidak bisa melawan nya.


Ini juga karena aku tidak bisa


mengatakan perasaan ku lebih dulu, aku hanya mencoba memendam rasa ini dan


berharap Angga yang datang kepada ku secara sendiri nya. Keberuntungan tidak


selama nya berada di pihak kita dan saat keberuntungan itu tidak datang maka


yang datang hanya kekalahan.


Kemudian Jeni membantu ku berdiri dan


menuntunku ke mobil untuk segera pulang.


“Ayuk nona mari kita pulang,” ajak Jeni


***


Akhirnya setelah selesai kami di alun-alun,


aku dan Safira pulang dan yang lebih menyenangkan adalah aku pulang bersama nya


menggunakan motor yang aku bawa saat perjalanan ke sini, akhirnya aku bisa


lebih dekat dengannya.


“Kau membawa helm dua?” katanya sambil


melihat dua helm yang ada di motorku.


“Yaa memang ada dua, aku sudah


merencanakannya dari rumah,” ujarku.


“Dasar tukang modus,” katanya dengan


sedikit senyum di mulutnya.

__ADS_1


“Tapi aku bisa merasakan rasa tenang di


hatimu itu,” kataku.


Dia hanya membalasnya dengan senyum dan


bilang kepada ku.


“Cepat! Apa kau mau di tegur oleh ibuku


karena pulang yang terlalu larut?!” ancamnya dengan bercanda.


“Kalau begitu aku bilang ke ibumu, ‘anak


ibu pasti saya jaga dengan segenap hati,’” balasku.


“Hmm tukang modus,” dengan mulut yang


tersenyum.


Kamipun pulang bersama dengan menaiki


motor, berdua menaiki motor di malam hari sangat menyenangkan. Suasana lalu


lintas malam, dan juga dingin nya angin malam yang membuat tubuhku merinding.


Tapi itu bukan menjadi masalah untukku.


Kami sedikit bercanda-canda di atas motor,


yaa aku tau itu memang berbahaya. Dan ada yang bikin aku takut saat itu, Safira


mulai mengantuk lalu aku menyuruhnya untuk memelukku sekuat-kuatnya agar tidak


terjatuh, dan aku memegang tangan nya agar memastikan dia tidak jatuh.


Lalu saat aku sudah dekat dengan


rumahnya, aku membangunkannya. Dan kami berpisah malam ini di depan rumahnya


dan saling sapa perpisahan.


“Terima kasih yaa,” katanya dengan wajah


tersenyum tulus.


“Iyaa sama-sama, sampai jumpa besok di

__ADS_1


sekolah,” kataku, lalu pergi meninggalkannya.


__ADS_2