
Melani
***
Aku berlari menjauh menuju parkiran, aku
tidak sanggup melihat apa yang tadi aku lihat, aku hanya ingin pulang itu saja.
Saat aku sampai di parkiran, disini begitu sangat sepi dan tidak ada orang,
gelap lagi sunyi.
Di sini aku hanya bisa menangis
sekencang-kencang nya, dan bertanya kepada diriku sendiri, “Kenapa aku menangis
kepada orang yang aku sendiri bukan siapa-siapa nya.” Aku tau itu! Aku tau itu!
Aku tau itu!
Jeni pun datang juga ke parkiran dan
melihat ku.
“Nona,” dengan suara pelan.
“Aku tidak mau melihat yang seperti itu
lagi Jeni, aku tidak sanggup,” kataku sambil menangis sampai air mataku mengalir
terus-menerus.
“Jangan-jangan nona menangis karena
melihat lelaki yang menggenggamtangan seorang perempuan,” ucap Jeni di dalam hatinya.
“Nona, nona memang mengena–” kata Jeni,
lalu langsung di potong oleh ku.
“Angga! Itu Angga!”
Kemudian Jeni mendekatiku dan memeluk
ku, Jeni mencoba membuatku untuk tenang dan mencoba agar aku berhenti menangis.
Aku tidak punya siapa-siapa kecuali Jeni yang menemaniku saat itu, tubuhku
__ADS_1
lemas dan hanya bisa menangis karena melihatnya saat duduk bersama.
Seakan-akan di dunia ini hanya aku yang
mengalami hal yang menyakitkan, aku tau ini adalah egoku yang ingin Angga hanya
untuk ku. Kehidupan ini penuh dengan ego manusia yang mereka inginkan termasuk
diriku ini, tapi aku tidak bisa melawan nya.
Ini juga karena aku tidak bisa
mengatakan perasaan ku lebih dulu, aku hanya mencoba memendam rasa ini dan
berharap Angga yang datang kepada ku secara sendiri nya. Keberuntungan tidak
selama nya berada di pihak kita dan saat keberuntungan itu tidak datang maka
yang datang hanya kekalahan.
Kemudian Jeni membantu ku berdiri dan
menuntunku ke mobil untuk segera pulang.
“Ayuk nona mari kita pulang,” ajak Jeni
***
Akhirnya setelah selesai kami di alun-alun,
aku dan Safira pulang dan yang lebih menyenangkan adalah aku pulang bersama nya
menggunakan motor yang aku bawa saat perjalanan ke sini, akhirnya aku bisa
lebih dekat dengannya.
“Kau membawa helm dua?” katanya sambil
melihat dua helm yang ada di motorku.
“Yaa memang ada dua, aku sudah
merencanakannya dari rumah,” ujarku.
“Dasar tukang modus,” katanya dengan
sedikit senyum di mulutnya.
__ADS_1
“Tapi aku bisa merasakan rasa tenang di
hatimu itu,” kataku.
Dia hanya membalasnya dengan senyum dan
bilang kepada ku.
“Cepat! Apa kau mau di tegur oleh ibuku
karena pulang yang terlalu larut?!” ancamnya dengan bercanda.
“Kalau begitu aku bilang ke ibumu, ‘anak
ibu pasti saya jaga dengan segenap hati,’” balasku.
“Hmm tukang modus,” dengan mulut yang
tersenyum.
Kamipun pulang bersama dengan menaiki
motor, berdua menaiki motor di malam hari sangat menyenangkan. Suasana lalu
lintas malam, dan juga dingin nya angin malam yang membuat tubuhku merinding.
Tapi itu bukan menjadi masalah untukku.
Kami sedikit bercanda-canda di atas motor,
yaa aku tau itu memang berbahaya. Dan ada yang bikin aku takut saat itu, Safira
mulai mengantuk lalu aku menyuruhnya untuk memelukku sekuat-kuatnya agar tidak
terjatuh, dan aku memegang tangan nya agar memastikan dia tidak jatuh.
Lalu saat aku sudah dekat dengan
rumahnya, aku membangunkannya. Dan kami berpisah malam ini di depan rumahnya
dan saling sapa perpisahan.
“Terima kasih yaa,” katanya dengan wajah
tersenyum tulus.
“Iyaa sama-sama, sampai jumpa besok di
__ADS_1
sekolah,” kataku, lalu pergi meninggalkannya.