
Melani
***
Angga
tiba-tiba berlari dari kelas, sepertinya dia berlari menuju taman sekolah. Tidak
salah lagi. Aku harus mengikutinya ke sana, tidak akan kubiarkan Angga sendiri.
“Putri aku pergi juga yaa, aku ingin mengikuti Angga. Sampai jumpa.”
“Ehh?” Putri
yang bingung.
Setelah pamit
singkat dengan Putri, aku langsung pergi untuk menyusul Angga. Aku merasa ini
tidak akan baik-baik saja, aku harus terus menemani Angga. Aku tidak akan
membiarkannya sendiri seperti itu, aku harus selalu ada untuknya.
Larinya Angga
cepat sekali, sulit sekali bagiku untuk mengejarnya atau menyusulnya.
Seolah-olah larinya seperti sedang mengejar sesuatu yang amat sangat penting.
Kalau begitu aku juga harus lari lebih cepat untuk mencapai sesuatu yang
penting bagiku.
“Angga
tunggu!” teriakku yang memanggil Angga.
Aku berlari
di lorong sekolah, dan banyak sekali yang melihat ke arahku dan juga Angga yang
sedang berlari begitu cepat. Namun aku dan juga Angga tidak mempedulikan mereka
yang melihat kami sedang berlari terburu-buru.
Setelah aku
dan Angga berlari menuju taman, kamipun sampai di taman sekolah. Ternyata banyak
anak kelas kami yang sedang melihat Rehan dan juga Safira yang berada di
tengah-tengah taman. Mereka berdua sedang berdiri saling berhadapan.
Angga
melihatnya dari belakang kerumunan orang, dia melihatnya begitu sangat serius.
Tatapan dan penglihatannya tertuju kepada Safira dan juga Rehan. Mereka seperti
pusat perhatian, karena guru pagi-pagi gini belum banyak yang datang. Wajar
saja jika di sini sangat ramai dan jarang guru.
Rehan meraih
tangannya Safira dengan perlahan, kemudian mengangkatnya setara dengan dada.
Rehan berkata kepada Safira. “Safira maukah kau menjadi pacarku?” kata Rehan
yang menembak Safira secara langsung di depan murid sekolah.
Wajah Safira
begitu merah saat mendengar ucapan Rehan. Suasananya sangat canggung, tapi aku
tidak tau bagaimana jawaban Safira terhadap perasaan Rehan kepadanya. Sementara
itu Angga sangat terkejut sesaat begitu Rehan menyatakan perasaannya kepada
Safira. Angga hanya terdiam dengan tatapan kosong.
“Angga?”
kataku dengan suara pelan, sambil mengulurkan tanganku seperti ingin meraihnya.
Dia tidak
menjawab sepatah katapun, pandangan matanya hanya tertuju ke arah mereka
berdua. Aku tau ini sangat menyakitkan. Tapi Angga, kamu bukanlah orang yang
mudah menyerah hanya karena hal seperti ini kan? Kau itu orang yang kuat dan
juga hebat. Karena itulah aku mengagumi dirimu.
Safira yang
tersipu malu dengan suasananya, di lihat oleh orang banyak. Dia terlihat senang
saat Rehan menembaknya langsung seperti itu, mungkin bagi dia itu sangat romantis.
Safirapun menjawab tawaran Rehan.
“Iyaa aku
mau,” jawab Safira dengan wajah merah dan senang.
Setelah Angga
mendengar jawaban Safira terhadap perasaan Rehan, diapun langsung berlari
menjauh dari kerumunan. Dia lari begitu cepat, lari menjauh dengan perasaan
yang sangat menyakitkan. Air matanya mulai keluar saat berlari, dia berlari
menuju suatu tempat yang di mana orang lain tidak bisa melihatnya untuk
menangis.
“Angga!” sahutku
melihat Angga yang berlari menjauh.
Hatinya Angga
sepertinya sangat kacau, aku harus mengikutinya. Angga kamu tidak boleh
membebani dirimu sendiri, aku akan selalu ada untukmu. Kumohon berbagi rasa
sakitlah denganku, aku akan selalu menerima rasa sakit itu. Setelah aku
mengikutinya ternyata dia berlari menuju tempat parkir, tempat di mana orang
lain tidak bisa melihatnya untuk menangis.
Angga
menangis terisak-isak di dekat pagar pembatas parkiran, dia jongkok dan menaruh
kedua telapak tangannya di tanah sambil menangis. Menangis penuh dengan
penyesalan, penuh rasa sakit, penuh penderitaan. Angga merasa dia kalah cepat
oleh Rehan yang berhasil mendekati Safira.
Aku belum
pernah melihat Angga menangis seperti ini, yang sering aku lihat adalah Angga
yang hebat, tidak mudah menyerah. Dan ketika aku melihatnya seperti ini, hatiku
terasa ikut dalam emosinya. Angga aku paham rasa sakitmu, aku paham
penderitaanmu saat melihat barusan, aku paham perasaanmu sekarang. Karena
__ADS_1
itulah aku di sini untuk menemanimu, selalu.
“Angga,” aku
yang mendekatinya perlahan.
Aku
mendekatinya sampai tepat di hadapannya. Aku bisa melihat wajahnya yang begitu
menderita. Aku menundukkan diri setara dengan Angga, kemudian aku memegang
kepalanya sambil mengelus-elus.
“Angga, kamu
tidak sendirian,” kataku sambil mengelus-elus kepalanya, “jika kamu sedang merasa
sakit, atau apapun itu, aku akan selalu menemanimu, Angga.”
Kemudian aku
memeluknya dalam pelukanku. Aku mencoba menenangkannya yang sedang menangis,
mau itu perempuan atau laki-laki, menangis adalah hak semua orang. Jadi aku
tidak akan melarang Angga untuk menangis.
“Kumohon,
fokuslah dengan apa yang ada di depan, Angga.”
***
Di Rumah
Aku sedang duduk di kamar sendirian,
aku hanya ingin sendiri. Aku masih tidak percaya Rehan bisa-bisanya melakukan
hal barusan sebelum pertandingan kita selesai, aku tidak tau maksud dia apa
sebenarnya. Tapi sekarang aku punya sesuatu di depan, yaitu kejuaraanku.
Aku harus memenangkan kejuaraan ini
demi diriku sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Ini hanya akan menjadi milikku
saja, dan yang akan aku raih hanya untuk diriku, bukan untuk di bagi-bagi. Aku
benar-benar sudah muak dengan ini.
Tempat Latihan
Beberapa hari ke depan sudah berlalu
dan tinggal H-3 sebelum pertandingan di mulai. Aku sedang di tempat latihanku
bersama yang lain, ini adalah hari terakhir latihan sebelum pertandingan.
Seperti biasa sebelum bertanding, pelatih Markus selalu memberi semangat kepada
kami yang akan melaksanakan pertandingan nanti.
“Ingat, 3 hari lagi kita akan
kejuaraan. Saya mau kalian menjaga kondisi tubuh kalian. Jangan melakukan hal
yang bikin tubuh kalian lelah, kalian ada waktu 3 hari untuk istirahat sebelum kejuaraan.
Tapi, tetap setiap pagi kalian harus latihan mandiri di rumah agar otot kalian
tidak kaku. Jangan pernah berfikir seberapa hebat lawan kalian, tapi berpikirlah
sebaik apa kita saat berada di arena. Saya mau kalian mengeluarkan semua yang
telah kalian latih, jangan pernah berfikir kalah, tanamkan di otak kalian untuk
selalu menang. Karena itu juga bisa mempengaruhi psikologi kalian. Saya mau
kalian melakukan yang terbaik besok di pertandingan, kalian boleh takut, tapi
semua peserta.
“Paham!” jawab kami serentak.
Kata-kata pelatih adalah yang terhebat,
dia bisa membakar semangat para murid didikannya. Aku harus fokus dengan
kejuaraanku, untuk memperoleh juara pertama dalam kejuaraan ini. Hey Rehan, aku
tidak akan kalah denganmu. Lihat saja nanti saat aku sudah berada di arena.
Setelah itu pelatih menyuruh kami untuk
istirahat sebelum pertandingan di mulai. Karena kondisi tubuh itu termasuk hal
yang sangat penting, jangan sampai saat pertandingan kondisi tubuhku sedang
tidak bagus. Nanti hanya akan menjadi hal yang merepotkan.
“Oy Angga,” sahut Sabin menghampiriku,
“apa kau sudah siap untuk besok di hari pertandingan? Aku harap kau tidak
pulang karena ketakutan.”
“Yang harusnya berkata seperti itu adalah
aku, aku harap kau tidak muntah saat selesai pertandingan. Sama seperti
pertandingan kemarin,” balasku dengan mengingatkan masa lalunya Sabin.
“Cih,” Sabin yang kesal mendengarnya, “pada
saat itu aku sedang tidak dalam kondisi yang baik, jadi aku tidak bisa menahan
rasa mual dalam tubuhku. Tetapi pada saat itu aku mendapat medali emas, sama
sepertimu.”
“Palingan cuman hoki hari itu saja.
Kalau saja sedang tidak hoki, pasti sudah pingsan saat di arena,” kataku.
“Heh,” Sabin yang tersenyum sombong
sampai terlihat giginya, “mari kita liat nanti saat pertandingan besok. Siapa
yang akan menjadi juaranya.”
“Akan ku tunggu.”
Rumah
Aku lebih baik sekarang istirahat,
tetapi tidak untuk full-time. Aku akan tetap latihan yang ringan, agar tidak
menurun hasil latihanku. Dan untuk malam ini, aku ingin istirahat tenang di
sofa depan tv. Seorang lelakipun butuh istirahat.
Saat aku duduk di sofa dan menonton tv,
di sana ada adik perempuanku yaitu Riska, dan juga ibuku. Mereka berdua juga
sedang menonton tv, sedangkan ayah sedang ada di luar, mungkin kumpul bersama
teman bapak-bapaknya.
Di saat aku sedang bersantai di sofa,
adikku yang berada di sampingku berkata kepadaku.
__ADS_1
“Kak,” sahut Riska, “bagaimana
persiapan kejuaraanmu? Apakah semua sudah beres? Atau masih ada yang kurang?”
Riska bertanya.
“Hm?” kataku sambil melirik dan menoleh
sedikit ke arah Riska, “kalau masalah persiapan sudah semua, dari persyaratan
dan latihan. Semua sudah di bereskan, memangnya kenapa?” tanyaku balik.
“Apa kakak yakin menang untuk
pertandingan kali ini?” tanya Riska sambil menoleh sedikit ke arahku, “jangan
sampai ada keraguan di dalam hati kakak, itu cuman menghambat kakak untuk
melangkah.”
Hmm? Dia ini kenapa? Tumben sekali
seperti ini. seakan-akan dia lebih berpengalaman dari padaku, padahal dia
sendiri jarang sekali mengikuti perlombaan. Mau itu akademik maupun non
akademik. Sikap dia seperti pelatih saja.
“Kenapa?” kataku, “apa kamu ragu dengan
kakakmu sendiri, kakak bukan orang yang mudah di kalahkan. Kakak memiliki rival
di team kakak, kami berdua saling memperebutkan perolehan medali terbanyak.
Mana mungkin kakak membiarkan rival kakak menang begitu saja.”
“Kamu sangat percaya diri sekali yaa,
Angga,” sahut ibuku dengan wajah tersenyum, “mau sehebat apapun kita dalam
suatu bidang, tetap saja kita harus berhati-hati. Kamupun harus seperti itu
juga. Jangan sampai rasa paling hebat menyelimuti dirimu.”
Tadi Riska, sekarang Ibu. Mereka berdua
sikapnya kenapa jadi sangat bijak, cara bicaranya benar-benar seperti pelatih.
Tidak, itu bukan masalah bagiku. Aku yakin mereka berdua berkata seperti itu
hanya untuk menyemangatiku agar kejuaraan kali ini aku menang.
“Kamu harus menang yaa,” kata ibuku, “Ibu
pingin kamu menang di kejuaraan kali ini.”
“Aku juga berharap seperti itu dari
kakak,” sahut Riska.
“Iyaa,” kataku mengangguk, “aku tidak
akan kalah di turnamen kali ini, aku pasti akan menang lihat saja nanti.”
Setelah pembicaraan aku, Riska, dan
juga ibu. Dari arah pintu terdengar suara orang masuk. Yang ternyata itu adalah
ayah, yang baru pulang dari luar. Aku berani taruhan pasti dia abis kumpul
bersama bapak-bapak lain di komplek ini.
Ayah datang ke ruang tengah, tempat aku
dan yang lain berada yang sedang bersantai ngobrol dan menonton tv.
“Wah, ternyata Angga sudah pulang,”
kata ayah yang baru saja tiba di ruang tengah, “bagaimana tadi latihannya?
Apakah berat?”
“Sama seperti biasanya, tidak ada yang
berubah,” balasku, “cuman untuk sekarang kami semua di beri waktu untuk
istirahat.”
“Jadi begitu,” kata ayah dengan wajah
yang paham, “tapi, untuk pertandingan kali ini jangan sampai kalah yaa. Kamu
harus menang.”
“Iyaa tenang saja,” balasku dengan
wajah sedikit bingung.
Kenapa semua jadi kompak seperti ini,
menyuruhku untuk menang. Yaa aku juga tau aku harus menang dalam pertandingan
kali ini, tapi aku tidak menyangka mereka bisa berbarengan mengatakan tadi. Apa
ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku? Aku tidak tau.
Setelah kami menghabiskan waktu malam
untuk ngobrol bersama, kami pergi tidur setelahnya. Saat aku di kamar dan
berbaring di kasurku yang sangat nyaman, aku memikirkan soal tadi yang Riska,
ibu, ayah katakan. Kenapa mereka bisa sekompak ini.
Biasanya tidak seperti tadi, karena itu
aku bingung kenapa mereka tiba-tiba memintaku untuk menang. Padahal tanpa di suruhpun
aku juga ingin menang, aku tidak mau kalah dari Rehan. Entah kenapa Rehan
curang pada saat itu, dia main duluan menyatakan perasaannya kepada Safira.
Padahal pertandingan belum selesai.
Saat aku sedang berfikir dan berbaring
di kasur, handphoneku berbunyi yang berada di atas meja belajar. Sepertinya ada
pesan masuk, tapi dari siapa? Aku segera mengambil dan melihat isi pesannya.
Angga, semoga nanti kejuaraan kamu
mendapat juara pertama. Semangat!!!
Ternyata pesan ini dari Melani, hmm
sepertinya dia ingin menyemangatiku. Aku senang ada yang menyemangatiku, lebih
baik aku balas pesan darinya.
Iyaa, terima kasih yaa Melani. Kamu
memang orang yang sangat baik, sekali lagi terima kasih, kataku yang membalas pesan dari Melani.
Setelah itu dia hanya membalas dengan
emot senyum dengan pipi yang merah. Hmm Melani ini memang susah untuk di tebak,
padahal sudah larut malam tapi dia masih belum tidur. Aku sama sekali tidak tau
bagaimana pola tidur perempuan.
Lebih baik sekarang aku pergi tidur.
Aku harus menjaga kesehatanku, jangan sampai saat bertanding nanti tubuhku
__ADS_1
sedang tidak fit. Jika begitu yang ada akan menyusahkan diriku sendiri, aku
harus segera tidur. Baiklah, selamat malam.