Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 32


__ADS_3

Melani


***


Angga


tiba-tiba berlari dari kelas, sepertinya dia berlari menuju taman sekolah. Tidak


salah lagi. Aku harus mengikutinya ke sana, tidak akan kubiarkan Angga sendiri.


“Putri aku pergi juga yaa, aku ingin mengikuti Angga. Sampai jumpa.”


“Ehh?” Putri


yang bingung.


Setelah pamit


singkat dengan Putri, aku langsung pergi untuk menyusul Angga. Aku merasa ini


tidak akan baik-baik saja, aku harus terus menemani Angga. Aku tidak akan


membiarkannya sendiri seperti itu, aku harus selalu ada untuknya.


Larinya Angga


cepat sekali, sulit sekali bagiku untuk mengejarnya atau menyusulnya.


Seolah-olah larinya seperti sedang mengejar sesuatu yang amat sangat penting.


Kalau begitu aku juga harus lari lebih cepat untuk mencapai sesuatu yang


penting bagiku.


“Angga


tunggu!” teriakku yang memanggil Angga.


Aku berlari


di lorong sekolah, dan banyak sekali yang melihat ke arahku dan juga Angga yang


sedang berlari begitu cepat. Namun aku dan juga Angga tidak mempedulikan mereka


yang melihat kami sedang berlari terburu-buru.


Setelah aku


dan Angga berlari menuju taman, kamipun sampai di taman sekolah. Ternyata banyak


anak kelas kami yang sedang melihat Rehan dan juga Safira yang berada di


tengah-tengah taman. Mereka berdua sedang berdiri saling berhadapan.


Angga


melihatnya dari belakang kerumunan orang, dia melihatnya begitu sangat serius.


Tatapan dan penglihatannya tertuju kepada Safira dan juga Rehan. Mereka seperti


pusat perhatian, karena guru pagi-pagi gini belum banyak yang datang. Wajar


saja jika di sini sangat ramai dan jarang guru.


Rehan meraih


tangannya Safira dengan perlahan, kemudian mengangkatnya setara dengan dada.


Rehan berkata kepada Safira. “Safira maukah kau menjadi pacarku?” kata Rehan


yang menembak Safira secara langsung di depan murid sekolah.


Wajah Safira


begitu merah saat mendengar ucapan Rehan. Suasananya sangat canggung, tapi aku


tidak tau bagaimana jawaban Safira terhadap perasaan Rehan kepadanya. Sementara


itu Angga sangat terkejut sesaat begitu Rehan menyatakan perasaannya kepada


Safira. Angga hanya terdiam dengan tatapan kosong.


“Angga?”


kataku dengan suara pelan, sambil mengulurkan tanganku seperti ingin meraihnya.


Dia tidak


menjawab sepatah katapun, pandangan matanya hanya tertuju ke arah mereka


berdua. Aku tau ini sangat menyakitkan. Tapi Angga, kamu bukanlah orang yang


mudah menyerah hanya karena hal seperti ini kan? Kau itu orang yang kuat dan


juga hebat. Karena itulah aku mengagumi dirimu.


Safira yang


tersipu malu dengan suasananya, di lihat oleh orang banyak. Dia terlihat senang


saat Rehan menembaknya langsung seperti itu, mungkin bagi dia itu sangat romantis.


Safirapun menjawab tawaran Rehan.


“Iyaa aku


mau,” jawab Safira dengan wajah merah dan senang.


Setelah Angga


mendengar jawaban Safira terhadap perasaan Rehan, diapun langsung berlari


menjauh dari kerumunan. Dia lari begitu cepat, lari menjauh dengan perasaan


yang sangat menyakitkan. Air matanya mulai keluar saat berlari, dia berlari


menuju suatu tempat yang di mana orang lain tidak bisa melihatnya untuk


menangis.


“Angga!” sahutku


melihat Angga yang berlari menjauh.


Hatinya Angga


sepertinya sangat kacau, aku harus mengikutinya. Angga kamu tidak boleh


membebani dirimu sendiri, aku akan selalu ada untukmu. Kumohon berbagi rasa


sakitlah denganku, aku akan selalu menerima rasa sakit itu. Setelah aku


mengikutinya ternyata dia berlari menuju tempat parkir, tempat di mana orang


lain tidak bisa melihatnya untuk menangis.


Angga


menangis terisak-isak di dekat pagar pembatas parkiran, dia jongkok dan menaruh


kedua telapak tangannya di tanah sambil menangis. Menangis penuh dengan


penyesalan, penuh rasa sakit, penuh penderitaan. Angga merasa dia kalah cepat


oleh Rehan yang berhasil mendekati Safira.


Aku belum


pernah melihat Angga menangis seperti ini, yang sering aku lihat adalah Angga


yang hebat, tidak mudah menyerah. Dan ketika aku melihatnya seperti ini, hatiku


terasa ikut dalam emosinya. Angga aku paham rasa sakitmu, aku paham


penderitaanmu saat melihat barusan, aku paham perasaanmu sekarang. Karena

__ADS_1


itulah aku di sini untuk menemanimu, selalu.


“Angga,” aku


yang mendekatinya perlahan.


Aku


mendekatinya sampai tepat di hadapannya. Aku bisa melihat wajahnya yang begitu


menderita. Aku menundukkan diri setara dengan Angga, kemudian aku memegang


kepalanya sambil mengelus-elus.


“Angga, kamu


tidak sendirian,” kataku sambil mengelus-elus kepalanya, “jika kamu sedang merasa


sakit, atau apapun itu, aku akan selalu menemanimu, Angga.”


Kemudian aku


memeluknya dalam pelukanku. Aku mencoba menenangkannya yang sedang menangis,


mau itu perempuan atau laki-laki, menangis adalah hak semua orang. Jadi aku


tidak akan melarang Angga untuk menangis.


“Kumohon,


fokuslah dengan apa yang ada di depan, Angga.”


***


Di Rumah


Aku sedang duduk di kamar sendirian,


aku hanya ingin sendiri. Aku masih tidak percaya Rehan bisa-bisanya melakukan


hal barusan sebelum pertandingan kita selesai, aku tidak tau maksud dia apa


sebenarnya. Tapi sekarang aku punya sesuatu di depan, yaitu kejuaraanku.


Aku harus memenangkan kejuaraan ini


demi diriku sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Ini hanya akan menjadi milikku


saja, dan yang akan aku raih hanya untuk diriku, bukan untuk di bagi-bagi. Aku


benar-benar sudah muak dengan ini.


Tempat Latihan


Beberapa hari ke depan sudah berlalu


dan tinggal H-3 sebelum pertandingan di mulai. Aku sedang di tempat latihanku


bersama yang lain, ini adalah hari terakhir latihan sebelum pertandingan.


Seperti biasa sebelum bertanding, pelatih Markus selalu memberi semangat kepada


kami yang akan melaksanakan pertandingan nanti.


“Ingat, 3 hari lagi kita akan


kejuaraan. Saya mau kalian menjaga kondisi tubuh kalian. Jangan melakukan hal


yang bikin tubuh kalian lelah, kalian ada waktu 3 hari untuk istirahat sebelum kejuaraan.


Tapi, tetap setiap pagi kalian harus latihan mandiri di rumah agar otot kalian


tidak kaku. Jangan pernah berfikir seberapa hebat lawan kalian, tapi berpikirlah


sebaik apa kita saat berada di arena. Saya mau kalian mengeluarkan semua yang


telah kalian latih, jangan pernah berfikir kalah, tanamkan di otak kalian untuk


selalu menang. Karena itu juga bisa mempengaruhi psikologi kalian. Saya mau


kalian melakukan yang terbaik besok di pertandingan, kalian boleh takut, tapi


semua peserta.


“Paham!” jawab kami serentak.


Kata-kata pelatih adalah yang terhebat,


dia bisa membakar semangat para murid didikannya. Aku harus fokus dengan


kejuaraanku, untuk memperoleh juara pertama dalam kejuaraan ini. Hey Rehan, aku


tidak akan kalah denganmu. Lihat saja nanti saat aku sudah berada di arena.


Setelah itu pelatih menyuruh kami untuk


istirahat sebelum pertandingan di mulai. Karena kondisi tubuh itu termasuk hal


yang sangat penting, jangan sampai saat pertandingan kondisi tubuhku sedang


tidak bagus. Nanti hanya akan menjadi hal yang merepotkan.


“Oy Angga,” sahut Sabin menghampiriku,


“apa kau sudah siap untuk besok di hari pertandingan? Aku harap kau tidak


pulang karena ketakutan.”


“Yang harusnya berkata seperti itu adalah


aku, aku harap kau tidak muntah saat selesai pertandingan. Sama seperti


pertandingan kemarin,” balasku dengan mengingatkan masa lalunya Sabin.


“Cih,” Sabin yang kesal mendengarnya, “pada


saat itu aku sedang tidak dalam kondisi yang baik, jadi aku tidak bisa menahan


rasa mual dalam tubuhku. Tetapi pada saat itu aku mendapat medali emas, sama


sepertimu.”


“Palingan cuman hoki hari itu saja.


Kalau saja sedang tidak hoki, pasti sudah pingsan saat di arena,” kataku.


“Heh,” Sabin yang tersenyum sombong


sampai terlihat giginya, “mari kita liat nanti saat pertandingan besok. Siapa


yang akan menjadi juaranya.”


“Akan ku tunggu.”


Rumah


Aku lebih baik sekarang istirahat,


tetapi tidak untuk full-time. Aku akan tetap latihan yang ringan, agar tidak


menurun hasil latihanku. Dan untuk malam ini, aku ingin istirahat tenang di


sofa depan tv. Seorang lelakipun butuh istirahat.


Saat aku duduk di sofa dan menonton tv,


di sana ada adik perempuanku yaitu Riska, dan juga ibuku. Mereka berdua juga


sedang menonton tv, sedangkan ayah sedang ada di luar, mungkin kumpul bersama


teman bapak-bapaknya.


Di saat aku sedang bersantai di sofa,


adikku yang berada di sampingku berkata kepadaku.

__ADS_1


“Kak,” sahut Riska, “bagaimana


persiapan kejuaraanmu? Apakah semua sudah beres? Atau masih ada yang kurang?”


Riska bertanya.


“Hm?” kataku sambil melirik dan menoleh


sedikit ke arah Riska, “kalau masalah persiapan sudah semua, dari persyaratan


dan latihan. Semua sudah di bereskan, memangnya kenapa?” tanyaku balik.


“Apa kakak yakin menang untuk


pertandingan kali ini?” tanya Riska sambil menoleh sedikit ke arahku, “jangan


sampai ada keraguan di dalam hati kakak, itu cuman menghambat kakak untuk


melangkah.”


Hmm? Dia ini kenapa? Tumben sekali


seperti ini. seakan-akan dia lebih berpengalaman dari padaku, padahal dia


sendiri jarang sekali mengikuti perlombaan. Mau itu akademik maupun non


akademik. Sikap dia seperti pelatih saja.


“Kenapa?” kataku, “apa kamu ragu dengan


kakakmu sendiri, kakak bukan orang yang mudah di kalahkan. Kakak memiliki rival


di team kakak, kami berdua saling memperebutkan perolehan medali terbanyak.


Mana mungkin kakak membiarkan rival kakak menang begitu saja.”


“Kamu sangat percaya diri sekali yaa,


Angga,” sahut ibuku dengan wajah tersenyum, “mau sehebat apapun kita dalam


suatu bidang, tetap saja kita harus berhati-hati. Kamupun harus seperti itu


juga. Jangan sampai rasa paling hebat menyelimuti dirimu.”


Tadi Riska, sekarang Ibu. Mereka berdua


sikapnya kenapa jadi sangat bijak, cara bicaranya benar-benar seperti pelatih.


Tidak, itu bukan masalah bagiku. Aku yakin mereka berdua berkata seperti itu


hanya untuk menyemangatiku agar kejuaraan kali ini aku menang.


“Kamu harus menang yaa,” kata ibuku, “Ibu


pingin kamu menang di kejuaraan kali ini.”


“Aku juga berharap seperti itu dari


kakak,” sahut Riska.


“Iyaa,” kataku mengangguk, “aku tidak


akan kalah di turnamen kali ini, aku pasti akan menang lihat saja nanti.”


Setelah pembicaraan aku, Riska, dan


juga ibu. Dari arah pintu terdengar suara orang masuk. Yang ternyata itu adalah


ayah, yang baru pulang dari luar. Aku berani taruhan pasti dia abis kumpul


bersama bapak-bapak lain di komplek ini.


Ayah datang ke ruang tengah, tempat aku


dan yang lain berada yang sedang bersantai ngobrol dan menonton tv.


“Wah, ternyata Angga sudah pulang,”


kata ayah yang baru saja tiba di ruang tengah, “bagaimana tadi latihannya?


Apakah berat?”


“Sama seperti biasanya, tidak ada yang


berubah,” balasku, “cuman untuk sekarang kami semua di beri waktu untuk


istirahat.”


“Jadi begitu,” kata ayah dengan wajah


yang paham, “tapi, untuk pertandingan kali ini jangan sampai kalah yaa. Kamu


harus menang.”


“Iyaa tenang saja,” balasku dengan


wajah sedikit bingung.


Kenapa semua jadi kompak seperti ini,


menyuruhku untuk menang. Yaa aku juga tau aku harus menang dalam pertandingan


kali ini, tapi aku tidak menyangka mereka bisa berbarengan mengatakan tadi. Apa


ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku? Aku tidak tau.


Setelah kami menghabiskan waktu malam


untuk ngobrol bersama, kami pergi tidur setelahnya. Saat aku di kamar dan


berbaring di kasurku yang sangat nyaman, aku memikirkan soal tadi yang Riska,


ibu, ayah katakan. Kenapa mereka bisa sekompak ini.


Biasanya tidak seperti tadi, karena itu


aku bingung kenapa mereka tiba-tiba memintaku untuk menang. Padahal tanpa di suruhpun


aku juga ingin menang, aku tidak mau kalah dari Rehan. Entah kenapa Rehan


curang pada saat itu, dia main duluan menyatakan perasaannya kepada Safira.


Padahal pertandingan belum selesai.


Saat aku sedang berfikir dan berbaring


di kasur, handphoneku berbunyi yang berada di atas meja belajar. Sepertinya ada


pesan masuk, tapi dari siapa? Aku segera mengambil dan melihat isi pesannya.


Angga, semoga nanti kejuaraan kamu


mendapat juara pertama. Semangat!!!


Ternyata pesan ini dari Melani, hmm


sepertinya dia ingin menyemangatiku. Aku senang ada yang menyemangatiku, lebih


baik aku balas pesan darinya.


Iyaa, terima kasih yaa Melani. Kamu


memang orang yang sangat baik, sekali lagi terima kasih, kataku yang membalas pesan dari Melani.


Setelah itu dia hanya membalas dengan


emot senyum dengan pipi yang merah. Hmm Melani ini memang susah untuk di tebak,


padahal sudah larut malam tapi dia masih belum tidur. Aku sama sekali tidak tau


bagaimana pola tidur perempuan.


Lebih baik sekarang aku pergi tidur.


Aku harus menjaga kesehatanku, jangan sampai saat bertanding nanti tubuhku

__ADS_1


sedang tidak fit. Jika begitu yang ada akan menyusahkan diriku sendiri, aku


harus segera tidur. Baiklah, selamat malam.


__ADS_2