
Di Rumah
Aku benar-benar senang melihat senyum
dari Angga tadi saat di parkiran, senyuman kecil nya masih berbekas sampai aku
di rumah. Wajah ku memerah sambil berjalan menuju kamar, dan sambil
membayangkan hal-hal yang tidak perlu, maksudku bukan pikiran yang menjerumus
kesana.
Di saat yang bersamaan aku berjalan
menuju kamar ku, Jeni melihat ku yang sedang senyum-senyum sendiri dengan pipi
yang memerah. Sepertinya Jeni kebingungan dengan sikapku, dan berfikir bahwa
aku sedang diselimuti sesuatu yang membuatku bahagia.
Karena Jeni penasaran melihat ku, dia
pun mendekati ku dan bertanya langsung.
“Nona kenapa? Sepertinya ada sesuatu
yang membuat nona bahagia,” tanya Jeni penasaran, dengan wajah yang
membingungkan.
“Jadi Jeni penasaran yaa,” kataku, sambil
memegang pundak kanan Jeni dengan tangan kananku dan dengan mata terpejam dan
mulut tersenyum. Jeni jadi semakin bingung dan penasaran dengan apa yang
terjadi.
“Memang nya ada apa nona?” Jeni yang
masih penasaran.
“Apa kau percaya Jeni, aku menulis surat
ucapan semangat kepada Angga, dan dia membaca surat itu dengan wajah yang
tersenyum,” kataku yang senang.
“Nona menulis surat lagi untuk Angga?”
tanya Jeni.
“Iyaa, karena Angga sekarang sedang
mengalami hal yang sulit, jadi aku ingin memberinya ucapan semangat.”
“Maksudnya?” Jeni masih penasaran.
“Jadi dia 2 bulan lagi akan ada
kejuaraan tingkat provinsi, dan 1 bulan sebelum kejuaraan semua persyaratan
harus sudah di serahkan termasuk biaya kejuaraan. Karena Angga sekarang sedang
tidak bagus keuangannya, dan dia sekarang berjualan kue di kelas untuk
mengumpulkan uang untuk biaya kejuaraan. Dan juga selama beberapa minggu ke
depan Angga akan menjalani program latihan rutin selama 5 hari dalam seminggu.
Jadi aku memberikan ucapan semangat kepadanya melalui surat.”
“Lalu dia membacanya?” tanya Jeni.
“Mm…,” kataku, menganggukkan kepala.
“Dan saat dia membaca surat itu, aku melihat senyum pada wajahnya. Itu
membuatku sangat senang saat melihatnya.”
Aku
melihat wajah Jeni yang ikut terlihat senang. Aku jadi ingin melihat Angga saat
latihan, tapi sayangnya aku tidak tau dimana tempat dia latihan. Dengan begitu
aku bisa melihat dengan jelas usahanya Angga yang sedang mencoba melakukan yang
terbaik dalam hidupnya.
Aku menyukainya sejak aku masih kecil,
dan saat aku melihatnya sekarang yang sedang berjuang dalam keadaan apapun
dalam meraih apa yang dia mau, aku begitu bangga terhadapnya, dan terhadap
usahanya. Aku jadi semakin menyukai dan mencintainya, aku tak peduli dia dari
keluarga apa, dengan dia menunjukan sikap terus berjuang tanpa henti seperti
itu, sudah cukup bagiku.
Aku pun pergi dari situ untuk pergi ke
kamar.
__ADS_1
“Aku ke kamar dulu yaa Jeni.”
“Iyaa nona.”
Aku berjalan menuju kamar. Dan saat
sampai aku buka pintu kamar dan masuk lalu menutupnya kembali. Melihat ke arah
jendela yang tirainya terbuka dan angin yang masuk ke dalam, membuat tirai itu
seolah-olah sedang terbang di hembuskan oleh angin. Angin itu pun sampai kepada
ku, dimana aku sedang berdiri.
Aku segera menutup tirai jendela karena
waktu sebentar lagi akan gelap, aku berjalan menuju ke jendela untuk menutupi
tirai yang sedang terbuka. Aku tarik kedua tirai itu dan mempertemukannya di
tengah sehingga menjadi tertutup. Setelah itu aku membalikkan tubuhku ke
belakang, dan aku melihat ada buku Aku
Cinta Kamu yang berada di atas
meja belajar.
Teringat saat mengambil buku itu bersama
dengan Angga ke perpustakaan sekolah, secara tak sengaja buku itu aku temukan
diantara banyak buku di rak. Aku merasa tertarik saat melihat cover buku itu
dan mengambilnya, dan aku membaca sekilas dari buku itu.
Di saat aku pertama kali membuka cover
depan buku itu, aku melihat ada nama Angga di sana. Aku jadi semakin tertarik
dengan buku itu, aku selalu membacanya setiap habis pulang sekolah di kamarku,
duduk manis di kasur dan tidak ada gangguan dari luar maupun dalam.
Aku berjalan menuju meja belajar, untuk
mengambil buku itu dan melanjutkan bacaanku. Aku mengambil buku itu dan
membacanya di atas kasur, duduk manis. Melanjutkan halaman dimana aku terakhir
membacanya, aku berniat untuk menamatkan buku ini. Dan aku masih penasaran
kenapa Angga juga membaca buku seperti ini.
*
perasaannya. Terakhir kali ia mendengar bahwa sang cowok sudah mempunyai pacar,
karena itu dia menahan diri. Dia merasa kalah cepat oleh seseorang yang menjadi
pacar sang cowok sekarang.
Perempuan itu menjalani harinya dengan
rasa sakit, terkadang dia juga melihat sang cowok jalan pulang bersama dengan
pacarnya. Mereka terlihat begitu mesra saat pulang bersama, aku yang hanya bisa
melihatnya dari kejauhan, dan tidak tau harus berbuat apa.
Di sore hari dimana matahari terbenam,
sang perempuan sedang berada di atap sekolah menatap langit yang semakin gelap
dan menyaksikan sunset dengan tenang. Tanpa sengaja entah itu kebetulan atau
tidak, dari belakang pintu ada yang mendekat. Pintu itupun terbuka, dan ada
seseorang yang datang, yang ternyata itu adalah sang cowok bersama pacarnya,
yang juga ingin menikmati sunset dari atas atap sekolah.
“Mm… ternyata ada orang disini, apa kami
boleh disini? Kami juga ingin menikmati sunset dari atap sekolah,” kata sang cowok,
dengan nada lembut.
Perasaan hati sang perempuan bercampur
aduk, dia tidak tau apakah dia harus senang karena tiba-tiba dia di ajak
ngobrol oleh sang cowok untuk pertama kalinya, atau merasa sakit karena sang cowok
ke sini bersama dengan pacarnya, dan menikmati sunset berdua.
“Ahh…tidak, silahkan jika kalian ingin
menikmati sunsetnya juga,” kata sang perempuan, dengan memejamkan mata dan
wajah tersenyum begitu manis.
Dia tersenyum begitu manis, namun ada
sesuatu yang ia sembunyikan jauh di dalam lubuk hatinya, yang tadinya dia ingin
__ADS_1
menenangkan diri dengan melihat sunset. Tetapi hal itu tidak menjadikannya
tenang, karena yang datang adalah mereka, yang sama ingin menikmati sunset.
“Kau jangan tersenyum seperti itu kepada
pacarku, menjijikkan.”
Ucap dari pacar sang cowok, karena tidak
senang melihat sang perempuan tersenyum manis kepada mereka. Padahal sang
perempuan sedang tidak stabil kondisi hatinya, di tambah yang tiba-tiba pacar
sang cowok menghinanya dengan kalimat “menjijikkan”.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud,” kata
sang perempuan sambil menundukkan kepala dan pandangan nya dari mereka.
“Mm…tidak apa-apa, kamu jangan bersikap
seperti itu kepadanya. Kita kan ke sini hanya menikmati sunset, maafkan atas
sikap pacarku.”
Kata sang cowok sambil meminta maaf atas
perilaku pacarnya kepada sang perempuan. Kemudian sang cowok dan pacarnya pergi
ke bagian kanan sejauh 10-meter dari tempat berdirinya sang perempuan. Mereka
berdua menikmati sunset nya, namun sang perempuan tidak tenang saat menikmati
sunset dari atap sekolah.
Sang perempuan hanya bisa menahan diri,
hati, dan sikapnya. Dia berusaha tegar dari apa yang dia rasakan sekarang,
karena dia menikmati sunset bersama kedua orang yang sedang berpacaran, dan
orang itu adalah sang cowok dan juga pacarnya.
*
Air mata ku mengalir dari mataku membasahi kedua pipiku, begitu
menyakitkan bila menjadi sang perempuan di dalam cerita buku ini. Dia tetap
diam saat pacar sang cowok menghinanya, dia hanya menahan rasa sakitnya seorang
diri. Menahan nya seorang diri, adalah cara yang paling menyakitkan.
Di saat aku sedang membaca buku tiba-tiba Jeni datang ke kamarku,
memberi tahuku bahwa makan malam telah di sediakan. Aku tidak menyadari
sekarang sudah jam segini, aku terlalu serius membaca buku ini sampai-sampai
tidak melihat waktu.
“Permisi nona, makan malam sudah siap,” Jeni yang datang ke
kamarku.
“Mm…,” aku mengangguk kan kepala. “Tunggu disana ya Jeni, aku akan
segera pergi ke ruang makan.”
“Baiklah nona.”
Kemudian Jeni pergi meninggalkan kamarku. Namun saat dia pergi
keluar, dia berhenti dan berbalik arah menghadapku kembali dan berkata. “Jangan
sampai lupa waktu yaa, nona.”
Aku yang mendengar ucapan Jeni, dan paham. Jeni sangat
meng-khawatirkan ku, dia benar-benar sangat perhatian terhadapku. Aku membalasnya
dengan senyuman, dan diapun lanjut pergi meninggalkan kamar. Mm…sudah waktunya
makan malam.
Aku melirik ke arah jam dinding yang ternyata sudah pukul 19:00.
Jadi aku sudah membaca buku cukup lama, soalnya aku masih penasaran tentang
kelanjutan dari cerita buku itu. Cuman aku masih ada rasa sedikit penasaran
soal Rehan dan wanita itu, dan lagi Angga juga melihat mereka sedang berduaan
di depan gedung Bahasa.
Semoga Angga baik-baik saja saat melihat itu, tidak membuat dia
menjadi down. Padahal sekarang Angga sedang dalam kondisi tidak bagus. Aku akan
terus mendukungnya dari belakang, dan akan terus mendukungnya selama dia
berjuang di jalan yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri.
***
__ADS_1