Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 20


__ADS_3

Di Rumah


Aku benar-benar senang melihat senyum


dari Angga tadi saat di parkiran, senyuman kecil nya masih berbekas sampai aku


di rumah. Wajah ku memerah sambil berjalan menuju kamar, dan sambil


membayangkan hal-hal yang tidak perlu, maksudku bukan pikiran yang menjerumus


kesana.


Di saat yang bersamaan aku berjalan


menuju kamar ku, Jeni melihat ku yang sedang senyum-senyum sendiri dengan pipi


yang memerah. Sepertinya Jeni kebingungan dengan sikapku, dan berfikir bahwa


aku sedang diselimuti sesuatu yang membuatku bahagia.


Karena Jeni penasaran melihat ku, dia


pun mendekati ku dan bertanya langsung.


“Nona kenapa? Sepertinya ada sesuatu


yang membuat nona bahagia,” tanya Jeni penasaran, dengan wajah yang


membingungkan.


“Jadi Jeni penasaran yaa,” kataku, sambil


memegang pundak kanan Jeni dengan tangan kananku dan dengan mata terpejam dan


mulut tersenyum. Jeni jadi semakin bingung dan penasaran dengan apa yang


terjadi.


“Memang nya ada apa nona?” Jeni yang


masih penasaran.


“Apa kau percaya Jeni, aku menulis surat


ucapan semangat kepada Angga, dan dia membaca surat itu dengan wajah yang


tersenyum,” kataku yang senang.


“Nona menulis surat lagi untuk Angga?”


tanya Jeni.


“Iyaa, karena Angga sekarang sedang


mengalami hal yang sulit, jadi aku ingin memberinya ucapan semangat.”


“Maksudnya?” Jeni masih penasaran.


“Jadi dia 2 bulan lagi akan ada


kejuaraan tingkat provinsi, dan 1 bulan sebelum kejuaraan semua persyaratan


harus sudah di serahkan termasuk biaya kejuaraan. Karena Angga sekarang sedang


tidak bagus keuangannya, dan dia sekarang berjualan kue di kelas untuk


mengumpulkan uang untuk biaya kejuaraan. Dan juga selama beberapa minggu ke


depan Angga akan menjalani program latihan rutin selama 5 hari dalam seminggu.


Jadi aku memberikan ucapan semangat kepadanya melalui surat.”


“Lalu dia membacanya?” tanya Jeni.


“Mm…,” kataku, menganggukkan kepala.


“Dan saat dia membaca surat itu, aku melihat senyum pada wajahnya. Itu


membuatku sangat senang saat melihatnya.”


Aku


melihat wajah Jeni yang ikut terlihat senang. Aku jadi ingin melihat Angga saat


latihan, tapi sayangnya aku tidak tau dimana tempat dia latihan. Dengan begitu


aku bisa melihat dengan jelas usahanya Angga yang sedang mencoba melakukan yang


terbaik dalam hidupnya.


Aku menyukainya sejak aku masih kecil,


dan saat aku melihatnya sekarang yang sedang berjuang dalam keadaan apapun


dalam meraih apa yang dia mau, aku begitu bangga terhadapnya, dan terhadap


usahanya. Aku jadi semakin menyukai dan mencintainya, aku tak peduli dia dari


keluarga apa, dengan dia menunjukan sikap terus berjuang tanpa henti seperti


itu, sudah cukup bagiku.


Aku pun pergi dari situ untuk pergi ke


kamar.

__ADS_1


“Aku ke kamar dulu yaa Jeni.”


“Iyaa nona.”


Aku berjalan menuju kamar. Dan saat


sampai aku buka pintu kamar dan masuk lalu menutupnya kembali. Melihat ke arah


jendela yang tirainya terbuka dan angin yang masuk ke dalam, membuat tirai itu


seolah-olah sedang terbang di hembuskan oleh angin. Angin itu pun sampai kepada


ku, dimana aku sedang berdiri.


Aku segera menutup tirai jendela karena


waktu sebentar lagi akan gelap, aku berjalan menuju ke jendela untuk menutupi


tirai yang sedang terbuka. Aku tarik kedua tirai itu dan mempertemukannya di


tengah sehingga menjadi tertutup. Setelah itu aku membalikkan tubuhku ke


belakang, dan aku melihat ada buku Aku


Cinta Kamu yang berada di atas


meja belajar.


Teringat saat mengambil buku itu bersama


dengan Angga ke perpustakaan sekolah, secara tak sengaja buku itu aku temukan


diantara banyak buku di rak. Aku merasa tertarik saat melihat cover buku itu


dan mengambilnya, dan aku membaca sekilas dari buku itu.


Di saat aku pertama kali membuka cover


depan buku itu, aku melihat ada nama Angga di sana. Aku jadi semakin tertarik


dengan buku itu, aku selalu membacanya setiap habis pulang sekolah di kamarku,


duduk manis di kasur dan tidak ada gangguan dari luar maupun dalam.


Aku berjalan menuju meja belajar, untuk


mengambil buku itu dan melanjutkan bacaanku. Aku mengambil buku itu dan


membacanya di atas kasur, duduk manis. Melanjutkan halaman dimana aku terakhir


membacanya, aku berniat untuk menamatkan buku ini. Dan aku masih penasaran


kenapa Angga juga membaca buku seperti ini.


*


perasaannya. Terakhir kali ia mendengar bahwa sang cowok sudah mempunyai pacar,


karena itu dia menahan diri. Dia merasa kalah cepat oleh seseorang yang menjadi


pacar sang cowok sekarang.


Perempuan itu menjalani harinya dengan


rasa sakit, terkadang dia juga melihat sang cowok jalan pulang bersama dengan


pacarnya. Mereka terlihat begitu mesra saat pulang bersama, aku yang hanya bisa


melihatnya dari kejauhan, dan tidak tau harus berbuat apa.


Di sore hari dimana matahari terbenam,


sang perempuan sedang berada di atap sekolah menatap langit yang semakin gelap


dan menyaksikan sunset dengan tenang. Tanpa sengaja entah itu kebetulan atau


tidak, dari belakang pintu ada yang mendekat. Pintu itupun terbuka, dan ada


seseorang yang datang, yang ternyata itu adalah sang cowok bersama pacarnya,


yang juga ingin menikmati sunset dari atas atap sekolah.


“Mm… ternyata ada orang disini, apa kami


boleh disini? Kami juga ingin menikmati sunset dari atap sekolah,” kata sang cowok,


dengan nada lembut.


Perasaan hati sang perempuan bercampur


aduk, dia tidak tau apakah dia harus senang karena tiba-tiba dia di ajak


ngobrol oleh sang cowok untuk pertama kalinya, atau merasa sakit karena sang cowok


ke sini bersama dengan pacarnya, dan menikmati sunset berdua.


“Ahh…tidak, silahkan jika kalian ingin


menikmati sunsetnya juga,” kata sang perempuan, dengan memejamkan mata dan


wajah tersenyum begitu manis.


Dia tersenyum begitu manis, namun ada


sesuatu yang ia sembunyikan jauh di dalam lubuk hatinya, yang tadinya dia ingin

__ADS_1


menenangkan diri dengan melihat sunset. Tetapi hal itu tidak menjadikannya


tenang, karena yang datang adalah mereka, yang sama ingin menikmati sunset.


“Kau jangan tersenyum seperti itu kepada


pacarku, menjijikkan.”


Ucap dari pacar sang cowok, karena tidak


senang melihat sang perempuan tersenyum manis kepada mereka. Padahal sang


perempuan sedang tidak stabil kondisi hatinya, di tambah yang tiba-tiba pacar


sang cowok menghinanya dengan kalimat “menjijikkan”.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud,” kata


sang perempuan sambil menundukkan kepala dan pandangan nya dari mereka.


“Mm…tidak apa-apa, kamu jangan bersikap


seperti itu kepadanya. Kita kan ke sini hanya menikmati sunset, maafkan atas


sikap pacarku.”


Kata sang cowok sambil meminta maaf atas


perilaku pacarnya kepada sang perempuan. Kemudian sang cowok dan pacarnya pergi


ke bagian kanan sejauh 10-meter dari tempat berdirinya sang perempuan. Mereka


berdua menikmati sunset nya, namun sang perempuan tidak tenang saat menikmati


sunset dari atap sekolah.


Sang perempuan hanya bisa menahan diri,


hati, dan sikapnya. Dia berusaha tegar dari apa yang dia rasakan sekarang,


karena dia menikmati sunset bersama kedua orang yang sedang berpacaran, dan


orang itu adalah sang cowok dan juga pacarnya.


*


Air mata ku mengalir dari mataku membasahi kedua pipiku, begitu


menyakitkan bila menjadi sang perempuan di dalam cerita buku ini. Dia tetap


diam saat pacar sang cowok menghinanya, dia hanya menahan rasa sakitnya seorang


diri. Menahan nya seorang diri, adalah cara yang paling menyakitkan.


Di saat aku sedang membaca buku tiba-tiba Jeni datang ke kamarku,


memberi tahuku bahwa makan malam telah di sediakan. Aku tidak menyadari


sekarang sudah jam segini, aku terlalu serius membaca buku ini sampai-sampai


tidak melihat waktu.


“Permisi nona, makan malam sudah siap,” Jeni yang datang ke


kamarku.


“Mm…,” aku mengangguk kan kepala. “Tunggu disana ya Jeni, aku akan


segera pergi ke ruang makan.”


“Baiklah nona.”


Kemudian Jeni pergi meninggalkan kamarku. Namun saat dia pergi


keluar, dia berhenti dan berbalik arah menghadapku kembali dan berkata. “Jangan


sampai lupa waktu yaa, nona.”


Aku yang mendengar ucapan Jeni, dan paham. Jeni sangat


meng-khawatirkan ku, dia benar-benar sangat perhatian terhadapku. Aku membalasnya


dengan senyuman, dan diapun lanjut pergi meninggalkan kamar. Mm…sudah waktunya


makan malam.


Aku melirik ke arah jam dinding yang ternyata sudah pukul 19:00.


Jadi aku sudah membaca buku cukup lama, soalnya aku masih penasaran tentang


kelanjutan dari cerita buku itu. Cuman aku masih ada rasa sedikit penasaran


soal Rehan dan wanita itu, dan lagi Angga juga melihat mereka sedang berduaan


di depan gedung Bahasa.


Semoga Angga baik-baik saja saat melihat itu, tidak membuat dia


menjadi down. Padahal sekarang Angga sedang dalam kondisi tidak bagus. Aku akan


terus mendukungnya dari belakang, dan akan terus mendukungnya selama dia


berjuang di jalan yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2