Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 26


__ADS_3

2 Hari


Kemudian


Hari ini adalah


pengumuman juara lomba programingnya Rehan, aku tidak tau apakah dia mendapat


juara atau tidak. Karena pemberitahuannya dikirim melalui email masing-masing


peserta, dan bagi yang mendapat juara akan di undang penyerahan piagam dan


piala secara offline.


Aku sedang


berjalan menuju ruang kelas, dan hari ini tumben sekali lingkungan sekolah


masih belum ramai. Biasanya jam segini sudah banyak siswa dan siswi yang datang


ke sekolah, apa mungkin sekarang hari malas nasional?


Hari ini aku


tidak melihat Rehan dan Safira jalan bersama, apa mereka sudah duluan ke


sekolah atau memang aku yang terlalu cepat datang ke sekolah. Terserah mereka


saja, kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan mereka.


Pintu ruang


kelas sudah dekat, aku buka pintu ruang kelas dan masuk, aku lihat di dalam


sudah ada beberapa orang termasuk Rehan yang sedang berdiri di pinggir jendela,


mungkin dia sedang menikmati udara pagi. Tapi aku tidak mau menjadi basa-basi,


aku mendekatinya yang sedang sendiri di jendela.


“Bagaimana


hasilnya? Apa kau berhasil?” tanyaku yang berada di belakangnya. Dia berbalik


arah ke belakang dan menghadapku dengan wajah tersenyum.


“Aku berhasil


mendapat juara 1,” katanya dengan wajah senyum layaknya orang yang sombong.


Aku terkejut


Rehan berhasil mendapat juara 1 di lomba programing nya. Wajar juga, karena dia


benar-benar latihan sangat keras sebelum hari perlombaan. Tapi aku tidak tau,


apakah aku harus senang atau tidak.


“Aku berhasil


juara 1, dan pada akhir pekan akan diadakan penyerahan bagi yang menang secara


offline. Sekarang tinggal menunggu hasil dari kejuaraan mu,” katanya, sambil menaruh


kedua tangan nya di pinggul.


“Selamat atas


keberhasilannya, aku tidak akan kalah darimu,” kataku, dengan wajah serius.


“Baiklah,


kalau begitu buktikan saja saat hari kejuaraan dirimu tiba. Aku akan datang


bersama Safira kesana untuk melihatmu bertanding,” kata Rehan.


Aku tidak


akan kalah olehnya, aku akan memperebutkan juara satu dalam kejuaraan kali ini.


Waktu latihan rutin ku tinggal 6 hari lagi, setelah itu di lanjut dengan


latihan seperti biasa namun di tambah dengan tingkat kesulitan yang lebih dari


pada latihan rutin.


Tapi sebulan


sebelum kejuaraan aku harus sudah mengumpulkan formulir dan juga biaya


kejuaraan, yang jadi masalah adalah biaya. Aku belum mengumpulkan biaya yang


cukup untuk kejuaraan, penghasilan ayahku juga kemarin menurun. Namun


setidaknya aku berjuang semampuku, siapa tau ada keajaiban terjadi.


Aku pergi ke


tempat dudukku untuk menaruh tas. Dan aku lihat kursi kosong tepat di depanku,


ternyata Melani belum sampai ke sekolah, apa dia telat lagi. Tapi tak lama aku


menduga Melani telat, tiba-tiba dari pintu kelas masuk seseorang yaitu Melani.


Seperti


biasanya dia datang dengan berpenampilan sangat rapi. Dia masuk ke dalam kelas


dan menghampiriku yang sedang duduk di kursi, tapi kenapa dia mendekatiku sambil


gemetaran seperti itu, memangnya aku menakutkan seperti yang dia bayangkan kah.


“Em…Angga,


a–aku mau ngomongin soal em…itu,” kata Melani dengan gugup.


Dia ini


selalu saja jika sedang berbicara dengan ku selalu begini, padahal aku ini


manusia seperti teman-teman yang lain di kelas ini. Sedangkan sedang bersamaku


selalu saja seperti orang yang ketakutan, seolah-olah aku seperti bahan untuk


dia melawan rasa takutnya.


“Em…itu.”


Aku masih


menunggu dia ingin bicara apa, tapi dari tadi dia hanya bicara “Em…itu” dan


tidak melanjutkan kalimat selanjutnya. Dia seperti program gagal yang looping


terus-menerus, jika kita gagal dalam mengoperasikan program, program itu bisa


saja terjadi looping. Persis seperti yang ada di depanku ini.


“Kamu ingin


bicara apa, Melani?” tanyaku dengan wajah datar.


“itu…,”


katanya sambil menggaruk kepalanya dengan jari telunjuk.


Aku sudah


muak dengan orang yang berbicara looping seperti ini, apa dia sedang tertekan?


Sepertinya memang iya. Cara agar menghilangkan orang yang sedang tertekan

__ADS_1


adalah dengan refreshing, itu dia, refreshing. Aku berdiri dari kursiku dan


bilang kepada Melani.


“Melani, ikut


aku sebentar,” kataku, dengan wajah serius sambil menutup mataku agar terlihat


keren.


Dia


sepertinya kebingungan saat aku bilang seperti itu, mungkin dia bingung karena


aku yang mencoba terlihat keren padahal tidak sama sekali, aku biasa saja. Lalu


aku jalan mengarah pintu, saat setengah jalan mendekati pintu aku berhenti dan


menoleh ke belakang.


“Ikutlah


denganku.”


Aku malah


jadi sok keren, aku bilang kepada Melani untuk mengikutiku. Karena aku akan


menuju ke suatu tempat yang nyaman, aku yakin dengan suasana nyaman tempat itu


dia akan mudah mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Sudah ku duga


dia pasti kebingungan, dan pasti dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Namun


aku mencoba untuk membantunya agar dia tidak gugup lagi saat bicara, dia


mungkin sedang tertekan jadi aku membantu sebisa ku saja.


“Kita mau ke mana,


Angga?” tanya Melani, sambil jalan mengikutiku.


“Sudah ikuti


saja aku.”


Sebentar lagi


kami sampai di lokasi, dan itu dia sudah terlihat tepat di depan ku. Ini dia,


taman sekolah. Ngomong-ngomong sekolah ku memiliki taman yang berada di tengah


bagian kanan sekolah. Aku mengajak Melani ke sini agar dia mudah mengatakannya,


karena taman sekolah lumayan adem dan indah, pasti rasa tertekannya akan hilang


saat merasakan suasana taman. Aku melihat tempat duduk kosong dan meminta


Melani kesana, untuk duduk bersama disana.


“Ayo duduk


disini, Melani,” kataku dengan sok keren nya.


“Baiklah,”


Melani yang kebingungan.


Dan sekarang


aku harus memulai pembicaraan duluan, karena aku yang sudah menyuruhnya


mengikutiku ke sini, dan menyuruhnya duduk di sampingku. Jika aku tidak memulai


pembicaraan maka akan canggung, dia juga pasti sedang kebingungan mengapa aku


“Baiklah,


kamu bisa mengatakan yang tadi di kelas,” kataku.


Aku mencoba


mempersilahkan Melani untuk bicara soal tadi saat di kelas, karena dia tadi di


kelas bicara seperti orang penyakitan, tapi sekarang dengan suasana yang


berbeda bahkan lebih bagus, dia akan mengatakannya dengan mudah.


“Tapi kenapa


kita harus pergi ke taman seperti ini,” Melani yang kebingungan.


“Karena kamu


tadi di kelas bicara seperti program gagal yang mengalami looping, jadi aku


membawamu ke sini agar kamu bisa bicara dengan mudah.”


“Kamu ini


ada-ada ajah, memang aku sedikit malu untuk bilangnya, tapi kalau disini aku


bisa tambah malu lagi!!” katanya, dengan wajah memerah.


Heh? Melani


kenapa, jika disini dia malah nambah malu? Apa jangan-jangan aku salah tempat.


Dan tiba-tiba dia terdiam, pandangan nya melihat ke bawah dengan wajahnya yang


memerah. Sebenarnya dia sedang tertekan tidak sih? Aku jadi bingung.


“Em…Melani,


kamu kenapa?” tanyaku, karena melihat Melani yang terdiam sehabis bilang tadi.


“I–i–itu.”


“Itu apa? Ayo


bicara yang lebih jelas lagi, aku tidak bisa mengerti kalau kamu cuman


mengulang kata ‘itu’.”


Melani cuman


mengulang kata ‘itu’ terus, jika dia mengulang kata seperti itu, hanya akan


membuatku semakin penasaran. Apa dia tidak bisa langsung bilang apa yang dia


ingin bilang, mau di kelas atau di taman sama saja.


“I–itu, aku


ingin datang ke tempat latihan mu besok lusa!” kata Melani dengan suara yang


lantang.


“Heh?”


Jadi dia


menahan terus-menerus dari tadi di kelas sampai kita sekarang di taman, hanya


ingin mengatakan dia akan datang ke tempat aku latihan besok lusa, dia ini


bikin repot saja. Jika dia datang besok lusa berarti hari terakhir program


latihan rutin.

__ADS_1


“A–aku akan


datang ke tempat la–latihanmu besok lusa,” kata Melani, dengan wajah merah dan


malu-malu.


“Kau ini,


kenapa cuman bilang seperti ini sampai terbelit-belit. Padahal kalau kau ingin


datang kau bisa langsung datang.”


Anak ini


selalu tidak terduga, jika dia ingin datang, yaa silahkan saja. Dia tinggal


datang ke tempat latihan ku saja, dan juga kenapa saat bilang kepada ku dia


malah grogi begitu. Aku sama sekali tidak mengerti dia.


“Ta–tapi aku


belum tau di mana alamat tempat latihanmu.”


Aku baru


ingat, pada saat itu aku belum memberi tau alamat tempat aku latihan. Baiklah


akan aku beri saja alamatnya, dari pada memberinya disini lebih baik di kelas


saja. Di sini tidak ada pulpen dan kertas untuk menulis. Oiya, kan bisa menulis


lewat note handphone.


“Kamu bawa handphone


kamu tidak?”


“Aku meninggalkan


nya di kelas tadi,” jawab Melani.


Sudah ku duga


lebih baik di kelas dari pada di sini, mungkin jika aku mau menunggu dia


berbicara tadi, pasti tidak akan di sini. Aku terlalu gegabah menyimpulkan dan


langsung membawanya ke sini, dan harus balik lagi ke kelas, aduh mager banget.


“Ya udah kalau


gitu kita ke kelas lagi, ayo.”


“Iyaa,”


Melani menganggukkan kepala.


Akhirnya kami


berdua pergi ke kelas lagi, itu juga salahku yang tiba-tiba mengajaknya ke


taman, aku jadi mager lagi untuk jalan ke kelas. Karena jaraknya lumayan dari


taman ke kelas, sekarang hanya seperti bolak-balik saja.


Saat sampai


kelas aku langsung pergi ke tempat dudukku dan mengambil kertas kosong dengan


pulpen. Saat aku ingin menulis alamat tempat aku latihan, tiba-tiba Melani


memberhentikanku untuk menulis alamat tempat latihan.


“Em…Angga,


lebih baik tu–tulis alamat ru–rum–” Melani yang grogi lagi.


“Hah? Ngomong


yang jelas,” kataku yang melihat Melani mulai grogi lagi.


Aku


benar-benar tidak mengerti dia, tadi dia mau tau alamat tempat latihanku,


sekarang dia malah memberhentikanku untuk menulisnya. Ternyata Melani bisa saja


menjadi orang yang plin-plan, padahal itu tidak bagus.


“Le–lebih


baik alamat ru­–rumah mu saja,” kata Melani malu-malu.


Alamat rumah


ku? Kenapa harus alamat rumahku, kan tujuan kita bukan ke rumahku, melainkan ke


tempat latihan. Sudah kuduga dia orang yang bisa saja menjadi plin-plan di


tengah jalan, jadi sekarang apa yang harus aku tulis di kertas kosong ini.


“Alamat ku?


Bukannya tujuanmu ke tempat latihan?” tanyaku.


“Em…maksudku,


lebih baik ki–kita berangkat ke tempat latihannya bersama,” jawabnya.


Berangkat


bersama ke tempat latihan? Apa dia malu jika pergi sendiri kesana, wajar saja


sih jika dia malu, dia saja bicara denganku sudah seperti program looping,


gimana ceritanya nanti dia ketemu teman-teman latihanku.


“Apa kamu


malu jika berangkat ke sana sendiri?” tanyaku.


“Mm…iya aku


malu.”


Sudah kuduga


ternyata dia malu jika datang sendiri ke sana, jadi dia harus ada yang


menemaninya. Baiklah kalau begitu aku beri saja alamat rumahku, dan dari


rumahku kita berangkat bersama menuju tempat latihan.


“Baiklah,


akan ku beri alamat rumahku.”


“Terima


kasih,” kata Melani, dengan wajah tersenyum manis.


Pada akhirnya


aku memberi alamat rumahku kepada Melani, bukan alamat tempat latihan. Dia


ternyata malu jika datang seorang diri, menurutku itu adalah hal wajar, karena


di situ dia tidak kenal siapa-siapa dan hanya kenal diriku saja. Tak apalah


selagi dia hanya menonton.

__ADS_1


Setelah Lusa


__ADS_2