
2 Hari
Kemudian
Hari ini adalah
pengumuman juara lomba programingnya Rehan, aku tidak tau apakah dia mendapat
juara atau tidak. Karena pemberitahuannya dikirim melalui email masing-masing
peserta, dan bagi yang mendapat juara akan di undang penyerahan piagam dan
piala secara offline.
Aku sedang
berjalan menuju ruang kelas, dan hari ini tumben sekali lingkungan sekolah
masih belum ramai. Biasanya jam segini sudah banyak siswa dan siswi yang datang
ke sekolah, apa mungkin sekarang hari malas nasional?
Hari ini aku
tidak melihat Rehan dan Safira jalan bersama, apa mereka sudah duluan ke
sekolah atau memang aku yang terlalu cepat datang ke sekolah. Terserah mereka
saja, kenapa aku harus pusing-pusing memikirkan mereka.
Pintu ruang
kelas sudah dekat, aku buka pintu ruang kelas dan masuk, aku lihat di dalam
sudah ada beberapa orang termasuk Rehan yang sedang berdiri di pinggir jendela,
mungkin dia sedang menikmati udara pagi. Tapi aku tidak mau menjadi basa-basi,
aku mendekatinya yang sedang sendiri di jendela.
“Bagaimana
hasilnya? Apa kau berhasil?” tanyaku yang berada di belakangnya. Dia berbalik
arah ke belakang dan menghadapku dengan wajah tersenyum.
“Aku berhasil
mendapat juara 1,” katanya dengan wajah senyum layaknya orang yang sombong.
Aku terkejut
Rehan berhasil mendapat juara 1 di lomba programing nya. Wajar juga, karena dia
benar-benar latihan sangat keras sebelum hari perlombaan. Tapi aku tidak tau,
apakah aku harus senang atau tidak.
“Aku berhasil
juara 1, dan pada akhir pekan akan diadakan penyerahan bagi yang menang secara
offline. Sekarang tinggal menunggu hasil dari kejuaraan mu,” katanya, sambil menaruh
kedua tangan nya di pinggul.
“Selamat atas
keberhasilannya, aku tidak akan kalah darimu,” kataku, dengan wajah serius.
“Baiklah,
kalau begitu buktikan saja saat hari kejuaraan dirimu tiba. Aku akan datang
bersama Safira kesana untuk melihatmu bertanding,” kata Rehan.
Aku tidak
akan kalah olehnya, aku akan memperebutkan juara satu dalam kejuaraan kali ini.
Waktu latihan rutin ku tinggal 6 hari lagi, setelah itu di lanjut dengan
latihan seperti biasa namun di tambah dengan tingkat kesulitan yang lebih dari
pada latihan rutin.
Tapi sebulan
sebelum kejuaraan aku harus sudah mengumpulkan formulir dan juga biaya
kejuaraan, yang jadi masalah adalah biaya. Aku belum mengumpulkan biaya yang
cukup untuk kejuaraan, penghasilan ayahku juga kemarin menurun. Namun
setidaknya aku berjuang semampuku, siapa tau ada keajaiban terjadi.
Aku pergi ke
tempat dudukku untuk menaruh tas. Dan aku lihat kursi kosong tepat di depanku,
ternyata Melani belum sampai ke sekolah, apa dia telat lagi. Tapi tak lama aku
menduga Melani telat, tiba-tiba dari pintu kelas masuk seseorang yaitu Melani.
Seperti
biasanya dia datang dengan berpenampilan sangat rapi. Dia masuk ke dalam kelas
dan menghampiriku yang sedang duduk di kursi, tapi kenapa dia mendekatiku sambil
gemetaran seperti itu, memangnya aku menakutkan seperti yang dia bayangkan kah.
“Em…Angga,
a–aku mau ngomongin soal em…itu,” kata Melani dengan gugup.
Dia ini
selalu saja jika sedang berbicara dengan ku selalu begini, padahal aku ini
manusia seperti teman-teman yang lain di kelas ini. Sedangkan sedang bersamaku
selalu saja seperti orang yang ketakutan, seolah-olah aku seperti bahan untuk
dia melawan rasa takutnya.
“Em…itu.”
Aku masih
menunggu dia ingin bicara apa, tapi dari tadi dia hanya bicara “Em…itu” dan
tidak melanjutkan kalimat selanjutnya. Dia seperti program gagal yang looping
terus-menerus, jika kita gagal dalam mengoperasikan program, program itu bisa
saja terjadi looping. Persis seperti yang ada di depanku ini.
“Kamu ingin
bicara apa, Melani?” tanyaku dengan wajah datar.
“itu…,”
katanya sambil menggaruk kepalanya dengan jari telunjuk.
Aku sudah
muak dengan orang yang berbicara looping seperti ini, apa dia sedang tertekan?
Sepertinya memang iya. Cara agar menghilangkan orang yang sedang tertekan
__ADS_1
adalah dengan refreshing, itu dia, refreshing. Aku berdiri dari kursiku dan
bilang kepada Melani.
“Melani, ikut
aku sebentar,” kataku, dengan wajah serius sambil menutup mataku agar terlihat
keren.
Dia
sepertinya kebingungan saat aku bilang seperti itu, mungkin dia bingung karena
aku yang mencoba terlihat keren padahal tidak sama sekali, aku biasa saja. Lalu
aku jalan mengarah pintu, saat setengah jalan mendekati pintu aku berhenti dan
menoleh ke belakang.
“Ikutlah
denganku.”
Aku malah
jadi sok keren, aku bilang kepada Melani untuk mengikutiku. Karena aku akan
menuju ke suatu tempat yang nyaman, aku yakin dengan suasana nyaman tempat itu
dia akan mudah mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Sudah ku duga
dia pasti kebingungan, dan pasti dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Namun
aku mencoba untuk membantunya agar dia tidak gugup lagi saat bicara, dia
mungkin sedang tertekan jadi aku membantu sebisa ku saja.
“Kita mau ke mana,
Angga?” tanya Melani, sambil jalan mengikutiku.
“Sudah ikuti
saja aku.”
Sebentar lagi
kami sampai di lokasi, dan itu dia sudah terlihat tepat di depan ku. Ini dia,
taman sekolah. Ngomong-ngomong sekolah ku memiliki taman yang berada di tengah
bagian kanan sekolah. Aku mengajak Melani ke sini agar dia mudah mengatakannya,
karena taman sekolah lumayan adem dan indah, pasti rasa tertekannya akan hilang
saat merasakan suasana taman. Aku melihat tempat duduk kosong dan meminta
Melani kesana, untuk duduk bersama disana.
“Ayo duduk
disini, Melani,” kataku dengan sok keren nya.
“Baiklah,”
Melani yang kebingungan.
Dan sekarang
aku harus memulai pembicaraan duluan, karena aku yang sudah menyuruhnya
mengikutiku ke sini, dan menyuruhnya duduk di sampingku. Jika aku tidak memulai
pembicaraan maka akan canggung, dia juga pasti sedang kebingungan mengapa aku
“Baiklah,
kamu bisa mengatakan yang tadi di kelas,” kataku.
Aku mencoba
mempersilahkan Melani untuk bicara soal tadi saat di kelas, karena dia tadi di
kelas bicara seperti orang penyakitan, tapi sekarang dengan suasana yang
berbeda bahkan lebih bagus, dia akan mengatakannya dengan mudah.
“Tapi kenapa
kita harus pergi ke taman seperti ini,” Melani yang kebingungan.
“Karena kamu
tadi di kelas bicara seperti program gagal yang mengalami looping, jadi aku
membawamu ke sini agar kamu bisa bicara dengan mudah.”
“Kamu ini
ada-ada ajah, memang aku sedikit malu untuk bilangnya, tapi kalau disini aku
bisa tambah malu lagi!!” katanya, dengan wajah memerah.
Heh? Melani
kenapa, jika disini dia malah nambah malu? Apa jangan-jangan aku salah tempat.
Dan tiba-tiba dia terdiam, pandangan nya melihat ke bawah dengan wajahnya yang
memerah. Sebenarnya dia sedang tertekan tidak sih? Aku jadi bingung.
“Em…Melani,
kamu kenapa?” tanyaku, karena melihat Melani yang terdiam sehabis bilang tadi.
“I–i–itu.”
“Itu apa? Ayo
bicara yang lebih jelas lagi, aku tidak bisa mengerti kalau kamu cuman
mengulang kata ‘itu’.”
Melani cuman
mengulang kata ‘itu’ terus, jika dia mengulang kata seperti itu, hanya akan
membuatku semakin penasaran. Apa dia tidak bisa langsung bilang apa yang dia
ingin bilang, mau di kelas atau di taman sama saja.
“I–itu, aku
ingin datang ke tempat latihan mu besok lusa!” kata Melani dengan suara yang
lantang.
“Heh?”
Jadi dia
menahan terus-menerus dari tadi di kelas sampai kita sekarang di taman, hanya
ingin mengatakan dia akan datang ke tempat aku latihan besok lusa, dia ini
bikin repot saja. Jika dia datang besok lusa berarti hari terakhir program
latihan rutin.
__ADS_1
“A–aku akan
datang ke tempat la–latihanmu besok lusa,” kata Melani, dengan wajah merah dan
malu-malu.
“Kau ini,
kenapa cuman bilang seperti ini sampai terbelit-belit. Padahal kalau kau ingin
datang kau bisa langsung datang.”
Anak ini
selalu tidak terduga, jika dia ingin datang, yaa silahkan saja. Dia tinggal
datang ke tempat latihan ku saja, dan juga kenapa saat bilang kepada ku dia
malah grogi begitu. Aku sama sekali tidak mengerti dia.
“Ta–tapi aku
belum tau di mana alamat tempat latihanmu.”
Aku baru
ingat, pada saat itu aku belum memberi tau alamat tempat aku latihan. Baiklah
akan aku beri saja alamatnya, dari pada memberinya disini lebih baik di kelas
saja. Di sini tidak ada pulpen dan kertas untuk menulis. Oiya, kan bisa menulis
lewat note handphone.
“Kamu bawa handphone
kamu tidak?”
“Aku meninggalkan
nya di kelas tadi,” jawab Melani.
Sudah ku duga
lebih baik di kelas dari pada di sini, mungkin jika aku mau menunggu dia
berbicara tadi, pasti tidak akan di sini. Aku terlalu gegabah menyimpulkan dan
langsung membawanya ke sini, dan harus balik lagi ke kelas, aduh mager banget.
“Ya udah kalau
gitu kita ke kelas lagi, ayo.”
“Iyaa,”
Melani menganggukkan kepala.
Akhirnya kami
berdua pergi ke kelas lagi, itu juga salahku yang tiba-tiba mengajaknya ke
taman, aku jadi mager lagi untuk jalan ke kelas. Karena jaraknya lumayan dari
taman ke kelas, sekarang hanya seperti bolak-balik saja.
Saat sampai
kelas aku langsung pergi ke tempat dudukku dan mengambil kertas kosong dengan
pulpen. Saat aku ingin menulis alamat tempat aku latihan, tiba-tiba Melani
memberhentikanku untuk menulis alamat tempat latihan.
“Em…Angga,
lebih baik tu–tulis alamat ru–rum–” Melani yang grogi lagi.
“Hah? Ngomong
yang jelas,” kataku yang melihat Melani mulai grogi lagi.
Aku
benar-benar tidak mengerti dia, tadi dia mau tau alamat tempat latihanku,
sekarang dia malah memberhentikanku untuk menulisnya. Ternyata Melani bisa saja
menjadi orang yang plin-plan, padahal itu tidak bagus.
“Le–lebih
baik alamat ru–rumah mu saja,” kata Melani malu-malu.
Alamat rumah
ku? Kenapa harus alamat rumahku, kan tujuan kita bukan ke rumahku, melainkan ke
tempat latihan. Sudah kuduga dia orang yang bisa saja menjadi plin-plan di
tengah jalan, jadi sekarang apa yang harus aku tulis di kertas kosong ini.
“Alamat ku?
Bukannya tujuanmu ke tempat latihan?” tanyaku.
“Em…maksudku,
lebih baik ki–kita berangkat ke tempat latihannya bersama,” jawabnya.
Berangkat
bersama ke tempat latihan? Apa dia malu jika pergi sendiri kesana, wajar saja
sih jika dia malu, dia saja bicara denganku sudah seperti program looping,
gimana ceritanya nanti dia ketemu teman-teman latihanku.
“Apa kamu
malu jika berangkat ke sana sendiri?” tanyaku.
“Mm…iya aku
malu.”
Sudah kuduga
ternyata dia malu jika datang sendiri ke sana, jadi dia harus ada yang
menemaninya. Baiklah kalau begitu aku beri saja alamat rumahku, dan dari
rumahku kita berangkat bersama menuju tempat latihan.
“Baiklah,
akan ku beri alamat rumahku.”
“Terima
kasih,” kata Melani, dengan wajah tersenyum manis.
Pada akhirnya
aku memberi alamat rumahku kepada Melani, bukan alamat tempat latihan. Dia
ternyata malu jika datang seorang diri, menurutku itu adalah hal wajar, karena
di situ dia tidak kenal siapa-siapa dan hanya kenal diriku saja. Tak apalah
selagi dia hanya menonton.
__ADS_1
Setelah Lusa