
Tempat Latihan
Kami sampai di tempat latihan dengan
selamat dan aman, aku merasakan semua pandangan menghadap ke sini. Untuk hari
ini aku bisa sombong ke salah satu temanku yang selalu membawa mobil ke tempat
latihan, aku langsung keluar dari mobil.
Saat aku keluar benar saja, hampir
semua pandangan mengarahku yang keluar dari mobil mewahnya Melani. Melani pun
juga keluar dari mobil, dan mereka semakin terkejut saat Melani juga keluar dari
mobil. Kemudian aku dan Melani pergi ke dalam, dan di saat bersamaan, salah
satu temanku menghampiri kami yaitu namanya Sabin.
“Sepertinya ada sebuah pasangan yang
datang ke sini,” ujar Sabin yang mengejekku.
“Apa kau bisa tutup mulutmu, dia bukan
pacarku. Dia hanya temanku yang ingin melihat bagaimana latihan taekwondo,”
balasku dari ejekannya.
“Iyaa-iyaa.” Sabin mendekati mulutnya
ke telingaku dan berkata dengan berbisik. “Dia cantik dan juga elegan, bisa tidak
kau bantu aku mendekatinya. Kau kan temannya bukan?” kata Sabin yang berbisik
di kupingku.
“Berusahalah sendiri tanpa bantuan
orang lain untuk masalah seperti ini, bodoh,” balasku.
Kemudian aku masuk ke dalam bersama
Melani. “Melani ayuk masuk ke dalam,” sahutku. Aku masuk ke dalam meninggalkan
Sabin di situ, memangnya enak terkena balasanku seperti tadi. Aku tau kau tidak
akan menyerah untuk mengejekku, jadi aku akan balas saat kau mengejekku.
“Sombong sekali dia ini, pasti akan
kubalas,” gumam Sabin saat Angga masuk ke dalam bersama Melani.
Aku segera mengganti bajuku untuk
latihan, aku bilang kepada Melani untuk melihat dari kursi penonton saja. Jeni
tidak ikut ke dalam, dia bilang akan menunggu saja di mobil. Aku segera pergi
ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Melani
***
Angga
menyuruhku untuk menunggunya dan melihat latihan dari kursi penonton, ternyata
keluarga dari para peserta latihan juga ada yang datang untuk melihat latihan.
Kalau begitu aku yang menjadi perwakilan penonton untuk Angga.
“Kamu sendiri
ajah, apa kamu pacarnya Angga?” sahut seseorang yang mendekatiku.
Dia adalah
orang yang tadi ngeledek Angga saat di depan, kalau aku lihat dia sepertinya
sama seperti aku dan Angga, sama-sama sepantaran. Aku bahkan bisa melihat
bentuk badannya yang seorang atlet. Tapi menurutku Angga tidak kalah, karena
dia adalah Rajaku.
“Tidak, aku
temannya Angga.”
“Oiya namaku
Sabin, salam kenal. Kamu ke sini untuk menemaninya latihan atau apa?” tanya
Sabin sambil mengangkat tangan kanannya di pinggul.
“Iyaa, aku
ingin melihat bagaimana latihan rutin Angga, dan juga katanya ini hari terakhir
untuk latihan rutin.”
Dia ini mau
ngapain sih, pertanyaannya apakah sepenting itu baginya. Aku hanya ingin
melihat latihan rutinnya Angga, dan juga ingin dekat dengannya. Aku selalu
ingin berada di sampingnya, mendampinginya kemanapun itu.
“Kau tau,
Angga adalah rivalku. Aku selalu bersaing dengannya dalam memperoleh medali
terbanyak. Sekarang aku dan Angga sama-sama memiliki medali 15 emas, 5 perak, 3
perunggu. Dan untuk pertandingan kali ini kami bersaing untuk siapa yang akan
mendapatkan emas,” kata Sabin dengan percaya diri yang begitu tinggi.
Jadi dia
rivalnya Angga dalam memperoleh prestasi terbanyak, aku sangat senang Angga
begitu peduli dengan prestasinya. Aku jadi semakin menyukainya, aku juga harus
menjadi yang terbaik untuk Angga, agar Angga menyukaiku.
“Aku turut
senang Angga berlomba-lomba untuk prestasinya,” balasku.
Tidak lama
dari kami sedang berbicara, Angga yang sudah selesai mengganti bajunya keluar
dari kamar mandi. Aku begitu kagum dengan bentuk tubuh Angga, dia mengenakan
baju lengan pendek yang sedikit ketat dan celana pendek hitam. Dia terlihat
sangat keren. Wajahku mulai memerah saat melihat Angga yang baru saja keluar
dari kamar mandi.
__ADS_1
“Ohh Sabin
ada di sini, ada apa kau di sini. Lebih baik kau siap-siap sana sebentar lagi
latihan akan di mulai,” kata Angga yang mendekati kami.
“Iyaa-iyaa,
aku tau kau mau pamer saja kan.”
“Hah?” Angga
yang kebingungan.
Kemudian
Sabin pergi meninggalkan kami, Angga sepertinya bingung dengan apa yang di
katakan Sabin. Angga memang sedikit lambat soal kepekaan, namun aku masih
memerah jika Angga berada di dekatku dengan pakaian seperti ini.
“Ada apa,
Melani?” tanya Angga.
“Ti–tidak
apa-apa,” aku yang gugup.
Setelah itu,
semua peserta di panggil ke lapangan untuk memulai latihan. Angga pun segera
pergi ke lapangan. “Aku ke lapangan dulu yaa,” kata Angga. “Iyaa, semangat
Angga.” Tunggu, aku baru saja bilang semangat kepadanya secara langsung. Yang
benar saja! Aku benar-benar malu.
Angga latihan
dengan begitu semangat, dia benar-benar serius untuk menjuarai kejuaraan ini
demi mempertahankan wanita itu dari Rehan. Andai aku menjadi orang yang di
perjuangkan oleh Angga, maka aku akan bilang kepadanya. “Kau tidak perlu
berjuang begitu keras, karena aku sudah menerimamu di dalam hatiku.”
Usai
Latihan
Latihan Angga
sudah di penghujung jam, sekarang sudah ingin selesai. Berarti mulai kedepannya
dia hanya latihan seperti biasanya. Aku sedang melihat Angga berbicara dengan
pelatih nya, dia terlihat murung saat berbicara dengannya.
Kemudian dia
menghampiriku dengan wajah yang penuh dengan penyesalan dan lesu, aku bingung
apa yang barusan mereka bicarakan tapi itu sesuatu yang tidak bagus. Aku mencoba
bertanya kepada Angga, kenapa dia terlihat seperti itu.
“Kamu kenapa?
Apa terjadi sesuatu?” tanyaku penasaran.
“Sepertinya
dengan wajah lesu.
Tidak ikut
kejuaraan? Apa maksudnya tidak ikut. Bukannya dia sudah latihan dengan sangat
giat, bahkan aku melihat latihan yang tadi ajah sudah cukup melelahkan, apalagi
latihan rutin yang seperti tadi selama sebulan. Aku bisa merasakan penyesalan
ketika latihan yang begitu keras untuk kejuaraan, tetapi pada ujungnya tidak
jadi mengikuti kejuaraan. Tapi apa sebabnya?
“Kenapa tidak
jadi ikut? Padahal kamu sudah latihan sangat keras selama sebulan. Dan bukannya
kamu sudah ada berjanji untuk memenangkan kejuaraan ini untuk mempertahankan
Safira dari Rehan,” aku yang kaget, tidak sengaja mengatakan barusan terjadi.
“Kamu tau
tentang aku yang bertanding dengan Rehan?” tanya Angga.
Aduh, aku
kelepasan mengatakan barusan. Aku benar-benar bodoh, saking kagetnya aku
mendengar Angga tidak ikut kejuaraan, aku jadi terbawa suasana dan
mengatakannya. Aku harus bilang apa kepadanya? Apa lebih baik aku jujur
kepadanya, kalau aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka berdua saat di
ruang kelas.
“Sebenarnya
saat itu aku tidak sengaja menguping kalian berdua saat bicara bersama di ruang
kelas, maaf,” aku yang menundukkan kepala.
“Em…tidak
apa-apa, kamu tidak salah sama sekali. Akulah yang gagal mengumpulkan uang
untuk kejuaraan, aku hanya kekurangan dana untuk kejuaraan jadi aku tidak bisa ikut.”
Kekurangan
dana? Bukannya dia selama sebulan ini jualan kue di sekolah, bahkan selalu
habis saat dia jualan di kelas. apa dana jualan kue Angga tidak cukup untuk
mengikuti kejuaraan, aku tidak tau separah apa ekonomi keluarganya sedang
turun.
“Apa uang
jualan kuemu selama sebulan ini masih belum cukup?” tanyaku dengan wajah
sedikit cemas.
“Sebenarnya
uang jualanku juga untuk membantu ekonomi keluargaku, dan membayar bulanan
__ADS_1
latihan taekwondo.”
Ternyata
seperti itu, padahal dia sudah latihan sangat keras selama sebulan ini. Aku menjadi
tidak tega melihat dia murung seperti ini, dia sudah melakukan yang terbaik
sampai hari terakhir penyerahan formulir dan biaya untuk bertanding. Aku
benar-benar salut dengan nya.
***
Sepertinya
aku tidak bisa mengikuti kejuaraan kali ini, hmm. Tidak apalah, yang terpenting
aku sudah melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri termasuk untuk membantu
keluargaku, rasa kecewa ini palingan cuman sementara doang nanti juga akan
pergi.
Lalu dari
belakang datang seseorang yaitu Sabin, dia menghampiriku dan juga Melani.
Dilihat dari wajahnya sepertinya dia sangat serius, dia mau apa yaa? Kurasa itu
bukan sesuatu hal yang buruk. Palingan cuman mau ngeledekku karena tidak bisa
mengikuti kejuaraan.
“Apa kau akan
ikut kejuaraan nanti?” tanya Sabin dengan wajah yang serius.
“Tidak, aku
tidak ada biaya untuk ikut kejuaraan. Setidaknya aku sudah berusaha sebaik mungkin
untuk menjadi yang terbaik, masalah seperti ini bisa saja terjadi ke setiap
orang, bukan?”
“Kalau begitu
aku juga tidak akan ikut kejuaraan nanti,” sahut Sabin dengan santainya.
Hah? Apa
maksudnya, dia orang yang berkecukupan kenapa tidak ikut saja kejuaraan nya.
Kenapa harus mempedulikan orang lain, ini kan soal prestasinya sendiri. Apa dia
ingin membuang kesempatan kejuaraan ini.
“Hah? Apa
maksudmu?” aku yang terkejut dengan perkataan Sabin.
“Karena kau
adalah rivalku, aku tidak suka jika kau tidak ikut kejuaraan. Maka medali yang
akan aku peroleh nanti saat kejuaraan bukan hasil pertandingan kita selama ini.”
“Hah? Kau
harusnya ikut kejuaraan, kau mempunyai biayanya. Hanya karena aku tidak ikut
jangan sampai mengorbankan dirimu sendiri. Bukannya ini kesempatan bagus
untukmu, untuk mengalahkan perolehan medali dariku,” ujarku dengan wajah yang
sedikit serius.
Tidak
kusangka dia benar-benar ingin bersaing denganku, bahkan dia mau bertanding
dengan sportif. Tapi kurasa ini beda lagi, jika dia mempunyai biaya untuk ikut
kenapa tidak ikut saja. itu juga untuk kebaikan dirinya sendiri.
“Kau tidak
perlu sampai seperti itu, Sabin” sahut pelatih Markus yang tiba-tiba datang.
Aku tidak
menyadari kehadiran pelatih Markus sama sekali, dia seperti seorang penyusup
saja. Menyembunyikan hawa keberadaannya sendiri tanpa di ketahui oleh orang,
hebat. Tapi yang di bilang pelatih Markus adalah kebenaran, Sabin tidak perlu
melakukan sampai seperti itu.
“Pelatih
Markus?” ujar Sabin.
“Kau harus
mengikuti kejuaraan ini jika mempunyai biayanya, dan kau tenang saja, Angga
akan ikut juga dalam kejuaraan ini,” kata pelatih Markus, sambil memasuki salah
satu tangannya ke kantung celana.
Aku ikut?!
Sejak kapan? Bukannya barusan pelatih Markus bilang tidak apa-apa jika tidak
mengikuti kejuaraan ini, karena tidak memiliki biaya untuk ikut. Tapi kenapa
sekarang dia bilang aku akan ikut kejuaraan? Aku benar-benar bingung.
“Hah? Yang
benar?” aku yang terkejut mendengarnya langsung dari mulut pelatih Markus.
“Iyaa, kau
aku beri kesempatan untuk ikut. Jadi serahkan sekarang formulir mu padaku.”
“Baik!”
Aku tidak
menyangka keajaiban ini terjadi, aku benar-benar senang mendengarnya. Kali ini
aku bisa bertanding dengan Sabin untuk memperoleh medali emas. Liat saja aku
akan menjadi peroleh yang mendapat banyak emas, Sabin.
“Baguslah
kalau begitu. Angga, bersiaplah saat di lapangan jangan sampai kau kalah jika
kau memang pantas menjadi rivalku,” ujar Sabin, dengan mengulurkan tangannya
kepadaku.
__ADS_1
“Kau ini sombong sekali,
liat saja nanti saat di pertandingan.”