Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 29


__ADS_3

Tempat Latihan


Kami sampai di tempat latihan dengan


selamat dan aman, aku merasakan semua pandangan menghadap ke sini. Untuk hari


ini aku bisa sombong ke salah satu temanku yang selalu membawa mobil ke tempat


latihan, aku langsung keluar dari mobil.


Saat aku keluar benar saja, hampir


semua pandangan mengarahku yang keluar dari mobil mewahnya Melani. Melani pun


juga keluar dari mobil, dan mereka semakin terkejut saat Melani juga keluar dari


mobil. Kemudian aku dan Melani pergi ke dalam, dan di saat bersamaan, salah


satu temanku menghampiri kami yaitu namanya Sabin.


“Sepertinya ada sebuah pasangan yang


datang ke sini,” ujar Sabin yang mengejekku.


“Apa kau bisa tutup mulutmu, dia bukan


pacarku. Dia hanya temanku yang ingin melihat bagaimana latihan taekwondo,”


balasku dari ejekannya.


“Iyaa-iyaa.” Sabin mendekati mulutnya


ke telingaku dan berkata dengan berbisik. “Dia cantik dan juga elegan, bisa tidak


kau bantu aku mendekatinya. Kau kan temannya bukan?” kata Sabin yang berbisik


di kupingku.


“Berusahalah sendiri tanpa bantuan


orang lain untuk masalah seperti ini, bodoh,” balasku.


Kemudian aku masuk ke dalam bersama


Melani. “Melani ayuk masuk ke dalam,” sahutku. Aku masuk ke dalam meninggalkan


Sabin di situ, memangnya enak terkena balasanku seperti tadi. Aku tau kau tidak


akan menyerah untuk mengejekku, jadi aku akan balas saat kau mengejekku.


“Sombong sekali dia ini, pasti akan


kubalas,” gumam Sabin saat Angga masuk ke dalam bersama Melani.


Aku segera mengganti bajuku untuk


latihan, aku bilang kepada Melani untuk melihat dari kursi penonton saja. Jeni


tidak ikut ke dalam, dia bilang akan menunggu saja di mobil. Aku segera pergi


ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Melani


***


Angga


menyuruhku untuk menunggunya dan melihat latihan dari kursi penonton, ternyata


keluarga dari para peserta latihan juga ada yang datang untuk melihat latihan.


Kalau begitu aku yang menjadi perwakilan penonton untuk Angga.


“Kamu sendiri


ajah, apa kamu pacarnya Angga?” sahut seseorang yang mendekatiku.


Dia adalah


orang yang tadi ngeledek Angga saat di depan, kalau aku lihat dia sepertinya


sama seperti aku dan Angga, sama-sama sepantaran. Aku bahkan bisa melihat


bentuk badannya yang seorang atlet. Tapi menurutku Angga tidak kalah, karena


dia adalah Rajaku.


“Tidak, aku


temannya Angga.”


“Oiya namaku


Sabin, salam kenal. Kamu ke sini untuk menemaninya latihan atau apa?” tanya


Sabin sambil mengangkat tangan kanannya di pinggul.


“Iyaa, aku


ingin melihat bagaimana latihan rutin Angga, dan juga katanya ini hari terakhir


untuk latihan rutin.”


Dia ini mau


ngapain sih, pertanyaannya apakah sepenting itu baginya. Aku hanya ingin


melihat latihan rutinnya Angga, dan juga ingin dekat dengannya. Aku selalu


ingin berada di sampingnya, mendampinginya kemanapun itu.


“Kau tau,


Angga adalah rivalku. Aku selalu bersaing dengannya dalam memperoleh medali


terbanyak. Sekarang aku dan Angga sama-sama memiliki medali 15 emas, 5 perak, 3


perunggu. Dan untuk pertandingan kali ini kami bersaing untuk siapa yang akan


mendapatkan emas,” kata Sabin dengan percaya diri yang begitu tinggi.


Jadi dia


rivalnya Angga dalam memperoleh prestasi terbanyak, aku sangat senang Angga


begitu peduli dengan prestasinya. Aku jadi semakin menyukainya, aku juga harus


menjadi yang terbaik untuk Angga, agar Angga menyukaiku.


“Aku turut


senang Angga berlomba-lomba untuk prestasinya,” balasku.


Tidak lama


dari kami sedang berbicara, Angga yang sudah selesai mengganti bajunya keluar


dari kamar mandi. Aku begitu kagum dengan bentuk tubuh Angga, dia mengenakan


baju lengan pendek yang sedikit ketat dan celana pendek hitam. Dia terlihat


sangat keren. Wajahku mulai memerah saat melihat Angga yang baru saja keluar


dari kamar mandi.

__ADS_1


“Ohh Sabin


ada di sini, ada apa kau di sini. Lebih baik kau siap-siap sana sebentar lagi


latihan akan di mulai,” kata Angga yang mendekati kami.


“Iyaa-iyaa,


aku tau kau mau pamer saja kan.”


“Hah?” Angga


yang kebingungan.


Kemudian


Sabin pergi meninggalkan kami, Angga sepertinya bingung dengan apa yang di


katakan Sabin. Angga memang sedikit lambat soal kepekaan, namun aku masih


memerah jika Angga berada di dekatku dengan pakaian seperti ini.


“Ada apa,


Melani?” tanya Angga.


“Ti–tidak


apa-apa,” aku yang gugup.


Setelah itu,


semua peserta di panggil ke lapangan untuk memulai latihan. Angga pun segera


pergi ke lapangan. “Aku ke lapangan dulu yaa,” kata Angga. “Iyaa, semangat


Angga.” Tunggu, aku baru saja bilang semangat kepadanya secara langsung. Yang


benar saja! Aku benar-benar malu.


Angga latihan


dengan begitu semangat, dia benar-benar serius untuk menjuarai kejuaraan ini


demi mempertahankan wanita itu dari Rehan. Andai aku menjadi orang yang di


perjuangkan oleh Angga, maka aku akan bilang kepadanya. “Kau tidak perlu


berjuang begitu keras, karena aku sudah menerimamu di dalam hatiku.”


Usai


Latihan


Latihan Angga


sudah di penghujung jam, sekarang sudah ingin selesai. Berarti mulai kedepannya


dia hanya latihan seperti biasanya. Aku sedang melihat Angga berbicara dengan


pelatih nya, dia terlihat murung saat berbicara dengannya.


Kemudian dia


menghampiriku dengan wajah yang penuh dengan penyesalan dan lesu, aku bingung


apa yang barusan mereka bicarakan tapi itu sesuatu yang tidak bagus. Aku mencoba


bertanya kepada Angga, kenapa dia terlihat seperti itu.


“Kamu kenapa?


Apa terjadi sesuatu?” tanyaku penasaran.


“Sepertinya


dengan wajah lesu.


Tidak ikut


kejuaraan? Apa maksudnya tidak ikut. Bukannya dia sudah latihan dengan sangat


giat, bahkan aku melihat latihan yang tadi ajah sudah cukup melelahkan, apalagi


latihan rutin yang seperti tadi selama sebulan. Aku bisa merasakan penyesalan


ketika latihan yang begitu keras untuk kejuaraan, tetapi pada ujungnya tidak


jadi mengikuti kejuaraan. Tapi apa sebabnya?


“Kenapa tidak


jadi ikut? Padahal kamu sudah latihan sangat keras selama sebulan. Dan bukannya


kamu sudah ada berjanji untuk memenangkan kejuaraan ini untuk mempertahankan


Safira dari Rehan,” aku yang kaget, tidak sengaja mengatakan barusan terjadi.


“Kamu tau


tentang aku yang bertanding dengan Rehan?” tanya Angga.


Aduh, aku


kelepasan mengatakan barusan. Aku benar-benar bodoh, saking kagetnya aku


mendengar Angga tidak ikut kejuaraan, aku jadi terbawa suasana dan


mengatakannya. Aku harus bilang apa kepadanya? Apa lebih baik aku jujur


kepadanya, kalau aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka berdua saat di


ruang kelas.


“Sebenarnya


saat itu aku tidak sengaja menguping kalian berdua saat bicara bersama di ruang


kelas, maaf,” aku yang menundukkan kepala.


“Em…tidak


apa-apa, kamu tidak salah sama sekali. Akulah yang gagal mengumpulkan uang


untuk kejuaraan, aku hanya kekurangan dana untuk kejuaraan jadi aku tidak bisa ikut.”


Kekurangan


dana? Bukannya dia selama sebulan ini jualan kue di sekolah, bahkan selalu


habis saat dia jualan di kelas. apa dana jualan kue Angga tidak cukup untuk


mengikuti kejuaraan, aku tidak tau separah apa ekonomi keluarganya sedang


turun.


“Apa uang


jualan kuemu selama sebulan ini masih belum cukup?” tanyaku dengan wajah


sedikit cemas.


“Sebenarnya


uang jualanku juga untuk membantu ekonomi keluargaku, dan membayar bulanan

__ADS_1


latihan taekwondo.”


Ternyata


seperti itu, padahal dia sudah latihan sangat keras selama sebulan ini. Aku menjadi


tidak tega melihat dia murung seperti ini, dia sudah melakukan yang terbaik


sampai hari terakhir penyerahan formulir dan biaya untuk bertanding. Aku


benar-benar salut dengan nya.


***


Sepertinya


aku tidak bisa mengikuti kejuaraan kali ini, hmm. Tidak apalah, yang terpenting


aku sudah melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri termasuk untuk membantu


keluargaku, rasa kecewa ini palingan cuman sementara doang nanti juga akan


pergi.


Lalu dari


belakang datang seseorang yaitu Sabin, dia menghampiriku dan juga Melani.


Dilihat dari wajahnya sepertinya dia sangat serius, dia mau apa yaa? Kurasa itu


bukan sesuatu hal yang buruk. Palingan cuman mau ngeledekku karena tidak bisa


mengikuti kejuaraan.


“Apa kau akan


ikut kejuaraan nanti?” tanya Sabin dengan wajah yang serius.


“Tidak, aku


tidak ada biaya untuk ikut kejuaraan. Setidaknya aku sudah berusaha sebaik mungkin


untuk menjadi yang terbaik, masalah seperti ini bisa saja terjadi ke setiap


orang, bukan?”


“Kalau begitu


aku juga tidak akan ikut kejuaraan nanti,” sahut Sabin dengan santainya.


Hah? Apa


maksudnya, dia orang yang berkecukupan kenapa tidak ikut saja kejuaraan nya.


Kenapa harus mempedulikan orang lain, ini kan soal prestasinya sendiri. Apa dia


ingin membuang kesempatan kejuaraan ini.


“Hah? Apa


maksudmu?” aku yang terkejut dengan perkataan Sabin.


“Karena kau


adalah rivalku, aku tidak suka jika kau tidak ikut kejuaraan. Maka medali yang


akan aku peroleh nanti saat kejuaraan bukan hasil pertandingan kita selama ini.”


“Hah? Kau


harusnya ikut kejuaraan, kau mempunyai biayanya. Hanya karena aku tidak ikut


jangan sampai mengorbankan dirimu sendiri. Bukannya ini kesempatan bagus


untukmu, untuk mengalahkan perolehan medali dariku,” ujarku dengan wajah yang


sedikit serius.


Tidak


kusangka dia benar-benar ingin bersaing denganku, bahkan dia mau bertanding


dengan sportif. Tapi kurasa ini beda lagi, jika dia mempunyai biaya untuk ikut


kenapa tidak ikut saja. itu juga untuk kebaikan dirinya sendiri.


“Kau tidak


perlu sampai seperti itu, Sabin” sahut pelatih Markus yang tiba-tiba datang.


Aku tidak


menyadari kehadiran pelatih Markus sama sekali, dia seperti seorang penyusup


saja. Menyembunyikan hawa keberadaannya sendiri tanpa di ketahui oleh orang,


hebat. Tapi yang di bilang pelatih Markus adalah kebenaran, Sabin tidak perlu


melakukan sampai seperti itu.


“Pelatih


Markus?” ujar Sabin.


“Kau harus


mengikuti kejuaraan ini jika mempunyai biayanya, dan kau tenang saja, Angga


akan ikut juga dalam kejuaraan ini,” kata pelatih Markus, sambil memasuki salah


satu tangannya ke kantung celana.


Aku ikut?!


Sejak kapan? Bukannya barusan pelatih Markus bilang tidak apa-apa jika tidak


mengikuti kejuaraan ini, karena tidak memiliki biaya untuk ikut. Tapi kenapa


sekarang dia bilang aku akan ikut kejuaraan? Aku benar-benar bingung.


“Hah? Yang


benar?” aku yang terkejut mendengarnya langsung dari mulut pelatih Markus.


“Iyaa, kau


aku beri kesempatan untuk ikut. Jadi serahkan sekarang formulir mu padaku.”


“Baik!”


Aku tidak


menyangka keajaiban ini terjadi, aku benar-benar senang mendengarnya. Kali ini


aku bisa bertanding dengan Sabin untuk memperoleh medali emas. Liat saja aku


akan menjadi peroleh yang mendapat banyak emas, Sabin.


“Baguslah


kalau begitu. Angga, bersiaplah saat di lapangan jangan sampai kau kalah jika


kau memang pantas menjadi rivalku,” ujar Sabin, dengan mengulurkan tangannya


kepadaku.

__ADS_1


“Kau ini sombong sekali,


liat saja nanti saat di pertandingan.”


__ADS_2